Seputar Fi’l al-Amr

Soal:

Di dalam Kitab Asy-Syakhshiyah Jilid III, dalam topik “Al-Fi’l”  (halaman 168 file elektornik), antara lain dinyatakan: “Fi’l al-amr adalah fi’il (mudhari’) yang dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya, tidak yang lain.”

Pertanyaannya: Fi’l al-mudhâri’ yaf’alu, misalnya, jika dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya, bukankah menjadi fi’l mâdhi? Artinya, bukan menjadi fi’l al-amr?

Apakah di dalam ungkapan kitab itu ada kata yang hilang dari cetakan?

 

Jawab:

Teks itu memang ada di Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Jilid III seputar fi’l al-amr: “Fi’l al-amr adalah fi’il (mudhari’) yang dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya, tidak yang lain.” Ungkapan ini juga ada di kitab-kitab ushul. Misalnya, dinyatakan di dalam Al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm karya al-Amidi (I/58): “Al-Fi’l adalah apa saja yang menunjukkan kejadian yang dikaitkan dengan waktu kejadian. Kejadian itu adalah mashdar dan itu adalah ismu al-fi’l (kata benda dari kata kerja). Waktu kejadian itu adalah lampau, sekarang dan akan datang. Al-Fi’l terbagi menurut pembagain waktu. Al-Mâdhî (fi’l al-mâdhî/kata kerja lampau) seperti qâma (dia telah berdiri) dan qa’ada (dia telah duduk).”

Masa sekarang dan akan datang ada dalam satu lafal yang disebut al-mudhâri’. Al-Mudhâri’ adalah kata kerja yang di awalnya salah satu dari empat huruf tambahan yaitu: hamzah, at-tâ‘, an-nûn dan al-yâ‘. Misal, ucapan Anda: Aqûmu wa taqûmu wa naqûmu wa yaqûmu. Pembebasan waktu akan datang dari waktu sekarang dengan masuknya huruf as-sîn atau sawfa terhadap fi’lu al-mudhâri’. Misal, ucapan Anda: Sayaqûmu dan sawfa yaqûmu (Dia akan berdiri). Adapun fi’l al-amr adalah fi’l al-mudhari yang dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya, tidak yang lain. Misal, ucapan Anda: yaqûmu-qum dan semisalnya.”

Dinyatakan di dalam Syarh Alfiyah Ibni Mâlik karya Utsaimin (III/11 bitarqîm asy-Syâmilah secara otomatis): (Pengarang rahimahullah berkata), “Fi’l amr[in] dan mâdhi adalah buniyâ (mabnî). Mereka me-mu’rab-kan mudhâri’ jika bebas dari nûn at-tawkîd dan nûn al-inâts seperti: yar’annu  min fitan[in].” Lalu ia berkata, “Wa fi’l amr[in] wa madhiy[in] buniyâ (fi’l amr[in] dan mâdhi adalah mabni).” Maknanya, fi’l al-amri adalah mabni dan fi’lu al-mâdhi adalah mabni. Huruf al-alif dalam kata buniyâ untuk menunjukkan dua (li tatsniyah) karena kembali pada dua.

Fi’l al-amri mabniy[un] (Fi’l al-amri adalah mabni); dikatakan juga mu’rab. Yang benar, fi’l al-amri itu mabni. Fi’l al-amri itu dibangun atas kata kerja yang mudhâri’-nya di-jâzim-kan. Jika mudhâri’-nya di-jâzim-kan dengan sukun maka dia mabnî ‘alâ as-sukûn. Jika mudhâri’-nya mabnî atas dihilangkannya huruf ‘illat atau dihilangkannya huruf “nûn”. Ia juga mabni di atas dihilangkannya huruf ‘illat atau dihilangkannya nûn. Karena itu jika Anda membuat fi’l al-amr maka lihatlah fi’l al-mudhâri’ yang di-jâzim-kan kemudian hilangkan huruf mudhâra’ah dan huruf jazm.

Untuk menjelaskan hal itu, dengan bersandar pada pembahasan kaidah-kaidah bahasa melalui sumber-sumbernya, kami mengatakan dengan taufik dari Allah sebagai berikut:

Fi’l al-amr dari sisi redaksi diambil dari fi’l al-mudhâri’ setelah dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya. Namun, karena fi’l al-amri itu di-jâzim-kan maka redaksinya diambil dari fi’l al-mudhâri’ yang di-jâzim-kan (al-mudhâri’ al-majzûm) setelah dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya. Tentu setelah dihilangkan alat-alat jazm karena itu bukan bagian dari al-fi’l. Jika saya ingin sampai ke fi’l al-amri dari fi’l al-mudhâri’ maka pertama saya memasukkan huruf jazm, misalnya huruf lam terhadap fi’l al-mudhâri’ agar menjadi fi’l majzûm (fi’l yang di-jâzim-kan), kemudian saya menghilangkan huruf jazm lam. Artinya, saya menyisakan redaksi yang di-jâzim-kan untuk fi’l al-mudhâri’ tanpa alat jazm itu. Lalu saya menghilangkan huruf al-mudhâri’ dari fi’l al-mudhâri’ yang di-jâzim-kan itu. Hasilnya, jadilah fi’l al-amr.

Misalnya, fi’lyakhâfu” dengan dimasukkan “lam” padanya menjadi “lam yakhaf”, dan dengan digugurkan “lam” darinya menjadi “yakhaf”, dan dengan dihilangkan huruf mudhâra’ah-nya “al-yâ`u” yang ada di awal fi’l menjadi “khaf”. Itulah fi’l al-amr dari “khâfa”. Demikian juga yang semisalnya seperti: yanâmu, yaqûmu, yaqûlu, yazûru …dst.

Misal lain, fi’lyafî”, dengan dimasukkan padanya “lam” menjadi “lam yafi”. Lalu dengan digugurkan “lam” menjadi “yafi”. Kemudian dengan dihilangkan huruf al-mudhâra’ahal-yâ`u” yang ada di awal fi’l menjadi “fi”. Itulah fi’l al-amri dari “wafâ”. Yang semisalnya adalah seperti: wa’â, waqâ, ra`â, dst.

Misal lainnya, fi’lyadhribu”, dengan dimasukkan padanya “lam” menjadi “lam yadhrib”. Lalu dengan digugurkan darinya “lam” menjadi “yadhrib”. Kemudian dengan digugurkan darinya huruf al-mudhâra’ahal-yâ`u” yang ada di awal fi’l, menjadi “dhrib”. Namun, awal hurufnya yaitu huruf “adh-dhâdu” adalah huruf sukun. Huruf sukun tidak mungkin digunakan untuk memulai ucapan kecuali dengan hamzah al-washal . Karena itu menjadi “idhrib”. Itulah fi’l al-amri dari “dharaba”. Demikian yang semisalnya seperti: “da’â, ‘amala, banâ, dst.

Ringkasnya, jika dihilangkan huruf al-mudhâra’ah dari fi’l al-mudhâri’ yang di-jâzim-kan (al-mudhâri’ al-majzûm) maka dihasilkan fi’l al-amri dan bukan fi’l al-mâdhî. Atas dasar itu, apa yang ada di dalam Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyah Jilid III adalah ucapan yang benar sesuai apa yang dijelaskan di atas. Di dalamnya tidak ada “ucapan yang hilang dari cetakan”.

 

[Syaikh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, 14 Syawal 1440 H/19 Juni 2019 M]

 

 

Sumber:

1        http://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/60880.html

2        https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192/1078832242313846/%D8%9Ftype=3&theater

3        http://archive.hizb-ut-tahrir.info/arabic/index.php/HTAmeer/QAsingle/3960

4        https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/photos/a.122855544578192/1137688563094880/%D8%9Ftype=3&theater

5        https://web.facebook.com/AmeerhtAtabinKhalil/posts/1137688869761516?__tn__=K-R

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

two + 8 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password