Demagog

The end does not justify the means. Pernah dengar ungkapan ini? Intinya, tujuan itu tidak boleh  menghalalkan segala cara. Tujuan yang baik mesti dicapai dengan cara yang baik.

Tampaknya ungkapan ini hanya berhenti sebatas kata-kata. Faktanya, sekarang ini justru terdapat kecenderungan sangat nyata: orang tak lagi mempedulikan cara, yang penting tujuan tercapai. Machiavelli adalah teoritikus politik yang paling banyak dikecam. Ajarannya dinilai tak bermoral: menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan. Ini hari justru ajaran ini yang agaknya paling banyak dipraktekkan.  Apa buktinya?

Lihatlah, jumlah korupsi di negeri ini makin menjadi-jadi. ICW mencatat, dalam lima tahun terakhir, 254 anggota DPR/DPRD menjadi tersangka korupsi. Sebanyak 22 di antaranya adalah anggota DPR RI. Bahkan dua di antara mereka adalah Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan. Selain Setnov yang juga Ketum Golkar, terjaring juga Romahurmuzy, Ketum PPP, dalam kasus korupsi.  Dalam kurun waktu yang sama, Kementerian Dalam Negeri mencatat ada 105 kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi daerah di 22 provinsi. Dari 105 kasus itu, 90 di antaranya melibatkan bupati atau wali kota, dan 15 kasus lainnya melibatkan gubernur. Ini belum termasuk korupsi yang melibatkan aparat penegak hukum dan pejabat setingkat menteri.  Bila ditambahkan, angkanya tentu akan makin besar. Kasus terbanyak yang menjerat mereka terkait delik memperdagangkan pengaruh (trading in influence). Bila aparat bekerja lebih sigap, bukan tidak mungkin yang terjerat lebih banyak dari angka itu. Siapa sih pejabat sekarang yang tidak memperdagangkan pengaruh?

Korupsi adalah indikasi paling terang penghalalan cara. Baik untuk meraih kekayaan (money) maupun untuk mendapatkan kekuasaan (power). Memang antara power dan money saling berkait berkelindan. Satu sisi, untuk meraih power memerlukan money. Di sisi lain, di era materialisme seperti sekarang ini, untuk apa power didapat bila tidak untuk money? Jadilah power dan money bagai dua sisi mata uang. Tak terpisahkan.

Bagaimana caranya, dengan money bisa meraih power, dan dengan power bisa menumpuk money? Bukankah, katanya, jabatan adalah pengabdian? Jika Anda kokoh berpegang pada ungkapan  the end does not justify the means, apalagi masih kepikiran soal pengabdian, ya gak bakal bisa. Itu cerita masa lalu. Sudah lewat. Sekarang ini justru era the end justify the means. Tujuan menghalalkan segala cara.

Ini tidak berbeda dengan Il Principe-nya Machiavelli. Menurut dia, penguasa itu harus berorientasi pada kekuasaan. Penguasa hanya mematuhi aturan yang akan membawa dia pada pencapaian tujuan politik. Bila belum ada, buatlah aturan yang akan memuluskan tujuan politik itu. Bila sudah ada, tetapi aturan yang ada justru menghambat pencapaian tujuan, ubahlah. Jadi, “Raja itu harus bisa licik seperti kancil dan menakut-nakuti seperti singa,” katanya.

Dalam situasi seperti itu, saat hukum tidak lagi tegak, akan muncul demagog. Demagog adalah penguasa yang pandai menghasut  dan  membangkitkan semangat rakyat untuk dirinya memperoleh kekuasaan. Ia merayu masyarakat dalam beribu wajah. Sebanyak wajah apa yang diharapkan rakyat. Para demagog itu selalu mencari kambing hitam atas segala masalah. Bahaya politikus demagog ada pada tipudayanya dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara.

Dalam dunia pewayangan, demagog direpresentasikan oleh  Togog (Bhatara Antogo). Dia  gagal mengayomi bumi. Dia justru menjadi pengayom penguasa politik yang buruk. Berbeda dengan Semar (Bhatara Ismoyo). Dia  pengayom ksatria yang baik. Togog bermata juling, berhidung pesek, mulut lebar, tak bergigi. Tugasnya mendampingi dan bersama-sama dengan “majikan” yang congkak mau menang sendiri, licik, dan hipokrit. Tak ada kebijaksanaan lahir dari dirinya. Kebijaksanaan itu tak lain adalah ketika kepentingan diri terelaborasi. Bagaimanapun caranya dan berapapun ongkosnya. At all cost.

Dalam agama, profil demagog itu Fir’aun dan rezimnya. Ada Haman, menteri segala urusan. Juga Qorun, pengusaha rakus. Kekuasaanya sewenang-wenang dan menindas rakyat. Sama sekali tidak ada orientasi kesejahteraan. Apalagi kebahagiaan bagi rakyat. Obsesinya hanya pada pembangunan infrastruktur “dzil awtad” (QS al-Fajr [89]: 10). Jangan salah. Bukan infrastruktur untuk rakyat, tetapi untuk diri dan kroninya.

Negara yang dikuasai oleh pejabat demagog seperti ini sama sekali tak bisa diharapkan. Lupakan teori filosofis kenegaraan “bermoral”-nya Socrates yang menyatakan tujuan bernegara adalah keadilan; atau visi Plato yang mengatakan tujuan bernegara  adalah untuk menegakkan kesusilaan, baik individu maupun sosial; dan wisdom-nya Aristoteles, bahwa kesuksesan politik itu pada kebahagiaan warga negara yang sebesar-besarnya. Apalagi visi baldah thayyibah wa rabbun ghafur. Itu semua hanya ilusi. Sama sekali tak terpikirkan oleh sang demagog. Bagi dia, yang terpenting adalah  kekuasaan dan kepentingan dirinya.

++++

Beberapa abad lalu, Ronggowarsito, seorang pujangga dalam legenda Jawa kuno, menulis sebuah pitutur (semacam nasihat) yang ’makjleb’ banget. Katanya, “Iki jaman edan. Yen ora edan, ora keduman. Nanging, sak bejo-bejone wong edan, isih bejo wong kang  eling lan waspodho.” (Ini jaman gila, kalau tidak gila tidak kebagian. Namun, seuntung-untungnya orang gila, masih untung orang yang tetap ingat dan waspada).”

Jadi, ingat dan waspadalah. Kekuasaan itu hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi di muka bumi ini. Ingatlah juga, kemenangan atau keberhasilan hakiki itu sesungguhnya letaknya di ‘Sana’, nanti. Simaklah firman Allah SWT (yang artinya): Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung (TQS al-Ahzab [33] 72); Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang agung’. (TQS al-Buruj [85]: 11).

Jelas sekali, semua kemenangan agung itu tidak mungkin dicapai bila di Sini engkau menghalalkan segala cara. Tak mempedulikan halal-haram. Tak mengindahkan ketentuan syariah-Nya. Apalagi jika engkau malah menentang usaha menegakkan risalah-Nya. Lah wong, kekuasaanmu itu justru mestinya untuk tegaknya risalah.

Maka dari itu, tidak ada jalan lain, engkau harus mencapai kekuasaan dengan cara yang benar, untuk tujuan yang benar. Yang Dia ridhai. Yang sesuai dengan ketentuan-Nya. Menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

Jika masih terus menghalalkan segala cara, menjadi seorang demagog, menikmati kekuasaan yang sak cuplik itu untuk mengingkari risalah-Nya, jangan menyesal di Sana nanti, engkau pasti akan terpuruk di tempat yang terburuk. Tidakkah engkau membaca firman Allah SWT (yang artinya): Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam Neraka, mereka berkata: “Alangkah baiknya andaikata Kami dulu taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul (TQS al-Ahzab [33]: 66).

Ketika itu bener-benar terjadi, semua sudah terlambat. Penyesalan tak ada arti. Sebab tak ada lagi tempat kembali. Engkau akan selamanya meratapi diri. Abadi. Pasti.  [H.M. Ismail Yusanto, M.M]

 

0 Comments

Leave a Comment

one × three =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password