Tabir Hikmah

Pak Ustadz, tolonglah berilah tausiyah atau apa supaya hati ini bisa merasa tenang. Terus terang saya merasa gimana gitu mendengar putusan MK,” cetus seorang Muslimah, tokoh majelis taklim di kota Makassar dalam acara Liqa’ Syawal baru lalu.

Ibu itu, mungkin juga seperti puluhan juta pendukung Paslon 02, merasa galau mendengar putusan MK (Mahkamah Konstitusi) yang jauh dari harapan.

++++

Dalam hidup, acap kita mengalami hal yang tidak menyenangkan. Target penjualan yang tidak sesuai harapan karena kalah dengan saingan. Kena macet di jalan, padahal tengah buru-buru mengejar waktu sampai ke suatu tempat. Melamar pekerjaan ditolak. Melamar akhwat idaman juga tak diterima. Terus jatuh sakit. Ditambah jagoan di Pilpres lalu (di)kalah(kan). Di medan juang, dakwah dipersekusi. Ajarannya dikriminalisasi. Aktifisnya dibui.  Bagaimana kita menghadapi hal-hal buruk seperti itu?

Sebagai seorang Muslim, kita wajib mengimani qadha’, baik dan buruk itu datang dari Allah. Baik atau buruk yang dimaksud tentu dalam pandangan kita. Sebagai manusia, wajar kita suka pada yang menurut kita baik dan tidak suka pada yang buruk. Kalau misal ada orang dimasukkan ke dalam sumur, atau kena macet di jalan, kita pasti akan mengatakan itu semua buruk. Kita tentu akan memilih lancar di jalan ketimbang macet, apalagi dimasukkan ke dalam sumur. Enggaklah.

Namun, apakah yang menurut kita buruk itu benar-benar buruk, dan yang menurut kita baik itu benar-benar baik? Kita tidak tahu persis. Allah SWT mengingatkan di dalam QS al-Baqarah ayat 216: Boleh jadi engkau membenci sesuatu (yang menurutmu buruk), padahal itu baik untukmu. Sebaliknya, boleh jadi kita menyukai sesuatu (yang menurut kita baik), padahal itu buruk untuk kita.

Mengapa kita tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik, dan menyukai sesuatu, padahal itu buruk? Allah SWT menyatakan dalam ayat itu: karena Allah tahu, sedangkan engkau tidak tahu (Allahu ya’lamu wa antum la ta’lamun).

Sejarahlah yang kemudian menunjukkan pada kita, bahwa ternyata tidak semua yang kita sangka buruk itu benar-benar buruk. Berawal dari dimasukkan ke dalam sumur itu, Nabi Yusuf akhirnya bisa sampai ke Istana. Karena terlambat tiba di Bandara Soetta akibat kena macet, seorang penumpang berkebangsaan Singapura selamat dari kecelakaan pesawat Singapore Airlines (SIA) rute Jakarta – Singapura di daerah Palembang beberapa tahun lalu yang menewaskan seluruh penumpang dan awak pesawat. Bila demikian keadaannya, masihkah dimasukkan ke dalam sumur bagi Nabi Yusuf, juga kemacetan jalan tol menuju Bandara Soetta bagi penumpang SIA itu, itu buruk?

Jadi, apakah putusan MK, juga pembubaran ormas Islam oleh Pemerintah baru lalu itu baik? Tentu tidak. Masak kita nilai baik? Kalau baik, mengapa kita menolak? Andai kita disuruh memilih, pasti kita akan memilih putusan MK yang tidak seperti itu, dan ormas Islam itu tetap bisa terus hidup. Namun, itulah musibah. Kita tidak bisa memilih. Semua itu terjadi di luar kehendak dan kendali kita.  Sebagai qadha’, kita hanya bisa menerima.

Tentang musibah, Allah mengingatkan kita di dalam QS al-Hadid ayat 22, bahwa tidaklah ada musibah yang terjadi di muka bumi dan yang menimpa diri kita kecuali semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sejak azali. Sebelum semuanya terjadi. Dalam ayat 23, Allah mengatakan, semua itu dijelaskan agar kita tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput dari diri kita dan tidak terlalu bergembira ketika mendapatkan sesuatu.

Galau atau baper terhadap suatu musibah itu wajar. Siapa manusia yang tidak sedih melihat hal buruk terjadi. Maka dari itu, jika kita boleh serupakan, situasi yang kita sekarang kurang lebih seperti saat Nabi Yusuf di dalam sumur atau di dalam penjara. Kesal, marah, dongkol, tak berdaya. Campur aduk. Gelap.  Saking tak berdayanya, mungkin ada sedikit rasa putus asa. Seolah tak ada harapan. Tak ada jalan keluar.

Nah, sampai kapan situasi seperti itu akan kita alami? Allahu’alam. Sama seperti Nabi Yusuf, tak tahu kapan situasi buruk itu akan berakhir, karena tak ada seorang pun manusia yang bisa mengetahui apa yang bakal terjadi di waktu mendatang. Jangankan tahun, bulan, minggu, hari, satu jam ke depan pun kita tidak tahu. Namun, cepat atau lambat semua akan berakhir sehingga terkuak tabir hikmah di balik semua yang terjadi itu.

Kadang tidak perlu waktu lama, seperti penumpang dari Singapura yang ketinggalan pesawat itu. Beberapa jam kemudian, setibanya ia di Singapura dengan pesawat SIA penerbangan berikutnya, segera tahu betapa beruntungnya dia kena macet di jalan tol Jakarta. Andai tidak, mungkin dia sudah tewas.

Namun, kadang perlu waktu lebih lama. Bahkan sangat lama, baru kita tahu apa hikmah dibalik semua itu.  Dalam kasus Nabi Yusuf, setelah beberapa tahun mengalami hal buruk, mulai dari dimasukkan ke dalam sumur, difitnah sehingga masuk kedalam penjara, kebaikan baru terlihat, termasuk buat orangtua dan saudara-saudaranya yang semula sangat membenci dirinya.

Pertanyaannya sekarang, kapan kita bisa tahu hikmah dibalik dicabutnya BHP dan ditolaknya permohonan Paslon 02? Kebaikan seperti apa yang akan kita dapatkan atau akan kita alami? Allahu’alam. Bahkan Musa pun tak tahu apa yang bakal terjadi ketika ia dan sekitar 6000 pengikutnya tiba di tepian Laut Merah, sementara Firaun dan bala tentaranya makin mendekat. Yang mereka tahu, saat itu mereka menghadapi dua hal yang sama-sama tidak mereka kehendaki: mati di tangan Firaun atau tenggelam di laut!

Lalu, ketika Firaun dan bala tentaranya makin dekat, pengikut Musa benar-benar dicekam rasa takut yang luar biasa. “Kita benar-benar akan tersusul”, ujar para pengikut Musa. Meski tidak tahu apa yang bakal terjadi, Musa, sebagaimana diceritakan dalam QS asy-Syuara ayat 62, berusaha menenangkan para pengikutnya itu dengan menyatakan, bahwa Allah akan memberikan petunjuk. “Allah bersama kita”, kata Musa. Ia yakin sepenuhnya Allah pasti akan menyelamatkan dirinya dan para pengikutnya, tanpa diketahui bagaimana penyelamatan itu terjadi.

Menjelang matahari terbenam, ketika mereka berhadapan dengan laut, saat itulah datang petunjuk kepada Musa berupa perintah untuk memukul laut dengan tongkat yang dipegangnya (QS asy-Syuara ayat 62), “Pukullah dengan tongkatmu laut”. Sampai di situ pun Musa tidak tahu apa yang bakal terjadi, dan apa hubungan perintah Allah itu dengan persoalan yang tengah ia dan pengikutnya hadapi. Yang ia tahu, ia harus segera laksanakan perintah itu. Tanpa ragu, karena ia yakin perintah itu pasti baik.

Benar, segera setelah tongkat itu dipukulkan, “maka terbelahlah laut…, memberi jalan lapang bagi Musa dan pengikutnya untuk menjauh dari kejaran Fi’raun. Tak dinyana, lautan itu pula yang menjadi pemungkas keangkaramurkaan rezim Firaun. Firaun dan bala tentaranya tenggelam di lautan, di tempat yang sama di mana Musa dan pengikutnya justru diselamatkan.

++++

Jadi, menghadapi qadha’ tak ada lain kecuali kita harus ridha, sabar dan tawakal serta berharap bisa segera menangkap hikmah di belakang peristiwa itu. Dalam konteks perjuangan, seburuk apapun keadaannya, dakwah harus terus berlanjut, tidak boleh berhenti, karena dakwah adalah perintah Allah dan amal yang sangat mulia dan penting bagi kebangkitan Islam. Sambil terus melakukan muhasabah atau introspeksi, adakah yang salah atau kurang tepat dalam dakwah selama ini. Juga dengan terus mengasah keikhlasan dan doa serta pengharapan akan pertolongan dari-Nya. Sebab tanpa pertolonganNya, apalah kita ini… [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

thirteen + thirteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password