Peran Baru Saudi Di Kawasan

Peristiwa mengejutkan baru-baru ini di negeri dua Tanah Suci (bilâd al-haramayn) mengungkap perubahan luar biasa dalam strategi Amerika terhadap Timur Tengah. Barangkali salah satu aspek paling menonjol dari strategi ini adalah bangkitnya peran Saudi di bawah kepemimpinan barunya. Dari semua itu, yang paling menarik perhatian adalah bangkitnya bintang muda Muhammad bin Salman di atas reruntuhan keluarga Al-Saud dan kudetanya terhadap protokol tradisional yang membatasi jabatan raja pada anak-anak Abdul Aziz secara berturut-turut sejak pendirian kerajaan mereka.

Presiden Trump juga memecahkan protokol Gedung Putih saat menerima Muhammad bin Salman—yang kemudian menjadi putra mahkota—pada bulan Maret lalu. Ketika itu Trump mengizinkan wartawan dan kamera berbagai kanal televisi untuk memotret pertemuan keduanya. Biasanya juru foto dan media massa tidak diijinkan hadir dan mengambil gambar kecuali jika pertemuan itu dengan kepala negara lain. Protokol juga dipatahkan dalam pertemuan itu dengan diadakan jamuan makan malam untuk Pangeran Muhammad bin Salman atas perintah Presiden AS di Gedung Putih. Padahal para presiden Amerika tidak mengadakan perjamuan kecuali untuk para kepala negara yang sangat penting.

Lalu apa peran yang diinginkan Amerika untuk dimainkan oleh Ibnu Salman dan bapaknya?

Boleh jadi, hal pertama yang ditunggu oleh Trump dari Ibnu Salman dan bapaknya adalah meningkatkan arus pendapatan minyak ke perbendaharaan Amerika. Dana miliaran dolar benar-benar sudah mulai mengalir US$460 miliar pada saat Saudi memberikan fasilitas untuk investasi 23 korporasi besar Amerika (AlJazeera. Net, 20/5/2017). IPO saham Saudi Aramco di Bursa New York Stock and Excange tidak akan menjadi susu terakhir yang diperah Trump dari sapi perah yang banyak susunya tersebut.

Perang melawan teror, yaitu Islam, adalah slogan masa kini yang selalu diperbarui di meja tuan dan pengikutnya secara berdampingan. Tujuannya untuk mengubur hidup-hidup janin raksasa Islam, memotong jalan bagi para pejuang untuk melanjutkan kehidupan Islam, dan mencegah atau menunda berdirinya Khilafah, yang mulai terlihat oleh para pembuat kebijakan di Barat dan Amerika tanda-tanda kembalinya tidak lama lagi.

Situs Sky News Arabic pada 26/11/2017 melansir, pada Ahad, dalam sidang pembukaan pertemuan para menteri pertahanan koalisi negara Islam untuk memerangi terorisme, putra mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, menegaskan “ancaman terbesar terorisme adalah penyimpangan dari akidah Islam kita”.

Dia menambahkan, lebih dari 40 negara menegaskan dalam pertemuan menteri pertahanan koalisi militer Islam bahwa mereka akan bekerjasama secara militer, finansial, intelijen dan politik. Sidang-sidang pertemuan itu akan mendiskusikan strategi-strategi umum koalisi militer Islam untuk memerangi terorisme dan mekanisme administrasi terorganisir untuk operasi, aktivitas dan inisiatifnya di masa depan. Semua itu dalam rangka perang melawan terorisme dalam bidang utama aktivitasnya baik intelektual, media dan militer. Pertemuan tersebut juga akan membahas penentuan mekanisme dan kerangka kerja masa depan yang akan memandu upaya negara-negara Islam untuk memberantas terorisme dan berintegrasi dengan upaya internasional lainnya di bidang menjaga keamanan dan perdamaian global.

Begitulah, Kerajaan Keluarga Al-Saud telah menjadikan negeri al-haramayn sebagai sarang untuk polarisasi dan memimpin negara-negara yang bersekutu melawan Islam dengan dalih perang melawan teror. Slogan ini adalah slogan yang ditetapkan oleh Amerika bersama orang-orang kafir Barat untuk mengumpulkan semua kekuatan para pengikut, kecil dan besar. Tujuannya adalah untuk memerangi Islam dan kaum Muslim serta menghalangi bangunnya umat Islam yang dipandang oleh Barat, yang dipimpin oleh Amerika, sebagai bahaya yang mengancam mereka. Pada saat yang sama, Amerika mensponsori terorisme global dan menutrisinya dalam bentuk pembunuhan, pengrusakan dan penghancuran bangsa-bangsa yang rentan.

Kudeta terhadap sistem politik di negara itu berlangsung dari rezim orang tua yang mengenakan jubah yang dibanjiri oleh berkat Wahabi Salafis, kepada raja muda yang bebas, yang dibesarkan dengan asupan susu budaya Barat sampai budaya Barat itu mengalir dalam dirinya layaknya darah mengalir di pembuluh darah sehingga penglihatannya buta sebelum matanya. Ada peralihan masyarakat Saudi, dari masyarakat yang menutup dirinya sendiri menahan wanita di rumahnya dan melarang wanita melepaskan jilbabnya dan mengendarai mobilnya, menjadi masyarakat terbuka yang berlari di belakang kemewahan Barat yang menipu berdasarkan kaidah “nafsu pihak yang kalah dalam mengekor pihak yang menang”. Di antara manifestasi dari pergeseran ini:

Pertama, putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman meminta dukungan internasional untuk mengubah negara tersebut menjadi masyarakat yang terbuka dan menarik untuk investasi.  Putra Mahkota Saudi dalam wawancara dengan the Guardian Inggris mengatakan bahwa negara yang sangat konservatif itu tidak normal selama 30 tahun lalu. Dia menyalahkan apa yang dia sebut sebagai doktrin ketat yang mengatur masyarakat. Muhammad bin Salman menambahan bahwa apa yang terjadi dalam 30 tahun terakhir tidak relevan untuk Saudi. Dia berpandangan bahwa telah tiba waktunya untuk melepaskan semua itu. Dia menunjukkan bahwa 70% anggota masyarakat Saudi berusia di bawah tiga puluh tahun, dan bahwa mereka tidak ingin menyia-nyiakan tiga dekade lagi dari kehidupan mereka dalam perang melawan ide-ide ekstremis. Ia mengindikasikan perlunya untuk segera menghilangkan ide-ide ini (Al-Jazeera.net, 25/10/2017).

Kedua, pengurangan wewenang lembaga amar makruf nahi mungkar. Washington Post Amerika menerbitkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa di Arab Saudi sekarang terlihat adanya diskusi politik luar negeri, pandangan-pandangan oposisi serta cdiskusi-diskusi keagamaan dipantau secara lebih terbuka dan dalam skala besar. Washington Post menambahkan bahwa “polisi keagamaan” hampir “tidak bergigi” atau bahkan dihapuskan (?). Para personelnya tidak lagi memiliki wewenang kepolisian. Washington Post memonitor bahwa sejak dekade pertama negara Saudi, lembaga tersebut—yang namanya diterjemahkan menjadi Lembaga Amar Makruf Nahi Mungkar—memaksakan  interpretasinya untuk peraturan Islam terhadap perilaku publik. Anggotanya kadang-kadang dikenal sebagai Muthawwi’in. Selama bertahun-tahun, lembaga ini mengawasi perkumpulan yang campur-baur antara laki-laki dan perempuan dan menutup tempat-tempat kerja selama waktu-waktu shalat di pasar-pasar umum (Sputnik Arabic, 16/8/2017).

Ketiga, para wanita Saudi diijinkan mengemudikan mobil dan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulu dilarang. (Di sini kami sedikit keluar dari masalah di sini dengan ucapan: Islam tidak melarang wanita Muslimah menyetir mobil atau melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu seperti perdagangan, pengobatan, dan pendidikan. Tentu selama mereka terikat dengan hukum-hukum tata pergaulan dalam Islam. Islam mengharuskan pemisahan antara laki-laki dan perempuan ketika wajib dipisah. Islam pum membolehkan mereka bercampur-baur ketika dibolehkan campur-baur [ikhtilâth], Semua itu telah dirinci dalam buku Nizhâm al-Ijtimâ’iy fî al-Islâm oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pendiri Hizbut Tahrir rahimahulLâh. Jadi kita tidak memerlukan pemikiran pastoral milik Barat kafir yang mereka banggakan terhadap kita. Kita punya dari Islam dan hukum-hukumnya apa yang kita perlukan untuk menyelesaikan semua persoalan dunia).

Kami menyampaikan di sini dalam pembicaraan mengenai perubahan yang terjadi di masyarakat Saudi melalui tanga-tangan rezim baru. Semisal perkara ini ada promosi luas di tengah media barat. BBC meliput topik ini dengan perhatian besar yang mencuat bersama dengan perhatian Barat pada perubahan yang terjadi pada masyarakat di negeri kaum Muslim, terutama bila perubahan itu sesuai dengan budaya dan peradaban Barat. BBC menyatakan bahwa keputusan Arab Saudi untuk mengizinkan perempuan mengemudi adalah berita baik yang langka di Timur Tengah saat ini. Perubahan ini berasal dari atas ke bawah, terutama dengan kehadiran putra mahkota baru Pangeran Muhammad bin Salman, yang meresmikan jenis politik baru (BBC Arabic, 28/9/2017).

Ada serangan terhadap agen Inggris yang berasal dari keluarga berkuasa dan orang-orang berpengaruh dari kalangan pemilik uang dan pengambil keputusan. Bahkan ada penghapusan eksistensi dan pengaruh mereka di negara serta pemaksaan dominasi orang-orangnya Amerika di reruntuhan mereka. Demikian juga ada upaya membatasi pengaruh agen Inggris di negara-negara kecil Teluk dan Yordania, memojokkan mereka ke posisi paling sempit, dan melemahkan gerakan mereka yang mengganggu Amerika Serikat di kawasan ini.

Berikut ini kami sampaikan apa yang ada dalam Jawab-Soal yang dikeluarkan oleh Al-‘Alim al-Jalil Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, Amir Hizbut Tahrir hafizhahulLâh, tertanggal 2 Rabi’ul Awal 1439 H – 20/11/2017 M:

Begitulah, apa yang terjadi di Arab Saudi di bawah apa yang disebut perang melawan korupsi adalah untuk memotong upaya Inggris dan mencegah mereka melakukan usaha kudeta atau yang lain melawan Raja Salman dan putranya, sang putra mahkota. Demikian juga untuk merealisasi transisi yang aman untuk kekuasaan ke tangan putra mahkota sehingga tidak ditentang oleh siapapun. Putra mahkota itu telah mengambil beban melayani kepentingan Amerika tanpa pesaing internal hingga meski dari kerabat terdekatnya, juga tidak dari pesaing eksternal terutama Inggris. Semua ini agar pengaruh di jazirah itu murni milik Amerika. Begitulah, itu merupakan pengkhianatan yang utuh:

وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ

Sungguh Allah tidak meridhai tipudaya para pengkhianat (TQS Yusuf [12]: 52).

Apa yang telah dan sedang terjadi di internal Arab Saudi membawa pesan tersembunyi kepada agen-agen Inggris di luar Arab Saudi, di negara-negara Teluk Arab dan Yordania, agar mengosongkan lapangan untuk Amerika dan gelombang Trump yang melanda, yang datang dari balik samudra. Jika tidak maka mereka akan ditimpa apa yang menimpa selain mereka.  Oleh karena itu, agen-agen Inggris hari ini merasa takut siang dan malam. Mereka khawatir terhadap perubahan yang didukung oleh AS ini, yang mendatangi mereka dengan cara yang tidak asing lagi. Kita jangan melupakan serangan yang dipimpin oleh Saudi melawan Qatar belakangan ini.

Ada juga upaya untuk melanjutkan keselarasan dengan kekuatan yang bermain di Suriah—Rusia, Iran, Turki, Kurdi dan di belakang mereka semua Amerika—untuk mengubur hidup-hidup revolusi Syam dan memaksakan solusi politik dengan standar sekular Amerika. Dalam konteks berbahaya ini, datang pertemuan yang mengumpulkan semua kekuatan oposisi Suriah untuk berunding di Riyadh. Tujuannya adalah untuk membentuk badan perundingan yang darinya mucul lembaga delegasi baru ke Perundingan Jenewa. Hal ini muncul di tengah berita adanya tekanan yang dilakukan agar menerima penyelesaian yang mengecualikan nasib Presiden Bashar al-Assad (AlJazeera.net, 22/11/2017).

Mereka bergerak maju untuk mengakui entitas Yahudi dan menggerakkan proses perdamaian untuk Prakarsa Arab. Pralkarsa ini telah diharuskan oleh Amerika atas Raja Abdullah bin Abdul Aziz agar ia adopsi di KTT Arab yang diadakan di Beirut pada tahun 2003, yang sekarang dikenal sebagai kesepakatan abad ini yang karakteristiknya telah menjadi jelas pada hari-hari terakhir.

Situs Huff Post arabic pada 22/11/2017 melansir, “Telah menjadi jelas karakteristik apa yang disebut ‘Kesepakatan Abad Ini’ atau kesepakatan final yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump kepada orang-orang Palestina. Demikian juga telah menjadi jelas tekanan yang diberikan dengan keikutsertaan resmi Arab terhadap Otoritas Palestina agar menerimanya.”

Seorang diplomat yang meminta tidak disebutkan namanya mengatakan, karena dia tidak berwenang untuk membahas masalah ini dengan media, bahwa kesepakatan tersebut akan mencakup: Pendirian negara Palestina dengan perbatasannya di Jalur Gaza, Wilayah A dan wilayah B dan wilayah C di Tepi Barat. Negara-negara donor menyediakan 10 miliar dolar AS untuk pendirian negara tersebut dan infrastrukturnya (termasuk di antaranya bandara, pelabuhan di Gaza, perumahan, pertanian, industri dan kota-kota baru), penundaan penentuan status al-Quds dan isu pengungsi yang kembali ditunda sampai negosiasi selanjutnya, juga pelaksanaan perundingan final (mencakup pembicaraan damai regional antara Israel dan negara-negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi).

Diplomat tersebut mengatakan bahwa Jared Kushner, penasihat khusus dan pemimpin kelompoknya untuk proses perdamaian, baru-baru ini mengunjungi Arab Saudi dan memberi tahu Putra Mahkota Saudi Pangeran Muhammad bin Salman atas rencana tersebut. Diplomat tersebut, yang sangat dekat dengan tim AS, mengatakan bahwa Muhammad bin Salman bertemu dengan Abbas pada awal November 2017 untuk menginformasikan kepada dia tentang proposal tersebut. Putra Mahkota Saudi itu meminta Presiden Palestina untuk menerima rencana itu dan menyampaikan pendapat positif mengenai hal tersebut.

Mereka membelah kaum Muslim menjadi dua kelompok/dua poros, yang tidak ada iman pada kedua kelompok itu: Sunni yang dipimpin oleh Arab Saudi dan yang lainnya adalah Syiah dipimpin oleh Iran. Mereka meningkatkan ketegangan sektarian di antara mereka, termasuk dalam hal itu penyebaran bahaya imajiner yang memicu ketakutan di negara-negara Teluk. Dalam hal itu juga ada upaya memecah-belah persatuan kaum Muslim, mengosongkan potensi umat dalam mengendarai gelombang sektarian, kemudian menelantarkan mereka di antara dua poros agen Amerika: poros yang mengklaim oposan serta menentang Amerika dan entitas Yahudi yang dipimpin oleh Iran di satu sisi; di sisi lain poros moderat dan terbuka yang dipimpin oleh Arab Saudi yang memandu negara dan umat ke arah pemberian kekuasaan kepada Amerika dalam segala hal.

Pertengkaran anak-anak, atau katakan saja kucing saling cakar-cakaran memprebutkan lemak, telah benar-benar mulai terjadi seiring dengan operasi pengunduran diri, penangkapan dan pemecatan terhadap sepupu, orang-orang dekat, orang-orang berpengaruh dan para pemilik modal di Saudi;  antara dua kutub Amerika-Saudi dan Iran—pengunduran diri Perdana Menteri Libanon Saad al-Hariri—yang diumumkan dari Riyadh, roket yang diluncurkan Houthi ke Arab Saudi, seperti yang telah dikatakan, dan berikutnya konferensi dan pernyataan ofensif antara kedua pihak tersebut; semuanya berkontribusi pada sektarianisasi wilayah tersebut. Termasuk dalam hal itu, pernyataan Liga Arab bahwa rudal Iran mengancam ibukota-ibukota Arab, dalam konferensi pers pada akhir pertemuan darurat untuk pertemuan menteri luar negeri Arab yang diadakan pada hari Minggu 19/11/2017 di Kairo. Ahmad Abul Ghait, Sekretaris Jenderal Liga Arab menegaskan, Iran berusaha menjadi belati di sisi Arab Saudi dan negara-negara Teluk. Ia mengatakan bahwa rudal yang diluncurkan oleh Houthi dan menargetkan Arab Saudi adalah episode paling berbahaya dalam serangkaian pelanggaran, vandalisme dan penyebaran fitnah yang dilakukan oleh Iran di kawasan. Di hadapan kita, terhadap hal itu, tidak ada pilihan kecuali kita namakan sesuatu sesuai isinya. Kami katakan: rudal itu merupakan pesan yang jelas dari Iran bahwa Iran berusaha menyebarkan subversi, fitnah, kebencian dan pesan bermusuhan untuk Kerajaan Arab Saudi dan negara-negara Arab secara keseluruhan (Al-‘Arabiya.net, 19/11/2017).

Sebaliknya, ada respon Iran segera melalui lisan Menteri Luar Negeri Muhammad Jawad Zharif: Arab Saudi membiayai terorisme, memerangi Yaman, mengepung Qatar dan bekerja untuk memperburuk situasi di Libanon. Zharif menilai, termasuk hal ironis bahwa Arab Saudi menuduh Iran bekerja untuk mengacaukan kestabilan di kawasan pada saat negaranya bekerja dengan Rusia dan Turki untuk memperkuat gencatan senjata dan menyiapkan atmosfer untuk dialog komprehensif di Suriah (Al-Jazeera.net, 19/11/2017).

Ini merupakan makar Amerika. Ini merupakan pengkhianatan agen-agen Amerika terhadap kaum Muslim. Akan tetapi, makar dan pegkhianatan mereka akan lenyap dengan izin Allah. Allah SWT berfirman:

وَالَّذينَ يَمْكُرونَ السَّيِّئاتِ لَهُمْ عَذابٌ شَديدٌ؛ وَمَكْرُ أولَئِكَ هُوَ يَبورُ

Orang-orang yang merencanakan makar kejahatan bagi mereka azab yang keras dan makar mereka akan hancur (TQS Fathir [35]: 10).

Seruan terakhir kami, bahwa segala pujian hanya milik Allah SWT, Tuhan semesta alam.

[Yahya Abdurrahman; disarikan dari http://www.al-waie.org/archives/article/10514]

0 Comments

Leave a Comment

11 + thirteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password