Puasa, Tak Ngaruh?

Korupsi di negeri ini makin menjadi-jadi. Kezaliman tiada henti. Ketidakadilan terjadi setiap hari. Sajian pornografi-pornoaksi terus membanjiri. Aneka kejahatan lain makin menyayat hati. Sebagian besanya dilakukan oleh para pejabat yang beragama Islam. Melihat semua ini, muncul satu pertanyaan penting: lantas di mana fungsi puasa yang sudah puluhan kali dilakukan tiap tahun? Kok  kayak tidak ada pengaruhnya dalam kehidupan nyata?

++++

Puasa sesungguhnya bisa membentuk pribadi dengan karakter yang luar biasa, yaitu ihsan.  Menurut Nabi saw., dalam hadis riwayat al-Bukhari  dan Muslim, ihsan adalah,  “Engkau menyembah Allah seolah-olah melihat Dia. Jika engkau tidak bisa melihat Dia, sesungguhnya Dia melihat-mu.”

Sikap seperti ini lahir dari perasaan selalu diawasi Allah atau muraqabatulLah. Seperti ucapan seorang gadis shalihah pada suatu malam pada masa Khalifah Umar bin al-Khaththab. Saat itu ibunya setengah memaksa meminta dia untuk mencampurkan air ke dalam susu jualannya. Padahal hal itu telah tegas dilarang oleh Khalifah Umar radhiyalLahu ‘anhu“Meskipun Khalifah Umar tak melihat kita, Tuhan Umar melihat kita!”

Ketika berpuasa, meski tidak diawasi oleh orang, seorang Muslim tetap istiqamah menjaga puasanya. Sebabnya, ia yakin Allah mengawasi dirinya. Mungkin saja dia berbuat curang dalam puasanya. Namun, itu percuma karena Allah pasti tahu semua yang ia lakukan.

MuraqabatulLah sendiri lahir dari kesadaran akan kebersamaannya dengan Allah (ma’iyyatulLah), dengan seluruh makhluknya di manapun berada (ma’iyyah ‘ammah). QS Mujadilah ayat 7, juga QS al -adid ayat 4, jelas sekali menyatakan tidak ada yang sungguh-sungguh rahasia. Sebabnya, ketika kita bertiga, Allah akan menjadi yang keempat. Ketika berempat, Allah menjadi yang kelima. Begitu seterusnya. Allah SWT selalu bersama kita di manapun kita berada.

Pengawasan atas perbuatan kita juga dilakukan oleh malaikat yang diperintah oleh Allah untuk mencatat seluruh perbuatan dan ucapan manusia. Dalam QS Qaf ayat 18 disebutkan bahwa setiap ucapan dan perbuatan kita selalu diawasi oleh Raqib dan Atid.

Menafsirkan ayat itu, Imam Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak-anak Adam, telah disiapkan untuk kamu sebuah daftar dan telah ditugasi untuk mencatat segala amalanmu dua malaikat. Yang satu di sebelah kananmu dan yang satu lagi di sebelah kirimu. Yang berada di sebelah kananmu ialah yang mencatat kebaikan-kebaikanmu. Yang satu lagi di kirimu mencatat kejahatan-kejahatanmu. Oleh karena itu terserah engkau, apakah engkau mau memperkecil atau memperbesar amal dan perbuatan amal jahatmu. Engkau diberi kebebasan dan bertanggung jawab terhadapnya. Nanti, setelah mati, daftar itu ditutup dan digantungkan pada lehermu, masuk bersama-sama engkau ke dalam kubur sampai kamu dibangkitkan pada Hari Kiamat nanti…”

Jadi, ihsan atau perasaan selalu diawasi Allah adalah tingkatan tertinggi dalam agama setelah (rukun) Islam dan Iman. Ihsan hanya dapat dicapai dengan muraqabah. Derajat kualitas ibadah seseorang sangat ditentukan oleh sebesar apa kehadiran muraqabah dalam hatinya. Semakin tinggi muraqabah-nya, semakin tinggi kualitas ibadahnya; semakin baik ia dalam beramal; juga semakin tinggi kemampuannya melakukan yang diridhai Allah dan meninggalkan segala yang dimurkai oleh Allah.

Ibnul Qayyim  berkata, “Muraqabah adalah ilmu dan keyakinan seorang hamba yang kontinu terhadap pengawasan ilmu Allah, baik pada kondisi lahir dan batinnya. Ilmu dan keyakinan yang kontinu inilah yang disebut dengan muraqabah. Ia adalah buah dari ilmu yang dia miliki bahwa Allah senantiasa mengawasi dan melihat dirinya; mendengar segala yang dia katakan; menyaksikan yang dia perbuat setiap waktu dan setiap saat, setiap desah nafas dan kedipan mata.” (Madarij as-Salikin).

Itulah sebabnya mengapa Allah dalam al-Quran begitu sering mengabarkan bagi Diri-Nya sifat-sifat Allah Al-‘Aliim, Ar-Raqib, Al-Khabir, Al-Bashir, As-Sami’, ‘Alim al-Ghaybi wa asy-Syahaadah. Ar-Raqib adalah salah satu nama Allah dalam Asma’ul Husna. Artinya, Maha Mengawasi, seperti tersebut dalam QS an-Nisa’ ayat 1.

Seorang Muslim hendaknya setiap saat selalu merasakan muraqabatulah. Tumbuh dari keyakinan yang kokoh bahwa Allah  senantiasa melihat dia, mengetahui rahasianya dan Mahatahu atas segala perbuatannya. Bahkan Dia Mahatahu sampai pada hal yang sekecil-kecilnya, yang lahir maupun batin.

Muraqabah mestinya menjadi sifat dasar seorang Muslim. Sifat ini akan menjadi sumber kekuatan seorang Muslim saat sendirian dan di tengah keramaian. Jika terlintas dalam pikirannya untuk melakukan maksiat, dia akan segera ingat Allah. Allah mengawasi dia. Lalu dengan serta-merta dia akan membuang pikiran ke arah maksiat itu sejauh-jauhnya. Kemudian dia ber-‘azzam untuk tidak mendekati maksiat lagi. Di sinilah sesungguhnya pangkal integritas seorang Muslim. Inilah Ihsan.

Bagaimana membentuk sifat muraqabatullah pada diri kita? Tanamkan lafal ar-Raqib dalam lisan dan hati kita: Allah menatapku;  Allah melihatku; Allah mengawasiku; Allah mendengarkanku. Semakin kita merasa diawasi, semakin diri dan hati kita terpelihara.

Juga harus ada dua keyakinan penting pada diri kita.  Pertama: Keyakinan yang sempurna bahwa Allah selalu bersama kita dan Mahatahu atas segalanya (QS al-Ahzab [33]: 51-52).  Juga dalam QS ar-Ra’du ayat 10 dikabarkan bahwa percuma menyembunyikan perkataan atau perbuatan, baik pada siang maupun malam hari. Pasalnya, semua pasti diketahui Allah Yang Maha Melihat dan Mendengar. Tak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang luput dari pengetahuannya, termasuk apa yang kita rahasiakan dalam hati kita.

Kedua: Keyakinan yang sempurna bahwa segala perbuatan manusia akan dihisab dan diperlihatkan kepada dirinya di Akhirat nanti. QS al-Kahfi ayat 49 menceritakan bagaimana manusia di Akhirat nanti manusia sangat terkejut menyaksikan bagaimana semua perbuatannya di dunia, baik yang kecil maupun yang besar, tak ada satu pun yang luput dari catatan. Ternyata, sebagaimana diceritakan dalam QS Fushilat ayat 20-23, anggota tubuh kita (mata, telinga, bahkan kulit)  turut menjadi saksi atas apa yang kita lakukan di dunia. Manusia kaget bukan main menyaksikan bagaimana organ tubuh yang selama hidup hanya tampak diam saja mengikuti apa yang kita lakukan, hari itu bisa berbicara menceritakan semua yang kita lakukan. Bukan hanya itu, sebagaiman disebut dalam QS Yasin ayat 65, tangan dan kaki juga ikut menjadi saksi. Adapun mulut, yang sepanjang hidup di dunia menjadi alat komunikasi utama, justru hari itu tidak bisa berkata-kata. Inilah pengawasan yang benar-benar melekat. Bagaimana kita bisa lolos dari persaksian mereka?

++++

Jadi jelas, akar masalahnya adalah pada rapuhnya akidah dan lemahnya penghayatan. Puasa itu meninggalkan makan minuman yang sesungguhnya halal, juga meninggalkan hubungan suami-istri yang juga halal. Bila yang halal saja bisa ditinggalkan, mestinya yang haram lebih bisa lagi. Tanpa penghayatan, akhirnya seperti yang kita lihat, banyak umat Islam, termasuk para pejabat itu, pada bulan Ramadhan meninggalkan yang halal, tetapi melakukan yang haram.

Di sinilah peringatan Nabi saw.—betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu, kecuali rasa lapar dan dahaga—menjadi penting untuk diperhatikan. Tanpa penghayatan, puasa memang menjadi sia-sia. Akhirnya, puasa tampak tak memberikan pengaruh apa-apa di dunia nyata. Na’udzubilLahi min dzalik. [H. Muhammad Ismail Yusanto]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

2 × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password