Tawadhu’

Saat ini banyak orang yang takabur. Sombong. Sombong berefek pada penolakan terhadap kebenaran. Juga cenderung meremehkan orang lain. Inilah yang juga diisyaratkan Baginda Nabi saw., “Al-Kibr bathar al-haqq wa ghamtu an-nas (Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan orang lain).” (HR Muslim).

Padahal kebenaran hakikatnya datang dari Allah SWT. “Al-Haqq min Rabbika (Kebenaran itu dari Tuhanmu).” Demikian kata Allah SWT (QS al-Baqarah [147)).

Takabur adalah akhlak buruk. Pelopornya adalah Iblis. Iblislah makhluk pertama yang takabur (QS Shad [38]: 75-76). Karena sikapnya itu, dia membangkang kepada Allah SWT yang menciptakan dirinya. Dia tak sudi “bersujud” kepada Adam as. meski itu atas perintah Tuhannya. Pasalnya, dia merasa lebih mulia dari Adam as. hanya karena dia diciptakan dari api, sementara Adam as. dari tanah. Alhasil, orang yang takabur dan sombong hakikatnya mengikuti jejak iblis.

Lawan sikap takabur atau sombong adalah tawadhu’ (rendah hati). Inilah akhlak Adam as. Adam as. tidak pernah sekali-kali bersikap takabur. Padahal ia memiliki keunggulan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Ia dikaruniai ilmu oleh Allah SWT. Bahkan ketika akhirnya Adam as. tergoda oleh bujuk rayu iblis, ia tidak melakukan apologi. Ia segera mengakui kesalahannya. Ia segera bertobat. Ia segera memohon ampunan kepada Allah SWT dengan doa yang menggambarkan kerendahhatian: “Duhai Tuhan kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami menjadi bagian dari orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf [7]: 23).

Inilah sejatinya akhlak seorang Muslim. Sayang, sikap tawadhu’ inilah yang justru banyak dilupakan oleh kaum Muslim, sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah ra., “Innakum taghfiluna ‘an afdhal al-‘ibadat: at-tawadhu’ (Sungguh kalian telah lalai dari ibadah yang paling utama, yaitu sikap tawadhu’ [rendah hati]).”

(Imam Ahmad, Az-Zuhd, hlm. 267).

*****

Berbicara tentang sikap tawadhu’ (rendah hati), Rasulullah saw. bersabda, “Wa ma tawadha’a ahad[un] illa rafa’ahulLah (Tidaklah seseorang bersikap tawadhu [rendah hati] kecuali akan Allah meninggikan derajatnya).” (HR Muslim).

Seseorang yang tawadhu’ tak akan merasa sombong dan merendahkan manusia. Ia tidak akan pernah merasa lebih mulia sampai ia mengetahui kedudukannya di akhirat nanti. Inilah yang dijelaskan oleh seorang ulama besar, Abdullah al-Muzani rahimahullah. Ia berkata, “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, katakanlah: Dia mendahuluiku dengan iman dan amal shalih sehingga dia lebih baik dariku. Jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, katakanlah: Aku mendahului dia melakukan dosa dan kemaksiatan sehingga dia juga lebih baik dariku.

Jika engkau melihat teman-temanmu menghormati dan memuliakan dirimu, katakanlah: Ini karena kemuliaan jiwa mereka. Jika engkau melihat mereka kurang dalam memuliakan dirimu, katakanlah: Ini adalah akibat dosa yang kulakukan.” (Ibnu al-Jauzi, Shifat ash-Shafwah, 3/248).

Tentang sikap tawadhu’. tentu kita mesti banyak belajar kepada generasi salafus-shalih. Apa yang dikisahkan oleh al-Qadhi Abu Bakr Ibnul ‘Arabi dalam kitabnya, Ahkam al-Qur`an (1/182-183) layak kita renungkah. Disebutkan bahwa Muhammad bin Qasim al-‘Ustmani pernah bercerita:

Tatkala aku pertama kali datang ke daerah Fusthath, aku menghadiri pengajian Syaikh Abul Fadhl al-Jauhari. Aku mendengar ceramah beliau saat pertama kali aku duduk di majelisnya. Beliau berceramah, “Sungguh Nabi saw. pernah men-thalaq (cerai), men-zhihar dan meng-ila istri-istri beliau.”

Tatkala Syaikh tersebut keluar dari majelisnya, Aku mengikuti beliau bersama sejumlah orang hingga sampai ke rumah beliau. Ia duduk bersama kami di beranda rumahnya.

Aku pun berkata kepada beliau, “Aku duduk di majelismu untuk mencari berkah ilmu darimu. Tadi aku mendengar engkau mengatakan bahwa Rasulullah saw. pernah meng-ila istri-istrinya. Engkau benar. Rasulullah juga pernah melakukan thalaq. Engkau benar. Engkau pun tadi mengatakan Rasulullah saw. pernah men-zhihar sebagian istrinya. Hal ini tak mungkin terjadi dan tidaklah benar. Pasalnya, zhihar adalah perbuatan munkar dan suatu kejahatan. Hal itu tak boleh dan tak mungkin dilakukan oleh Nabi saw.”

Tiba-tiba beliau memelukku sambil mencium kepalaku. Lalu beliau berkata kepadaku, “Aku betobat dari perkataan semacam itu. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada orang yang telah mengajari aku.”

Aku pun pulang. Esoknya aku pagi-pagi kembali mendatangi majelis beliau. Telah banyak orang yang mendahuluiku datang ke majelis beliau. Beliau sedang duduk di atas mimbar.

Ketika aku masuk ke dalam pintu masjid, beliau melihatku dan memanggilku dengan nada yang tinggi, “Selamat datang, guruku. Tolong berikanlah jalan kepada guruku ini.”

Lalu beliau berkata di hadapan jamaah. Antara lain beliau berkata, “Aku adalah guru kalian dan ini (Muhammad bin Qasim) adalah guruku.”

Demikianlah sikap tawadhu’ seorang ulama besar.

Ketawadhuan pula, antara lain, yang menonjol dari sosok ulama besar yang lain, yakni Imam Ibnu al-Jauzi (510-597 H). Dalam kitab “Dzayl Thabaqat al-Hanabilah (I/167) dikisahkan: Pada akhir hidupnya, beliau pernah bercerita telah menulis 2000 jilid buku, menjadikan 100 ribu orang bertobat dan membuat 20 ribu orang Yahudi dan Nasrani masuk Islam. Jumlah minimal hadirin yang mengaji pada beliau adalah 10 ribu orang. Meski demikian, tidak ada kesombongan yang ditonjolkan oleh beliau. Yang ada justru beliau makin rendah hati.

Dalam kisah masyhur disebutkan, menjelang wafat beliau sempat berujar kepada murid-muridnya, “Jika kelak di surga kalian tidak menjumpaiku, maka tanyakanlah kepada Allah perihalku, ‘Ya Allah, ya Tuhan kami, sungguh hambamu Si Fulan (Ibnu Jauzi) dulu di dunia telah mengingatkan kami tentang diri-Mu.’” Lantas Ibnu Jauzi menangis.

Betapapun luas ilmunya, juga betapapun besar jasa-jasanya dalam Islam, ia menafikan eksistensi dirinya. Ia tetap khawatir tidak masuk surga. Bagaimana dengan kita?

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

1 × 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password