Berbagai Peristiwa Pada Hari Kiamat(2)

(QS al-Qiyamah [75]: 13-15)

يُنَبَّؤُاْ ٱلۡإِنسَٰنُ يَوۡمَئِذِۢ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ ١٣  بَلِ ٱلۡإِنسَٰنُ عَلَىٰ نَفۡسِهِۦ بَصِيرَةٞ ١٤ وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ١٥

Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya (QS al-Qiyamah [75]: 13-15)

 

Dalam ayat-ayat sebelumnya diberitakan berbagai peristiwa yang akan terjadi pada Hari Kiamat. Diberitakan bahwa ketika datang Hari Kiamat, mata terbelalak karena ketakutan yang luar biasa. Bulan hilang cahayanya. Matahari dan bulan dikumpulkan. Pada saat yang mencekam itu, manusia kebingungan hendak lari ke mana untuk mencari perlindungan. Lalu ditegaskan, tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada Allah SWT.

Ayat ini menjelaskan beberapa peristiwa lain yang terjadi pada Hari Kiamat.

 

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Yunabba‘u al-insân yawma’idz[in] bimâ qaddama wa akhkhar (Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan). Ini masih memberitakan peristiwa yang terjadi pada Hari Kiamat. Pada hari itu manusia diberitahu semua amal yang mereka kerjakan. Menurut Imam al-Qurthubi dan asy-Syaukani, firman-Nya: Yunabba‘u al-insân (diberitakan kepada manusia) bermakna dikabarkan kepada manusia, yang baik maupun yang fasik.1

Adapun berkait dengan firman-Nya bimâ qaddama wa akhkhar (apa yang telah dia kerjakan dan apa yang telah dia lalaikan) terdapat beberapa penjelasan. Menurut Ibnu Abbas dalam satu riwayat, bimâ qaddama adalah amal yang dikerjakan manusia sebelum kematiannya, sedangkan wa akhkhara adalah semua tradisi atau kebiasaan yang dia tinggalkan dan masih dikerjakan oleh orang sesudah kematiannya.2

Menurut Ibnu Mas’ud bahwa bimâ qaddama adalah perbuatan yang dikerjakan ketika di dunia. Adapun wa akhkhar adalah sunnah atau tradisi yang dikerjakan setelah kematiannya yang baik maupun yang buruk.3

Ibnu Abbas dalam riwayat yang lain mengatakan bahwa bimâ qaddama adalah kemaksiatan yang telah dikerjakan, sedangkan wa akhkhar adalah ketaatan yang ditinggalkan. Semuanya diberitakan kepada manusia.4

Ada juga yang berpendapat sebaliknya. bimâ qaddama adalah ketaatan yang didikerjakan, sedangkan wa akhkhar kewajiban-kewajiban Allah SWT yang ditinggalkan. Di antara yang berpendapat ini adalah Qatadah.5

Sebagian lainnya berpendapat bahwa firman Allah SWT itu bermakna: Diberitakan kepada manusia semua amalnya mulai awal hingga akhirnya. Demikian pendapat Mujahid.6

Pendapat ini juga dikemukakan oleh Ibnu Katsir. Menurut Ibnu Katsir, ketika itu manusia diberitahu tentang semua amal perbuatan yang telah mereka kerjakan, masa lalu maupun masa yang baru, yang pertama maupun yang terakhir; yang besar maupun yang kecil (Lihat juga: . Ini sebagaimana yang disebutkan dalam ayat lain:

وَوَجَدُواْ مَا عَمِلُواْ حَاضِرٗاۗ وَلَا يَظۡلِمُ رَبُّكَ أَحَدٗا ٤٩

Mereka mendapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Tuhanmu tidak menganiaya seorang jua pun (QS al-Kahfi [18]: 49).7

 

Ibnu Jarir ath-Thabari mengambil semua penafsiran tersebut. Menurut Ibnu Jarir, pendapat yang benar: Ini merupakan informasi dari Allah SWT bahwa manusia akan diberitahu semua bimâ qaddama, yakni perbuatan yang telah dikerjakan, yang baik maupun yang buruk dalam kehidupannya; wakhkharu ba’dahu, yakni tradisi baik atau tradisi buruk yang ditinggalkan setelahnya dari yang dulu maupun yang akhir; bimâ ba’dahu yakni amal yang telah dikerjakan, yang baik maupun yang buruk; wakhkharu ba’dahu yakni amal yang dilalaikan dan tidak dikerjakan yang dulu maupun yang akhir. Allah SWT tidak mengkhususkan hanya sebagian dan tidak sebagian yang lain. Semuanya diberitahukan kepada manusia pada Hari Kiamat.8

Allah SWT berfirman: Bal al-insân ‘alâ nafsihi bashîrah (Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri). Tak hanya diberitahu. Manusia pun dijadikan sebagai saksi atas syâhid (saksi) atas dirinya. Ibnu Jarir ath-Thabari berkata, “Bahkan manusia atas dirinya sendiri menjadi ruqabâ` atau pengawas perbuatannya dan menyaksikan amalnya.”9

Ibnu Abbas berkata, “Manusia menjadi syâhid atau saksi atas dirinya sendiri.”10

Pendapat yang sama juga diketengahkan oleh Ibnu Zaid yang mengaitkan dengan firman-Nya:

ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا ١٤

Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisabmu (QS al-Isra‘’ [17]: 14).11

 

Menurut Ibnu Katsir, dia menjadi saksi atas dirinya, mengetahui apa yang telah dia kerjakan, sekalipun dia beralasan dan mengingkarinya. Ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبٗا ١٤

Bacalah kitabmu. Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisabmu (QS al-Isra‘ [17]: 14).12

 

Menurut Ibnu Abbas dalam riwayat lainnya, yang menjadi saksi adalah pendengaran, penglihatan, kedua tangan dan anggota tubuhnya. Al-Bashîrah (menjadi saksi) di sini adalah anggota tubuhnya.13 Artinya, kesaksian anggota tubuhnya atas dirinya: kedua tangannya memegang apa, kedua kakinya berjalan ke mana dan kedua matanya melihat apa.14

Penafsiran ini didasarkan pada firman-Nya:

يَوۡمَ تَشۡهَدُ عَلَيۡهِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيهِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٢٤

Pada hari ketika lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka tentang apa yang dulu mereka kerjakan (QS an-Nur [24]: 24).

 

Digunakan bentuk muannats pada kata bashîrah karena yang dimaksud dengan manusia di sini adalah al-jawârih atau anggota tubuh. Sebab, anggota tubuh itulah yang menjadi saksi atas diri manusia. Seakan-akan dikatakan: Bahkan anggota tubuh itu menjadi saksi atas diri manusia. Di antara yang berpendapat demikian adalah al-Qurthubi, asy-Syaukani, dan lainnya.15

Ada juga yang berpendapat bahwa huruf al-hâ‘ pada kata bashîrah adalah yang dinamakan oleh ahli i’rab sebagai hâ‘ al-mubâlaghah seperti huruf  al-hâ‘ pada kata dâhiyah (sangat cerdik, licik), ‘allâmah (sangat pandai, banyak ilmu) dan râwiyah (banyak menceritakan, meriwayatkan). Ini merupakan pendapat Abu Ubaid dan al-Qutbi.16

Allah SWT berfirman:

وَلَوۡ أَلۡقَىٰ مَعَاذِيرَهُۥ ١٥

Meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.

 

Menurut Ibnu Abbas, makna ma’âdzirah adalah al-i’tidzâr (alasan, membela diri).17

Dengan demikian ayat ini memberitakan bahwa sekalipun manusia menjadi saksi atas perbuatan yang telah mereka kerjakan, mereka berupaya untuk mencari-cari alasan untuk membenarkan mereka.

Meskipun mereka berupaya membela diri dan mencari-cari alasan pembenar, hal itu tidak berguna bagi mereka. Ini sebagaimana dijelaskan Mujahid bahwa ayat ini bermakna: “Sekalipun dia mendebat dalam rangka membela dirinya, dia melihat semua kesalahan dan dosa-dosanya itu.”18

Muqatil berkata, “Maksudnya, walaupun dia mengemukakan  dalih atau argumentasi, hal itu tidak berguna bagi dirinya. Ini sebagaimana firman-Nya:

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ ٱلظَّٰلِمِينَ مَعۡذِرَتُهُمۡۖ ٥٢

(Yaitu) hari yang tidak berguna bagi kaum yang zalim permintaan maaf mereka (QS Ghafir [40]: 52).

 

Menurut al-Qurthubi, pendapat yang sama juga dikemukakan oleh beberapa mufassir lainnya seperti Qatadah, Said bin Jubair, Abdurrahman bin Zaid,  Abu al-Aliyah, Atha‘, al-Farra‘, as-Sudi dan Muqatil. Mereka mengatakan, “Sekalipun dia berdalih dan mengatakan, ‘Aku tidak melakukan apa pun’, ada anggota tubuhnya yang memberikan kesaksian atas dirinya. Dengan demikian meskipun dia berdalih dan membela diri, ada saksi yang mendustakan dalihnya.”19

Juga firman-Nya:

وَلَا يُؤۡذَنُ لَهُمۡ فَيَعۡتَذِرُونَ ٣٦

Tidak diizinkan kepada mereka minta uzur sehingga mereka (dapat) minta uzur (QS al-Mursalat [77]: 36).20

 

Pendapat senada juga dikemukakan asy-Syaukani, Ibnu Katsir dan as-Sa’di.21 Menurut Ibnu Katsir, hal itu semakna dengan firman-Nya:

ثُمَّ لَمۡ تَكُن فِتۡنَتُهُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ وَٱللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشۡرِكِينَ ٢٣

Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan, “Demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah kaum musyrik.” (QS al-An’am [6]: 23).

 

Juga firman-Nya:

يَوۡمَ يَبۡعَثُهُمُ ٱللَّهُ جَمِيعٗا فَيَحۡلِفُونَ لَهُۥ كَمَا يَحۡلِفُونَ لَكُمۡ وَيَحۡسَبُونَ أَنَّهُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍۚ أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡكَٰذِبُونَ ١٨

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua Allah bangkitkan. Lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan orang musyrik) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa merekalah kaum pendusta (QS al-Mujadilah [58]: 18).22

 

Abdurrhaman as-Sa’adi berkata, “Seorang hamba, meskipun dia mengingkari atau berdalih atas apa yang telah dilakukan, pengingkaran dan dalih tersebut sama sekali tidak berguna. Sebab, perbuatannya disaksikan oleh pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota atas apa yan telah diperbuat karena waktu penyelasan sudah berakhir dan tidak berguna. Allah SWT berfirman:

فَيَوۡمَئِذٖ لَّا يَنفَعُ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ مَعۡذِرَتُهُمۡ وَلَا هُمۡ يُسۡتَعۡتَبُونَ ٥٧

Pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertobat lagi (QS al-Rum [30]: 57).23

 

Beberapa Pelajaran Penting

Terdapat banyak pelajaran penting dalam ayat-ayat ini. Di antaranya adalah: Pertama, pada Hari Kiamat manusia akan diberitahu semua amal yang telah dia kerjakan. Termasuk semua kewajiban dan ketaatan yang dilalaikan. Juga semua tradisi atau kebiasaan yang pernah dilakukan dan ditinggalkan kepada orang-orang sesudahnya, yang baik maupun yang buruk. Semuanya diberitahukan kepada manusia, dari awal hingga akhirnya. Tak ada satu pun yang terlewatkan.

Tentang ini diberitakan dalam banyak ayat lainnya (Lihat, antara lain: QS at-Taghabun [64]: 7).

Kedua, manusia dijadikan sebagai saksi atas perbuatannya sendiri pada Hari Kiamat. Yang menjadi saksi bisa juga organ-organ tubuh yang digunakan manusia dalam berbuat (Lihat juga:

QS Yasin [36]: 65; QS Fushshilat [41]: 19-22).

Ketiga, upaya manusia membuat alasan pada Hari Kiamat untuk meringankan dirinya. Tabiat manusia untuk mencari-cari alasan sebagai pembenar perbuatan mereka ternyata terbawa pada Hari Kiamat. Akan tetapi, semua itu tidak berguna untuk menolong dirinya. Tentang hal ini, diberitakan dalam banyak ayat lainnya (Lihat, misalnya: QS al-Mu’min [40]: 52; QS al-Nahl [16]: 87, QS an-Nahl [16]: 28 dan QS al-An’am [6]: 23).24

Demikianlah. Ayat-ayat di atas memastikan adanya Hari Kiamat dan manusia mendapatkan balasan atas semua perbuatan yang dikerjakannya. Saat itu, segala alasan dan dalih untuk membenarkan perbuatan mereka sama sekali tidak berguna.

WaLlâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

 

Catatan Kaki:

1         Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 98; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 405

2         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 61

3         Ibnu Athiyah, al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 403. Lihat juga al-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 61

4         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 61

5         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 62; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 405

6         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 61

7         Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 277

8         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 62

9         Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 62

10        Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 63

11        Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 63

12        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 277

13        Ath-Thabari, al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 24, 62

14        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 99-100

15        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 100

16        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 100; al-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 405

17        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 278

18        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 277

19        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 100-101

20        Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 101

21        Asy-Syaukani, Fat-h al-adîr, vol. 5, 406; Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 277; al-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 899

22        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 277

23        As-Sa’di, Taysìr al-Karìm al-Rahmân, 899

24        Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 278

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

twelve − 9 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password