Tanah ‘Usyriyyah Dan Kharajiyyah (Telaah Kitab Muqaddimah ad-Dustur Pasal 33-Lanjutan)

Kharaj ditetapkan atas tanah kharajiyah karena kharaj adalah sebutan untuk al-kiraa‘ (sewa tanah) dan al-ghullah (hasil bumi).   Makna semacam ini bisa ditemukan di dalam sebuah riwayat bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

اَلْخَرَاجُ بالضَّمَانِ

Kharaj itu dengan jaminan (HR Imam yang Lima).

 

Hadis ini memang dilemahkan oleh Imam al-Bukhari dan Abu Dawud, tetapi disahihkan oleh Imam at-Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Jarud, Ibnu Hibban, al-Hakim dan Ibnu al-Qaththan (Ash-Shan’ani, Subul as-Salam, 4/140. Maktabah Syamilah).

Tanah kharajiyah adalah milik Baitul Mal (Negara).  Penduduknya diberi hak untuk memanfaatkannya. Setiap tahun tanah tersebut dikenai pungutan kharaj dengan kadar yang telah ditentukan.   Pungutan ini tak ubahnya dengan kira‘ (sewa) atas tanah tersebut.  Penetapan besaran pungutan diserahkan sepenuhnya kepada Khalifah, tetapi tidak boleh melebihi apa yang dikandung oleh tanah.

Kharaj adalah hak kaum Muslim atas tanah yang diperoleh dari orang kafir, baik melalui peperangan maupun perjanjian damai. Kharaj dibagi menjadi dua: kharaj ‘unwah (kharaj paksaan) dan kharaj sulhi (kharaj damai).

Kharaj ‘unwah adalah kharaj yang diambil dari seluruh tanah yang dikuasai kaum Muslim dari orang-orang kafir melalui peperangan. Contohnya adalah tanah Irak, Syam dan Mesir. Dalilnya adalah firman Allah SWT:

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ كَيۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧ لِلۡفُقَرَآءِ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَأَمۡوَٰلِهِمۡ يَبۡتَغُونَ فَضۡلٗا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٗا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ٨ وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلۡإِيمَٰنَ مِن قَبۡلِهِمۡ يُحِبُّونَ مَنۡ هَاجَرَ إِلَيۡهِمۡ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ٩ وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعۡدِهِمۡ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ ١٠

Harta rampasan (fai) apa saja yang Allah berikan kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk suatu negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, kaum miskin dan ibnu sabil. Agar harta tersebut jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kalian. Apa saja yang Rasul berikan kepada kalian, terimalah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah sangat keras hukuman-Nya. (Juga) bagi kaum fakir yang berhijrah, yaitu mereka yang diusir dari kampung halaman dan meninggalkan harta mereka (karena) mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Mereka pun menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Juga orang-orang yang telah menempati Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum kedatangan mereka (Muhajirin). Mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa saja yang diberikan kepada mereka (Muhajirin). Mereka (anshar) mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri sekalipun mereka dalam kesusahan. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan adanya kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”  (QS al-Hasyr [59]: 7-10).

 

Khalifah Umar bin al-Khaththab menjadikan ayat di atas sebagai dasar argumentasi untuk tidak membagi-bagikan tanah Irak, Syams dan Mesir kepada tentara kaum Muslim.  Bilal, Abdurrahman dan Zubair mendesak Khalifah Umar agar membagi-bagikan tanah-tanah tersebut, seperti yang dilakukan Rasulullah saw. atas tanah Khaibar. Tanah itu beliau bagi-bagikan kepada pasukan yang turut dalam penaklukannya. Ayat ini juga yang disampaikan oleh Khalifah Umar kepada orang-orang Anshar yang ia kumpulkan untuk dimintai pendapat. Beliau berkata: “Aku telah memutuskan untuk menahan tanah rampasan ini beserta penduduk kafirnya, kemudian menetapkan atas mereka (penduduknya) pungutan kharaj bagi tanah tersebut, juga jizyah dari budak-budaknya. Selain itu tanah ini menjadi fai bagi kaum Muslim, (pasukan) tentara dan keturunannya, serta orang-orang yang datang setelah mereka. Apakah kalian memahami bahwa tapal batas wilayah ini harus dijaga oleh pasukan? Apakah kalian juga memahami bahwa wilayah besar seperti Syam, Jazirah, Kufah, Bashrah dan Mesir ini harus diperkuat dengan tentara dan mereka harus diberi gaji? Lalu dari mana mereka akan mendapatkan gaji jika aku telah membagi-bagikan tanah dan penduduknya.”

Kemudian Khalifah Umar ra. mengungkapkan dalil untuk mendukung pendapatnya kepada mereka dengan membacakan ayat-ayat fai ini sampai pada firman Allah SWT: wa al-ladzina ja’u min ba’dihim… (serta orang-orang yang datang setelah mereka).

Khalifah Umar berkata lebih lanjut: “Ini adalah harta yang akan dibagikan kepada seluruh kaum Muslim sampai Hari Kiamat. Sungguh tidak seorang pun dari kaum Muslim, kecuali berhak mendapatkan bagian dari fai ini.”

Mereka semua sepakat dengan pendapat Khalifah Umar dan berkata, “Pendapatmu adalah pendapat yang paling baik. Sungguh bijak perkataan yang engkau ucapkan dan pendapat yang kau nyatakan. Jika tapal batas dan kota ini tidak diperkuat dengan tentara, dan tentara itu tidak digaji atas penjagaan mereka terhadap kota ini, niscaya orang kafir akan kembali menguasai kota mereka.”

Khalifah Umar ra. berkata, “Sungguh urusan ini telah jelas bagiku. Lalu adakah seseorang arif dan cerdas yang mampu menempatkan tanah ini pada tempatnya dan menempatkan penduduknya pada tempatnya?”

Mereka menjawab, “Serahkanlah hal itu kepada Utsman bin Hanif. Sungguh dia adalah seseorang yang memiliki keahlian, kecerdasan dan pengalaman.”

Lalu Khalifah Umar ra. segera menemui dia dan menyerahkan urusan pengukuran tanah Sawad (di Irak) kepada dirinya.

Setelah itu, berangkatlah Utsman bin Hanif ra. untuk mengukur tanah Sawad dan menetapkan kharaj yang harus dibayar.  Kemudian beliau memberikan laporan kepada Khalifah Umar ra. dan membacakannya. Sebelum Khalifah Umar ra. wafat, hanya dari tanah Sawad (tanah hitam yang subur di Kufah) saja telah diperoleh 100 juta dirham. Saat itu nilai satu dirham sama dengan satu mitsqal. Dengan demikian Khalifah Umar ra. tetap menyerahkan tanah itu kepada pemiliknya. Namun, mereka diwajibkan membayar kharaj atas tanah tersebut untuk mengisi Baitul Maal kaum Muslim sekaligus sebagai fai’ bagi kaum Muslim sampai Hari Kiamat.   Status tanah ini dan semua yang dikeluarkan atas tanah itu tidak berubah (kekal) hingga Hari Kiamat.  Status tanah ini tidak akan berubah menjadi tanah ‘usyriyah meskipun pemiliknya telah berubah menjadi Muslim, atau pemiliknya menjual kepada kaum Muslim. Ini didasarkan pada kenyataan bahwa tanah tersebut ditaklukkan secara paksa dan diberlakukan kharaj atasnya.  Thariq bin Syihab berkata: “Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menulis surat kepadaku (dan ditujukan) kepada kepala saudagar sungai (saat itu aku telah masuk Islam), yaitu Khalifah Umar ra. mewajibkan untuk menahan tanahnya dan diambil kharaj dari tanah tersebut.” (HR Abu Ubaid).

Dari perkataan Khalifah Umar ra. jelaslah bahwa status tanah kharaj atas tanah yang ditaklukkan secara paksa itu tidak akan pernah berubah, walaupun penduduknya telah masuk Islam. Mereka tetap diwajibkan membayar kharaj dari tanah tersebut walaupun penduduknya telah masuk Islam.

Adapun kharaj shulh adalah kharaj yang diambil dari setiap tanah yang pemiliknya telah menyerahkan diri kepada kaum Muslim secara damai. Kharaj ini muncul seiring dengan perdamaian yang disepakati antara kaum Muslim dan pemilik tanah tersebut. Jika perdamaian itu menetapkan tanah negeri tersebut menjadi milik kaum Muslim, namun penduduknya tetap dibolehkan tinggal di atas tanah itu dengan kesediaan membayar kharaj, maka  mereka wajib mengeluarkan kharaj atas tanah tersebut hingga Hari Kiamat.  Ketetapan semacam ini mengikat dan berlaku selama-lamanya bagi penduduk wilayah itu. Status tanah tersebut tetap sebagai tanah kharajiyah sampai Hari Kiamat, walaupun penduduknya berpindah ke agama Islam atau tanah tersebut dijual kepada orang Islam; atau karena sebab-sebab yang lain.

Akan tetapi, jika perdamaian tersebut menetapkan tanah itu tetap menjadi milik penduduknya, dan dikelola oleh mereka, serta telah ditetapkan kharaj atas mereka, maka kharaj semacam ini diserupakan dengan jizyah yang akan terhapus dengan masuknya mereka ke dalam Islam, atau mereka menjual tanahnya kepada seorang Muslim. Ketentuan seperti ini didasarkan firman Allah SWT:

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤

Penuhilah perjanjian. Sungguh perjanjian itu pasti diminta pertanggungjawaban (QS al-Isra’ [17]: 34).

 

Juga didasarkan pada sabda Rasulullah saw.:

اَلْمُؤْمِنُوْنَ عِنْدَ شُرُوْطِهِمْ

Kaum Mukmin itu terikat dengan syarat-syarat yang telah mereka tetapkan (HR Muttafaq ‘alaihi).

 

Jika tanah kharaj dijual kepada orang kafir, statusnya sebagai tanah kharaj tetap, dan tidak pernah terhapus. Hanya saja, orang-orang kafir tersebut wajib membayar kharaj dan jizyah sekaligus. [Gus Syam/Bersambung]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

17 − 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password