Banten Dan Mataram: Wakil Khilafah Di Tatar Sunda (Lanjutan)

Sultan Agung (1641 – 1656/57)

Panembahan Hanyakrakusuma Mas Jatmika ibn Mas Jolang Hanyakrawati ibn Danang Sutawijaya pada tahun 1641 mendapatkan gelar Sultan dari Syarif Makkah Sayyid Zaid ibn Muhsin al-Hasani, dalam versi Jawa: Sultan Ngabdulrahman Sayidin Panatagami ing Mentaram (mungkin asalnya: Sulthan Qaimuddin Abdurrahman al-Matarami). Selanjutnya beliau dikenal sebagai Sultan Agung.

Dinukil dari naskah Babad Dipanegara:

 

Dhateng ing Rum lawan nuhun idinipun, lawan tur aturnya, saking ing pratinggi Jawi, tan winarna ing marga Ngerum wus prapta. Serat ipun sarip lan iman sedarum, katur mring jeng sultan, langkung sokur mring Hyang Widi, wus ingidenan lawan kinen paring nama. Pinatuta kelawan ing dalil iku, ingsun wus pracaya, kalawan wus sun idini, wus muliha duta marang Mekaha sira. Nulya mundur gegancangan lampahipun, tan winarna neng marga, duta mekah sampun prapti, mapan nuju ing dina Jumu’ah ika. Sampun katur mring sarip myang iman iku, suratnya jeng sultan, ing Ngerum gya tinupeksi, langkung sokur sarip lawan para iman. Mapan nulya ingangkat jeng pangran iku, iman Sipangika, ingkang amaos kutbahi, kutbah baka pan iku ingkang kinarya. Lawan sampun nenggih sinungan jejuluk, Sultan Ngabdulrahman, Sayidin Panatagami, ing Mentaram ngaliman lawan ngaliman.

 

Nukilan tersebut juga sesuai nukilan Sajarah/Babad Banten. Hal ini dibuktikan dengan Panji Kyai Tunggul Wulung dan Gentong Enceh Kyai Mendung dari Sultan Rum yang tersimpan di Kraton Yogyakarta. Pada masa tersebut sebagian Tatar Sunda, yakni wilayah yang dipimpin Cirebon, Sumedang, Galuh, Cikundul, Ukur, Sukapura dan Banyumasan tunduk pada Kesultanan Mataram Islam. Dengan pemberian gelar tadi maka terbukti adanya hubungan struktural Khilafah Utsmaniyah dengan Tatar Sunda bagian Timur meliputi Cirebon, Priangan dan Banyumasan melalui Sultan Agung Mataram. Bendera Mataram yang mengandung simbol “Bulan Sabit” menjadi bukti penguat hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah.

Adapun di antara pemimpin Tatar Sunda era Sultan Agung Mataram saat mendapat gelar Sultan dari Syarif Mekkah sebagai berikut:

 

  1. Panembahan Ratu Zainul Arifin, Cirebonan
  2. Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata, Sumedang
  3. Pangeran Rangga Gede Kusumadinata, Sumedang
  4. Dalem Tarikolot Raden Arya Wiratanu II, Cianjur dan Jampang/Sukabumi
  5. Bupati Sukapura Tumenggung Wiradadaha, Tasikmalaya
  6. Bupati Ukur Tumenggung Wirangunangun, Bandung dan Sagalaherang/Subang
  7. Bupati Galuh Raden Panji Arya Jayanegara, Ciamis
  8. Adipati Mertayuda I, Banyumasan

 

Peran utama Sultan Agung ialah mengoptimalkan islamisasi sampai ke pedesaan dan pedalaman. Terjadilah jalinan erat antara Islam dan Adat – Budaya yang tak tepisahkan. Peranan sang Sultan tercermin dalam gelarnya, yakni Senapati ing Alaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Menjadi hal aneh atau menyalahi Adat – Budaya jika ditemukan pribumi kafir di wilayah Cirebon, Priangan, Banyumasan dan Tanah Jawi secara umum.

Peran Penghulu/Qadhi dan lembaga Kauman dapat ditemukan di berbagai pelosok daerah. Apalagi di lingkungan Keraton Mataram yang dipimpin langsung Sultan Agung, Amir Khilafah sekaligus Ulama, murid Panembahan Ratu, cucu Sunan Gunung Jati. Tuduhan adanya sinkretisme Islam – Adat/Budaya terbantah dengan banyaknya naskah – naskah Islam di pustaka Keraton serta para ningrat dan abdi dalem yang memiliki sanad keilmuan hingga ke Hijaz dan Mesir.

Naskah Kempalan Kitab – Kitab Islam, nisbah Pangeran Cakraningrat Ngayogyakarta dapat menjadi sandaran informasi terkait penyebaran karya – karya Ulama “Arab” bukan hanya di Cirebon dan Priangan saja, namun wilayah Mataram secara umum. Demikian pula naskah Serat Tajusalatin, nisbah Ratu Kencana Surakarta, erat kaitannya dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Meskipun naskah – naskah tersebut disusun setelah masa sang Sultan, itu menunjukan keberhasilan islamisasi sebelum Mataram dipecah – belah oleh kafir Belanda. Sikap Sultan Agung terhadap kafir Penjajah Belanda juga sangat jelas, yakni Jihad fi Sabilillah. Beliau bahkan pada masa sebelumnya telah menyerang Batavia 2 (dua) kali, meskipun belum berhasil membebaskan Jaketra dari penjajahan kafir Harbi. Setidaknya pengepungan tersebut menyebabkan penguasa Batavia tewas karena wabah.

Pengembangan ekonomi dan pertanian serta tata – kota islami termasuk di antara bentuk peranan sang Sultan dalam melakukan riayah terhadap rakyat.

 

Sultan Ageung Tirtayasa (1651 – 1683)

Pangeran Adipati Surya ibn Abu al-Ma’ali Ahmad ibn Sultan Abu al-Mafakhir merupakan Sultan pengganti sang Kakek, karena ayahnya wafat terlebih dulu. Setelah sang kakek wafat pada tahun 1651, beliau mengirimkan utusan kepada Syarif Makkah Sayyid Zaid ibn Muhsin al-Hasani untuk mendapatkan pengesahan, yang kemudian mendapatkan gelar Sultan Abu al-Fath, yakni pemilik pembebasan/penaklukan, mirip dengan gelar Sultan Muhammad al-Fatih. Namun, beliau lebih dikenal sebagai Sultan Ageung Tirtayasa.

Dalam Sajarah/Babad Banten disebutkan:

 

Kengkeng iki, Ki Santri Betot iki, rencange rekeh pipitu, Ka (Ki) Ariya tur sabda, lan sakehing para wargi, samya matur inggih, leheng aputusan, mila manira kongkonan, arsa ngaturi uning, yen Sulthan Agung sumalah, pinangka kang anggentosi, manira anedha malih, ing gaganti jenengipun, anedha kang putusan, saking Sulthan Mekah malih, samya jurung sakathahing para warga (Paman Aria Mangunjaya, “Aku sekarang ingin, mengirim utusan ke Makkah, yang aku suruh ini, adalah Ki Santri Betot, dan temannya bertujuh.” Ki Aria berkata, dan semua para warga, sekalian berkata, “Iya, lebih baik kirim utusan, sebabnya aku mengirim utusan, ingin memberitahu, bahwa Sultan Agung sudah meninggal, (aku) yang dijadikan penggantinya, aku juga memohon (agar) mengganti namaku, meminta dikirim utusan, dan Sultan Mekah, para warga semua mendorong).1

 

Sultan Ageung Tirtayasa melanjutkan amanah sang Khalifah di Istanbul dalam menegakkan agama dan mengatur urusan dunia, serta jihad fi sabilillah. Pada intinya, jejak sang kakek dan para pendahulunya senantiasa dijaga dan ditingkatkan kualitasnya. Semua wilayah Banten Surasowan diterapkan hukum – hukum Islam, terutama dibantu para Ki Ali (Qadhi), yang dikenal sebagai Faqih Najmuddin.

Kesatuan negara dan wilayah kaum Muslim diupayakan secara nyata. Pendidikan Islam semakin dikuatkan melalui lembaga Kasunyatan. Pasar – pasar dibedakan antara laki – laki dan perempuan. Hubungan dengan kaum kafir dijalin berdasarkan pembagian fiqih: dzimmi, mu’ahid dan harbi; termasuk dalam masalah ekonomi dan perdagangan.

Langkah berani Sultan Ageung Tirtayasa yang lebih maju dari pendahulunya ialah upaya menyatukan seluruh Tatar Sunda dan Tlatah Jawi hingga Madura serta menantang kafir Belanda dengan menghapus pengaruh mereka dari wilayah kaum Muslim, rakyat Khilafah Utsmaniyah. Tentu saja, beliau mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Tegal, Giri, Madura, Makassar dan Bali. Kematian Amangku Rat I dan berkuasanya Amangku Rat II menjadi momentum “Perang Besar” terhadap kafir Belanda yang menguasai Mataram, sekitar tahun 1677 – 1679.

Sultan Ageung Tirtayasa bersama Panembahan Maduretna Pangeran Trunajaya bekerjasama membebaskan Mataram dari Belanda. Trunajaya menggempur Mataram dari arah Timur, dibantu pasukan Giri dan Makassar hingga menyebabkan Susuhunan Amangku Rat I terusir sampai ke Tegal, kemudian digantikan Amangku Rat II yang semakin tunduk kepada Belanda. Adapun Sultan Ageung Tirtayasa mengembalikan kedua putra Panembahan Girilaya ke Cirebon lalu menetapkan keduanya sebagai Sultan Sepuh Syamsuddin dan Sultan Anom Badruddin dengan pembagian wilayah dan keraton masing – masing, yang sebelumnya diamanahkan kepada Pangeran Wangsakerta. Sejak saat itu, Cirebonan, termasuk Galuh, Dermayu dan Talaga kembali menjadi bagian Khilafah Utsmaniyah.

Selanjutnya, Sultan Ageung Tirtayasa menggempur Mataram dari arah Barat, yakni membebaskan Priangan, meliputi Karawang, Cianjur – Jampang, Ukur – Sagalaherang, Sumedang – Limbangan dan Sukapura dari pengaruh kafir Belanda atas restu Aria Tangerang Imam Haji Wangsakara trah Sumedanglarang dan didukung Sultan Sepuh Syamsuddin Cirebon, Bupati Ukur Tumenggung Wirangunangun dan Bupati Sukapura Tumenggung Wiradadaha.

 

Dalam Paririmbon Kaariaan Tangerang disebutkan perintah Sultan Ageung Tirtayasa:

 

Sumedang kudu dijorag ayeuna keneh, ti Kakang Imam ngatur baladbalad di bagian darat, ti kaula ngatur balad bagian laut, mangga bismillah, ngarebut hak sorangan tangtuna halal (Sumedang harus diserang sekarang juga, Kang Imam Aria Wangsakara mengatur tentara dari darat. Saya mengatur tentara dari laut. Silakan bismillah! Merebut hak sendiri jelas halal). 2 [Bersambung].

 

Catatan kaki:

1        Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, hlm 419

2        Mufti Ali, Aria Wangsakara Tangerang, hlm 75 – 76

 

 

0 Comments

Leave a Comment

eighteen − fifteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password