Derita Perempuan dan Anak-anak Ukraina

Buku Mafaahim Siyaasi li al-Hizb at-Tahrir menjelaskan bahwa masalah Eropa adalah masalah paling utama dan  paling berbahaya terhadap perdamaian dunia, karena melibatkan negara-negara besar dan kuat secara ekonomi, politik dan budaya seperti Inggris, Prancis dan Jerman.

Saat ini keamanan Eropa sedang diusik oleh Perang Ukraina. Kelanjutan konflik tentu sulit diprediksi karena bisa menarik serat-serat isu lain.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan perang berdampak pada fasilitas perawatan kesehatan di seluruh negeri. Diperkirakan 1,4 juta orang kekurangan akses ke air bersih. Lebih dari 450.000 anak berusia 6 hingga 23 bulan membutuhkan dukungan makanan pendamping. Infrastruktur sipil dan akses ke layanan dasar juga hancur.

Akibatnya, terjadi gelombang pengungsi keluar Ukraina. Hingga 1 April, diperkirakan lebih dari 7,1 juta orang telah mengungsi sejak invasi ke Ukraina, termasuk warga negara asing, terutama pelajar yang sedang sekolah di sana. Lebih dari 50 persen rumah tangga pengungsi memiliki anak, 57 persen lanjut usia, dan 30 persen dengan orang berpenyakit kronis. Nyatalah Perang Ukraina menjadi krisis kemanusiaan terpesat sejak Perang Dunia II.

 

Perempuan dan Anak-anak Paling Menderita

REACH, lembaga internasional yang mengurusi pengungsi, melaporkan 85 persen pengungsi adalah perempuan. Unicef mencatat ada 4,3 juta anak ikut mengungsi selama satu bulan peperangan. Jumlah ini lebih dari setengah dari populasi anak di Ukraina. Anak-anak mengalami perubahan hidup, putus sekolah, bahkan menyaksikan kematian orangtua di depan mata.1  Mereka berisiko mengalami trauma sepanjang hidupnya.

Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell mengatakan perang ini telah menyebabkan perpindahan anak-anak dalam skala besar dan tercepat sejak Perang Dunia II, menjadi  tonggak sejarah yang suram membuat anak-anak berada di bawah ancaman kekerasan tanpa henti.2

Bahkan ada bayi dilahirkan di stasiun metro bawah tanah, yang dengan tergesa-gesa dipindahkan ke tempat perlindungan bom darurat karena fasilitas kesehatan tidak dapat berfungsi. Diperkirakan dalam tiga bulan ke depan akan ada 80.000 wanita melahirkan di Ukraina, yang tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan ibu.3

Dari semua korban perang,  perempuan selalu yang paling menanggung beban berat, terpaksa melintasi perbatasan mencapai tempat baru. Mereka harus mengurus keluarganya yang sakit dan cacat karena perang, juga anak-anak yang dalam kondisi trauma. Mereka juga berisiko lebih tinggi untuk perdagangan manusia dan bentuk-bentuk pelecehan lainnya. Semakin lama konflik berlangsung, semakin rentan kondisi mereka.

Oleh karena itu, dunia harus mengambil tindakan segera dan tegas untuk melindungi dan mencegah mereka menjadi korban perdagangan manusia. Apalagi saat ini sudah ada laporan adanya kekerasan seksual yang dilakukan oleh tentara Rusia terhadap perempuan dan gadis Ukraina yang melarikan diri dari negaranya.4

Penderitaan perempuan dan anak-anak Ukraina menambah daftar panjang penderitaan perempuan dan anak-anak akibat perang di kawasan lain. Pada akhir tahun 2020, sekitar 20,7 juta pengungsi berada di bawah mandat UNHCR PBB, dari berbagai konflik yang terjadi di dunia.5

 

Tata Dunia ala Kapitalisme Menyengsarakan

Perang Ukraina memberikan pelajaran penting, bahwa tidak ada tempat yang aman bagi perempuan dan anak-anak jika potensi konflik terbuka lebar.  Tata dunia baru ala Kapitalisme pada faktanya  sangat mudah memunculkan konflik yang memicu terjadinya perang. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat, peletak dasar dan pemimpin tata dunia baru, gagal menciptakan dunia yang aman dan ramah bagi semua.

Profesof Harvard, Stephen M. Walt,  penulis The Hell of Good Intentions, membedah kesalahan dan kelemahan kebijakan luar negeri AS. Paska perang dingin, politik luar negeri AS telah membuat hubungan dengan Rusia dan Cina memburuk, Uni Eropa goyah, nasionalisme dan populisme meningkat. Amerika  terjebak dalam perang yang mahal, menyia-nyiakan triliunan dolar dan merusak pengaruhnya di seluruh dunia.

Akar dari catatan suram ini adalah kebijakan luar negeri Amerika terhadap strategi “hegemoni liberal”. Sejak akhir Perang Dingin, Partai Republik dan Demokrat sama-sama telah mencoba menggunakan kekuatan AS untuk menyebarkan demokrasi, pasar terbuka, dan nilai-nilai liberal lainnya ke setiap sudut dan celah planet ini.6

Strategi ini ternyata gagal, bahkan diikuti berbagai konflik di kawasan.  Keadaan ini membuat dunia tidak aman, bahkan sangat membahayakan nasib penduduknya, terutama perempuan dan anak-anak.

 

Khilafah, Menata Dunia Menuju Rahmatan lil ‘Alamiin

Melihat situasi ini, jelas dunia membutuhkan tatanan baru yang memberi jaminan perdamaian dan harmoni umat manusia, terutama perempuan dan anak-anak. Khilafah Islam adalah jawaban atas kerapuhan tatanan global saat ini.

Tata dunia di bawah kepemimpinan Khilafah akan memberikan kebebasan pilihan dan penghormatan pada hak-hak warga dunia  sebagai manusia. Khilafah akan fokus pada dakwah Islam dan jihad. Dakwah Islam akan memberikan pilihan pada warga dunia dan pemimpin mereka pada Islam sebagai aturan hidup, tanpa memaksa mereka untuk memeluk Islam.  Namun, ketika dakwah menghadapi penghalang berupa arogansi kekuasaan negara asing, Khilafah akan mengubah komunikasi dakwah dari menyeru menjadi bahasa perang. Inilah proses penaklukan (futuuhaat) yang agung.  Penyatuan (integrasi) negeri-negeri yang ditaklukan baik dengan damai dan peperangan diposisikan sama, yakni sebagai bagian dari Khilafah. Integrasi ini membawa konsekuensi politik berupa penyatuan pemerintahan dan hukum, diikuti reposisi mereka dari orang asing menjadi warga negara Khilafah. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama sesuai pengaturan Islam.

Futuuhaat akan menjadi perang efektif, cepat dan segera mengubah status politik sebuah negara menjadi bagian Khilafah. Dengan demikian rakyat tidak akan menjadi korban perang. Semua ini karena Islam telah menentukan aturan bahwa peperangan tetap harus terikat dengan hukum Islam yakni: Pertama, sasaran dalam perang adalah prajurit musuh yang ikut berperang. Selain prajurit, tidak boleh diperangi. Wanita, anak-anak, ahli agama dan orangtua tidak boleh dibunuh.  Abdullah bin Umar ra. berkata, “Aku mendapati seorang wanita terbunuh dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah saw. Kemudian beliau melarang membunuh kaum wanita dan anak-anak dalam peperangan.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw. juga bersabda, “Pergilah kalian dengan nama Allah, dengan Allah dan atas agama Rasulullah. Jangan kalian membunuh orangtua yang sudah tidak berdaya, anak kecil dan perempuan. Janganlah kalian berkhianat. Kumpulkan ghaniimah-ghaniimah kalian. Berbuatlah maslahat. Berbuatlah yang baik. Sungguh Allah senang kepada orang-orang yang berbuat baik.” (HR Abu Dawud).

Kedua, tidak boleh menghancurkan bangunan dan fasilitas umum (Lihat: QS al-Qashash [28]: 77).

Islam menetapkan fasilitas-fasilitas umum  seperti rumah sakit, sekolah dan tempat ibadah, tidak boleh menjadi sasaran penghancuran dalam perang.  Sungguh berbeda dengan perang saat ini, yang banyak menghancurkan fasilitas umum, membuat warga sipil menderita. Padahal jelas ada Konvensi Jenewa yang mengatur perlindungan warga sipil dalam perang.  Rusia dan Amerika Serikat pun tercatat masih meratifikasi konvensi tersebut.7

Tata dunia di bawah Khilafah akan mewujudkan hubungan antarnegara  untuk tujuan kerjasama, bebas dari niat eksploitasi, memanfaatkan satu negara menjadi proxy bahkan  sekutu untuk memerangi negara lain. Khilafah akan menepati setiap perjanjian yang dibuat dengan negara lain, memberikan bantuan dan suaka bagi negara lain yang sedang dalam musibah, sebagai realisasi nilai insaniyah sekaligus memperkuat hubungan antar sesama manusia.

Dengan demikian, suasana internasional akan jauh dari provokasi, persaingan kepentingan sesaat, bahkan peperangan besar seperti Perang Dunia yang melibatkan hampir seluruh negara di berbagai kawasan. Inillah dunia yang damai dan harmoni, rumah bagi manusia, terutama perempuan dan anak-anak. Khilafah akan membawa dunia pada Rahmatan lil ‘alamiin.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Fatma Sunardi]

 

Catatan kaki:

1        https://www.bbc.com/indonesia/dunia-61006227

       unicef.org, 24/3/2022

       unfpa,com, 4/4/2022

       unodc.org, 24/3/2022

       dw.com, 18/6/2022

       wcfia.harvard.edu

7        https://ihl-databases.icrc.org/applic/ihl/ihl.nsf/States.xsp? xp_viewStates=XPages_NORMStatesParties&xp_treaty Selected=375

 

 

0 Comments

Leave a Comment

3 × one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password