Akhirat

Bagi seorang Muslim, dunia ini ibarat waktu bercocok tanam. Akhirat adalah waktu menuai (memanen) hasilnya. Jika saat di dunia ia banyak menanam kebaikan, di akhirat ia pasti akan memanen pahala dan surga. Sebaliknya, jika ketika di dunia ia banyak menanam keburukan/kemaksiatan, di akhirat ia pasti menuai dosa dan merasakan pedihnya azab neraka. Inilah yang juga ditegaskan dalam al-Quran (yang artinya): Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat maka kejahatan itu pun untuk dirimu sendiri (TQS al-Isra’ [17]: 7).

Allah SWT pun menegaskan dalam ayat yang lain (yang artinya): Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dia usahakan dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dia kerjakan (TQS al-Baqarah [2]: 286).

Tak ada amal sekecil apapun yang diperbuat oleh seorang manusia, kecuali ia akan menuai hasilnya di akhirat. Demikian sebagaimana firman-Nya (yang artinya): Siapa saja yang mengerjakan kebaikan meski seberat dzarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)-nya. Siapa saja yang mengerjakan kejahatan meski sebesar dzarrah, niscaya ia pun akan melihat (balasan)-nya (TQS az-Zalzalah [99]: 7-8).

Karena itu di dalam kitab Hilyah al-Awliya’, Abu Nu’aim al-Asbahani menyatakan: sungguh berbahagia orang yang menjadikan dunia sebagai tempat “bercocok tanam”, yakni “bercocok tanam” aneka kebaikan.

Karena itulah, seorang Muslim sejatinya menjadikan kehidupan akhirat sebagai orientasinya. Bukan kehidupan dunia yang fana dan sementara. Terkait itu, menarik untuk merenungkan kisah berikut:

 

Suatu ketika Sahabat Umar bin al-Khaththab ra. menjumpai Baginda Rasulullah saw. di bilik beliau. Saat Umar ra. masuk, ia mendapati Baginda Rasulullah saw. sedang berbaring di atas sehelai tikar yang terbuat dari anyaman pelepah daun kurma. Saat beliau bangkit, tampak bekas-bekas pelepah daun kurma itu menempel di badan beliau yang putih bersih. Di atas tikar itu ada sebuah bantal yang terbuat dari kulit binatang, yang juga dipenuhi oleh daun dan kulit pohon kurma. Umar ra. berkata sebagai berikut: Aku memperhatikan keadaan bilik Rasulullah saw. Tampak ada tiga lembar kulit binatang yang telah disamak dan sedikit gandum di sudut bilik itu. Selain itu, aku tidak melihat apa pun. Aku menangis menyaksikan kondisi yang memprihatinkan itu. Rasulullah saw. sampai bertanya, “Mengapa engkau menangis?”

Aku menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis, wahai Rasulullah. Saya sedih melihat bekas tikar yang engkau tiduri di badanmu yang mulia. Saya pun prihatin sekali melihat keadaan kamar ini. Bangsa Persia dan Romawi yang tidak beragama dan tidak menyembah Allah saja hidup dengan penuh kemewahan. Mereka hidup dikelilingi oleh taman yang di tengahnya mengalir sungai. Adapun engkau adalah utusan Allah, tetapi engkau hidup dalam keadaan miskin.”

Saat saya berkata demikian, beliau bersabda, “Umar, sepertinya engkau masih ragu mengenai hal ini. Dengarlah oleh engkau, kenikmatan dan kebahagiaan di akhirat tentu lebih baik daripada kesenangan hidup dan kemewahan di dunia yang sementara ini.” (Al-Kandahlawi, Fadhâ’il al-A’mâl, 570-571).

 

Apa yang dinyatakan dan dipraktikkan oleh Rasulullah saw. ini tentu sejalan dengan apa yang Allah SWT kehendaki. Aungguh Allah SWT sangat menghendaki hamba-Nya agar para hamba-Nya lebih memperhatikan  kehidupan akhiratnya daripada urusan kehidupan dunianya. Ini karena, sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT sendiri (yang artinya): Sungguh kehidupan akhirat adalah lebih baik daripada kehidupan dunia (TQS adh-Dhuha [93]: 4).

Allah SWT pun tegas berfirman (yang artinya): Siapa saja yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan ia adalah Mukmin, mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik (TQS al-Isra’ [17]: 19).

Allah SWT pun berfirman (yang artinya): Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lain. Tentu kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya (daripada kehidupan dunia) (TQS al-Isra’ [17]: 21).

Sebaliknya, Allah SWT mencela bahkan mengancam hamba-Nya yang hanya fokus pada kehidupan dunia ini saja seraya mengabaikan urusan akhiratnya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman (yang artinya): Siapa saja yang menghendaki hanya kehidupan sekarang (dunia), Kami akan segerakan bagi dirinya di dunia itu apa yang Kami kehendaki, bagi orang yang Kami kehendaki, dan Kami tentukan bagi dirinya Neraka Jahanam; dia akan memasuki nereka itu dalam keadaan tercela dan terusir (TQS al-Isra’ [17]: 18).

Seorang Muslim sejatinya menyadari keberadaannya di dunia ini hanyalah sementara. Karena itulah Rasul saw. pernah berpesan kepada Abdullah bin Umar ra. “Jadilah kamu di dunia  ini seperti orang asing atau seorang pengembara serta persiapkanlah dirimu menjadi penghuni kubur.” (HR at-Tirmidzi).

Hadis di atas bermakna, “Janganlah kamu terlalu cenderung pada dunia. Jangan menjadikan dunia sebagai tanah air. Jangan menanamkan ke dalam jiwamu angan-angan bahwa dunia itu abadi. Jangan terlalu fokus pada dunia. Jangan terlalu terikat dengan dunia sebagaimana orang asing tidak akan terlalu betah tinggal di tempat yang bukan tanah airnya. Jangan pula terlalu disibukkan oleh perkara dunia, sebagaimana orang asing yang selalu merindukan pulang kepada keluarganya.” (Al-Malibari, Al-Isti’dad li al-Mawt wa Su’al al-Qubr, I/1).

Dunia tentu berbeda dengan akhirat. Dunia adalah sementara. Akhirat itu abadi. Kehidupan di dunia itu penuh tipudaya. Kehidupan akhirat itulah yang hakiki. Dunia adalah tempat beramal. Akhirat adalah tempat penghisaban dan pembalasan.

Karena itulah Allah SWT mengingatkan manusia agar jangan menunda-nunda untuk beramal, karena saat kematian datang, kesempatan untuk beramal itu pun telah hilang. Allah SWT berfirman: Belanjakanlah sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, “Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sebentar saja sehingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih?” Allah sekali-kali tak akan menangguhkan (kematian) seseorang jika telah datang waktu kematiannya. Allah Mahatahu atas apa saja yang kalian kerjakan (TQS al-Munafiqun [63]: 9-11).

Allah SWT berfirman (yang artinya): Pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam. Pada hari itu sadarlah manusia, tetapi kesadarannya itu tidaklah berguna lagi bagi dirinya. Manusia berkata, “Alangkah baiknya seandainya dulu aku melakukan kebajikan untuk hidupku.” (TQS al-Fajr [89]: 23-24).

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

20 − four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password