Spirit Islam Dalam Perlawanan Umat Tatar Sunda Terhadap Penjajah (Lanjutan)

Syaikh Nawawi al-Jawi dalam Syarh Bidayah al-Hidayah berkata:

(وان كانت نيتك وقصدك بينك وبين الله تعالى من طلبالعلم الهداية) بأن تنوي بتحصيله ازالة الجهل عن نفسك وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الاسلام بالعلم والدار الاخرة ورضا الله تعالى وتنوي  بذلك الشكر على نعمة العقل ونعمة صحة البدن …

(Jika niat dan tujuanmu antara engkau dan Allah SWT dari mencari ilmu adalah Hidayah) dengan niat dari hasilnya menghilangkan kebodohan dari dirimu dan dari orang bodoh lainnya, menghidupkan agama, melanggengkan Islam dengan ilmu, mencari negeri akhirat dan ridha Allah serta engkau berniat dengan itu untuk syukur atas nikmat akal dan nikmat sehat badan.1

 

Penjelasan Syaikh Nawawi al-Jawi semisal dengan penjelasan dalam ­Ta’lim al-Muta’allim berikut:

وينبغي ان ينوي المتعلم بطلب العلم رضالله تعالى والدار الآخرة وازالة الجهل عن نفسه وعن سائر الجهال واحياء الدين وابقاء الاسلام فان بقاء الاسلام بالعلم … وينوي به الشكر على نعمة العقل وصحة البدن

Hendaknya pencari ilmu berniat mencari ridha Allah dan negeri akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan dari orang bodoh lainnya, menghidupkan agama, melanggengkan Islam karena langgengnya Islam adalah dengan ilmu…serta berniat syukur atas nikmat akal dan sehat badan.2

 

Kemiripan kedua qawl ini menguatkan dugaan adanya hubungan Khilafah dengan jaringan Ulama Jawi di al-Haramain.

Secara faktual kitab dan ulama dalam Sanad Ulama Jawi – al-Haramain – al-Azhar senantiasa diajarkan dan disampaikan di berbagai majelis dan pesantren hingga saat ini, yang menjelaskan syariah Islam secara kaaffah. Bahkan Tijan ad-Durari, syarh atas ­Risalah-nya Syaikh Ibrahim al-Bajuri, juga Kasyifah as-Saja, syarh atas Safinah an-Naja-nya Syaikh Salim ibn Sumair al-Hadhrami, menjelaskan seputar Imam/Khalifah. Juga Maraqi al-‘Ubudiyyah, syarh atas Bidayah al-Hidayah-nya Hujjah al-Islam Imam al-Ghazali, menyebutkan tentang Pasya, yakni nama jabatan pemerintahan pada masa Khilafah Utsmani. Semuanya adalah karya Syaikh Nawawi  al-Bantani. Di antara kutipan dari kitab- kitab tersebut sebagai berikut:

 

Tijan ad-Durari

(الخلافة) النيابة عن النبي صلى الله عليه وسلم في عموم مصالح المؤمنين… قال صلى الله عليه وسلم الخلافة بعدى ثلاثون ثم تصير ملكا عضوضا ايذا عض وتضييق لان الملوك يضربون بالرعية حتى كأنهم يعضون عضا فالمراد انه ذو تضييق ومشقة على الرعية… تولاها معاوية بن ابي سفيان تسع عشرة سنة وقال معاوية انا اول الملوك وخلافته صحيحة بعد موت علي رضي الله عنه و بعد خلع الحسن بن علي نفسه عن الخلافة وتسليمها الى معاوية وخلافته مذكورة في قول النبي صلى الله عليه وسلم …

(Khilafah) pengganti dari Nabi saw. dalam keumuman berbagai kemashlahatan kaum Mukmin…Rasulullah saw. bersabda: Khilafah setelahku adalah 30 (tiga puluh) tahun kemudian menjadi Mulkan ‘Adhudhan, yakni menggigit dan menyulitkan karena para penguasa itu memukul rakyat hingga seakan mereka benar-benar menggigit maksudnya ialah mempersempit dan memberikan kesulitan pada rakyat…Muawiyah ibn Abu Sufyan menjabat Khilafah selama 19 tahun. Muawiyah berkata: Saya adalah penguasa pertama. Khilafahnya itu shahih setelah wafatnya Ali ra. dan pengunduran diri al-Hasan ibn Ali dari Khilafah dan menyerahkannya kepada Muawiyah. Khilafahnya disebutkan dalam sabda Nabi saw… 3

 

Kasyifah as-Saja Syarh Safinah an-Naja:

(غير المحترم) وهو ما لا يحرم قتله (ستة) من الأشياء أحدها (تارك الصلاة) أي بعد أمر الإمام والإستنابة ندبا وقيل وجوبا…

ورابعها (الكافر الحربي) وهو الذي لا صلح له مع المسلمين قاله الفيومي وخرج بالحربي ثلاثة اقسام الذمي وهو من عقد الجزية مع الامام او نائبه ودخل تحت احكام الإسلام… والمعاهد وهو من عقد المصالحة مع الامام او نائبه من اهل الحرب على ترك القتال … والمؤمن وهو من عقد الأمان مع بعض المسلمين …

(Bukan  muhtaram, dimuliakan), yaitu sesuatu yang tidak haram untuk dibunuh (ada 6) perkara. Pertama: (Orang yang meninggalkan shalat), yakni setelah disampaikan perintah dari Imam dan permintaan agar tobat yang sunnah hukumnya dan dikatakan wajib… Keempat (kafir harbi), yaitu kafir yang tidak ada perjanjian antara dia dean kaum Muslim. Pendapat al-Fayumi. Keluar dari (status) harbi ialah 3 (tiga) jenis (kafir); Dzimmi, yakni kafir yang berakad jizyah bersama Imam atau wakilnya dan masuk di bawah Hukum Islam…; Mu’ahid, yakni kafir yang berakad perjanjian bersama Imam atau wakilnya, dari kalangan Ahli Harb untuk menghentikan perang…; Mu‘amman, yakni kafir yang berakad (jaminan) keamanan bersama sebagian kaum Muslim.4

 

Murqah Shu’ud at-Tashdiq Syarh Sullam at-Taufiq:

(ولا يقبل منه) أي المرتد (إلا الإسلام أو القتل) بضرب عنقه بنحو سيف إن لم يتب والقاتل هو الإمام فإن لم يقتله وجب على الآحاد قتله على استظهره الشرقاوي عند القدرة وأمن العاقبة لأنه من قبيل النهي عن المنكر…

(Tidak diterima dari dia) yakni orang murtad (kecuali Islam atau hukuman mati) dengan dipenggal lehernya menggunakan pedang jika dia tidak bertobat. Yang melaksanakan hukuman mati adalah Imam. Jika Imam tidak melaksanakan hukuman mati maka wajib bagi perorang untuk melaksanakan hukuman mati atas penjelasan asy-Syarqawi ketika mampu dan aman dari akibatnya karena hal itu bagian dari melarang terhadap kemungkaran…5

 

Maraqi al-‘Ubudiyyah Syarh Bidayah al-Hidayah:

(عماله) اي السلطان وهو جمع عامل وهو من يتولى على البلاد كالباشا والقائم مقامه…

(Ummal-nya) yakni Sultan; lafad jamak dari ‘Amil yaitu orang yang menguasai/memerintah atas negeri seperti Pasya dan yang menempati kedudukannya. 6

 

Dapat ditemukan hubungan kultural dan “semi – struktural” Khilafah Utsmaniyyah melalui Syarif Makkah dengan para Ulama dari Tatar Sunda, semisal Syaikh Junaid al-Batawi, Syaikh Nawawi al-Bantani, Syaikh Ahmad Syathibi al-Qanthuri, Syaikh Mukhtar ibn ‘Atharid al-Buquri dan Syaikh Ahmad Bakri as-Samfuri. Hal ini karena para Ulama Ashabul Jawiyyah mendapat pengurusan (ri`ayah) dalam kehidupan masyarakat dan jaminan pendidikan dari Syarif Makkah sebagai Wali Khilafah. Ini bahkan telah terjalin sejak era jaringan Aceh – Banten – Makassar – Mataram, yakni pada masa Syaikh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya, yang merupakan murid dari Syaikh Abdurra’uf as-Sinkili dan Syaikh Yusuf al-Maqassari yang pernah menjadi Qadhi di Banten dan berjuang bersama dengan Sultan Agung Tirtayasa.

Selain itu, terdapat sanad yang tersambung dengan al-Azhar asy-Syarif, Mesir melalui Syaikh al-Azhar Syaikh Ibrahim al-Bajuri al-Asy’ari asy-Syafi’i, yang jelas berkaitan erat dengan Syaikh Nawawi Banten dan Syaikh Syathibi Gentur (Cianjur). Demikian pula terdapat sanad kepada Syaikh al-Azhar Abdullah ibn Hijazi asy-Syarqawi. Mesir dan al-Azhar asy-Syarif sejak masa Syaikh al-Islam Imam Zakariya al-Anshari dan para muridnya, yakni para Imam: Ibn Hajar al-Haitami, Syamsuddin ar-Ramli dan al-Khathib asy-Syarbini merupakan wilayah resmi Khilafah Utsmaniyyah. Berikut adalah data lengkapnya:

 

Thabaqah Ulama Jawi, Sanad al-Haramain dan al-Azhar asy-Syarif 7

 

Thabaqah ke-1

  1. Nuruddin Muhammad ibn Ali ar-Raniri (1068 H/ 1658 M), Aceh Darussalam
  2. Abdurra’uf ibn Ali as-Sinkili (1024 – 1105 H/ 1615 – 1693 M), Aceh Darussalam
  3. Yusuf ibn Abdullah al-Maqassari (1037 – 1111 H/ 1627 – 1699 M), Gowa – Tallo, Banten Surosowan
  4. Abdul Muhyi Safarwadi Pamijahan, Tasikmalaya
  5. Burhanuddin Ulakan al-Mankabawi
  6. Ja’far ibn Badruddin al-Falimbani, Palembang Darussalam
  7. Hasanuddin ibn Ja’far al-Falimbani
  8. Thayyib ibn Ja’far al-Falimbani

 

Semasa dengan:

  1. Ahmad ibn Muhammad al-Qusyasi (991 – 1071 H/ 1538 – 1661 M)
  2. Ibrahim ibn Hasan al-Kurani (1025 – 1101 H/ 1615 – 1690 M)
  3. Muhammad ibn al-‘Ala` al-Babili al-Azhari
  4. Abdullah ibn Salim al-Bashri al-Makki (1049 – 1134 H)

 

Peristiwa Penting:

  • Sultan Agung Banten wafat 1683 M
  • Sultan Agung Mataram – Cirebon – Sumedang wafat 1645/46 M
  • Cirebon mengikuti Banten 1650 M
  • Berdirinya Kesultanan Palembang 1666 M
  • Perang Makassar 1666 – 1668 M
  • Perlawanan Trunojoyo 1677 M
  • Perjanjian Cirebon – VOC 1681 M

[Abdurrahman Al-Khaddami dan Wirahadi Geusan Ulin ; (Tim Penulis Naskah Film Jejak Khilafah di Tatar Sunda)]

 

Catatan kaki:

1        Nawawi al-Jawi, Maraqi al-‘Ubudiyyah, hlm. 3

2        az-Zarnuji, Ta’lim al-Muta’allim, hlm. 10

3        Nawawi al-Jawi, Tijân ad-Durârî, hlm. 15

4        Nawawi al-Jawi, Syarah Safînah an-Najâ, hlm. 34

5        Nawawi al-Jawi, Murqah Shu’ud at-Tashdiq, hlm. 14

6        Nawawi al-Jawi, Maraqi al-‘Ubudiyyah, hlm. 76

7        Dinukil dan diteliti dari al-‘Iqd al-Farid, karya Yasin al-Fadani dan Kifayah al-Mustafid, Mahfuzh at-Tarmasi serta biografi Ahmad Bakri Sempur dan Ahmad Syathibi Gentur; juga dilengkapi data dari Martin, Azra, La Eda dan A. Maftuhin.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

three × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password