Spirit Islam Dalam Perlawanan Umat Tatar Sunda Terhadap Penjajah

Setelah Andalusia dikalahkan oleh aliansi Castila dan Aragorn, kaum kafir Eropa “bangkit” melawan dengan ekspedisi pelayarannya. Dimulai oleh Spanyol dan Portugis, dilanjutkan oleh Inggris, Prancis dan Belanda. Era Penjajahan “Fisik” atau Imperealisme–Kolonialisme menjadi awal penderitan Dunia Islam sebelum keruntuhan negaranya, yakni Khilafah Utsmaniyah. Ditambah lagi adanya Renaissance (pencerahan) di Eropa yang melahirkan revolusi pemikiran di Prancis, juga revolusi industri di Inggris semakin menjadi tantangan berat bagi posisi Khilafah dan umat Islam sebagai pemimpin dunia saat itu. Termasuk juga di Nusantara dan Tatar Sunda secara khusus.

Berikut ini pengaruh Khilafah yang dapat ditemukan dalam berbagai perlawanan di Tatar Sunda:

Pertama, simbol Pedang Dzulfiqar yang menjadi panji Perang Utsmaniyah, semisal pada Panji Sultan Utsman ibn Ertughrul, pasukan elit Yenissari/Inkisyariyah dan Laksamana Khairuddin Barbarossa Pasya. Panji ini digunakan oleh Macan Ali dari Pakungwati Cerbon yang dipimpin Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Djati. Dibantu sang Paman, Haji Abdullah Iman Pangeran Cakrabuana Walangsungsang yang berkaitan erat dengan Demak dan Banten. Simbol tersebut terkait pula dengan ungkapan masyhur di era Utsmaniyah:

لا فتى إلا علي ولا سيف إلا ذو الفقار

(Tidak ada pemuda kecuali Ali dan tidak ada pedang kecuali Dzulfiqar (pedang milik Ali ra.).

 

Ini tertulis sebagai hiasan meriam Ki Amuk yang disimpan di Banten, yang dikatakan sebagai hadiah dari pemimpin Demak Raden Trenggono.

Pasukan gabungan Demak – Cirebon – Banten yang dipimpin Tubagus Pasai Fatahillah, menantu Sunan Gunung Djati masyhur dengan kemenangan besar dalam pertempuran melawan Portugis di Sunda Kalapa yang berganti nama menjadi Jayakarta (1528 M).

Kedua, pembebasan Batavia dari VOC/Belanda oleh Mataram Islam bersama aliansi pasukan Jawa – Sunda (1628 – 1629 M), atas perintah Panembahan Hanyakrakusuma (dikenal sebagai Sultan Agung Mataram) yang menjadikan Cirebon yang dipimpin Panembahan Ratu Zainul Arifin sebagai pusat pengumpulan pasukan sebelum melakukan serangan ke Batavia. Terdapat hubungan keilmuan diantara keduanya, terutama karena nasab dan sanad sang Kakek, Sunan Gunung Djati, yang pada masa beliau di Cirebon telah selesai disusun naskah salinan Tafsir al-Jalalain oleh Haji Muhammad Hasan Basri (1624). Ini adalah karya Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, yang di dalamnya terdapat ajaran Jihad fi Sabilillah dan erat kaitannya dengan pusat keilmuan Khilafah di Mesir dan Hijaz.

 

Naskah Tafsir al-Jalalain

تم هذا التفسير في يوم السبت في وقت الظهر شهر الشوال هلال الثامن في سنة الدالمن هجرة النبي صلعم 1033 . وصاحب الحق الحقير الفقير ذو التقصير الجاهل في كل الأمر الحاج محمد حسن بشري بن ناوشيه المؤذني بلاد بندر شيربون في قرية الميزان

Telah selesai menyalin kitab tafsir ini pada hari Sabtu di waktu zuhur, bulan Syawwal, tanggal 8 (delapan) tahun Dal 1033 Hijrah Nabi saw. Pemilik atas kitab ini adalah seorang yang hina, yang fakir, yang memiliki dosa, yang bodoh dalam segala hal, yaitu Haji Muhammad Hasan Basyri ibn Nawasyih al-Muadzini, negeri Bandar Cirebon, Desa Mizan.

 

Ketiga, perlawananan Sultan Agung Banten (dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa) melawan Belanda (1682 -1683 M), diangkat sebagai Sultan oleh Syarif Makkah, Wali Khilafah Utsmaniyyah di Hijaz dengan gelar Abu al-Fath Abdul Fattah. Ini sebagaimana diriwayatkan dalam Babad/Sajarah Banten. Dibantu sang Putra, Pangeran Purbaya dan Qadhi Kesultanan, Syaikh Yusuf al-Maqassari yang merupakan alumni Hijaz. Di antara gurunya ialah Syaikh Ahmad al-Qusyasyi dan Syaikh Ibrahim al-Kurani (Ulama dari Kurdistan). Pada masanya ditulis naskah Babad/Sajarah Banten oleh Sandisastra atas riwayat Sandimaya (1663/64). Pada akhir naskah dijelaskan hukum-hukum seputar Jihad fi Sabilillah yang sesuai dengan Madzhab Imam Syafii yang tersebar melalui pusat keilmuan Khilafah semisal Baghdad, Mesir dan Hijaz.

 

Naskah Babad Sajarah Banten

Kengkeng iki, Ki Santri Betot iki, rencange rekeh pipitu, Ka (Ki) Ariya tur sabda, lan sakehing para wargi, samya matur inggih, leheng aputusan, mila manira kongkonan, arsa ngaturi uning, yen Sulthan Agung sumalah, pinangka kang anggentosi, manira anedha malih, ing gaganti jenengipun, anedha kang putusan, saking Sulthan Mekah malih, samya jurung sakathahing para warga

 

Terjemah:

Paman Aria Mangunjaya, “Aku sekarang ingin, mengirim utusan ke Mekah, yang aku suruh ini, adalah Ki Santri Betot, dan temannya bertujuh”, Ki Aria berkata, dan semua para warga, sekalian berkata, “Iya, lebih baik kirim utusan, sebabnya aku mengirim utusan, ingin memberitahu, bahwa Sultan Agung sudah meninggal, (aku) yang dijadikan penggantinya, aku juga memohon (agar) mengganti namaku, meminta dikirim utusan, dan Sultan Mekah, para warga semua mendorong”.1

 

Mangka Sandimaya mojar, tutur parnataning sabil, lagi jaman nabi kita, fardlu kifayah rekeki, lan sawiji ngaraning, fardlu ngen sabil iku, sabda Rasulullah, wong Kapir mangka duweni, ing hal roro salah siji ing karonya; tegese yayi mangkana, lamon ana kang wong kapir, ing padha enggon sanunggal, dadya kifayah sireki, yen wong kapir tekani, dadi fardlu ngen punika, lan syarate punika, kaya syarate wong khaji, kang cinegah pun kaya wong khaji ugah.

 

Terjemah:

 

Sandimaya berkata, menuturkan tatacara perang Sabil, pada zaman Nabi kita, (perang) itu (adalah) fardlu kifayah, dan satu lagi namanya, Sabil itu disebut fardlu ngen (ain), (itu) sabda Rasulullah, maka orang Kafir memiliki, kedua hal itu (atau) salah satu dari keduanya; artinya itu dik begini, jika ada orang Kafir, tinggal bersama (di suatu tempat), (itu) menjadi kifayah, (tetapi) jika orang Kafir yang mendatangi, itu (menjadi) fardlu ngen, dan syaratnya itu, seperti syarat orang berhaji, yang dilarang juga seperti orang yang berhaji.2

 

1651-1683 M Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa, kemudian dilanjutkan keturunan Sultan Banten dan Syaikh Yusuf Al Maqassari dari Banten hingga Priangan. [Abdurrahman Al-Khaddami dan Wirahadi Geusan Ulin ; (Tim Penulis Naskah Film Jejak Khilafah di Tatar Sunda)]

 

Catatan kaki:

1 Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, hlm 419

2 Titik Pudjiastuti, Menyusuri Jejak Kesultanan Banten, hlm 419

 

 

0 Comments

Leave a Comment

8 − four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password