Kacamata Tauhid

KACAMATA, perspektif atau cara pandang sangat menentukan seseorang dalam memahami dan menyikapi, bahkan meyakini sesuatu. Banyak cara pandang. Lantas di mana letak tauhid dalam cara pandang seorang Muslim?

++++

Dengan kacamata keilmuannya, Peng Zhao, peneliti di Wuhan Institute of Virology, melalui paper yang dia publikasikan pada Februari 2019, menulis tentang potensi wabah akibat virus corona bakal terjadi di Cina. Peng tidak sedang menggigau. Dengan kapasitas keilmuannya, dia meneliti fakta yang ada dan memperkirakan apa yang bakal terjadi. Sebagai ahli virus, Peng melihat corona virus penyebab SARS dan MERS, yang beberapa tahun lalu sempat marak juga di Cina, berasal dari kelelawar yang sudah berubah genetiknya akibat rekombinasi. Ia juga mengamati, tradisi mengkonsumsi kelelawar di Cina menunjukkan ‘dekatnya’ interaksi antara manusia dan kelelawar di sana. Kemunculan Covid-19 di Wuhan, bahkan kemudian menjadi pandemi di seluruh dunia, membuktikan kebenaran perkiraan Peng sejak lebih setahun lalu.

Merespon pandemi dengan segala dampak ikutannya, mantan Menlu AS Henry Kissinger, dengan kacamata seorang politikus gaek, ditambah dengan pengetahuan yang dia punyai, memprediksi kemungkinan bakal terjadi perubahan besar akibat pandemi Covid-19. Menurut dia, kekacauan politik dan ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi ini dapat berlanjut selama beberapa generasi. Untuk menghadapi kemungkinan itu, Kissinger menyarankan Pemerintah AS, selain meningkatkan kemampuan dalam memerangi penyakit menular, juga harus melakukan usaha untuk melindungi prinsip-prinsip sistem liberal global. Kissinger melihat, terdapat kecenderungan besar penolakan publik terhadap sistem kapitalis. Pasalnya, semua kebijakan penyelamatan ekonomi dalam krisis selalu berakhir dengan yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.  Kissinger mewanti-wanti, kegagalan dalam menghadapi krisis dan membangun masa depan benar-benar dapat mengobarkan dunia.

Kekhawatiran Kissinger itu bukan tanpa alasan. Berdasarkan kajian historis dan empiris, Ibn Khaldun—yang acap disebut sebagai bapak sosiologi dunia—dalam buku masterpiece-nya, Al-Muqaddimah, juga menyebutkan bencana sebagai salah satu dari 5 faktor yang menjadi pangkal keruntuhan peradaban. Pandemi Covid-19 memang dahsyat. Belum pernah manusia mengalami bencana wabah sedahsyat ini, dalam hal kecepatan dan luasnya cakupan.

Tidak terkait dengan pandemi, dengan mata keilmuan berdasarkan sekian banyak analisis terhadap kecenderungan-kecenderungan global, NIC (National Intelligence Council) dalam The Future Global Mapping pada tahun 2004 menyebut ada 4 kemungkinan kepemimpinan dunia pada tahun 2020: Davod World dengan Cina dan India menjadi pemain utamanya, lalu AS dengan Pax Americana-nya; munculnya lingkaran ketakutan atau Cycle of Fear yang akan menjadi pangkal lahirnya dunia Orwellian yang memungkinkan manusia menjadi budak bagi sebuah negara otoriter; berdirinya kembali Khilafah Islam. Khilafah adalah pemerintahan Islam global yang mampu memberikan tantangan pada norma-norma dan nilai-nilai global. Tegaknya Khilafah adalah pertanda dari kebangkitan dan kemenangan kekuatan Islam.

++++

Demikianlah, cara pandang keilmuan memahamkan manusia tentang apa yang tengah terjadi dan cara menghadapinya. Bahkan juga tentang apa yang kemungkinan bakal terjadi dan bagaimana antisipasinya.

Namun, dengan kacamata ilmu yang cenderung bertumpu semata-mata pada fakta, manusia justru kadang bertindak sebaliknya. Takut melangkah. Pesimis dan inferior. Lalu cenderung menganggap sesuatu yang sulit dipahami dengan ilmu sebagai utopis. Lihatlah diri umat. Bagaimana respon umat terhadap kemungkinan tegaknya Khilafah? Tidak sedikit yang menganggap hal itu sangat kecil kemungkinannya. Bahkan utopis. Mimpi.

Padahal menilik potensi Dunia Islam dengan lebih 1,7 miliar Muslim, secara geopolitik, geoekonomi maupun geostrategic, peluang bagi tegaknya kembali Khilafah sangatlah besar. Memang saat ini Dunia Islam terus disibukkan oleh berbagai persoalan internal umat, baik yang timbul karena faktor internal itu sendiri maupun oleh karena campur tangan pihak ekternal umat. Ada pula usaha sangat keras, utamanya dari negara-negara Barat, untuk membendung kemungkinan tegaknya kembali raksasa Dunia Islam ini.

Di situlah pentingnya kita memandang masalah. Apalagi menyangkut perjuangan dan masa depan umat. Tidak sekadar dengan kacamata keilmuan dan empirisme, tetapi juga dengan kacamata tauhid. Ada Allah, dengan segala kemahatahuan-Nya dan kemahakuasan-Nya, di balik ini semua.

AS dan sekutunya memang kuat. Cina memang hebat. Juga India, Rusia dan Eropa. Namun, semua kekuatan itu ternyata mudah saja terguncang. Menghadapi virus Corona, makhluk Allah yang bahkan dengan mikroskop perbesaran 1000 kali belum terlihat, negara di seluruh dunia kelimpungan. Bila pandemi tidak bisa segera diakhiri, resesi bakal melanda dunia. Tak terkecuali negara-negara adidaya dengan segala implikasinya.

Dengan pandangan tauhid pula Rasulullah saw. tak gentar menghadapi tokoh-tokoh Quraish yang hendak membunuh beliau dan terus mengejar beliau saat perjalanan hijrah ke Madinah. Musa tak surut menantang Fir’aun. Ibrahim tak ciut menghadapi Raja Namrudz dan segala ancamannya, termasuk saat ia hendak dibakar.

Bila hanya dengan kacamata empirisme, pasti runtuh mental mereka. Apa yang dipikirkan Musa saat dia terpojok di tepian Laut Merah, sementara Fir’aun dan pasukannya makin mendekat? Apa yang dirasakan Rasulullah saw. dan Abubakar ra. saat berada di Gua Tsur, sementara pasukan Quraish sudah berada sangat dekat dengan mereka. Apa pula yang dirasakan Nabi Ibrahim saat berdiri di atas tumpukan kayu yang siap menyala membakar dirinya?

Dengan kacamata tauhid, semua dipandang, dipahami, dirasakan dan direspon secara berbeda. Tauhid telah membajakan mental, mengokohkkan tekad dan meringankan langkah para pejuang agama Allah. Akhirnya, sejarah membuktikan, kekuatan tauhid itulah yang menang. Allah melindungi Rasulullah saw. di Gua Tsur dengan memerintahkan laba-laba segera membangun sarangnya di mulut gua.  Allah membelahkan lautan, membukakan jalan bagi Musa dan pengikutnya sekaligus kuburan bagi Fir’aun dan tentaranya. Adapun Ibrahim tetap tak tergoyahkan menghadapi situasi genting. Lirih ia melafalkan: HasbunalLah wa Ni’mal Wakil, Ni’mal Mawla wa Ni’man Nashir. Akhirnya, dengan kuasaNya, Allah menyelamatkan Khalilullah itu dengan mencabut qadar api membakar dirinya. Api menghanguskan kayu, tetapi tidak tubuh Nabi Ibrahim.

Alhasil, dengan kacamata tauhid pula mestinya kita, umat Islam, memandang setiap kewajiban yang telah Allah tetapkan, termasuk kewajiban penerapan syariah secara kaffah, dakwah dan persatuan umat, serta wajibnya hadir institusi bagi penerapan kewajiban-kewajiban utama itu.

Kewajiban itu harus ditunaikan. Apapun keadaannya. Memperjuangkan semua kewajiban itu adalah sebuah kemuliaan. Cepat atau lambat pasti akan sampai pada ujung kemenangan meski ancaman, tantangan, hambatan, gangguan dan rintangan selalu menghadang.

Dengan tauhid, kita tidak boleh pesimis. Kita harus yakin akan masa depan perjuangan. Sekuat apapun rekayasa mengganggu Dunia Islam dan membendung kebangkitan Islam tak akan benar-benar mampu mematikan bara semangat dan optimisme umat. Yang penting, kita tetap berjuang di jalan Allah, untuk tegaknya agama Allah, yang dilakukan dengan cara yang diridhai Allah. Selanjutnya, kekuatan Allahlah yang akan menghantarkan kita pada tujuan itu, seperti janji-Nya (yang artinya), “Jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian.” Insya Allah. [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

two × 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password