Pengantar [Lima Tahun ke Depan Indonesia Makin Suram]

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, rezim baru hasil Pemilu/Pilpres lalu telah terbentuk. Meski demikian, presidennya tetap Jokowi, dan sebagian anggota kabinetnya juga tetap muka lama.

Harapan publik terhadap rezim Jokowi di periode pertama pemerintahannya tentu berbeda dengan harapan publik terhadap rezim Jokowi di periode kedua ini. Di periode pertama, publik begitu antusias dan optimis. Pasalnya, pencitraan Jokowi sebagai presiden yang sederhana, merakyat dan bebas dari korupsi begitu kental. Boleh dikatakan, saat itu pencitraan Jokowi sukses besar. Membuat publik banyak yang terpukau. Tentu juga berharap besar kepada dia.

Namun, di periode kedua ini tentu kondisinya berbeda. Publik tak lagi antusias. Bahkan kebanyakan pesimis. Pertama, banyak pihak meyakini kemenangan Jokowi dalam Pilpres lalu adalah hasil dari kecurangan yang massif dan terstruktur. Ini yang membuat sebagian masyarakat kecewa atas keterpilihan kembali Jokowi. Kedua, sepanjang pemerintahan Jokowi di periode pertama, sebagian besar janji-janji Jokowi saat kampanye Pilpres—jika tidak seluruhnya—tak ada yang terealisasi. Ekonomi, misalnya, bukan meroket. Malah nyungsep. Utang luar negeri bertambah secara gila-gilaan. Lapangan kerja banyak diberikan ke orang-orang China. Infrastruktur yang banyak dibangun dengan utang China tak berkorelasi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi. Apalagi terhadap pemerataan. Contohnya di Papua. Pabrik-pabrik banyak yang tutup. Impor makin tak terkendali. Pengangguran makin tinggi. Daya beli masyarakat makin menurun. Harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik. Tarif listrik, harga BBM dan gas, juga terus meningkat. Terakhir, iuran BPJS juga terus mengalami “penyesuaian”. Bahkan hingga dua kali lipat (100%).  Semuanya makin membebani rakyat kebanyakan yang kehidupan ekonominya selama ini sudah susah.

Ironisnya, rezim Jokowi dan kabinet barunya malah sejak awal tak fokus ke persoalan utama, khususnya ekonomi. Rezim ini malah lebih banyak berwacana seputar radikalisme yang tak jelas wujudnya hingga kini. Parahnya, isu radikalisme ini terus dihidupkan dengan sasaran umat Islam. Terutama yang krtis kepada rezim Jokowi.

Alhasil, lima tahun ke depan, dipastikan masa depan Indonesia di tangan Jokowi makin suram.

Itulah tema utama al-waie kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

5 × 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password