Penentang Al-Quran dan Hukumannya

فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ ٢٤ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ ٢٥

Lalu dia berkata, “(Al-Quran) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dulu). Ini hanyalah perkataan manusia.” (QS al-Muddatstsir [74]: 24-25).

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman:

فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ ٢٤

Lalu dia berkata, “(Al-Quran) ini hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dulu).”

 

Huruf al-fâ‘  pada awal ayat merupakan ‘athf. Fungsinya menyambungkan kalimat sesudahnya dengan kalimat sebelumnya. Menurut az-Zuhaili, huruf al-fâ‘ tersebut menunjukkan cepatnya keputusan tanpa melalui pemikiran.1

Adapun ism al-isyârah هَذَا (ini) menunjuk pada al-Quran.2 Al-Walid mengatakan bahwa al-Quran adalah سِحْر (sihir). Menurut al-Azhari, pada asalnya sihir adalah صَرْفُ الشَّيْء عَن حَقِيقَتِه إِلَى غَيره (memalingkan sesuatu dari hakikat sebenarnya ke yang lainnya).3

Ibnu Manzhur juga mengatakan bahwa tukang sihir itu menampakkan yang batil dalam wujud kebenaran dan menampilkan sesuatu dalam tampilan tidak senyatanya. Dengan demikian, dia telah memalingkan sesuatu dari hakikat sebenarnya. Artinya, صَرَفَه  (memalingkannya).4

Makna asal as-sihr adalah memalingkan antara lain dinyatakan dalam firman Allah SWT:

قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ ٨٩

Katakanlah, “(Kalau demikian), bagaimana kalian bisa tertipu?”  (QS al-Mukminun [23]: 89).

 

Menurut al-Farra‘, maknanya: فأَنىَّ تُصْرَفُون (bagaimana kamu bisa dipalingkan). 5

Syamir meriwayatkan dari Ibnu Aisyah bahwa orang Arab menamai as-sihr sebagai sihir karena menghilangkan kesehatan menjadi sakit. Dikatakan: سَحَرَه (dia menyihirnya). Artinya, menghilangkan dari benci menjadi cinta.6

Menurut Shalih Utsaimin, kata as-sihr secara bahasa berarti segala sesuatu yang sebabnya tampak samar. Dari situ ada kata as-sahar (waktu sahur) untuk menunjuk waktu akhir malam. Pasalnya, perbuatan yang terjadi pada saat itu tampak samar. Demikian juga disebut as-sahûr lantaran makanan yang dimakan pada akhir malam masih samar. Dengan demikian segala sesuatu tampak samar disebut sihr.7

Dalam istilah syar’i, menurut Fakhruddin ar-Razi, as-sihr adalah segala sesuatu yang penyebabnya tersembunyi dan bersifat mengelabuhi, tanpa adanya hakikat, dan berlangsung secara tipudaya semata. Allah SWT berfriman:

يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ ٦٦

Mereka terbayang oleh dia (Musa) seakan-akan dia merayap cepat karena sihir mereka (QS Thaha [20]: 66).8

 

Menurut ar-Raghib al-Asfahani, as-sihr dengan makna الخداع وتخييلات (tipuan dan khayalan) itu digunakan mereka untuk menyebut Musa as. sebagai penyihir sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

وَقَالُواْ يَٰٓأَيُّهَ ٱلسَّاحِرُ ٱدۡعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِندَكَ ٤٩

Mereka berkata, “Wahai pesihir! Berdoalah kepada Tuhanmu untuk (melepaskan) kami sesuai dengan apa yang telah dia janjikan kepadamu (QS al-Zukhruf [43]: 49).9

 

Dalam konteks ayat ini, menurut Abu Hayyan al-Andalusi makna إِلَّا سِحْرٌ adalah شَبِيْهٌ بِالسِّحْرِ (menyerupai sihir).10

Menurut al-Harari, as-sihr di sini merupakan perkara-perkara ilusi yang tidak memiliki realitas.11

Pengertian sihir lain disampaikan Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Sihir adalah ikatan-ikatan, jampi-jampi dan perkataan-perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan; atau melakukan sesuatu yang dapat mempengaruhi badan, hati atau akal orang yang terkena sihir tanpa berinteraksi langsung dengannya. Sihir ini mempunyai hakikat (nyata). Di antaranya ada yang bisa mematikan, membuat sakit, membuat seorang suami tidak mau mencampuri istrinya atau memisahkan pasangan suami-istri, atau membuat salah satu pihak membenci lainnya atau membuat kedua belah pihak saling mencintai. Menurut Ibnu Qudamah, ini merupakan pendapat asy-Syafii.12

Jika diperhatikan alasan al-Walid bin al-Mughirah menyebut perkataan Rasulullah saw. sebagai sihir, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Qurthubi, maka sihir yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah sihir sebagaimana dikatakan Ibnu Qudamah. Itulah sihir yang memberikan pengaruh nyata dalam perilaku manusia, yakni memisahkan seseorang dengan keluarga dan anak-anaknya. Al-Walid berkata, “Muhammad itu tak lain adalah seorang tukang sihir. Bukankah yang dia lakukan itu adalah mencerai-beraikan seorang laki-laki dengan istrinya, anak-anaknya dan hamba sahayanya?”13

Adapun makna يُؤْثَرُ terdapat beberapa penjelasan dari ulama. Semuanya berdekatan maknanya. Menurut Ibnu Jarir ath-Thabari, kata يُؤْثَرُ bermakna yang diambil dari orang lain.14

Abu Hayyan al-Andalusi memaknai kata tersebut dengan: يُرْوَى وَيُنْقَلُ (diriwayatkan dan diberitakan).15 Wahbah az-Zuhaili dan al-Baidhawi menyebut: يروى ويتعلم  (diriwayatkan dan dipelajari).16

Ibnu Katsir berkata, “Artinya, ini merupakan sihir yang dinukil oleh Muhammad dari orang lain yang sebelumnya, lalu ia mempelajarinya.”17

Hal senada disampaikan al-Alusi, Ibnu Juzyi dan al-Jazairi.18 Penjelasan para mufassir itu menunjukkan bahwa سِحْرٌ يُؤْثَرُ adalah sihir yang dipelajari dan diambil dari orang lain.

Kalimat dalam ayat ini mengandung makna al-qashr (pembatasan). Diawali dengan an-nafiy, berupa kata in  yang bermakna laysa (tiada).19 Ini menegasikan semua yang dinisbatkan pada al-Quran; baik sebagai syair, perdukunan, gila, dan lain-lain. Kemudian disebutkan kata illâ (kecuali) yang mengecualikannya, yakni sihir. Dengan demikian al-Walid bin al-Mughirah menegaskan bahwa al-Quran yang dibaca Rasulullah saw. hanyalah sihir yang dipelajari dan diambil dari orang lain. Tidak ada kemungkinan lainnya, termasuk wahyu dari Allah SWT.

Kemudian Allah SWT berfirman:

إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ ٢٥

“Ini hanyalah perkataan manusia.”

 

Dalam ayat ini dia menegaskan bahwa al-Quran yang dibaca oleh Rasulullah saw. tak lain hanyalah perkataan manusia. Dia berkata, “Itu hanyalah perkataan manusia. Bukan kalam Allah.”20

Kalimat dalam ayat ini juga mengandung makna al-qashr (pembatasan). Kata in  yang bermakna laysa (tiada) diiringi dengan kata illâ yang mengandung makna al-istitsnâ‘ (perkecualian). Menurut Abdurrahman as-Sa’di, makna ayat ini adalah, “Itu hanyalah perkataan manusia. Bukan kalam Allah.”21

Kalimat ini sebagai penguat bagi kalimat pertama.22 Sebabnya, meskipun makna keduanya berbeda, maksud dari kedua kalimat itu sama. Sama-sama menegasikan al-Quran sebagai kalam Allah. Karena mengungkapkan kesamaan maksud, maka kedua kalimat itu dihubungkan dengan huruf ‘athaf (kata sambung).23

Perkataan tersebut jelas merupakan tuduhan sangat serius. Betapa tidak. Al-Quran adalah kalam Allah SWT. Menyebut al-Quran sebagai perkataan manusia jelas kedustaan. Apalagi menyebut al-Quran sebagai sihir. Ini adalah perkataan yang biasa dilakukan oleh pendusta dan zalim dengan tujuan jahat. Karena itu, sebagaimana dikatakan Abdurrahman as-Sa’di, celakalah dia. Batapa jauh dia dari kebenaran. Alangkah dekat dia dengan kerugian dan kecelakaan. Bagaimana bisa terlintas dalam benak dan terbayang dalam hati siapa pun, firman Allah Yang Mahatinggi,  Mahaagung,  Mahaluhur lagi Muliamulia diserupakan dengan perkataan makhluk yang serba membutuhkan dan serba kurang? Bagaimana bisa si pendusta lagi pembangkang itu berani menyebut sifat tersebut pada kalam Allah SWT yang Memulai dan Maha Mengembalikan? Tak ada yang layak bagi dia melainkan  azab yang pedih dan dahsyat.24

 

Beberapa Pelajaran penting

Pertama: Bukti kebenaran al-Quran. Hal ini dapat dipahami dari peristiwa yang dijelaskan ayat ini. Di awal, setelah mendengarkan al-Quran, al-Walid bin al-Mughirah memuji ketinggian dan keindahan bahasa al-Quran. Dia pun mengatakan bahwa al-Quran bukan perkataan manusia dan jin.

Ini jelas merupakan pengakuan jujur dari orang yang ahli syair dan prosa bahasa Arab dengan berbagai ragamnya. Ia tidak bisa menutupi kekagumannya terhadap al-Quran. Pengakuan tersebut tentu tak bisa dibatalkan dan dikoreksi oleh pernyataannya kemudian bahwa al-Quran adalah perkataan tukang sihir. Sebabnya, perkataan itu dilontarkan setelah dia takut ditinggalkan kaumnya. Ekspresi wajahnya yang muram dan cemberut sebagaimana digambarkan dalam ayat ini makin menunjukkan bahwa dia sesungguhnya tidak puas dengan pengakuannya itu.

Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab. Meskipun demikian, dalam pengungkapannya al-Quran memiliki ciri khas yang berbeda sama sekali dengan semua uslûb (gaya pengungkapan) yang pernah dikenal bangsa Arab sebelumnya. Menurut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, al-Quran memiliki gaya khusus dalam at-ta’bîr (pengungkapan). Susunannya tidak mengacu pada metode syair yang bersajak. Juga bukan mengacu pada natsar mursal (prosa, kalimat yang tidak bersajak, pen.). Bukan pula berdasarkan metode natsar muzdawij (prosa yang berpasangan-pen) atau prosa yang bersajak. Gaya pengungkapan al-Quran adalah benar-benar sendiri. Orang-orang Arab tidak memiliki pengetahuan tentangnya, baik ketika itu ataupun sebelumnya.25 Tak mengherankan banyak orang kafir yang masuk Islam setelah mendengarkan al-Quran lantaran terpesona  dengan ketinggian bahasanya.

Selain itu al-Quran juga menantang siapa saja yang ingkar atau meragukan al-Quran untuk mendatangkan yang semisalnya (Lihat, antara lain: QS Hud [11]: 13; QS al-Baqarah [2]: 23). Hasilnya, tidak ada seorang pun dari mereka berhasil membuat seperti al-Quran. Bahkan tidak akan pernah sekalipun seluruh manusia dan jin bergabung untuk membuat yang semisal dengannya (Lihat: QS al-Isra’ [17]: 88; QS al-Baqarah [2]: 23).

Realitas itu menjadi bukti yang sangat jelas bahwa al-Quran adalah wahyu Allah SWT. Bukan buatan Rasulullah saw. Bukan pula perkataan manusia sebagaimana tuduhan al-Mughirah. Sebabnya, seandainya al-Quran adalah perkataan manusia, niscaya mereka akan bisa membuat yang semisal dengannya. Pasalnya, al-Quran itu adalah ungkapan berbahasa Arab dan mereka adalah orang-orang yang paling fasih dan pandai di kalangan orang-orang Arab. Ini juga yang dialami oleh al-Walid.

Atas dasar itu, al-Quran merupakan mukjizat Nabi saw. Hal ini juga menunjukkan kepada kita dengan jelas bahwa dalil untuk mengimani kemukjizatan al-Quran adalah dalil aqli.

Mukjizat (i’jâz) al-Quran tampak pada kefasihan dan ketinggian uslub-nya sampai pada tingkat yang sangat mengagumkan. Uslub-nya yang memiliki kejelasan, kekuatan dan keindahan merupakan sesuatu yang tidak mampu dicapai oleh manusia.26

Ketika secara aqli dipastikan bahwa al-Quran adalah wahyu dari Allah SWT, maka semua yang diberitakan di dalamnya harus diyakini sebagai kebenaran. Bahkan sekalipun perkara yang diberitakan al-Quran tidak dapat dijangkau oleh indra dan akal manusia manusia; seperti malaikat, Hari Kiamat, surga, neraka dan perkara-perkara gaib lainnya. Demikian juga perkara yang diputuskan al-Quran, harus diyakini sebagai keputusan yang adil dan benar (Lihat: QS Yunus [10]: 37).

Imam ash-Shan’ani rahimahulLah berkata, “Telah diketahui termasuk perkara yang penting dalam agama ini, bahwa semua isi al-Quran adalah haq. Tidak ada kebatilan. Benar. Tidak ada kedustaan. Petunjuk. Tidak ada kesesatan. Ilmu. Tidak ada kebodohan. Keyakinan. Tidak ada keraguan. Prinsip ini merupakan hal yang mendasar. Tidak sempurna keislaman dan keimanan seseorang kecuali dengan mengakui hal itu. Ini merupakan perkara yang disepakati. Tidak ada perselisihan di dalamnya.”27

Kedua: Hukuman keras bagi orang yang mengingkari kebenaran al-Quran. Siapa saja yang mengingkari al-Quran dikategorikan sebagai orang kafir yang berhak mendapatkan azab yang pedih.

Ini pula yang diputuskan ayat terhadap al-Walid bin al-Mughirah yang mengingkari al-Quran yang bahkan menyebut al-Quran sebagai sihir dan perkataan manusia (Lihat: QS al-Muddatstsir [74]: 19-20).

Banyak ayat lainnya yang mengancam orang yang mendustakan dan berpaling ayat-ayat Allah Swt dengan neraka (Lihat, antara lain: QS al-Taghabun [64]: 10).

Ketiga: Kesalahan berpikir dan cara membuat keputusan. Dalam ayat ini diberitakan bahwa al-Walid benar-benar telah berpikir dan memberikan keputusan tentang al-Quran. Akan tetapi, dia mendapatkan celaan dan ancaman keras atas keputusan yang dia buat. Ini menunjukkan ada sesuatu yang salah pada dirinya dalam berpikir dan cara membuat keputusan.

Itulah yang dikatakan al-Walid bin al-Mughirah pada awal setelah mendengar al-Quran. Dengan akalnya, ia dapat memutuskan bahwa al-Quran bukan buatan manusia. Kemudian dia meralat keputusannya dengan mengatakan bahwa al-Quran adalah sihir yang diperlajari. Tampak jelas bahwa keputusan itu tidak didasarkan pada pemikirannya yang objektif tentang al-Quran. Namun, semata didasarkan pada keinginan hawa nafsunya dan tendensi duniawi. Inilah cara pembuatan keputusan yang dicela dan diancam dengan azab yang pedih.

Inilah yang terjadi pada orang-orang kafir. Mereka tidak bisa membantah kebenaran al-Quran. Juga tidak bisa melayani tantangan al-Quran untuk mendatangkan yang semisalnya. Tidak pula memiliki sedikit yang dibenarkan untuk itu. Namun, mereka tetap menolak dan mengingkari al-Quran karena hawa nafsunya.

Sikap mereka jelas kontradiksi dengan orang-orang yang mengimani al-Quran. Setelah mendengarkan dan memikirkan al-Quran, akalnya memutuskan dengan yakin bahwa al-Quran adalah wahyu Allah SWT. Kemudian hawa nafsu tunduk pada keputusan akalnya yang benar. Membuat keputusan dengan cara seperti ini akan mengantarkan pelakunya menemukan kebenaran, kemudian mengimani dan mengikutinya.

Inilah yang terjadi pada orang-orang yang masuk Islam setelah mendengarkan al-Quran. Umar bin al-Khaththab ra. adalah salah satu contohnya. Tatkala mendengar al-Quran yang dibacakan adiknya, seketika itu pula akalnya membenarkannya dan hatinya luluh. ia kemudian rela menanggalkan kekufurannya dan masuk Islam.

Keempat: Bahaya sifat sombong. Dalam ayat ini disebutkan di antara sikap yang dimiliki al-Walid ketika mengingkari al-Quran adalah istikbâr (kesombongan).

Menurut Imam al-Ghazali kata al-kibr (sombong) dikhususkan untuk menunjukkan makna: استعظام النفس ورؤية قدرها فوق قدر الغير (menganggap dirinya besar dan memandang kekuatannya melebihi kekuatan orang lain).28

Sikap seperti itu dapat menjerumuskan pelakunya untuk menolak kebenaran dari Allah SWT. Inilah yang dijelaskan Nabi saw. tentang hakikat kesombongan:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain (HR Muslim).

 

Berdasarkan hadis ini, menurut Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin, al-mustakbir (orang yang yang sombong) adalah orang yang menghimpun dua sifat: meremehkan manusia dan menolak kebenaran.29

Ini tidak hanya berlaku bagi al-Walid, namun juga orang-orang yang memiliki sifat sombong. Orang-orang yang sombong seperti itu dipalingkan dari ayat-ayat Allah SWT (Lihat: QS al-A’raf [7]: 146).

Bahkan mata hatinya dikunci mati sehingga sulit mendapatkan kebenaran dan memahami ayat-ayat-Nya (Lihat: QS al-Mu’min [40]: 35).

Kesombongan paling besar adalah kesombongan terhadap Allah SWT. Bentuknya adalah menolak untuk beribadah kepada-Nya. Hukumannya sangat pedih, dimasukkan ke dalam neraka Jahanam (Lihat: QS Ghafir [31]: 60).

Kesombongan lainnya dilakukan terhadap para nabi yang menjadi utusan Allah SWT. Bentuknya dengan mendustakan mereka. Bahkan membunuh mereka (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 87).

Sikap sombong harus dibayar mahal. Neraka dijadikan sebagai tempat kembali mereka di akhirat kelak. Rasulullah saw. bersabda:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus dan takabur (sombong) (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

WalLâh a’lam bi al-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan kaki:

1        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 223

2        al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 223; al-Harari, Tafsir Hadâ’iq al-Rawh wa al-Rayhân fi Rawâbî ‘Ulûm al-Qur’ân, vol. 30, 397

3        al-Azhari, Tahdzîb al-Lughah, vol. 4 (Beirut: Dar Ihya‘ al-Turats al-‘Arabiyy, 2001), 170

4        Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, vol. 4 (Beirut: Dar Shadir, 1994), 348

5        al-Azahari, Tahdzîb al-Lughah, vol. 4, 170

6        al-Azahari, Tahdzîb al-Lughah, vol. 4, 170

7        Utsaimin, al-Qawl al-Mufîd ‘Alâ Kitâb al-Tawhîd, 364

8        al-Fayumi, al-Mishbâh al-Munîr fî Gharîb al-Syarh al-Kabîr, vol, 1 (Beirut: al-Maktabah al-‘Ilmiyyah, tt), 208. Lihat juga dalam  Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyyah, al-Mu’jam al-Wasîth, vol. 1 (Kairo: Dar al-Da’wahm tt), 419

9        al-Asfahani, al-Mufradât fî Gharîb al-Qur‘ân, 400

10      Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, 10, 331

11      al-Harari, Tafsir Hadâ’iq al-Rawh wa al-Rayhân fi Rawâbî ‘Ulûm al-Qur’ân, vol. 30, 397

12      Ibnu Qudamah, al-Mughnî, vol.9 (Kairo: Maktabah al-Qahirah, 1968), 28

13      al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 74-75

14      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 26

15      Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, 10, 331

16      al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, vol. 5, 261; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 224

17      Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 266

18      al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15, 138; Ibnu Juzyi, al-Tas-hîl li ‘Ulûm al-Tanzîl, vol. 2, 429; al-Jazairi, Aysar al-Tafasîr, vol. 4, 465

19      al-Harari, Tafsir Hadâ’iq al-Rawh wa al-Rayhân fi Rawâbî ‘Ulûm al-Qur’ân, vol. 30, 397

20      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 26. Lihat juga Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 266

21      al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 26. Lihat juga Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 266

22      al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 393; al-Baidhawi, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta‘wîl, vol. 5, 261; al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15, 138; al-Harari, Tafsir Hadâ’iq al-Rawh wa al-Rayhân fi Rawâbî ‘Ulûm al-Qur’ân, vol. 30, 397; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 224

23      al-Alusi, h al-Ma’ânî, vol. 15, 138; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 393

24      Lihat al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl

25      al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahman, 896

26      al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, vol. 1 (Beirut: Dar al-Ummah, 2003), 172

27      al-Nabhani, al-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, vol. 1, 171

28      al-Shan’ani, Tath-hîr al-I’tiqâd min Adrân al-Ilhâd (Riyad: Mathba’ah al-Safir, 2003), 49

29      al-Ghazali, Ihyâ‘ ‘Ulûm al-Dîn, vol. 3 (Beirut: Dar al-Ma’rifah, tt), 353

30      Al-Utsaimin, Syarh Riyâdh al-Shâlihîn, vol. 3 (Riyadh: Dar al-Wathan, 2005), 53

 

 

0 Comments

Leave a Comment

3 × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password