Kontrak Kerja dengan Non Muslim

أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلاً مِنْ بَنِي الدِّيلِ، هَادِيًا خِرِّيتًا وَهْوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ، فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا، وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلاَثِ لَيَالٍ بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلاَثٍ‏.

Aisyah ra. (istri Nabi saw.) berkata:  “Rasulullah saw. dan Abu Bakar ra. pernah mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani ad-Dil sebagai penunjuk jalan yang ahli, sementara dia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy, Beliau berdua menyerahkan hewan tunggangan mereka kepada dia dan berjanji dengan dia (bertemu) di Gua Tsaur setelah tiga malam dengan membawa kedua hewan tungganan mereka pada pagi hari ketiga.” (HR al-Bukhari dan al-Baghawi).

Imam al-Bukhari (w. 256 H) meriwayatkan hadis ini dari Yahya bin Bukari, dari al-Laits, dari ‘Uqail, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah Ummul Mukminin ra. di dalam Shahîh al-Bukhârî, hadis nomor 2264 pada bab “Idzâ Ista`jara Ajîran liya’mala lahu ba’da Tsalâtsa Ayyam[in] aw ba’da Syahrin aw ba’da Sanat[in] Jâza wa Huma ‘alâ Syarthihimâ al-ladzî Isytarathâhu idzâ Ja`a al-Ajalu (Jika Seseorang Mempekerjakan Pekerja untuk Melakukan Pekerjaan untuk Dirinya Setelah Tiga Hari atau Setelah Satu Bulan atau Setelah Satu Tahun Maka Boleh dan Keduanya Terikat dengan Syarat Keduanya yang Telah Mereka Persyaratkan Jika Telah Datang Jangka Waktu Tersebut)”.

Imam al-Baghawi asy-Syafi’i (w. 516 H) meriwayatkan hadis ini di dalam Syarhu as-Sunnah bab “Isti`jâru al-Ahrâri (Mempekerjakan Orang Merdeka). Setelah hadis tersebut Imam al-Baghawi mengatakan:  di dalamnya ada dalil bahwa siapa yang mempekerjakan seorang pekerja untuk melakukan pekerjaan untuk dirinya setelah tiga hari atau setelah satu tahun maka boleh dan keduanya terikat dengan syarat keduanya.

Imam al-Bukhari juga meriwayatkan hadis ini di dalam Shahîh al-Bukhârî, hadis nomor 2263 dan 3905.

Hibbatullah al-Lalika‘iy (w. 418 H) meriwayatkan hadis ini di dalam Syarhu Ushûl al-I’tiqâd Ahli as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, hadis no. 1432 dengan redaksi:

وَاسْتَأْجَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلًا مِنْ بَنِي الدِّيلِ ثُمَّ مِنْ بَنِي عَبْدِ بْنِ عَدِيٍّ هَادِيًا خِرِّيتًا الْخِرِّيتُ الْمَاهِرُ بِالْهِدَايَةِ قَدْ غَمَسَ يَمِينَ حِلْفٍ فِي آلِ الْعَاصِ بْنِ وَائِلٍ وَهُوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ فَأَمِنَاهُ فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلَاثِ لَيَالٍ فَأَتَاهُمَا بِرَاحِلَتَيْهِمَا صَبِيحَةَ لَيَالٍ ثَلَاثٍ فَارْتَحَلَا وَانْطَلَقَ مَعَهُمَا عَامِرُ بْنُ فُهَيْرَةَ وَالدَّلِيلُ الدِّيلِيُّ فَأَخَذَ بِهِمْ أَسْفَلَ مَكَّةَ وَهُوَ طَرِيقُ السَّاحِلِ

Nabi saw. dan Abu Bakar pernah mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani ad-Dil, kemudian dari Bani Abdu bin ‘Adiy, sebagai penunjuk jalan yang mahir. Dia telah bergabung di dalam keluarga al-‘Ash bin Wa`il dan dia masih memeluk agama kafir Quraisy. Beliau berdua mempercayakan dan menyerahkan kepada dia hewan tunggangan mereka berdua dan berjanji (bertemu) di Gua Tsaur setelah tiga malam. Lalu dia datang kepada beliau berdua dengan hewan tunggangan beliau berdua pada pagi malam ketiga. Lalu keduanya naik hewan dan pergi berangkat. Bersama keduanya ‘Amir bin Fuhairah dan penunjuk jalan dari Bani ad-Dil membawa mereka ke jalan dekat Makkah, yaitu jalan pantai.” (HR al-Bukhari dan Hibbatullah al-Lalika`iy).

 

Hadis di atas menceritakan peristiwa saat Nabi saw. bersama Abu Bakar ra. hijrah dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu juga dinyatakan di dalam berbagai buku sirah seperti Sîrah Ibni Hisyam dan Sîrah Ibni Katsîr dan lainnya.

Hadis di atas menunjukkan dengan gamblang dua perkara: Pertama, kebolehan mempekerjakan orang kafir. Sebabnya, penunjuk jalan dari Bani ad-Dil yang ada di dalam buku-buku sirah disebutkan namanya Abdullah bin Arqath (Arqad, dalam riwayat lain), atau menurut Ibnu Hisyam namanya Abdullah bin Uraiqith itu masih kafir (musyrik).

Kedua, hadis di atas juga gamblang menunjukkan kebolehan akad ijarah dalam bentuk akad mudhâf, yaitu akad yang pelaksanaannya pada waktu mendatang. Dalam hadis di atas adalah setelah tiga hari. Imam al-Bukhari dan Imam al-Baghawi jelas menyatakan: waktu tiga hari itu bukan batasan, tetapi boleh saja pelaksanaan kerja itu setelah tiga hari, satu bulan, satu tahun dsb sesuai kesepakatan antara majikan (al-musta’jir) dan pekerja (al-ajîr).

Terkait hal pertama, ijarah dengan non-Muslim, Rasulullah saw. juga pernah mempekerjakan seorang Yahudi sebagai penulis, dan seorang Yahudi lainnya sebagai penerjemah. Khalifah Abu Bakar ra. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra. pernah mempekerjakan orang Nasrani untuk menghitung harta. Khalifah Umar bin al-Khathab mempekerjakan orang Persia untuk menulis Diwân. Masih banyak hal sama dilakukan oleh para Sahabat. Semua itu terjadi diketahui oleh para Sahabat dan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Dengan demikian telah terjadi Ijmak Sahabat atas kebolehan mempekerjakan orang kafir.

Begitu juga sebaliknya. Seorang Muslim boleh menjadi pekerja yang bekerja kepada orang kafir baik Ahlul Kitab (Yahudi atau Nasrani) atau musyrik. Dalam hal ini Imam at-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Ali bin Abiy Thalib ra. pernah bekerja kepada orang Yahudi untuk mengairi tanamannya, untuk setiap timba dengan kompensasi sebutir kurma. Ia memberitahukan hal itu kepada Nabi saw. Beliau pun tidak mengingkarinya.

Seorang Muslim bekerja kepada non-Muslim itu bukanlah bentuk penghinaan terhadap Muslim. Bukan pula merupakan bentuk memberi jalan kepada orang kafir untuk menguasai Muslim. Sebabnya, itu merupakan bentuk akad kompensasi.

Kebolehan mempekerjakan dan bekerja kepada non-Muslim itu tentu selama pekerjaannya atau manfaatnya adalah halal. Jika pekerjaan atau manfaatnya haram maka tidak boleh.

Kebolehan mempekerjakan orang non-Muslim itu sah selama untuk keabsahan pekerjaan atau aktivitas itu tidak disyaratkan Islam, yakni pelakunya tidak harus Muslim. Jika disyaratkan Islam, maka tidak sah mempekerjakan non-Muslim. Baik aktivitas itu di dalamnya ada aspek taqarrub seperti menjadi imam, untuk azan, menunaikan zakat, melaksanakan haji, mengajarkan al-Quran dan al-Hadits, dan sebagainya. Begitu pula aktivitas yang disyaratkan pelakunya harus Muslim meski bukan taqarrub, misalnya aktivitas qadha’ (memutuskan perkara). Selain aktivitas yang demikian maka boleh dan sah mempekerjakan non-Muslim untuk melakukannya.

WalLâh a’lam wa ahkam.  [Yoyok Rudianto]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

two × two =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password