Perisai Umat Yang Hilang

Alhamdulillah, kita masih diberikan kesempatan Allah SWT untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Ramadhan syahrurrahmah, bulan yang penuh rahmat dari Allah SWT. Pahala dari amal-amal shalih kita dilipatgandakan Allah SWT. Ramadhan syahrulmaghfirah, bulan yang penuh ampunan Allah SWT bagi siapapun yang melaksanakan shaum karena iman (iman[an]) dan penuh harap mendapatkan pahala dari Allah SWT (ihtisâb[an]).

Shaum Ramadhan juga disebut oleh Rasulullah saw. sebagai junnah (perisai). Puasa menjadi perisai bagi seorang Muslim dari melakukan perbuatan maksiat. Puasa Ramadhan melatih kesabaran seorang muslim untuk taat kepada Allah dan menjauhi larangan-Nya. Di akhirat nanti, puasa merupakan perisai kita dari api neraka.

Rasulullah saw. bersabda, “Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka.” (HR Ahmad).

Istilah junnah (perisai) juga digunakan oleh Rasulullah saw. untuk Imam atau Khilafah di tengah-tengah umat. Beliau bersabda, “Sungguh Imam (Khalifah) itu (laksana) perisai; orang-orang akan berperang di belakang dia (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, Abu Dawud dan Ahmad).

Alhasil, shaum adalah perisai pribadi Muslim agar terhindar dari api neraka, sementara Imam/Khalifah adalah perisai umat untuk melindungi diri mereka dari segala ancaman musuh.

Terkait hadis di atas, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim berkomentar,” (Imam/Khalifah itu perisai), yakni seperti as-sitr (pelindung), karena Imam (Khalifah) menghalangi/mencegah musuh dari mencelakai kaum Muslim, mencegah manusia satu sama lain saling mencelakai, memelihara kemurnian ajaran Islam; manusia berlindung di belakang dia dan tunduk di bawah kekuasaannya.”

Imam/Khalifah inilah yang saat ini tidak lagi dimiliki oleh umat Islam. Sejak keruntuhan Khilafah pada tahun 1924, umat benar-benar telah kehilangan pemimpin yang melindungi mereka. Sejak itu umat Islam tidak lagi memiliki Khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam, mempersatukan dan melindungi umat Islam serta menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Umat Islam terpecah dalam negara-negara kecil yang dibelenggu oleh ikatan nasionalisme sempit yang melemahkan mereka.

Akibat kehilangan perisai umat, di negeri-negeri Islam bermunculan para penguasa jahat yang merupakan para pelayan negara imperialis yang berperan penting menghancurkan Khilafah Islam.

Para penguasa jahat di negeri Islam ini alih-alih mengurus rakyatnya dengan benar. Mereka justru menelantarkan rakyat mereka. Kekayaan alam negeri-negeri Islam yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat diberikan ke perusahan-perusahan negara-negara imperialis. Para penguasa negeri Islam malah memberikan legitimasi atas perampokan kekayaan alam negeri Islam lewat UU. Alih-alih meringankan beban rakyat, penguasa jahat ini malah membebani rakyat dengan berbagai pungutan yang mencekik seperti pajak. Mereka juga membuat kebijakan yang semakin menambah derita rakyat seperti pencabutan subsidi. Penguasa seharusnya memprioritaskan lapangan kerja untuk rakyat mereka sendiri yang banyak menganggur. Faktanya, mereka justru membiarkan para pekerja asing masuk. Para penguasa jahat ini seharusnya menjaga nyawa rakyatnya. Faktanya, mereka menjadi mesin pembunuh rakyatnya sendiri.

Demi mempertahankan kekuasaanya, rezim Assad di Suriah membunuh rakyatnya sendiri lebih dari 500 ribu orang. Lebih kejam lagi, mereka membiarkan negara-negara imperialis dengan leluasa melakukan pembunuhan massal terhadap rakyatnya sendiri. Demikian seperti yang dilakukan penguasa Pakistan dan Afghanistan. Mereka membiarkan pesawat-pesawat tanpa awak Amerika membantai rakyatnya sendiri. Rezim Suriah membiarkan pesawat-pesawat tempur Rusia, tanpa perikemanusiaan, menjatuhkan bom-bom barrel. Di Irak, penguasa boneka Amerika menjadi alat politik untuk memecah-belah Irak, dan membiarkan konflik horisontal yang menimbulkan banyak korban.

Para penguasa jahat ini juga, untuk menujukkan kesetiannya kepada tuannya, menjalankan apapun yang menjadi program jahat dari negara-negara imperialis. Mereka menjadi bagian penting dari program GWOT (Global War on Terrorist) yang merupakan kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Mereka berada di garda terdepan menjalankan kebijakan GWOT untuk mengintervensi berbagai kawasan dunia.

GWOT juga telah menjadi alat politik untuk menyerang Islam dan umat Islam yang menyuarakan aspirasi mereka yang menuntut penegakan syariah dan Khilafah. Meskipun umat melakukan tuntutan mereka itu secara damai, Amerika berusaha melakukan kriminalisasi dengan tudingan radikalisme. Radikalisme mereka katakan sebagai tahap berikutnya untuk melakukan tindak terorisme yang harus diperangi.

Para penguasa jahat ini, demi melayani kepentingan tuan penjajahnya, memberangus upaya umat Islam untuk menegakkan syariah dan Khilafah. Tentui karena Khilafah akan mengancam kepentingan penjajahan mereka, bahkan mengancam dominasi mereka di dunia internasional. Jadilah para penguasa jahat memusuhi rakyatnya sendiri. Mereka merancang berbagai UU dan kebijakan yang mengkriminalisasi perjuangan penegakan Khilafah. Padahal Khilafah merupakan bagian syariah Islam. Kewajiban penegakan Khilafah bahkan ditetapkan berdasarkan Ijmak Sahabat dan para imam mazhab. Para ulama juga menyebut Khilafah sebagai a’zham al-wâjibât (kewajiban yang paling agung) dan tâj al-furûdh (mahkota kewajiban).

Lebih jahat lagi, para penguasa jahat ini mengadu-domba rakyat mereka sendiri. Mereka melakukan politik belah-bambu untuk memecah-belah kesatuan umat Islam. Bagi mereka persatuan umat bisa mengancam dominasi penjajahan tuan-tuan imperialis mereka.

Para penguasa jahat ini pun memperalat dan memperdaya para ulama maupun organisasi Islam untuk menyerang kelompok-kelompok Islam yang tidak sejalan dengan kepentingan penguasa. Mereka membangun narasi-narasi yang justru menimbulkan kekacauan, perpecahan dan saling curiga di tengah-tengah umat Islam.

Para penguasa jahat inilah yang disebut Rasulullah saw. sebagai ruwaybidhah, yakni penguasa bodoh yang mengurusi urusan-urusan rakyat. Penguasa seperti ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw., hadir pada tahun-tahun yang penuh dengan tipudaya (HR Ibnu Majah). Semoga para penguasa ruwaybidhah ini segara berakhir. AlLâhu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

0 Comments

Leave a Comment

17 − 12 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password