Dunia Islam Jadi Korban Perdagangan Pengantin ke Cina, Ini Alasannya

Tak kurang dari 29 WNI menjadi korban perdagangan manusia (human trafficking) dengan modus pengantin pesanan. Seperti diberitakan detik.com, Ahad (23/5/2019), 13 perempuan asal Kalimantan Barat dan 16 wanita asal Jawa Barat dijanjikan menikah dengan pria Cina yang kayaraya, sementara keluarga pihak perempuan akan dikirimi sejumlah uang. Namun kenyataannya, perempuan tersebut malah dieksploitasi dan diperbudak oleh suami bahkan keluarga suaminya di Cina.

Sebelumnya, pada Mei 2018, BBC melansir laporan sebuah kisah pernikahan palsu perempuan Pakistan dengan laki-laki Cina. Aktivis HAM Pakistan yakin bahwa setidaknya 700 orang perempuan Pakistan telah menikah dengan laki-laki Cina dalam setahun terakhir. Kelanjutan nasib para korban ini tidak bisa diketahui pasti, tetapi Human Rights Watch (HRW) menyatakan bahwa mereka “berisiko mengalami perbudakan seksual”. Ini juga terkait dengan laporan HRW tentang kasus Myanmar pada Maret 2019.

Senada dengan Pakistan, HRW melaporkan 1.115 jumlah total wanita Myanmar yang diperdagangkan bahkan dari daerah yang dikontrol Pemerintah ke Cina sebagai “pengantin wanita.” Tidak ada statistik yang dapat diandalkan karena banyak kasus tidak pernah dilaporkan. Ditambah banyak perempuan dan gadis yang diperdagangkan tidak pernah ditemukan.

Menurut pengamat Dunia Islam Timur Jauh, Fika Monika Komara, hal itu bukanlah kasus baru. Kasus seperti ini akan selalu ada karena watak sistem kapitalis yang akan selalu memangsa apa pun menjadi komoditas bisnis. Wajar dehumanisasi dan eksploitasi perempuan masih dan akan terus terjadi.

Kasus trafficked bride yang terjadi di negeri-negeri Asia (Myanmar, Pakistan, Korea Utara, juga Indonesia) hanyalah pola baru. Ini akibat makin terkoneksinya dunia dengan pembangunan Cina. Persis seperti pidato Wakil Presiden Cina, Wang Qishan, “Pembangunan Cina tidak bisa mengabaikan dunia. Pembangunan dunia tidak bisa mengabaikan Cina”. Ini secara gamblang mendeklarasikan peran agresif Cina dalam mega proyek pembangunan infrastruktur di berbagai kawasan dunia, termasuk Dunia Islam. Di Indonesia dikenal dengan istilah One Belt, One Road (OBOR) atau The Belt Road of Initiative (BRI).

“Apa hubungannya pembangunan dunia oleh Cina dengan kasus human trafficking? Jelas berhubungan erat karena dunia makin terkoneksi dengan Cina baik dari darat, udara maupun lautan,” bebernya.

Fika Komara pun mencontohkan Pakistan.  Meningkatnya kasus trafficked bride dari Pakistan ke Cina terjadi di tengah gelombang masuknya puluhan ribu warga negara Cina ke negara itu. Cina menginvestasikan miliaran dolar dalam Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC), jaringan pelabuhan, jalan, kereta api dan proyek-proyek energi. Kedua negara adalah sekutu dekat dalam kebijakan visa-on-arrival untuk warga negara Cina yang akhirnya makin membanjiri Pakistan.

Transportasi murah dan infrastruktur mudah membuat kaum Muslimah yang merupakan kehormatan umat kini lebih mudah ‘dijamah’ oleh tangan-tangan kapitalis Timur. Negeri-negeri Muslim telah semakin terkoneksi dengan Cina, sekaligus terkoneksi dengan problem sosial mereka!

Problem internal Cina adalah krisis populasi di Cina akibat penerapan one-child policy dan industrialisasi. Dampak yang paling menonjol adalah jumlah penduduk perempuan yang menurun drastis. Menurut laporan Human Right Watch, persentase populasi perempuan dalam populasi Cina telah menurun sejak 1987. Kesenjangan gender antara laki-laki dan perempuan berusia 15 hingga 29 tahun meningkat.

Para peneliti memperkirakan bahwa Cina memiliki 30 hingga 40 juta “perempuan hilang,” yang seharusnya hidup hari ini. Krisis ini juga ditambah dengan fenomena perempuan single di Cina yang enggan menikah. Biaya menikahi perempuan Cina yang mahal juga memunculkan ‘demand’ terhadap pengantin perempuan dari luar negeri Cina. [Joko Prasetyo dari berbagai sumber]

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

5 × five =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password