Konferensi Khilafah Internasional Kuala Lumpur

Demokrasi Sistem Gagal, Khilafah Solusi Tunggal

Di tengah penentangan terhadap ide khilafah di Indonesia oleh rezim penguasa dan pendukungnya, di negeri tetangga justru berlangsung International Khilafah Conference Kuala Lumpur (IKCKL) 2017.

Hizbut Tahrir Malaysia (HTM) menggelar International Khilafah Conference Kuala Lumpur (IKCKL) 2017. “Insya Allah hari ini Hizbut Tahrir Malaysia akan menyelenggarakan IKK dengan tema: Demokrasi Sistem Gagal, Khilafah Solusi Tunggal,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Malaysia Ustadz Abdul Hakim Othman, Sabtu (9/12/2017) di Le Quadri Hotel, Kuala Lumpur.

Acara dihadiri sekitar 1300-an peserta dari dalam maupun luar Malaysia. Begitu juga dengan pembicaranya. “Sebanyak 1318 tiket terjual berarti sekitar 1300-an peserta. Pembicara yang telah hadir ada dua dari Malaysia; Palestina, Amerika, Turki dan Australia masing-masing satu,” ujar Ustadz Abdul Hakim.

Setelah diawali dengan pembacaan ayat suci al-Quran, dengan mengenakan baju kurung cekak musang berwarna merah jambu dan berpeci hitam, Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Malaysia Wan Hisyam Wan Salleh memberikan sambutan.  “Demokrasi Sistem Gagal, Khilafah Solusi Tunggal merupakan suatu slogan yang mungkin memberikan kontroversi bagi penduduk Malaysia maupun dunia,” ujarnya

Wan Hisyam menyebutkan bila demokrasi dikatakan sebagai dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat juga kenyataannya omong-kosong. Memang rakyat yang memilih para wakilnya untuk duduk di Parlemen. Namun, apa yang diputuskan oleh wakil rakyat ini bertentangan dengan keinginan rakyat dan lebih menuruti maunya konglomerat.

Demokrasi juga jelas-jelas bertentangan dengan Islam. “Dari aspek sumber kemunculan demokrasi, sistem ini muncul dari manusia. Yang menjadi pemutus (al-hâkim) untuk memberikan penilaian terpuji atau tercela benda yang digunakan manusia dan perbuatan-perbuatannya, adalah akal manusia,” ungkap Ketua Lajnah Tsaqafiyah HT Malaysia Dr. Muhammad Abdul ‘Ain.

Sebaliknya, Islam menyatakan kedaulatan ada di tangan syariah, bukan di tangan umat.  “Ini karena Allah SWT sajalah yang layak bertindak sebagai musyarri’ (pembuat hukum).  Umat secara keseluruhan tidak berhak membuat hukum, walaupun hanya satu hukum,” tegasnya.

Dalam sistem demokrasi, pendapat mayoritas bersifat mengikat bagi semua pihak, baik pemerintah maupun rakyat.  Adapun dalam Islam permasalahannya sangatlah berbeda. Dalam penentuan hukum, kriterianya tidak bergantung pada pendapat mayoritas atau minoritas, namun bergantung pada dalil.

“Sekiranya umat Islam berkumpul lalu bersepakat bahwa riba adalah halal untuk meningkatkan aktivitas ekonomi, atau mereka bersepakat perzinaan pribadi (lokalisasi perzinaan)  dibolehkan dengan alasan agar zina tidak tersebar luas di tengah masyarakat,  maka seluruh kesepakatan ini  tidak ada nilainya sama sekali di sisi Islam,” tegasnya.

Salam Hangat dari Pusat Khilafah Dulu

Pembicara berikutnya, Ketua Kantor Media Hizbut Tahrir Turki Mahmut Kar memberikan salam hangat untuk kaum Muslim di Malaysia.

“Saya membawakan salam dari tanah umat Islam, dari Turki, pusat Khilafah yang terdahulu. Saya membawakan salam ke Malaysia dari tanah—yang dibuka oleh Sultan Muhamamd Khan, ibukota terakhir Khilafah Utsmaniah—Istambul,” ujarnya

Mahmut menyatakan, “Saya ingin menyampaikan penghargaan saya berada di Malaysia, wilayah yang merupakan keutamaan untuk Khalifah Abdul Hamid II, dan adalah merupakan satu penghormatan untuk bersama-sama dengan Anda.”

Ia pun mengatakan, “Saya ingin memberikan contoh dengan keadaan di negara saya, Turki.”

Menurut dia, sejak pembubaran Khilafah Utsmani, tujuan utama negara Turki adalah melaksanakan pemerintahan demokrasi sekular. Mereka mencoba berbagai cara untuk mencapai tujuan tersebut.

Lalu, lanjut Mahmut, mereka mengharamkan al-Quran dan azan serta menutup madrasah dan sekolah agama. Tak cukup dengan itu, mereka pun memberikan sanksi berat bagi yang melanggar. Namun, mereka gagal.

Lalu strategi pun diperhalus dengan membolehkan kemunculan partai Islam dalam sistem demokrasi sambil mengatakan bahwa jalur parlemen dalam demokrasi dapat mengembailkan kejayaan Islam. Mereka ingin menipu umat Islam dengan cara ini.

Mahmut pun menyeru sekitar 1300-an peserta yang hadir, “Wahai saudara-saudariku di Malaysia! Kita sebagai umat Islam tidak seharusnya ditipu dengan ide sekularisme dan demokrasi yang dilaksanakan oleh penjajah kuffur Amerika dan Barat. Kita tidak seharusnya bersetuju dengan dengan kekufuran.”

Ia juga menyerukan agar umat bergandeng tangan untuk mengembalikan Khilafah ar-Rasyidah yang memberikan cahaya dan petunjuk kepada dunia ini.

Demokrasi Alat Barat Menyerang Umat Islam

Di hadapan sekitar 1300-an peserta, Tokoh Hizbut Tahrir Australia Wassim Doureihi menyatakan demokrasi adalah alat Barat untuk menyerang umat Islam.

“Memperjuangkan demokrasi di Dunia Islam tidak lain hanyalah slogan yang digunakan untuk menyerang umat Islam. Ia adalah alat yang mudah, tetapi tersedia untuk dipakai-buang serta merupakan justifikasi untuk Barat terus campur tangan di Dunia Islam,” ungkapnya.

Menurut dia, jika menguntungkan Barat, slogan-slogan demokrasi dan wacana hak manusia dengan mudah digunakan.

“Pekikan hak asasi manusia, hak wanita, hak minoritas dan sebagainya didengungkan dengan lantang. Kita telah melihat perkara ini dalam penerbitan kartun yang menghina Rasulullah saw. di Denmark dan pengharaman niqab di Perancis. Kita juga melihat ia digunakan untuk menjustifikasi invasi ke Irak dan Afghanistan,” bebernya.

Jika prinsip-prinsip demokrasi digunakan untuk menjauhkan umat Islam dari Islam, para juara demokrasi dengan segera dapat dilihat, contohnya, mereka menyeru untuk melindungi hak minoritas dalam aspek seksual (membolehkan LGBT, red), membenarkan wanita Islam menikah dengan lelaki bukan Islam dan lainnya.

“Namun, penyokong demokrasi tidak kelihatan ketika umat Islam di Aceh menuntut penerapan hukum syariah yang lebih luas atau ketika orang Islam di Indonesia berusaha untuk mengharamkan aliran sesat Ahmadiyah,” tegasnya.

Menurut dia, sedari dulu, jauh hari sebelum menyebarkan demokrasi di dunia Islam, Barat memang sudah sangat membenci Islam.

Ketiadaan Khilafah, Puncak Musibah

Dengan hanya melihat sekilas penderitaan umat Islam hari ini di Suriah, Irak, Libya, Myanmar, Afrika Tengah dan lainnya sudah cukup menghilangkan akal sehat dan menyebabkan orang yang sabar pun akan bertanya-tanya kebingungan.

“Pertanyaannya apakah puncak dari musibah besar yang menimpa kita? Jawabannya adalah sistem pemerintahan,” ujar Imam Masjid Al-Aqsa Syaikh Issam Amira, dalam International Khilafah Conference Kuala Lumpur (IKCKL) 2017.

“Ya, sistem pemerintahan,” tegasnya.

“Rakyat tetaplah rakyat, bumi tetaplah bumi, yang berubah adalah sistem pemerintahan. Bukankah sistem pemerintahan yang mengatur hubungan antar manusia? Bukankah sistem pemerintahan yang membentuk perasaan mereka? Bukankah sistem pemerintahan yang mengurus urusan mereka? Jadi di tangannyalah kebahagiaan dan penderitaan mereka,” tambahnya.

Syaikh Issam mengungkapkan ketika sistem pemerintahan umat Islam adalah Khilafah, mereka mampu merealisasikan kemenangan, membuka negara-negara sehingga tunduklah kekuasaan yang zalim kepada mereka. Bahkan hewan dan burung, selain manusia sendiri tanpa melihat agama dan kepercayaannya dapat mengecap nikmatnya sistem Khilafah.

“Hadirin yang mulia, cukuplah bagi kita hinaan dan celaan. Cukuplah kita sengsara di balik tipudaya demokrasi yang menipu. Cukuplah kita mengabaikan tugas yang dapat memberi kita kehidupan dan mengembalikan keagungan dan kemuliaan kita,” seru Syaikh Issam, “Itulah tugas memperjuangkan Khilafah yang hakiki, yang dapat menyatukan umat Islam dan memelihara mereka dari orang-orang yang tamak dan para pemangsa yang menunggu-nunggu, menolong orang-orang yang dizalimi dan ditindas, yang telah begitu lama menderita di Palestina, Myanmar, Suriah, Kashmir dan negara-negara umat Islam yang lain.”

Dengan Khilafah, “Kita mempersiapkan tempat terunggul kita di antara umat manusia. Kita mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya,” pungkasnya.

Thalab an-Nusrah: Satu-Satunya Metode Syar’i untuk Menegakkan Khilafah

Hizbut Tahrir menjelaskan bahwa satu-satunya metode yang sahih dan syar’I untuk menegakkan Khilafah adalah melalui thalab an-nusrah. “Bukan dengan cara-cara lain seperti mendirikan masjid, sekolah, menguasai ekonomi, menolong kaum fakir-miskin atau mengajak berakhlak mulia. Ini semua adalah amal solih, tetapi bukan metode menegakkan Khilafah,” ujar Juru Bicara Hizbut Tahrir Malaysia Abdul Hakim Othman.

Ia menegaskan, metode menegakkan Khilafah juga bukanlah dengan mengangkat senjata memerangi penguasa, bukan pula dengan jihad maupun kekerasan. Metode menegakkan Khilafah bukan dengan jalan demokrasi atau Pemilu atau melalui Parlemen atau bergabung dengan pemerintahan sekular.

Menegakkan Khilafah, bukan juga dengan pengerahan massa (people’s power) untuk menggulingkan kekuasaan. “Semua cara ini adalah penyimpangan (mukhâlafah) dari teladan thalab an-nushrah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.,” bebernya.

Satu perkara lagi yang perlu dipahami, thalab an-nushrah tidaklah identik dengan kudeta militer (al-inqilâb al-‘askari). Thalab an-nushrah adalah aktivitas politik, bukan aktivitas militer. Jadi, keliru kalau ada yang mengatakan bahwa thalab an-nushrah itu sama saja dengan kudeta militer.

“Tatkala kaum Anshar memberikan nushrah kepada Rasulullah saw., saat itu Anshar memilih dengan cara damai, karena memang saat itu kaum Ansharlah yang sedang memegang kekuasaan di Madinah. Lalu mereka bersedia berada di bawah kendali Rasulullah saw. setelah mereka bersetuju untuk memberi nushrah tanpa syarat kepada Nabi saw. Begitulah apa yang mesti dicontoh oleh sebuah parti politik Islam,” tegasnya.

Abdul Hakim mengatakan, berdasarkan Sirah Nabi saw. dapat disimpulkan beberapa perkara penting yang wajib diikuti oleh partai politik atau kelompok yang menginginkan tegaknya Khilafah terkait ahlu an-nusrah.

Pertama: ahlu an-nusrah haruslah sebuah kelompok, bukannya individu.

Kedua: ahlu an-nushrah mestilah kelompok yang kuat, yakni berkemampuan menyerahkan kekuasaan, termasuk mampu mempertahankan negara baru yang akan berdiri.

Ketiga: ahlu an-nushrah wajib Muslim, tidak boleh kafir.

Keempat: ahlu an-nushrah mestilah orang-orang yang mendukung Islam dan Negara Islam (yang bakal berdiri), bukan orang yang memusuhi Islam seperti kaum kafir, sekular, liberal dan sebagainya.

Kelima: ahlu an-nushrah mesti berada sepenuhnya di bawah kendali partai politik yang mereka dukung, bukan menjadi kekuatan terpisah atau di luar kendali.

Keenam: ahlu an-nushrah tidak dibenarkan meminta syarat apa pun, meminta pampasan atau konsesi tertentu sebagai imbalan memberikan nushrah; contohnya meminta jabatan tertentu setelah Khilafah berdiri.

Ketujuh: ahlu an-nushrah hendaklah tidak terikat dengan perjanjian internasional yang bertentangan dengan Islam, sementara mereka pun tidak mampu melepaskan diri dari perjanjian tersebut.

Hizbut Tahrir Tawarkan Konsep Persatuan Hakiki

Sesungguhnya pemikiran kufur-lah yang membuat kaum Muslim terpecah. Oleh karena itu Hizbut Tahrir selalu berupaya menyatukan umat dengan menyerang pemikiran kufur dan mendakwahkan pemikiran Islam.

“Benih-benih awal dakwah yang diberkati ini telah disemai di Baitul Maqdis. Pokok dakwah yang besar itu mengakar ke dalam hati dan pemikiran umat Islam di Syam, Mesir, Libya dan Tunisia. Sampai sekarang dakwahnya terus melebar, berupaya memayungi seluruh umat Islam di mana saja mereka berada,” beber Direktur Kantor Pusat Media (CMO) Hizbut Tahrir Otsman Bakhach

Hizbut Tahrir terus berupaya menyatukan umat Islam dari aspek perasaan, kepercayaan, pemikiran dan konsep mengatasi problematika hidup manusia. “Itu semua dapat menyatukan kaum Muslim baik lelaki maupun perempuan, baik orang Kenya atau Bangladesh atau Uzbekistan. Dia mungkin mengikut mazhab fikih Hanafi, atau Syafii, atau Hanbali. Dia mungkin berkulit putih atau Melayu atau berkulit hitam. Namun, dalam lubuk hatinya dia adalah seorang yang beriman kepada Allah SWT dan telah dengan sukarela mengabdikan dirinya kepada Tuhan semesta alam,” ungkapnya di hadapan sekitar 1300 peserta konferensi.

Ia menegaskan inilah keindahan Islam, yang merupakan risalah rahmat kepada manusia: bukan kepada orang-orang Arab, atau Farsi, atau Kurd, atau Turki. Islam menegaskan bahwa orang Islam adalah saudara orang Islam yang lain, dan Islam terbuka untuk peluk oleh semua orang tanpa diskriminasi dan alasan-alasan palsu yang direka oleh manusia.

“Seperti itulah Hizbut Tahrir memandang Islam dan kaum Muslim, platform yang benar-benar menyatukan umat dalam usaha untuk mengembalikan cara hidup Islam, di bawah syariah Islam. Tidak menjadi masalah jika khalifah menerima ijtihad tertentu kerana semuanya berasal dari akidah Islam dan wahyu yang terdapat dalam Al-Quran,” jelasnya.

Tambahan pula, Hizbut Tahrir telah menunjukkan dengan jelas rancangan rinci ke arah perlaksanaan syariah yang menyeluruh untuk menangani semua permasalahan kehidupan. Hizbut Tahrir telah menerbitkan banyak buku termasuk berbagai subsistem yang akan mendukung Khilafah kelak. Misal, buku-buku yang merincikan sistem ekonomi, politik, pendidikan, keuangan, politik luar negeri serta berdakwah ke seluruh dunia melalui jihad.

“Kami sama sekali tidak malu untuk menyerukan jihad yang merupakan cara untuk menyampaikan risalah Islam ke seluruh dunia. Kita tidak boleh mengubah atau memutarbelitkan perintah Allah SWT yang telah memaktubkan peraturan tentang ketiadaan pemaksaan beragama seperti yang terdapat dalam al-Quran. Manusia bebas untuk mempunyai keyakinan masing-masing sama ada untuk memeluk Islam atau menolaknya,” tegasnya.

Hizbut Tahrir juga telah, sedang dan akan terus membina generasi penerus agar memiliki gambaran yang utuh tentang Islam dan turut berjuang menegakkannya.

“Kami menyeru Anda semua dan mereka yang memerhatikan kami supaya menyertai perjuangan untuk menyatukan umat Islam dengan mengokohkan pemahaman Islam dan berjuang untuk tegaknya Khilafah,” seru Otsman.

Ia juga menyeru para tentara untuk memberikan nushrahnya. “Kami pun menyeru para tentara Muslim yang berani agar segera meraih keridhaan Allah SWT melalui pemberian nushrah kepada Hizbut Tahrir,” pungkasnya.

Penutup

Di akhir acara suasana menjadi semarak dengan pekikan takbir peserta sembari menjunjung al-liwa’ dan ar-rayah raksasa di atas kepala. Pembawa acara menyatakan bahwa kedua bendera dan panji tauhid tersebut merupakan bendera dan panji yang sebelumnya telah dikibarkan di gunung-gunung berapi di Indonesia dan dijunjung jutaan massa pada “Reuni 212”. [Joko Prasetyo]

0 Comments

Leave a Comment

thirteen − eight =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password