Peringatan Maulid Nabi Saw: Momen Meluruskan Perjuangan Muslimah

Kemuliaan Rasulullah saw tidak bisa dipisahkan dari syariah Islam yang beliau bawa.  Dengan syariah Islamlah beliau menebar rahmat untuk sekalian alam, sebagaimana diwahyukan Allah SWT (Lihat: QS al-Anbiya’ [29]: 107. Lihat juga: Nawawi al-Jawi, Tafsir Marah Labîd, II/47).

Kemuliaan hidup Rasulullah saw. bukan karena bergelimang harta, bukan pula disebabkan jabatan dan kedudukan.  Inilah yang harus dipahami oleh umat beliau yang ingin hidup mengikuti jejak langkah beliau dalam mengarungi kehidupan. Hidup mulia hanya dengan menerapkan Islam secara sempurna, bukan dengan mengejar kenikmatan materi seperti yang menjadi keyakinan penganut kapitalisme.

 

Rasulullah saw. Memuliakan Perempuan

Keadilan Islam bukan hanya teori, namun telah dibuktikan penerapannya oleh Rasulullah saw. sepanjang kehidupan beliau.  Banyak hadis Rasulullah saw. yang mengisahkan perlakuan mulia beliau kepada kaum perempuan.  Di antaranya hadis yang menjelaskan betapa besarnya perhatian beliau pada pendidikan mereka: Kaum perempuan berkata kepada Nabi saw., “Laki-laki mengalahkan kami atasmu. Karena itu berilah satu hari untuk kami.” Nabi saw. lalu menentukan sebuah hari untuk mereka untuk bertemu. Pada hari itu Rasulullah memberi nasihat dan perintah kepada mereka ….” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. pun memerintahkan para suami untuk memperlakukan istri-istri mereka dengan sebaik-baiknya.  Bahkan status kebaikan mereka bergantung pada seberapa baiknya mereka kepada istri dan keluarganya.  Beliau saw. bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik kepada istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian kepada istriku.” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nasib perempuan berubah total ketika Rasulullah saw. hadir.  Anak-anak perempuan yang sebelumnya dianggap hina, pembawa sial dan tidak layak untuk hidup, justru oleh Rasulullah saw. dikabarkan bisa memasukkan orangtuanya masuk surga. Rasulullah saw bersabda, “Siapapun yang memiliki anak perempuan, lalu ia tidak membunuhnya hidup-hidup, tidak menghinanya, juga tidak lebih mengutamakan anak laki-laki atas dirinya, maka Allah akan memasukkannya (orangtua) ke dalam surga” (HR Ahmad).

Orang-orang yang menuduh bahwa Islam bersikap dikriminatif terhadap perempuan mestinya tersadarkan betapa Islam memberikan kedudukan mulia pada mereka.  Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak mendapatkan baktiku?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Dia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Kemudian ayahmu.” (HR al-Bukhari).

Ajaran Islam yang dibawa Rasulullah saw. sungguh memberikan hak-hak perempuan yang sebelumnya tidak diperoleh mereka.  Pada masa jahiliyah mereka tidak mendapatkan harta waris.  Ketika Islam datang, mereka diperlakukan sama seperti saudaranya yang laki-laki (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 7).

Dari sejumlah ketentuan syariah Islam yang menggambarkan posisi mulia perempuan adalah penetapan peran utama mereka sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “… Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dia pimpin. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dia pimpin.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Kapitalisme-Sekulerisme Merendahkan Martabat Perempuan

Cengkeraman kapitalisme-sekulerisme semakin kuat dalam kehidupan perempuan.  Perlakuannya terhadap perempuan menjauhkan mereka dari martabat mulia sebagai manusia.  Perempuan disamakan dengan barang dagangan, dinilai sesuai dengan harga yang bisa dihasilkan.  Lihatlah iklan-iklan yang sering memajang gambar atau menayangkan adegan perempuan yang mengeksploitasi sensualitasnya.

Yang membuat miris adalah keadaan yang memaksa perempuan meninggalkan peran utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga disebabkan berbagai tuntutan.  Pertimbangan ekonomi dianggap sebagai alasan utama seorang perempuan harus bekerja di sektor publik.  Konsekuensinya, mereka harus meninggalkan anak-anak, suami dan keluarganya yang berujung pada terganggunya fungsi dia sebagai ibu pendidik, sebagai istri pendamping suami, juga fungsinya sebagai pengatur rumah tangga yang akan merealisasikan kesakinahan di tengah keluarga.

Atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan, mereka dituntut berperan dalam peningkatan penghasilan keluarga dan memberikan kontribusi untuk pembangunan nasional. Program ini nyatanya menambah beban aktivitas perempuan disamping fungsi utama yang harus dijalankannya.  Dalam tekanan kebutuhan, tidak sedikit kaum perempuan yang terpaksa mengabaikan peran domestik demi untuk mencukupi kebutuhan keluarga.  Ujungnya, keluarga yang dikorbankan.  Anak-anak kurang kasih sayang, broken home, mereka terjerumus penyakit sosial seperti tawuran, narkoba dan seks bebas. Para suami juga kena dampaknya, pelayanan istri kurang optimal karena sudah kelelahan dengan pekerjaan. Kondisi demikian ini tidak jarang menghantarkan pada perceraian.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2022, pada tahun 2021 terdapat 447.743 kasus perceraian. Angka ini melonjak jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, di mana tercatat perceraian sebanyak 291.677 pada 2020 (Okezone.com).

 

Peran Muslimah pada Masa Rasulullah saw

Sejarah mencatat banyak peran yang dipersembahkan oleh para Muslimah yang lahir dalam tempaan Rasulullah saw.  Selayaknya perempuan masa kini menjadikan mereka sebagai tauladan dalam memberdayakan potensinya supaya tidak terjebak ke dalam kesesatan.

Di antara mereka yang kegigihannya dalam membela Rasulullah saw. dan menegakkan risalahnya tidak diragukan adalah: Nusaibah Ummu Imarah. Ia adalah salah satu diantara 70 orang Anshar yang melakukan Baiat Aqabah 2.  Ketika Perang Uhud, ia dengan gagah berani melindungi Rasulullah saw. dari serangan musuh. Ibnu Saad menukil sebuah riwayat yang menggambarkan keberanian Nusaibah, “Sungguh aku melihat Nusaibah saat itu berjibaku dalam menangkis serangan Ibnu Qami’ah yang bermaksud membunuh Rasulullah hingga ia terkena sabetan pedang yang tepat mengenai lehernya. Sebanyak 13 bekas sabetan pedang di sekujur tubuhnya. Tangan yang hampir putus ialah bukti ketulusan cintanya kepada Rasulullah.” (Ibnu Saad, Ath-Thabaqât al-Kubrâ, 8/415).

Al-Khansa. Nama lengkap Tumadhar binti ‘Amr bin Syuraid bin ‘Ushayyah as-Sulamiyah. Al-Khansa dikenal sebagai ibu yang merelakan keempat anaknya gugur sebagai syuhada pada Perang Qadisiyah. Berikut petikan kalimat motivasi beliau yang membangkitkan gelora perjuangan di dada puteranya, ”Jika kalian melihat perang di jalan-Nya, singsingkanlah lengan baju kalian dan berangkatlah. Majulah hingga barisan depan, niscaya engkau akan mendapatkan pahala di akhirat tepatnya di negeri keabadian.”

Sumayyah. Ketangguhannya dalam mempertahankan keimanan telah mengantarkan beliau menjadi syahidah pertama. Berita gembira pun diberikan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya, “Bersabarlah wahai keluarga Yasir. Kalian telah dijaminkan surga.” (HR al-Hakim).

 

Peringatan Maulid Nabi saw.: Momen Mengembalikan Peran Mulia Muslimah

Sejak tidak hadirnya institusi Khilafah, umat manusia dicengkeram oleh idelogi kapitalisme-sekulerisme yang kian menghunjamkan racun-racunnya.  Sebagian Muslimah ikut mengusung dan memperjuangkan ide kebebasan dan kesetaraan yang dianggap akan mengangkat martabatnya.

Sebaliknya, mereka menuduh syariah Islam sebagai aturan yang akan memenjarakan.  Mereka ramai-ramai menuntut reaktualisasi fiqih Islam, Hukum-hukum fiqih hasil ijtihad para ulama salaf dihujat dan disesuaikan dengan realitas kekinian.  Misalnya, hukum jilbab dan kerudung, yang sudah jelas kewajibannya berdasarkan dalil-dalil yang qathi, dituntut untuk diganti dengan pakaian yang sesuai dengan keadaan budaya lokal. Ini adalah contoh pemikiran sesat yang akan semakin menjauhkan umat dari pemahaman yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Oleh karena itu harus ada upaya serius untuk melawannya.  Umat harus disadarkan akan bahaya pemikiran tersebut. Mereka pun harus didekatkan dengan pemahaman Islam yang disampaikan oleh Rasul saw., digambarkan realitas pelaksanaannya juga dijelaskan metode untuk memperjuangkannya.

Kaum Muslimah harus kembali menjalankan peran utamanya sebagai ibu pendidik generasi dan pengatur rumah tangga, juga tidak mengabaikan peran di tengah umat dalam menegakkan amar makruf nahi munkar (QS at Taubah [9]: 71).

Semoga umat tidak terjebak pada euphoria perayaan semata.  Diharapkan akan muncul ruh dan semangat yang bergelora untuk melanjutkan perjuangan Rasulullah saw dalam menegakkan Islam secara kafah.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Nida Saadah]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

10 − 9 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password