Sifat dan Karakter Pemimpin Pada Masa Khilafah (Bagian 1)

Sudah menjadi jamak, tatkala kampanye, baik pemilukada dan atau pileg, calon pemimpin menampilkan sifat dan karakter baik. Apakah itu tampilan natural maupun di-boosting oleh para buzzer nya. Dengan kata lain sifat dan karakternya dipoles sedemikian rupa sehingga tercitrakan mempunyai sifat dan karakter yang baik. Peduli, melayani dan pro rakyat. Karakter dan sifat buruknya tertutup rapat-rapat. Kalaulah ada pihak yang menyampaikan fakta buruk karakter dan sifatnya langsung dibantai dan dibunuh karakternya di sosial media dan media mainstream yang dipunyai. Disampaikan sebagai pihak yang jahat dan penyebar hoax. Karena masifnya gempurannya, pihak yang secara jujur menyampaikan fakta yang terjadi akhirnya menjadi pihak yang tertuduh dan pesakitan. Akhirnya menjadi terbalik-balik. Yang baik kelihatan buruk. Yang buruk kelihatan baik. Antara yang baik dan yang buruk menjadi samar karena banyak hoax yang berseliweran.

Di sisi lain, saat ini hampir semua pemimpin negeri ini membentuk tim khusus yang tugasnya untuk mempoles penampilan ketika di publik. Mengambil gambar, membuat narasi propaganda baik dan membuat tim buzzer yang professional. Tujuannya hanya semata agar di mata publik atau rakyatnya ia tampak baik dan pro rakyat. Padahal faktanya ia jauh panggang dari api. Tugas tim ini, selain menyemburkan propaganda, juga menjadi tim yang akan menyerang dan menghabisi pihak-pihak yang memberikan penilaian atau kritik membangun. Mengkritik diartikan tidak setuju dan berseberangan dengan rezim. Pertanyaannya, perlukah adanya tim tersebut? Kalaupun perlu, sejauh mana tugas dan fungsinya sehingga proporsional, tidak membabi-buta membela pemimpin walau kadang ada yang salah,  dan menyerang pihak-pihak yang mengkritisi setiap kebijakan pemimpin.

Pertanyaan menariknya, adakah tuntunan dalam Islam bagi para pemimpin terkait sifat dan karakternya? Sifat dan karakter seperti apa yang wajib dipunyai setiap pemimpin dalam Islam? Apakah sifat dan karakter tersebut polesan sewaktu menjabat ataukah itu sudah terbentuk sebelum jauh menjadi pejabat? Perlukah tim khusus untuk menampilkan dan menyampaikan kepada khalayak/rakyat bagaimana karakter dan sifat pemimpin?

Sungguh, Islam telah memberikan gambaran yang jelas tentang syarat-syarat sifat dan karakter yang harus dimiliki oleh para pemimpin. Bukan hanya semata untuk konsumsi pencitraan ketika menjabat, namun sifat dan karakter yang telah melekat menjadi satu dengan tingkah-lakunya sejak awal. Sifat dan karakter baik itu sudah diketahui oleh khalayak ramai. Seperti apa sifat dan karakter para pemimpin dalam Islam dijelaskan dengan gamblang dalam buku The Great Leader of Umar bin Al-Khathab. Kisah kehidupan dan kepimimpinan khalifah kedua. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa para gubernur pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab wajib mempunyai akidah yang benar, mengakui dan senantiasa terikat dengan hukum syariah, meyakini takdir Allah, memiliki kemampuan memimpin masyarakat, jujur, menjadi contoh masyarakat, pemberani, zuhud, senang berkorban, rendah hati, mau menerima nasihat orang lain, bijaksana, sabar, bercita-cita tinggi, memiliki keteguhan hati, memiliki keinginan yang kuat, adil, mampu menyelesaikan permasalahan dan lain-lain. Uraian sifat dan karakter di atas adalah sebagai berikut:

 

  1. Zuhud.

Di antara para gubernur pada masa Umar yang terkenal kezuhudannya adalah Said bin Amir bin Hisyam, Umair bin Saad, Salman al-Farisi, Abu Ubaidah al-Jarrah dan Abu Musa al-Asy’ari. Oleh karena itu sering para istri para gubernur tersebut mengeluhkan kezuhudan para suami mereka. Di antara istri-istri mereka yang mengeluh adalah istrinya Muadz. Suatu saat Umar mengutus Muadz untuk mengumpulkan zakat dari beberapa suku. Dia membagi semua zakat yang terkumpul kepada orang-orang yang berhak dari suku-suku tersebut. Setelah selesai, Dia kembali ke majelisnya dengan budak yang pergi bersamanya. Kemudian ia pulang. Sesampainya di rumah istrinya bertanya, “Dimana uang yang kamu dapatkan dari pekerjaanmu?” Muadz menjawab, “Tadi, Saya diawasi oleh pengawas.” Istrinya berkata, “Bukankah kamu adalah seorang yang dipercaya pada masa Rasulullah saw. dan Abu Bakar? Mengapa Umar mengirimkan bersamamu pengawas?” Istrinya kemudian menceritakan kejadian ini kepada para wanita yang lain dan mengeluhkan kebijakan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra.

Mengetahui hal tersebut Khalifah Umar al-Faruq memanggil Muadz dan bertanya kepadanya, “Apakah saya mengirimkan bersamamu seorang pengawas?” Muadz menjawab, “Saya tidak memiliki jawaban kecuali itu.” Mendengar jawabannya, Umar bin Khathab kemudian tertawa dan memberikan kepadanya sesuatu. Khalifah Umar al-Faruq berkata kepadanya, “Berikan ini kepada istrimu supaya dia lega.”1

Apa yang dilakukan oleh Muadz sangat luar biasa. Zuhud terhadap harta dunia. Tidak silau dengan pangkat dan jabatan untuk memperkaya diri dan keluarganya. Jabatan yang menjadi amanahnya dikerjakan dengan baik. Dengan posisi yang dipegang, Muadz sangat mudah untuk membuat laporan keuangan palsu, atau membuat rekayasa kegiatan fiktif atau membuat kegiatan mengada-ada. Yang penting bisa mendapatkan uang atau yang lainnya. Namun, itu semua tidak ia lakukan. Bahkan gaji sebagai haknya karena melakukan pekerjaan tidak diambil langsung sebelum Khalifah sendiri yang memberikannya. Ia khawatir dan hati-hati atas uang yang dia pegang. Jangan sampai akhirnya ia mengambil hak yang memang itu bukan haknya.

Kondisi ini berbeda 180 derajat dengan para pemimpin sekarang. Mereka justru tamak pada harta dan jabatan. Amanah jabatan dipersepsikan sebagai peluang dan kesempatan untuk memperkaya diri dan keluarga. Aji mumpung diberlakukan. Mumpung menjabat dan berkuasa, mereka berpikir dan merencanakan untuk memperkaya diri dan keluarga. Masa bodoh halal-haram. Semua dilabrak. Wajar jika banyak sekali pejabat/pimpinan yang tertangkap oleh KPK karena kasus korupsi dan jual-beli jabatan di lingkungan pekerjaannya. Belum lagi gaya hidup para istri dan keluarga yang tampak di sosial media. Ikut dalam rombongan ketika di luar negeri. Belanja ini dan itu. Semuanya barang-barang mewah lagi mahal. Ini menunjukkan bahwa para pemimpin tidak ada sifat dan karakter zuhud.

 

  1. Rendah hati.

Pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., para pemimpin sangat terkenal dengan sifat rendah hati mereka. Jika ada seseorang yang datang ke wilayah mereka, dia tidak bisa membedakan antara gubernur dan orang biasa. Pakaian, rumah dan kendaraan mereka sama dengan masyarakat pada umumnya. Mereka tidak memiliki kelebihan yang membedakan dengan rakyatnya.

Pasukan Rumawi pernah mengutus dua orang untuk melakukan perundingan dengan Abu Ubaidah. Sesampainya mereka berdua ke kantor Abu Ubaidah, mereka tidak dapat membedakan antara Abu Ubaidah dan yang lain. Mereka juga tidak tahu apakah Abu Ubaidah berada di tempat tersebut atau tidak. Mereka juga tidak percaya kalau tempat tersebut adalah tempat Gubernur Abu Ubaidah.

Kedua utusan tersebut kemudian berkata, “Wahai orang-orang Arab, di mana pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Itu dia orangnya.” Kedua utusan Romawi melihat Abu Ubaidah sedang menyandarkan badannya ke busur panah dan di tengahnya ada anak panah. Anak panah tersebut sedang dibolak-balikkan oleh Abu Ubaidah. Mereka bertanya kepada Abu Ubaidah, “Apakah betul kamu pemimpin mereka?” Abu Ubaidah menjawab, “Ya, betul.” Mereka bertanya lagi, “Mengapa kamu duduk di atas tanah? Mengapa kamu tidak duduk di atas bantal? Apakah memang seperti ini keadaanmu di sisi-Nya? Apakah Dia melarang kamu untuk menikmati sesuatu yang bagus?”

Abu Ubaidah menjawab, “Sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Setiap pagi saya tidak memiliki dinar ataupun dirham. Saya hanya memiliki kuda, senjata dan pedang. Ketika saya membutuhkan sesuatu untuk menafkahi keluargaku pada sore hari, saya meminjam kepada temanku (Muadz bin Jabal). Dia bersedia untuk memberikan pinjaman kepadaku. Seandainya aku memiliki bantal atau permadani, teman-teman dan para sahabatku tidak boleh duduk di atasnya. Saya hanya akan membolehkan saudaraku seiman untuk duduk di atasnya. Barangkali di sisi Allah kedudukannya lebih terhormat daripada kami. Kami adalah hamba Allah yang hanya berjalan di atas tanah. Hal ini tidak mengurangi derajat kami di sisi-Nya. Bahkan Dia akan memberikan pahala yang besar kepada kami dan mengangkat derajat kami di sisi-Nya. Walaupun seperti itu, kami tetap merendahkan diri di hadapan-Nya.”2

Kondisi ini kontras dengan para pimpinan saat ini. Mereka seolah-olah gila jabatan. Minta pengawalan super ketat. Kalau perlu sepanjang mungkin iring-iringan pengawalnya. Mobil-mobil, rumah-rumah dan pakaian-pakaian mereka sungguh sangat kontras dengan kondisi rakyatnya. Mereka hidup dengan glamour dan bergelimang harta. Sebaliknya, rakyatnya, untuk sekedar makan memenuhi nilai gizi yang layak setiap hari saja sangat susah. Rumah rakyat seadanya. Sebaliknya, rumah para pemimpinnya besar lagi mewah dengan pagar rumah menjulang tinggi. Seolah-olah ingin memisahkan diri dengan lingkungan sekitarnya. Semua orang pun tahu bahwa dia pejabat jika berada dalam kerumunan orang. Selain karena pengawalan yang ketat, juga tampak dari pakaian dan kendaraannya. Wajar jika mereka cinta dunia namun takut mati. Sungguh jauh berbeda dengan para pemimpin dalam Kekhilafahan Islam.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. [Abu Umam]

 

Catatan kaki:

       Al-Wilayah ‘ala Al-Buldan, jilid  II, halaman 53

2        Al-Azdi, Futuh Asy-Syam, halaman 122-123

 

0 Comments

Leave a Comment

2 × four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password