Jejak Khilafah Dalam Kitab-kitab Turats

Jejak Khilafah bertebaran di dalam kitab-kitab yang ditulis ulama ahlus sunnah wal jama’ah.  Hampir di dalam semua disiplin ilmu, mulai dari hadits, tafsir, fikih, akhlaq, kalam,, tarikh, dan lain-lain, terdapat jejak Khilafah.

Tulisan ini diketengahkan untuk menunjukkan jejak-jejak Khilafah dalam konteks hukum syariah, yang terdapat di dalam kitab-kitab turats.

 

Jejak Khilafah dalam Kitab-kitab Tafsir

Imam Qurthubi, seorang ulama dari Madzhab Maliki, saat menafsirkan QS al-Baqarah ayat 30, menyatakan:

هَذِه اْلآيَةُ أَصْلٌ فِي نَصْبِ إِمَا م وَخَلِيْفَةٍ يُسْمَعُ لَه وَيُطَاعُ، لِتجتمع بِهِ الْكَلِمَةُ، وَتنفّذ بِهِ أَحْكَامُ الْخَلِيْفَةِ. وَلاَ خِلاَفَ فِي وُجُوْبِ ذَلِكَ بَيْنَ اْلاُمَّةِ وَلا بَيْنَ اْلاَئِمَّةِ إِلاَّ مَا رُوِيَ عَنِ اْلاَصَمِ…

Ayat ini adalah dalil asal tentang kewajiban mengangkat seorang imam atau khalifah yang didengar dan ditaati…Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban ini, baik di kalangan umat maupun kalangan para ulama, kecuali yang diriwayatkan dari Al-Asham… (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, 1/264-265. Lihat pula: Imam Umar bin Ali bin Adil al-Hanbali, Tafsir al-Lubab fi ‘Ulum al-Kitab, 1/204).

 

Ulama ahli tafsir baik salaf maupun khalaf menjelaskan bahwa di antara janji Allah SWT paling agung kepada umat Islam adalah janji istikhlaf, yakni mengangkat dari kalangan kaum Muslim sebagai khalifah atau penguasa di muka bumi (Lihat: Imam az-Zarqani, Manahil al-’Irfan, 2/271; Imam al-Baidhawi, Tafsir al-Baydhawi; Ali al-Shabuni, Shafwat at-Tafasir, Prof Dr. Asy Syaikh Wahbah al-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, 18/290 dan 293; dll).

 

Jejak Khilafah dalam Kitab-kitab Matan dan Syarh Hadis

Hampir semua kitab matan hadis menyebut kata khilafah, khalifah atau muradif-nya—seperti  imam, amirul mukminin. Disebutkan juga perkara-perkara yang terkait dengan Khilafah, seperti hukum baiat, taat kepada penguasa, kewajiban dan hak penguasa (Khalifah) serta praktik-praktik kenegaraan yang dilakukan oleh Khalifah seperti menegakkan peradilan, melayani urusan rakyat, menjalin perdamaian dengan negara lain, jihad, dan lain sebagainya.

Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا

Jika dibaiat dua orang khalifah, bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim).

 

Imam an-Nawawi menjelaskan:

إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَةٍ بَعْد خَلِيفَة فَبَيْعَة الْأَوَّل صَحِيحَة يَجِب الْوَفَاءِ بِهِا وَبَيْعَة الثَّانِي بَاطِلَة يَحْرُم الْوَفَاءُ بِهَا وَيَحْرُم عَلَيْهِ طَلَبهَا، وَسَوَاء عَقَدُوا لِلثَّانِي عَالِمِينَ بِعَقْدِ الْأَوَّل أَوْ جَاهِلِينَ، وَسَوَاء كَا فِي بَلَدَيْنِ أَوْ بَلَدَ، أَوْ أَحَدَهُمَا فِي بَلَدِ الْإِمَام الْمُنْفَصِل وَالْآخَر فِي غَيْره، هَذَا هُوَ الصَّوَاب الَّذِي عَلَيْهِ أَصْحَابنَا وَجَمَاهِير الْعُلَمَاء.

Jika dibaiat seorang khalifah setelah pembaiatan khalifah yang pertama, maka baiat yang pertama sah dan wajib dipenuhi.  Baiat kedua batil dan haram dipenuhi. Haram pula bagi khalifah kedua menuntutnya. Sama saja apakah mereka yang mengangkat orang yang kedua itu dalam keadaan mengetahui pengangkatan orang yang pertama ataukah tidak. Sama saja apakah keduanya berada di dua negeri yang berbeda, atau satu negeri yang sama, atau salah satu dari keduanya berada di negeri yang sama, namun terpisah dari Imam (orang yang pertama dibaiat), sedangkan yang lain berada di negeri lain.  Inilah pendapat benar yang dipegang teguh oleh para ulama kami dan mayoritas para ulama (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, 6/316).

 

Rasulullah saw. bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَا ءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِي خَلَفَه نَبِي وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَتَكُونُ خُلَفَاء فَتَكْثُرُ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنُا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ

“Dulu Bani Israil selalu dipimpin dan diurus oleh para nabi.  Setiap kali seorang nabi meninggal, digantikan oleh nabi yang lain.  Sungguh tidak akan ada nabi sesudahku. Yang akan adalah para khalifah hingga berjumlah banyak.” Para Sahabat bertanya, “Apakah yang engkau perintahkan kepada kami?” Beliau menjawab, “Penuhilah baiat yang pertama, dan yang pertama itu saja.” (HR Muslim).

 

Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi menyatakan:

قوله بيعة الأول فالأول معناه إذا بويع لخليفة بعد خليفة فبيعة الأول صحيحة يجب الوفاء بها وبيعة الثاني باطلة يحرم الوفاء بها سواء عقدوا للثاني عالمين بعقد الأول أو جاهلين وسواء كا في بلدين أو أكثر وسواء كان أحدهما في بلد الإمام المنفصل أم لا

Sabda Nabi saw. “bai’at al-awwal fa al-awwal” bermakna,  adalah jika dibaiat lagi seseorang sebagai khalifah setelah pembaitan seorang khalifah, maka baiat pertamalah yang sah yang wajib dipenuhi.  Baiat kedua batal. Haram dipenuhi.  Sama saja apakah orang-orang yang membaiat orang yang kedua itu telah mengetahui pembaiatan orang yang pertama atau tidak tahu.  Sama saja, apakah kedua khalifah itu berada di dua negeri atau lebih, atau salah satu khalifah itu berada di negeri Imam (Khalifah) secara terpisah atau tidak (Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, ‘Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, 23/454).

 

Imam al-Munawi juga menyatakan:

إشارة إلى أن الإمام الأعظم لا يكون في الأرض كلها إلا واحدا…

Ini adalah isyarat bahwa Imam al-A’zham (Khalifah) tidak boleh ada di seluruh muka bumi kecuali seorang saja… (Abdur Rauf al-Munawi, Faydh al-Qadir, 1/441).

 

Jejak Khilafah dalam Kitab Fikih

Imam an-Nawawi menyatakan:

لا بد للأمة من إمام يقيم الدين وينصر السنة وينتصف للمظلومين ويستوفي الحقوق ويضعها مواضعها. قلت تولي الإمامة فرض كفاية…

Sudah menjadi sebuah keharusan bagi umat adanya seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong sunnah, menolong orang-orang yang dizalimi, memenuhi hak-hak dan menempatkan hak-hak pada tempatnya.  Saya berpendapat bahwa menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah… (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thalibiin wa ‘Umdat al-Muftin, 3/433).

 

Syaikh al-Islam, Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari juga menyatakan:

وهي فرض كفاية كالقضاء

Imamah (Khilafah) hukumnya adalah fardlu kifayah seperti al-qadha’ (peradilan) (Imam Zakariya bin Muhammad bin Ahmad bin Zakariya al-Anshari, Fath al-Wahab bi Syarh Minhaj ath-Thulab, 2/268).

 

Ibnu Abidin pun menyatakan:

(قَوْلُهُ وَنَصْبُهُ) أَيْ الْإِمَام الْمَفْهُومِ مِنْ الْمَقَام (قَوْلُه أَهَمُّ الْوَاجِبَات) أَيْ مِنْ أَهَمِّهَا لِتَوَقُّفِ كَثِيرٍ مِنْ الْوَاجِبَاتِ الشَّرْعِيَّةِ عَلَيْه…

Perkataannya ‘wa nashbuhu (mengangkat-nya) maksudnya mengangkat Imam al-A’zham (Khalifah) dan perkataannya ‘ahamm al-wajibat (kewajiban yang paling penting)’ bermakna: mengangkat seorang imam (khalifah) itu termasuk kewajiban yang paling penting karena banyak kewajiban syariah bergantung kepada dirinya… (Ibnu ‘Abidin, Radd al-Muhtar, 4/205).

 

Jejak Khilafah dalam Kitab-kitab Turats yang Lain

Khilafah juga dibahas dalam kitab-kitab siyasah syar’iyyah. Imam al-Mawardi asy-Syafii, misalnya, menyatakan:

الإمامة موضوعة لخلافة النبوة في حراسة الدين وسياسة الدنيا وَعَقْدُهَا لِمَنْ يَقُومُ ِ بِهَا فِي الْأُمَّةِ وَاجِبٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ شَذَّ عَنْهُمْ الْأَصَمُّ

Imamah (Khilafah) itu menduduki posisi untuk khilafah nubuwwah dalam menjaga agama dan pengaturan urusan dunia. Menyerahkannya kepada orang yang akan menegakkan urusan Imamah adalah wajib berdasarkan kesepakatan walaupun al-Asham menyimpang dari mereka (Imam al-Mawardi, Al-Ahkam ash-Sulthaniyyah, hlm. 5).

 

Jejak Khilafah juga bisa ditemukan dalam kitab-kitab tarikh, seperti Tarikh Khulafa‘ karya Imam as-Suyuthi, Muqaddimah Ibnu Khaldun, dan lain sebagainya.

Jejak Khilafah juga didapati dalam kitab-kitab kamus, semacam Lisan al-‘Arab karya Imam Ibnu Manzhur dan lain sebagainya.

Jejak Khilafah juga tertoreh dalam kitab-kitab tauhid dan kalam, semacam Al-Irsyad karya Imam Al-Haramain, Al-Farq bayn al-Firaq karya Imam Isyfirayaini dan lain sebagainya.

 

Ulama Nusantara Berbicara Tentang Khilafah

Salah seorang ulama Nusantara yang salah satu karyanya pernah menjadi pegangan wajib perguruan menengah dan perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia, yakni H. Soelaiman Rasjid bin Lasa, juga berbicara tentang Khilafah di bukunya Al-Fiqh al-Islami (Fiqh Islam).  Di dalam buku Fiqh Islam, H. Soelaiman Rasjid menyatakan:

 

Al-Khilafah adalah suatu susunan pemerintahan yang diatur menurut ajaran agama Islam, sebagaimana yang dibawa dan dijalankan oleh Nabi Muhammad saw. semasa hidup beliau, dan kemudian dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab. Usman bin Affan, dan Ali bin Abu Talib). Kepala negaranya dinamakan “khalifah”…Kaum Muslim (ijma’ yang mu’tabar) telah bersepakat bahwa hukum mendirikan Khilafah adalah fardu kifayah atas semua kaum Muslim (H. Soelaiman, Fiqh Islam, Penerbit Sinar Baru Algesindo, cet. ke-80, Bandung, hlm. 494-495).

 

Kesimpulan

Jejak Khilafah, serta semua perkara yang terkait dengan Khilafah tertanam begitu dalam di dalam kitab-kitab turats.  Jejak itu memiliki bentuk tersendiri yang berbeda dengan jejak-jejak sistem pemerintahan lain semacam demokrasi, kekaisaran dan federasi.   Jejak itu tidak mungkin dikaburkan atau dihilangkan dari perjalanan panjang sejarah umat Islam.  Keberadaan Khilafah bagaikan mentari yang menyinari seluruh permukaan dunia.  Hanya kaum buta, bebal dan pandir yang mengingkari eksistensi matahari.

Begitu pula Khilafah Islamiyah,. Keberadaannya tidak mungkin dipisahkan dari Islam dan kaum Muslim.  Sebab, keberadaannya memiliki jejak dan bukti yang tidak bisa dibantah. [Gus Syams]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four × 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password