Tiga MItos Krisis Kashmir

Saat ini sudah lebih dari sebulan India secara efektif mencaplok 60% wilayah Kashmir. India mengirimkan 125.000 tentara, memutus semua komunikasi dan memberlakukan jam malam untuk mempertahankan pendudukannya. Terlepas dari kemarahan Pakistan dan banyak orang di seluruh dunia, kekuatan global cuci tangan dari pertikaian ini. Mereka mengatakan masalah ini merupakan masalah dalam negeri India.

Sekarang jelas bahwa pertemuan antara Perdana Menteri Pakistan Imran Khan dan Presiden AS Donald Trump pada bulan Juli di Washington, saat Trump menawarkan diri untuk menjadi penengah antara India dan Pakistan atas masalah Kashmir, bukanlah saran yang diberikan secara serampangan. Kita sekarang tahu AS sepenuhnya sadar bahwa India akan mencaplok Kashmir dan memberi dia lampu hijau.

 

Jadi apa tanggapan Pakistan?

Imran Khan ingin bernegosiasi dengan India saat umat menginginkan aksi militer. Imran Khan ingin berpaling kepada komunitas internasional saat umat ingin melihat pembebasan Kashmir. Imran Khan mempertimbangkan biaya perang saat umat menimbang kehormatannya. Imran Khan telah mencoba menakut-nakuti umat dengan ancaman perang nuklir di wilayah itu saat umat ingin mengangkat senjatanya sendiri. Rezim Pakistan telah mengejar strategi yang jelas untuk tidak melakukan tindakan dan memalingkan diri untuk berurusan dengan India yang suka berperang dan mendasarkan hal ini pada mitos.

 

Mitos 1: Ekonomi Pakistan Tidak Dapat Menopang Perang dengan India

Imran Khan men-tweet pada tanggal 3 September 2019: “Saya ingin mengatakan kepada India bahwa perang bukanlah solusi atas masalah apapun. Pemenang dalam perang juga kalah. Perang melahirkan sejumlah masalah lain.”

Menteri Luar Negeri Shah MehmoodiQureshi bahkan lebih pasti. Dalam sebuah wawancara dengan BBC Urdu dia mengatakan, “Pakistan tidak pernah mengikuti kebijakan agresif dan selalu lebih suka perdamaian. Pemerintah Pakistan saat ini telah berulang menawari India untuk memulai perundingan. “

Dia menegaskan perang bukan pilihan untuk menangani masalah Kashmir.

Memang benar ekonomi India sepuluh kali lipat lebih besar dari Pakistan, tetapi begitu juga kewajibannya. Meskipun PDB India $2,5 triliun, sementara Pakistan hanya $350 miliar, pengeluaran Pemerintah India adalah $ 740 miliar, sedangkan Pakistan hanya $70 miliar. Secara umum, dalam semua indikator ekonomi lainnya, indikatornya kurang lebih sama [1].

Ekonomi Pakistan memiliki keuntungan yang sangat penting. Lebih mandiri dibandingkan ekonomi India yang sangat bergantung pada perusahaan-perusahaan asing yang gelisah karena segera keluar begitu ada sedikit sikap permusuhan. Oleh karena itu, dalam skenario perang apa pun, perekonomian India akan lebih menderita secara eksponensial daripada ekonomi Pakistan yang sudah berada dalam posisi keuangan yang sulit.

Mitra asing utama dan pra investor dalam ekonomi Pakistan adalah Cina yang memiliki kepentingan dalam masalah Kashmir. Memburuknya hubungan Cina dengan AS ditambah dengan investasi yang sudah cukup besar yang telah dibuat dalam inisiatif CPEC membuat Cina tidak mungkin akan memberi sanksi kepada Pakistan. Masalah kritis bagi ekonomi Pakistan adalah akses untuk mendapatkan produk minyak bumi yang diperoleh dari Arab Saudi, yang pasti akan menyerah pada tekanan AS dan sanksi terhadap Pakistan. Namun, kepercayaan ini akan muncul lagi dengan sendirinya di bawah tekanan AS. Produk minyak bumi tersedia untuk Pakistan dari sumber-sumber lain. Iran, misalnya, akan memasok produk-produk minyak Pakistan pada tingkat yang lebih menguntungkan daripada Arab Saudi. Sayang, pertimbangan politik lebih merintangi daripada pertimbangan ekonomi. Selain itu, pasokan minyak ke India juga dalam posisi genting karena sebagian besar minyak India berasal dari Iran yang jalur pelayarannya melintasi perairan Pakistan.

Daripada ekonomi Pakistan yang lemah dalam menghadapi India, pada sebagian besar indikator, ekonomi India akan berjuang dalam skenario perang apa pun. Anehnya, rezim Pakistan terus berargumen bahwa ekonominya tidak dapat bertahan jika terjadi perang dengan India. Padahal Pemerintah Pakistan berturut-turut telah mempertahankan perang di Afghanistan dan di wilayah kesukuan sejak AS memerintahkan Pakistan untuk melakukannya. Jelas lebih besar pertimbangan politik ketimbang pertimbangan ekonomi yang mendorong para penguasa Pakistan.

 

Mitos 2: Tentara India Jauh Lebih Besar daripada Pakistan sehingga Mereka Unggul

Memang benar bahwa India memiliki pasukan, angkatan laut dan angkatan udara yang lebih besar daripada Pakistan; tetapi ini hanyalah di atas kertas. India telah lama memiliki pasukan besar yang telah berjuang untuk mempersenjatai diri dengan senjata modern. Invasi Pakistan telah lama mempengaruhi postur tentara India. Tantangan sebenarnya adalah dari dalam negeri dari berbagai kelompok separatis, yang telah diperangi oleh tentara.

India masih merupakan salah satu importir peralatan militer terbesar di dunia. Walaupun sudah dua dekade berupaya mengembangkan kemampuan militer internalnya, India gagal mengembangkan platform  yang berkualitas. Pieter D. Wezeman, seorang peneliti senior di Stockholm International Peace Research Institute, mengatakan, “Saya kira tidak ada negara lain di dunia yang telah berusaha sekeras India untuk membuat senjata dan gagal secara menyeluruh.”

Bahkan karena upaya modernisasi militer, India telah mengalami banyak masalah. Pada tahun 2012 sepucuk surat dari Panglima Angkatan Darat Jenderal V.K. Singh kepada Perdana Menteri telah bocor ke publik yang menyoroti masalah internal. Jenderal militer menyoroti, “Sejuta tentara India ditambah dengan pasukan tidak layak untuk berperang. Tank-tank militer telah kehabisan amunisi. Pertahanan udara telah usang. Infanteri kekurangan senjata-senjata penting. Kondisi militer India mengkhawatirkan. Pertahanan udara negara itu 97% telah usang. Pasukan khusus elit sangat kekurangan senjata-senjata penting. Seluruh armada tank milik Angkatan Darat tidak memiliki amunisi yang penting untuk mengalahkan tank-tank musuh. “[2]

Tentara India juga dibatasi oleh penyalahgunaan perekrutan yang merajalela dan masalah moral dan bunuh diri [3]. Ketika menyangkut komitmen operasional, Angkatan Darat India berkomitmen penuh, dengan lebih dari 700.000 tentara dikerahkan di Kashmir, dan pemberontakan Naxalites (pemberontak kamunis Mao). Negara itu memiliki sengketa perbatasan dengan Cina, juga sengketa perbatasan 4000 km dengan Bangladesh di mana India ingin memulangkan secara paksa lebih dari dua juta orang. Karena itu India harus mengumpulkan kekuatan untuk membanjiri pertahanan Pakistan di wilayah Punjab dan Sindh. Ini akan menyebabkan permintaan kehadiran militer akan sangat besar. Selain itu, menurut Kementerian Pertahanan India, sejak tahun 1963 lebih dari 490 MiG-21 telah hilang karena kecelakaan, yang mengakibatkan kematian 171 pilot. Pesawat buatan Rusia yang merupakan tulang punggung armada India adalah yang paling rawan kecelakaan. Pesawat-pesawat itu telah dikenal sebagai “peti mati” atau “pembuat janda”.

Tentara India lebih besar dari Pakistan, tetapi dalam kenyataannya negara itu memiliki lebih banyak masalah daripada Pakistan.

 

Mitos 3: India dan Pakistan adalah Kekuatan Nuklir dan Perang Antara Kekuatan Nuklir Akan Mengakibatkan Hancurnya Kedua Negara

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan telah berjanji bahwa negaranya tidak akan memulai konflik militer dengan India. Ia memperingatkan risiko pecahnya perang nuklir di antara negara-negara tetangga di Asia Selatan. “Kami adalah dua negara yang memiliki senjata nuklir. Jika ketegangan meningkat maka terdapat bahaya bagi dunia akibat perang ini,” kata Khan pada Konvensi Sikh Internasional pada tanggal 2 September 2019.”

“Dari pihak kami, kami tidak akan pernah bertindak lebih dulu.” Ini adalah komentar Khan lebih jauh yang dimulai tanggal 3 Juli 2019. Saat itu dia mengatakan, “Perang nuklir bukan pilihan dan Pakistan akan menyerahkan senjata nuklirnya asalkan India melakukan hal yang sama.”

Imran Khan menunjukkan pemahaman yang buruk tentang strategi nuklir dan politik senjata nuklir. Dengan logika Khan, jika India meninggalkan nuklir, Khan akan melakukan hal yang sama, tetapi membiarkan rakyat Pakistan rentan terhadap ancaman senjata konvensional dan nuklir dari Amerika, entitas Zionis, Rusia atau bahkan Cina. Kekuatan militer konvensional Pakistan tidak cukup untuk mencegah kekuatan-kekuatan ini menyerang atau bekerjasama dengan India yang dilucuti nuklirnya untuk memecah-belah negara Pakistan.

Sangat penting bagi Pakistan untuk menjaga persenjataan nuklirnya baik sebagai pencegah maupun pengganda kekuatan jika perang pecah. Pelajaran yang dipetik dari kebuntuan pembicaraan nuklir Korea Utara dengan Amerika adalah bahwa senjata nuklir mencegah terjadinya invasi. Sebaliknya, ketiadaan senjata nuklir—di negara-negara seperti Irak, Suriah dan Libya—mendorong kekuatan nuklir seperti AS untuk menyerang dengan bebas terlepas dari hukuman. Utilitas hulu ledak nuklir yang penting ini tampaknya hilang dari pikiran Imran Khan, mantan pemain kriket yang kemudian menjadi politisi.

Ada satu kepastian dalam perang dan itu adalah hukum balas budi. Jika kedua belah pihak memiliki kemampuan senjata yang tidak konvensional maka kedua belah pihak tidak akan menggunakannya. Sebaliknya, jika hanya satu pihak yang memiliki kemampuan ini maka jika merasa kalah pihak yang memiliki kemampuan ini tentu akan menggunakannya. Hal ini telah terjadi dalam sejarah, ketika semua pihak dalam Perang Dunia II memiliki senjata kimia maka tidak ada yang menggunakannya. Saat AS memiliki senjata nuklir dan Jepang tidak, AS mengorbankan ratusan ribu nyawa orang Jepang dengan meledakkan senjata bom atom.

Dengan Pakistan dan India memiliki persenjataan nuklir yang substansial maka tidak ada peluang perang nuklir. Dengan menempatkan penuh seorang pengecut, diplomasi ini menjadi fatal. Aturan pertama dan paling penting dalam diplomasi adalah untuk jangan pernah mengambil opsi dari atas meja, bahkan jika seseorang tidak punya niat menindaklanjuti dengan tindakan tertentu. Membatasi pilihan seseorang akan menghambat kemampuan Anda untuk bernegosiasi dan mengkhianati kelemahan seseorang terhadap musuh Anda.

[Riza/sumber: https://www.hizb.org.uk/viewpoint/3-kashmir-crisis-myths/]

 

Referensi:

[1] https://countryeconomy.com/countries/compare/india/pakistan

[2] http://thediplomat.com/2012/03/india-general-were-unfit-for-war/

[3] https://www.asiasentinel.com/society/indian-armys-growing-morale-problems/

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

17 − 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password