Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani

Nama lengkapnya adalah Syaikh Abdul Qadir bin Abi Shalih bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa al-Huzy bin Abdullah al-Himsh bin al-Hasan bin al-Mutsanna bin al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib al-Jailani (Ibnu al-Imad al-Hanbali, Syadzarat adz-Dzahab,  4/198).

Sebutan “al-Jailani” merujuk pada negeri asalnya, Jilan. Jilan terletak di belakang Negeri Thabristan (Yaqut al-Hamawi, Mu’jam al-Buldân, 4/13-16).

Imam Ibnu Rajab menyatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir al-Jailani lahir pada tahun 490/471 H di Kota Jilan. Ia wafat pada  tanggal 9 Rabiul Akhir tahun 561 H di Babul Azaj (Ibnu Rajab al-Hambali, Adz-Dzayl ‘ala Thabaq al-Hanabilah, I/301).

Beliau termasuk salah satu ulama dan tokoh dalam mazhab Hanbali. Imam ad-Dzahabi menyebutkan beberapa guru beliau. Di antaranya, Abu Ghalib al-Baqillani, Ahmad bin Mudzaffar dan Abu Qasim bin Bayan. Adapun murid beliau di antaranya: as-Sam’ani, al-Hafidz Abdul Ghani (penulis Kitab Umdah al-Ahkâm dan al-Muwaffaq Ibnu Qudamah (penulis Kitab Al-Mughni (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubalâ’, 20/439).

Ulama Ahlus Sunnah ini termasuk sosok yang sering dikaitkan dengan cerita khurafat dan takhayul. Salah satunya, misalnya, dikatakan bahwa Syaikh Abdul Qadir mampu mengambil kembali ruh yang sudah dicabut oleh malaikat. Kemudian dikembalikan kepada orang yang baru meninggal. Ini jelas dusta.

Karena itu para ulama Ahlus Sunah banyak yang berusaha “membersihkan” sosok ulama besar ini dari berbagai cerita khurafat dan takhayul yang dinisbatkan kepada beliau. Al-Hafidz Ibnu Katsir, misalnya, berkata, “Mereka telah menyebutkan dari beliau (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani) ucapan-ucapan, perbuatan-perbuatan dan pengungkapan urusan gaib yang kebanyakannya adalah ghuluw (sikap berlebih-lebihan). Padahal beliau sosok yang shalih dan wara’. Beliau telah menulis Kitab Al-Ghunyah, juga Futûh al-Ghayb. Dalam kedua kitab ini terdapat beberapa perkara yang baik. Ia juga menyebutkan di dalamnya hadis-hadis dha’if dan palsu. Secara umum beliau termasuk di antara pemuka para masyayikh (orang-orang yang berilmu).” (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, 12/252).

Ibnu Rajab al-Hanbali juga menjelaskan, “Syaikh Abdul Qadir al-Jailani adalah seorang yang diagungkan pada masanya. Diagungkan oleh banyak para syaikh, ulama dan para ahli zuhud. Beliau banyak memiliki keutamaan dan karamah. Akan tetapi, ada seorang yang bernama Al-Muqri’ Abul Hasan asy-Syathnufi al-Mishri. Ia dituduh berdusta. Ia juga tidak bertemu dengan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Ia mengumpulkan kisah-kisah dan keutamaan-keutamaan Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam tiga jilid kitab. Di dalamnya ia menulis banyak perkara yang aneh dan tidak masuk akal. Semua itu tidak pantas dinisbatkan kepada beliau (Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah as-Sindi, At-Tashawwuf fî Mîzân al-Bahtsi wa at-Tahqîq, hlm. 509).

Memang beliau memiliki banyak karamah. Namun, karamah yang beliau miliki bukan karena sengaja beliau pelajari, tetapi murni pemberian dari Allah, sebagai bentuk pertolongan dari Allah untuk hamba-Nya yang salih. Di antara ‘karamah’-nya, jika kita kaitkan dengan pernyataan Abul Hasan an-Nadawi, dalam kitabnya, Rijal al-Fikri wa ad-Da’wah wa al-Islam, “Majelis Syaikh Abdul Qadir al-Jailani biasa dihadiri oleh sekitar tujuh puluh ribu orang. Di tangannya lebih dari lima ribu orang Yahudi dan Nasrani masuk Islam.”

Diceritakan pula oleh Muhammad bin al-Khidir bin al-Husaini bahwa ayahnya pernah berkata, “Jika Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memberikan pelajaran berbagai disiplin ilmu di majelisnya maka perkataannya tak pernah terputus. Tidak ada seorang pun yang berani meludah, mendengus, berdehem, berbicara, maupun maju ke tengah majelis karena kharisma beliau. Keagungannya membuat orang-orang yang hadir ikut berdiri jika beliau datang ke dalam majelisnya. Karismanya membuat semua orang hening ketika beliau memerintahkan mereka untuk diam sampai yang terdengar hanya hembusan nafas mereka.”

Sebagai salah tokoh ulama Ahlus Sunnah tentu saja beliau memiliki akidah yang lurus. Buktinya bisa dilacak pada karya tulis yang dinisbatkan kepada beliau. Di antaranya Kitab Al-Ghunyah. Di dalam kitab tersebut, saat menjelaskan ihwal Allah ber-istiwa’ di atas Arsy, misalnya, beliau mengatakan, “Allah ber-istiwa’ di atas Arsy. Dia menguasai semua kerajaan. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu.” (Al-Jailani, Al-Ghunyah, 1/71).

Beliau menambahkan, “Selayaknya memahami istiwa’ Allah sesuai makna tekstualnnya. Tanpa ditakwil. Allah bersemayam secara zat di atas ‘Arsy. Tidak boleh kita maknai duduk dan menempel di Arsy, sebagaimana perkataan Mujassimah dan Karramiyah. Tidak pula dimaknai berada di atas, sebagaimana perkataan Asy’ariyah. Tidak boleh dimaknai menguasai, sebagaimana keyakinan Muktazilah. Pasalnya, syariah tidak menyebutkan semua makna itu. Tidak dinukil satu pun keterangan dari Sahabat, Tâbi’în di kalangan salaf, para pembawa hadis (tentang hal demikian).” (Al-Jailani, Al-Ghunyah, 1/74).

Karena itulah Ibnu Rajab, dalam Kitab Adz-Dzayl ‘ala Thabaq al-Hanabilah, antara lain berkomentar, “Syaikh Abdul Qadir al-Jailani memiliki keterangan yang bagus tentang tauhid, penjelasan sifat Allah dan takdir. Dalam ilmu makrifat ilmu beliau sesuai dengan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Beliau juga memiliki kepribadian yang agung. Salah seorang murid beliau, Ibnu Qudamah menuturkan pengalamannya, “Kami masuk Baghdad tahun 561 H. Ternyata Syaikh Abdul Qadir termasuk orang yang mencapai puncak kepemimpinan dalam ilmu, harta, fatwa dan amal di sana. Penuntut ilmu tidak perlu lagi menuju kepada yang lainnya karena banyaknya ilmu, kesabaran terhadap penuntut ilmu dan kelapangan dada pada diri beliau. Beliau berpandangan jauh. Beliau telah mengumpulkan sifat-sifat yang bagus dan kepribadian yang agung dalam dirinya. Saya tak melihat ada orang yang seperti beliau setelahnya.” (Ibnu Rajab, Adz-Dzayl ‘ala Thabaq al-Hanabilah, 1/293).

Beliau senantiasa menasihati muridnya agar selalu mengikuti sunnah. Beliau menghubungkan nasihat-nasihatnya itu dengan tauhid dan pentingnya menjauhi kesyirikan. Beliau, misalnya, berkata, ”Ikutilah Sunnah dan jangan berbuat bid’ah. Taatilah Allah dan jangan melanggar larangan-larangan-Nya. Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan berbuat syirik.” (Al-Jailani, Futûh al-Ghayb, hlm. 10; Al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani, hlm. 151).

Beliau juga mengatakan, “Asas-asas kebaikan hanyalah dengan mengikuti Sunnah Nabi saw., baik perkataan maupun perbuatannya.” (Al-Jailani, Al-Ghunyah, 1/79).

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

9 + six =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password