Ust. Fatih Karim: Artis ‘Hijrah’ Membawa Kebaikan

Pengantar:

Fenomena ‘hijrah’ di kalangan artis atau selebritis tentu menarik untuk ditelaah. Pasalnya, sebagai public figure, apapun yang ditampilkan oleh mereka pasti berdampak luas. Paling tidak bagi fans atau follower mereka. Selain bagi masyarakatb secara umum. Padahal fans atau follower mereka saja bisa puluhan ribu, ratusan ribu, bahkan jutaan.

Apa sebetulnya yang melatarbelakangi fenomena artis ‘hijrah’? Mengapa ‘hijrah’ di kalangan artis seperti menjadi tren akhir-akhir ini? Apa saja dampak artis ‘hijrah’ bagi masyarakat? Mengapa pula belakangan ada segelintir orang yang nyinyir bahkan melempar tudingan terhadap fenomena artis ‘hijrah’? Misalnya dengan mengaitkannya dengan potensi radikalisme?

Itulah di antara pertanyaan Redaksi kepada Ustadz Fatih Karim, seorang ustad muda yang banyak mengisi kajian para artis. Berikut wawancara Redaksi dengan beliau dalam rubrik Hiwar kali ini.

 

Ustadz, benarkah saat ini sedang tren artis-artis berhijrah?

Sebenarnya bukan tren tapi fakta perubahan masyarakat. Mengapa jadi tren? Karena mereka memiliki media dan sosial media yang besar yang akan mengubah follower-nya dan lingkungan pergaulannya menjadi lebih islami.

Akhirnya, mereka banyak menginspirasi kebaikan bagi para pengikutnya yang sebelumnya jauh dari Islam.

Tentu ini bukan final dari perjuangan dakwah. Hanya saja, tren ini menunjukkan kaum selebriti kembali pada fitrah aslinya. Rindu Islam. Ingin hidup secara islami. Mereka menyadari, sebelum hijrah mereka merasakan betapa sengsaranya hidup dengan mengikuti sistem sekular kapitalisme.

Berkembangnya sarana sosial media Tampaknya momennya tepat. Lebih mudah menyampaikaan dan membagikan konten islam mulai dari yang remeh hingga ideologis.

 

Menurut Ustadz, apa yang melatarbelakangi atau yang menyebabkan mereka hijrah?

Banyak faktor. Ada yang karena Allah beri ‘teguran’ yang keras dalam perjalanan hidupnya. Ada juga yang terbuka hatinya ketika mendengar dan mengkaji Islam. Namun, inti semua itu adalah setiap manusia pasti merindukan fitrah aslinya. Rindu kebaikan. Rindu menjadi lebih baik. Kembali pulang menjadi aslinya.

Ada juga yang hanya berawal ikut-ikutan. Namun akhirnya, mereka malah ada di shaf terdepan mengajak lingkungannya berubah menjadi lebih baik.

Ada juga yang hijrah ketika melihat sesama artis pasca hijrah. Mereka melihat sendiri keluarganya lebih bahagia. Anak-anaknya shalih dan shalihah. Sikap dan tingkah lakunya menjadi lebih baik. Itulah yang juga mendorong yang lain ikut hijrah.

 

Dalam hal apa saja mereka hijrah?

Hal sederhana. Misal, tadinya tidak pernah shalat menjadi rajin shalat berjamaah di awal waktu. Yang awalnya masih terlibat riba, mereka memutuskan urusan dengan riba. Tadinya membuka aurat bahkan bangga memamerkan aurat, kini menutup aurat bahkan berhijab syar’i.Bahkan banyak yang mulai mengkaji Islam lebih dalam. Ada yang sibuk menghapalkan al-Quran, juga memperbaiki bacaan al-Qurannya.

Bahkan mereka lalu mengajak keluarganya, semuanya, agar hidup lebih islami. Malah ada pula yang sudah ikut aktif berdakwah. Almarhum Ustadz Harry Moekti, Ustadz Salman al-Jughawi (Sakti-Sheila on 7), Ustadz Derry Sulaiman dan Mbak Peggy Melati Sukma adalah beberapa contoh selebriti yang malah terjun berdakwah.

Banyak juga yang mengubah prinsip bisnisnya menjadi syar’i. Akad bisnis, produk iklan. Semuanya berubah lebih ‘mendahulu-kan’ Allah.

 

Lalu apa tantagan-tantangan dalam hijrah mereka?

Tentu, sebagai public figure, godaan duniawi ketika memilih hijrah dominan. Biasanya bisa melakukan bisnis apapun. Tayangan apa pun. Sekarang lebih memfilter diri. Hal itu berdampak pada ujian ekonomi.

Dari sisi sosial, sering dikatakan “sok alim”, “bunglon”, dll. Mungkin karena perubahan mereka yang cepat. Mereka acap di-bully oleh para haters. Juga dijauhkan dari lingkungan lama.

Begitu pun keluarga terdekat. Mereka akan merasa aneh dengan perubahan. Bahkan ada yang mengalami konflik keluarga karena perbedaan persepsi hidup.Tidak sedikit juga yang bercerai dengan suami/istrinya karena beda visi. Semestinya keduanya hijrah, namun tentu itu tidak mudah.

Perubahan yang drastis keluarga beda visi tentu berdampak luar biasa. Karena itu diperlukan hijrah bersama suami-istri. Anak juga harus ikut bersama dalam gerbong hijrah.

 

Bagaimana mereka mempertahankan komitmen hijrahnya?

Mereka membangun komunitas atau lingkungan baru yang sevisi. Satu pemikiran dan perasaan. Selain itu mereka rajin mengikuti kajian baik offline maupun online. Bahkan ada yang kuliah lagi mendalami Islam. Bahkan pula, ada yang sudah mulai aktif berdakwah mengajak umat hidup secara islami.

 

Menurut Utstadz, dampak apa yang ditimbulkan oleh tren hijrah para artis ini?

Tentu berdampak luas. Masyarakat yang selama ini mengikuti budaya liberal yang dijajakan kini mereka beralih menuju cara hidup dan budaya islami.

Munculnya produk, tayangan dan jasa islami semakin luas. Kerinduan hidup dalam naungan Islam semakin besar.

Selain itu, kajian Islam menjadi lebih ramai diikuti publik. Pasalnya, kultur Indonesia masih melihat siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan.

 

Di sisi lain, ada sebagian kecil yang memandang negatif tren hijrah artis ini. Misalnya fenomena hijrah artis dikaitkan dengan radilkalisme. Kira-kira apa motif mereka?

Tentu, apapun yang terjadi pasti ada like n dislike. Itu sunatullah.  Bisa jadi motifnya hasad, dengki, karena kajiannya tidak dari kelompok mereka. Berpindahnya life style mereka menjadi budaya baru (Islam) yang dibawa artis tersebut tentu berdampak pada kepentingan bisnis dan politik.

Ada anggapan juga artis hijrah ditunggangi ustadz dan kelompok radikal. Aneh! Sosok yang menjadi lebih baik kok distempel tidak baik.

 

Lalu bagaimana mereka menyikapi tudingan-tudingan miring itu?

Pada awalnya pasti mereka panik. Bahkan sangat terganggu. Seiring waktu dan pemahaman, hal itu menjadi biasa bahkan dianggap bunga-bunga hijrah. Tudingan itu juga membuat mereka melek atas apa yang sebenarnya terjadi. Ada pertarungan antara haq dan batil.

 

Memang seputar apa saja yang dikaji oleh para artis hijrah ini? Benarkah yang mereka kaji paham radikal?

Tentu beragam. Dari mulai akidah, ibadah sirah, akhlak bahkan hingga mengkaji sistem ekonomi Islam, sistem pemerintahan Islam dll.

Mereka juga memperbaiki bacaan al-Quran hingga belajar tafsir. Mereka bahkan mulai menghapal al-Quran.

Yang pasti, mereka tidak radikal. Radikal itu stempel yang diberikan musuh Islam bagi mereka yang berpegang teguh dengan Islam. Mereka juga paham dengan jelas. Umat juga bisa melihat dengan mata dan hati bahwa perubahan dan hijrah mereka tidak membawa apapun kecuali kebaikan.

 

Apa sikap follower menyikapi tren artis hijrah. Sebab banyak juga ada yang tidak tahan ketika proses hijrah?

Banyak yang ikut berubah sesuai dengan sikap dan kehidupan fansnya. Ada yang meninggalkan gaya hidup pacaran. Fans yang tidak berhijab menjadi ikut berhijab. Banyak juga yang ikut kajian. Mungkin dorongan awalnya karena ada artis idolanya, namun seiring waktu mereka jadi betah ikut kajian.

Manusiawi. Ada yang tetap istiqamah. Ada pula yang kembali ke dunia lama. Banyak faktor tentunya. Namun, golongan yang kedua ini sangat sedikit dibandingkan yang istiqamah. []

 

 

0 Comments

Leave a Comment

3 × 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password