Bagaimana Cara Membuktikan Cinta Kepada Nabi Saw Saat Ini?

Soal:

Bagaimana cara membuktikan cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. saat ini? Sebaliknya, bagaimana membuktikan, seseorang tidak layak menyatakan dirinya mencintai Nabi Shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama?

 

Jawab:

Pembahasan ini sebenarnya telah dibahas panjang lebar oleh al-Qadhi Iyadh dalam kitabnya, Asy-Syifaa bi Ta’riifi Huquuq al-Musthafaa, khususnya Bagian Kedua. Beliau menyebutkan, ada hak-hak yang dimiliki Nabi Muhammad saw. atas umatnya yang wajib dipenuhi.

Pertama: Wajib mengimani Nabi saw. dan syariah yang beliau bawa. Hukumnya fardhu ‘ain. Tidak sempurna keimanan dan keislaman seseorang, kecuali dengan mengimani beliau. Allah SWT berfirman:

قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَئَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ  ١٥٨

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia, sungguh aku ini utusan Allah bagi kalian semua. Dilah Tuhan Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Tidak ada tuhan selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan. Karena itu berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia agar kalian mendapat petunjuk.” (QS al-A’raf [7]: 158).

 

Tidak hanya mengimani kenabian dan kerasulan beliau, tetapi juga risalah yang beliau bawa. Al-Qadhi Iyadh menyatakan:

وَالإِيْمَانُ بِهِ صلى الله عليه وسلم هُوَ تَصْدِيْقُ نُبُوَّتِهِ، وَرِسَالَةِ اللهِ لَهُ، وَتَصْدِيْقُهُ فِي جَمِيْعِ مَا جَاءَ بِهِ وَمَا قَالَهُ، وَمُطَابَقَة تَصْدِيْقِ الْقَلْبِ شَهَادَةَ اللِّسَانِ بِأَنَّهُ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم فَإِذَا اجْتَمَعَ التَّصْدِيْقُ بِهِ بِالْقَلْبِ، وَالنُّطْقُ بِالشَّهَادَة بِذَلِكَ اللِّسَانِ تَمَّ الإِيْمَانُ بِهِ وَالتَّصْدِيْقُ لَه

Mengimani Rasulullah saw. adalah dengan membenarkan kenabian beliau dan risalah yang Allah turunkan kepada brliau. Membenarkan beliau dalam seluruh perkara yang beliau bawa dan beliau sampaikan. Sesuai antara pembenaran hatinya dan kesaksian lisannya, bahwa beliau Rasulullah saw. Jika pembenaran kepada beliau dengan hati ini bertemu dengan pelafalan kesaksian dengan lisan, maka iman dan pembenaran kepada beliau itu telah sempurna.1

 

Kedua: Wajib menaati beliau dan menaati semua syariah (risalah) yang beliau bawa, tanpa kecuali. Syariah Nabi saw. itu meliputi seluruh aspek kehidupan, mulai dari akidah, ibadah [shalat, puasa, zakat, haji dan jihad], muamalah [sistem pemerintahan/Khilafah, ekonomi, sosial dan pendidikan], huduud dan jinaayat [sanksi hukum] dan jihad [termasuk politik luar negeri]. Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَأَنتُمۡ تَسۡمَعُونَ  ٢٠

Wahai orang-orang yang beriman, taati Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berpaling dari-Nya, padahal kalian mendengar (perintah dan larangan-Nya) (QS al-Anfal [8]: 20).

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ  ٧

Apa saja yang Rasul bawa kepada kalian, ambillah. Apa saja yang dia larang atas kalian, tinggalkanlah. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sungguh Allah sangat keras hukuman-Nya (QS al-Hasyr [59]: 7)

 

Ketiga: Wajib mengikuti beliau, melaksanakan titah beliau dan meneladani sunnah (tuntunan) beliau. Allah SWT berfirman:

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ  ٣١

Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS Ali ‘Imran [3]: 31).

 

Ittibaa’ kepada Nabi saw., menurut Imam al-Amidi, wajib memenuhi tiga syarat: (1) An Taf’ala Mitsla Fi’lihi (Anda melakukan sebagaimana yang beliau lakukan); (2) ‘Ala Wajhihi (Dalam sifat yang sama sebagaimana sifat beliau; (3) Min Ajli Fi’lihi (Mempunyai tujuan yang sama).

Alasannya, karena tidak disebut ittibaa’ jika bentuk perbuatannya berbeda. Satu duduk, satu berdiri. Karena itu, keduanya harus sama. Begitu juga ketika bentuknya sama, tetapi tujuan dan niatnya berbeda. Misalnya, yang satu wajib, sementara yang lain sunnah, meski bentuknya sama. Hal yang sama juga, ketika bentuk dan sifatnya sama, tetapi konteksnya berbeda. Misalnya, shalat zuhur dan puasa Ramadhan. Sama-sama wajib, tetapi beda konteks. Meski sama-sama menjalankan kewajiban, konteks yang satu dengan yang lain berbeda, maka tidak bisa disebut ittibaa’. Karena itu, ittibaa’ harus memenuhi tiga syarat di atas.2

Jika ketiga syarat ini terpenuhi, ittibaa’ kepada Nabi saw. dianggap sempurna. Jika tidak maka tidak disebut ittibaa’. Nabi saw. mendirikan negara yang menjalankan syariah Islam, mendirikan partai politik, membina sahabat sebagai negarawan. Semuanya itu merupakan bentuk [mitsla fi’lihi]. Hukumnya wajib karena dilakukan terus-menerus meski ujian dan tantangan luar biasa [‘ala wajihi].3 Kapan Nabi saw. melakukan tatsqiif (pembinaan/pengkaderan), tafaa’ul (interaksi di masyarakat) dan thalab an-nushrah [mencari dukungan]? Semuanya itu bagian dari Mij Ajlihi. Dilakukan persis sebagaimana Rasulullah saw. lakukan.

Sebaliknya, menyelisihi titah dan sunnahnya merupakan kesesatan, perbuatan maksiat dan dosa. Allah SWT berfirman:

فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ  ٦٣

Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih (QS an-Nur [24]: 63).

 

Keempat: Wajib selalu mencintai beliau. Allah SWT berfirman:

قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ  ٢٤

Katakanlah (Muhammad), “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, pasangan-pasangan kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan (azab)-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (QS at-Taubah [9]: 24).

 

Ciri-ciri orang yang mencintai Nabi saw. adalah:

  1. Sering menyebut dan mendoakan beliau;
  2. Rindu sekali ingin berjumpa dengan beliau;
  3. Mengagungkan, bersikap hormat ketika mengingat beliau, menampakkan kekhusyukan dan hati bergetar, bahkan menangis saat mendengar nama beliau disebut;
  4. Mencintai siapa saja yang dicintai Nabi saw., seperti keluarga, sahabat Anshar dan Muhajirin. Memusuhi siapa saja yang memusuhi mereka. Membenci siapa saja yang membenci mereka. Sebabnya, siapa saja yang mencintai sesuatu, maka dia pasti akan mencintai siapa saja yang dia cintai.
  5. Mencintai al-Quran yang beliau bawa. Siapa saja yang mencari petunjuk dengan petunjuknya, pasti mendapatkan petunjuk. Termasuk berakhlak dengan akhlak beliau. Mencintai al-Quran berarti membaca, mencintai, memahami, mengamalkan isinya dan menegakkan hukum-hukumnya.
  6. Mencintai dan mengasihi umat beliau, memberikan nasihat kepada mereka, memperjuangkan kemaslahatan mereka, menghilangkan berbagai bahaya dan mudarat yang menimpa mereka; sebagaimana sifat Nabi saw,, yang pengasih dan lemah lembut kepada mereka.4

 

Kelima: Wajib selalu “memberi nasihat” kepada beliau, para penguasa dan kaum Muslim secara umum.

Memberi nasihat kepada Nabi saw., menurut Abu Sulaiman, sebagaimana dalam hadis, maksudnya adalah membenarkan kenabian beliau; mengerahkan segala daya dan upaya untuk menaati beliau; menaati apa saja yang beliau perintahkan dan beliau larang. Menurut Abu Bakar, bisa juga diartikan menolong dan mendukung beliau, baik ketika masih hidup maupun setelah wafat. Menghidupkan dan menyebarkan sunnah beliau serta berakhlak dengan akhlak beliau. Menurut Abu Ibrahim Ishaq at-Tujibi, termasuk mendakwahkan dan mengamalkannya.5

Adapun memberikan nasihat kepada para penguasa adalah mentaati mereka, ketika mereka taat, dan menyeru mereka agar taat, ketika mereka maksiat. Mengingatkan mereka ketika mereka lalai dan ketika ada urusan kaum Muslim yang tidak tampak bagi mereka.6

Adapun memberi nasihat kepada kaum Muslim secara umum, dengan menunjukkan kemaslahatan mereka, membantu mereka dalam urusan agama dan dunia mereka, dengan kata dan perbuatan. Mengingatkan kelalaian mereka. Mendidik orang-orang bodoh di kalangan mereka. Menutup aib mereka. Mencegah madarat yang akan menimpa mereka serta mengupayakan kemaslahatan untuk mereka.7 Inilah yang dalam bahasa Al-‘Allamah al-Qadhi Muhammad Taqiyuddin an-Nabhani disebut “Tabanni Mashalih al-Ummah”.

Keenam: Menghormati beliau, keluarga, keturunan dan Ummahat al-Mukminin. Itu juga bagian dari kewajiban kaum Muslim saat ini kepada Rasulullah saw.8

Ketujuh: Menghormati beliau dan para sahabat beliau. Itu juga bagian dari kewajiban kaum Muslim saat ini kepada Rasulullah saw.9

Karena itu siapa saja yang mengaku sebagai umat beliau, tetapi tidak memenuhi hak-hak beliau dan tidak mencintai beliau, dengan bukti-bukti yang telah dijelaskan oleh al-‘Allamah al-Qadhi ‘Iyadh di atas, maka tidak layak disebut sebagai umat beliau dan mengklaim cinta kepada beliau.

Bahkan ada yang telah mengantarkan keluar dari agamanya, seperti ketika menolak syariah beliau, menghina beliau, dan sebagainya. Mereka bukan saja tidak layak disebut mencintai beliau, tetapi sudah dipantas disebut umat beliau dan dianggap keluar dari agama beliau.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [KH. Hafidz Abdurrahman]

 

Catatan kaki:

1       Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 260.

2        Al-‘Allamah Saifuddin al-Amidi, al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, al-Maktab al-Islami, Beirut, cetakan II, 1402 H, Juz I/hal. 172.

3        Apa indikasinya, apa yang dilakukan oleh Nabi itu hukumnya wajib? Jawabannya, salah satunya, adanya “Qarinah Masyaqqah”, yaitu ketika Nabi tetap konsisten melakukannya, meski ditentang, dimusuhi, bahkan hendak dibunuh. Itu merupakan indikasi, yang membuktikan, bahwa perbuatan tersebut wajib dilaksanakan. Contohnya, seperti kegiatan Tafa’ul dan Thalab an-Nushrah untuk mendirikan Negara Islam di Madinah. Ujiannya luar biasa. Indikasi lain, adalah “Qarinah Mudawamah”, artinya perbuatan itu dilakukan terus-menerus tanpa henti, seperti aktivitas Nabi melakukan aktivitas pembinaan, mulai dari awal, di Makkah, dari fase Tatsqif dan Tafa’ul, sampai di Madinah, saat fase Tathbiq al-Ahkam. Apa yang dilakukan terus-menerus itu membuktikan, bahwa aktivitas itu hukumnya wajib.

4        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 277-279.

5        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 283.

6        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 283.

7        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 283.

8        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 292-295.

9        Al-‘Allamah al-Qadhi Abu al-Fadhal ‘Iyadh bin Musa bin ‘Iyadh al-Yahshabi, as-Syifa bi Ta’rifi Huquq al-Musthafa, Dar al-Haqdits, Qahirah, cetakan I, 2004 M/1425 H, hal. 296-299.

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

19 − eleven =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password