H. Dwi Condro Triono, Ph.D: Kapitalisme Global Bakal Bangkrut

Pengantar Redaksi:

Pandemi Covid-19 makin menguak kerapuhan dan kebobrokan Kapitalisme global. Saat ini krisis ekonomi dunia sudah di depan mata. Dunia usaha lesu. Banyak perusahaan besar maupun kecil tutup. PHK dimana-mana. Angka pengangguran meningkat. Angka kemiskinan otomatis juga meningkat.

Pertanyaannya: Jika keadaan ini terus berlangsung, apakah Kapitalisme global mampu tetap bertahan? Ataukah akan segera jatuh tersungkur? Jika jatuh, apakah ada kemungkinan Kapitalisme global bisa bangkit lagi sebagaimana pada waktu-waktu sebelumnya? Jika tidak, bisakah Sistem Ekonomi Islam menjadi alternatif?

Itulah di antara pertanyaan yang diajukan oleh Redaksi kepada H. Dwi Condro Triono, Ph.D dalam rubrik Hiwar kali ini. Berikut paparannya.

 

Bagaimana dampak COVID terhadap ekonomi AS?

Dampak yang ditimbulkan oleh serangan wabah Covid-19 terhadap ekonomi AS sangat luar biasa buruknya. Menurut Bank Investasi AS, Goldman Sachs, Produk Domestik Bruto (PDB) AS akan turun 24 persen pada kuartal kedua tahun 2020 ini, karena krisis yang dipicu oleh wabah Corona. Pada kuartal pertama tahun 2020 PDB AS sudah turun sekitar 6 persen. Ini terus berlanjut pada kuartal kedua. PDB-nya melorot menjadi 24 persen. Angka pengangguran di AS terus naik dari 9 persen menjadi 14,7 persen.

Jadi, saat ini resesi ekonomi secara praktis telah terjadi di AS. Salah satu indikator penting lainnya adalah kejatuhan pasar saham. Pada Bulan Maret lalu, tiga indeks utama di pasar saham AS mencatat penurunan 12 persen. Di Wall Street sekarang ini kita dapat menyaksikan kondisi yang terburuk sejak resesi ekonomi AS pada 2008.

Bulan Maret lalu, Bank Sentral AS (Federal Reserve) juga telah memangkas suku bunganya sebesar 1 persen. Pada saat ini suku bunga di AS dipatok di kisaran 0-0,25 persen untuk melawan dampak virus Corona terhadap ekonomi. Ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk mengatasi anjloknya perekonomian AS tersebut, Pemerintah AS juga telah menyiapkan dana likuiditas sebesar 700 miliar dolar untuk disuntikkan ke pasar.

 

Sektor-sektor apa saja yang langsung terimbas dampak COVID19? Bagaimana gambaran keseriusan dampaknya?

Adanya serangan Covid-19 ini telah memaksa Pemerintah AS untuk melakukan kebijakan lockdown. Kebijakan ini tentu langsung memberikan dampak pada memburuknya ekonomi AS. Rentetannya dapat kita lihat. Dimulai dari adanya kebijakan cuti tanpa gaji pada jutaan pekerja. Ini tentu akan menyebabkan terjadinya penurunan daya beli. Penutupan sekolah-sekolah, toko-toko, perkantoran, pabrik, berhentinya sektor properti, juga akan langsung berimbas pada menurunnya PDB AS. Akhirnya, dampak selanjutnya juga akan mempengaruhi sektor-sektor yang lain seperti sektor perdagangan, industri, jasa, termasuk transportasi, pariwisata, dan banyak sektor bisnis lainnya.

Gambaran keseriusan dampak yang ditimbulkan dapat dikatakan sudah hampir menyamai Great Depression pada tahun 1933. Pada masa Great Depression yang dimulai dengan jatuhnya pasar saham pada tahun 1929 dan terus berlangsung hingga tahun 1933, keadaan ekonomi menjadi kacau akibat melonjaknya angka pengangguran dan anjloknya output ekonomi. Selama masa Depresi Hebat itu, ada sekitar 20% peningkatan dalam jumlah pengangguran di Amerika Serikat selama tiga tahun. Adapun akibat serangan virus ini, menurut Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat, tingkat pengangguran sudah melonjak menjadi 14,7% pada April lalu. Sekitar 20,5 juta pekerjaan hilang selama wabah virus Corona menyebar. Besarnya prosentase pengangguran ini, selain sudah hampir menyamai depresi tahun 1933, ternyata juga telah memecahkan rekor angka pengangguran yang terjadi pasca Perang Dunia II, yaitu 10,8% yang terjadi pada 1982.

 

Faktor apa saja yang menyebabkan sektor tersebut langsung terjun bebas/kolaps? Bukankah rata-rata sebelumnya merupakan sumber penghasil uang?

Penyebab utama kolapsnya berbagai sektor ekonomi di atas tentu adalah adanya kebijakan lockdown. Kebijakan ini mengharuskan semua orang untuk tinggal di rumah. Ini tentu langsung memukul sektor penjualan ritel, transportasi, pariwisata, bisnis kreatif maupun dunia hiburan. Sektor jasa, yang biasanya diandalkan sebagai mesin uang raksasa, langsung ambruk total. Berbagai sektor jasa yang biasanya menjadi pendulang uang yang sangat besar, seperti jasa di bidang transportasi, pariwisata, dunia hiburan, maupun bisnis kreatif, langsung “ambyar”.

Ambruknya sektor penjualan langsung dan bisnis jasa tentu merembet pada sektor produksi. Ketika penjualan secara langsung dan sektor jasa terjun bebas, tentu produsen berbagai komoditas ikut kolaps juga.

 

Apakah kolapsnya satu sektor berpengaruh pada sektor lain? Apakah kolapsnya satu sektor berpeluang menjadi efek karambol pada sektor yang lain?

Ya. Tentu hal itu akan terjadi. Dalam dunia ekonomi yang modern seperti sekarang ini, satu sektor dengan sektor yang lain tentu akan saling berkaitan. Tidak ada satu sektor pun yang independen, berdiri sendiri. Tentu akan terhubung satu sama lainnya. Jika sektor penjualan langsung (ritel) ambruk, misalnya, tentu akan berdampak pada sektor produksi yang biasanya menjadi pemasok dari sektor tersebut. Jika sektor produksi jatuh, berbagai sektor yang sebelumnya menjadi pemasok bahan baku bagi sektor produksi tersebut tentu akan ikut terseret ambruk.

Jika berbagai sektor ekonomi tersebut jatuh, dampak selanjutnya tentu pada sektor ketenagakerjaan. Akan terjadi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Akibatnya, pengangguran akan merajalela dimana-mana. Tingginya angka pengangguran tersebut tentu akan berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat menurun, sektor perdagangan akan semakin jatuh. Dampak berikutnya, jika sektor rumah tangga dan perusahaan itu jatuh, berikutnya akan berimbas kepada pemerintah. Mengapa? Jika dua sektor itu jatuh, tentu akan menyebabkan pembayaran pajak kepada pemerintah akan jatuh pula. Akibatnya, pemerintahan akan ikut kolaps karena pembayaran pajak yang menurun drastis. Demikian seterusnya. Inilah yang disebut dengan efek karambol.

 

Apakah bangkrutnya sektor riil juga akan mempengaruhi sektor non-riil?

Ya. Itu benar. Bangkrutnya sektor riil tentu akan berimbas pada sektor non-riil, yaitu sektor perbankan dan pasar modal. Sektor perbankan, misalnya, perannya adalah sebagai lembaga intermediasi yang akan menampung dana dari sektor rumah tangga, kemudian disalurkan ke sektor perusahaan melalui kredit. Jika sektor perusahaan ambruk, akan terjadi kredit macet dimana-mana. Akibatnya, perbankan akan kehabisan likuiditas. Ini akan berimbas pada hilangnya dana sektor rumah tangga yang telah disetorkan ke perbankan.

Demikian juga pasar modal. Jika dana-dana dari sektor rumah tangga sudah banyak yang hilang akibat jatuhnya bisnis di sektor riil, ini akan menyebabkan transaksi di pasar modal juga akan lesu darah, karena kehabisan pembelinya.

 

Bagaimana bangkrutnya sektor non-riil bisa memberikan beban luar biasa pada ekonomi dunia?

Kita tentu sudah memahami bagaimana karakter dari perekonomian yang modern, yang dicirikan dengan majunya sektor non-riil, baik di perbankan maupun di pasar modal. Dalam perekonomian modern tersebut, jumlah dana dari sektor rumah tangga maupun perusahaan yang disimpan dalam berbagai bentuk surat berharga, seperti: saham, obligasi, maupun berbagai bentuk sekuritas yang lainnya sangatlah besar. Akibatnya, perputaran uang di sektor non-riil jauh lebih besar dibandingkan dengan perputaran uang di sektor riil. Ada sekitar 90% uang yang berputar di sektor non-riil. Berarti uang yang berputar di sektor riil hanya sekitar 10%.

Nah, yang menjadi masalah, ternyata nilai dari surat-surat berharga tersebut sebenarnya tidak banyak ditopang oleh kinerja ekonomi secara langsung, tetapi justru banyak ditopang oleh isu-isu non-ekonomi. Jika ada gejolak politik, sosial, maupun munculnya berbagai rumor, ini bisa langsung berimbas pada kejatuhan nilai dari berbagai surat berharga tersebut. Ada sedikit saja kepanikan di masyarakat, ini akan berimbas pada kejatuhan pasar modal. Apalagi ketakutan yang luar biasa terhadap wabah Covid-19 ini, tentu akan langsung berdampak pada jatuhnya nilai berbagai surat berharga tersebut, dengan sangat cepat.

Oleh karena itu, kita dapat membayangkan, jika nilai surat berharga itu jatuh, berarti dana dari sektor rumah tangga dan perusahaan yang disimpan akan langsung musnah. Padahal dalam ekonomi modern satu pasar modal yang ada di satu negara selalu memiliki hubungan dengan pasar modal di negara-negara lain di seluruh dunia. Berarti kejatuhan pasar modal di satu negara, seperti AS, tentu akan langsung menjadi beban secara global terhadap seluruh perokonomian di dunia ini.

 

Bagaimana peluang terjadinya krisis keuangan dengan skala dunia? Apakah mungkin terjadi krisis mirip subprime mortgage di AS, namun skalanya dunia?

Krisis ekonomi dunia yang diakibatkan oleh krisis keuangan tadi sebenarnya sudah ada di depan mata. Sudah bukan merupakan potensi atau peluang lagi. Proses transmisi krisisnya mirip dengan krisis subprime mortgage. Namun, dalam hitungan ekonomi, krisis yang ditimbulkan oleh wabah Covid-19 ini sudah jauh melampaui krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh subprime mortgage. Sebabnya, krisis subprime mortgage titik episetrumnya hanya di wilayah AS. Adapun krisis ekonomi yang diakibatkan oleh wabah Covid-19 ini sudah benar-benar mendunia, dengan nilai yang jauh lebih besar.

 

Apakah krisis keuangan dunia ini berpotensi menjadi resesi dunia?

Sebagaimana sudah saya sampaikan di atas, krisis keuangan dunia, untuk menjadi resesi dunia, sudah tidak menjadi potensi atau peluang lagi. Ia benar-benar sudah menjadi resesi ekonomi dunia secara riil.

 

Apakah ini pertanda lonceng kehancuran Kapitalisme semakin bergetar kencang?

Ya. Tentu saja seperti itu. Hampir seluruh negara yang ada di dunia ini sekarang diatur oleh sistem ekonomi kapitalisme. Jika ekonomi dunia sekarang ini hancur, ini adalah kehancuran bagi ekonomi kapitalisme itu sendiri.

 

Apa yang harus dilakukan umat Islam untuk mengantisipasi itu semua?

Jika kita mengaca pada sejarah ekonomi kapitalisme yang selama ini berjalan, ternyata ekonomi kapitalisme sudah berkali-kali diterjang oleh berbagai badai krisis ekonomi. Namun, fakta sejarah juga menunjukkan bahwa ekonomi kapitalisme selalu bisa melakukan recovery, kemudian bangkit lagi. Demikian juga jika sekarang ini ekonomi kapitalisme itu hancur akibat wabah Covid-19, jika dibiarkan saja, mereka akan bisa bangkit kembali. Mengapa? Sebabnya, umat manusia belum menemukan sistem ekonomi alternatif sebagai penggantinya. Jika ekonomi kapitalisme ini telah terpuruk, umat manusia di muka bumi ini tentu akan segera bangkit kembali dengan menggunakan sistem ekonomi kapitalismenya.

Oleh karena itu, jika kita mengharapkan sistem ekonomi Islam bisa mengambil kesempatan dari kehancuran ekonomi kapitalisme, harus ada peran aktif dari umat Islam untuk semakin kencang mendakwahkan sistem ekonomi Islam sebagai ekonomi alternatif yang bisa menggantikan kegagalan demi kegagalan dari ekonomi kapitalisme. Jika umat Islam tidak segera mengambil kesempatan emas ini, sejarah kebangkitan ekonomi kapitalisme akan terus berulang kembali.

WalLahu a’lam. []

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

13 − one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password