Kriminalisasi dan Monsterisasi Khilafah

Istilah khilafah kini telah sangat populer di negeri ini. Rilis film “Jejak Khilafah di Nusantara” beberapa waktu yang lalu semakin memompa kepopuleran istilah khilafah tersebut.

Sebagai sebuah isu politik di level nasional dan internasional, tentu isu khilafah itu tidak akan sepi dari pro dan kontra. Inilah konsekuensi dari sebuah konsep pemikiran politik yang menyangkut kehidupan masyarakat luas di dunia.

 

Upaya Mengkriminalisasi Khilafah

Mereka yang kontra akan terus berupaya mencegah ide khilafah itu berkembang luas. Mereka khawatir, jika bergulir luas, ide khilafah akan cepat menjelma menjadi cita-cita dan arah perjuangan umat Islam sedunia, termasuk di negeri ini.

Mereka berupaya mendeskripsikan khilafah sebagai sesuatu yang buruk dan jahat. Dalam teori komunikasi, upaya semacam ini disebut demonologi atau monsterisasi. Targetnya adalah mengkriminalisasi para pengemban dakwah yang pro-khilafah karena dianggap pro-kejahatan. Berikut ini beberapa tagline mereka dalam upayanya mengkriminalisasi khilafah.

 

(1) Khilafah: Ideologi Radikal.

Menuding khilafah sebagai ideologi radikal sebenarnya membuat dua kesalahan fatal sekaligus. Dari sisi istilah ideologi dan fakta radikalisme itu sendiri. Ideologi yang eksis di dunia saat ini ada tiga yaitu Kapitalisme, Sosialisme dan Islam. Khilafah tentu bukan ideology. Ia adalah bagian dari ajaran Islam. Karena Islam adalah ideologi, khilafah adalah bagian dari ideologi Islam. Tidak berdiri sebagai ideologi tersendiri.

Mungkin saja mereka memang sengaja menyebut khilafah itu sebagai ideologi tersendiri dengan tujuan untuk memisahkan khilafah dari Islam. Mereka tentu tidak berani mengkriminalisasi Islam secara vulgar karena akan berhadapan dengan umat Islam. Sebabnya, mengkriminalisasi khilafah itu sama artinya dengan mengkriminalisasi ajaran Islam. Karena itu mereka membangun narasi fiktif terlebih dulu bahwa khilafah itu berada di luar Islam.

Adapun istilah radikal hingga detik ini masih sangat kabur sehingga tidak jelas apa definisi dan indikatornya. Namun kemudian, istilah radikal tersebut dikonotasikan dengan sesuatu yang negative, yakni sebagai pendorong terorisme. Sebaliknya,  istilah moderat, lawan dari istilah radikal, dikonotasikan sebagai sesuatu yang positif. Kemudian media dan pihak tertentu mendefinisikan sesuai keinginannya apa makna moderat itu.

Ada upaya mengopinikan bahwa orang yang mendukung sekularisme-liberalisme akan dikategorikan sebagai orang yang berpaham moderat. Sebaliknya, orang yang setuju pada upaya penerapan syariah secara kaffah dalam sistem khilafah akan dikategorikan berpaham radikal.

Ada pula upaya untuk mengaitkan isu radikalisme dengan terorisme. Itu bertumpu pada asumsi bahwa pemicu terorisme adalah radikalisme atau paham radikal. Mereka biasa mengatakan bahwa radicalism is only one step short of terrorism. Artinya, ada narasi yang ingin dibangun di ranah publik bahwa Islam itu mengandung paham radikal yang nantinya akan melahirkan aksi terorisme.

Padahal aksi terorisme yang terjadi di negeri ini sendiri masih menjadi tanda tanya besar bagi umat Islam. Siapakah sebenarnya pelaku terorisme dan apa motif di balik aksi tersebut. Memang bisa saja pelaku terorisme itu seorang Muslim atau ada identitas keislaman yang melekat pada diri pelaku. Namun, siapa yang ada di balik pelaku tersebut masih kabur dan gelap.

Menarik apa yang ditulis oleh Noam Chomsky dalam bukunya, Pirates and Emperors, Old and New: International Terrorism in the Real World, South End Press (2003). Ilustrasi cerita Bajak Laut dan Sang Kaisar yang diangkat oleh Noam Chomsky dalam buku ini, menggambarkan secara tepat mengenai kampanye perang melawan terorisme yang digencarkan negara-negara Barat. Kata Chomsky, dengan dalih menjaga keamanan dan perdamaian dari terorisme, Amerika Serikat justru memimpin invasi berskala besar ke berbagai wilayah di dunia. Aksi Amerika tersebut jelas merupakan terorisme internasional yang telah merenggut jutaan jiwa penduduk tidak bersalah di berbagai belahan bumi.

Upaya mengaitkan khilafah dengan radikalisme dan terorisme jelas sebuah propaganda jahat. Sangat kuat indikasinya bahwa yang menjadi target isu radikalisme dan terorisme itu adalah Islam. Tidak hanya orang dan organisasinya, namun juga ajaran Islam itu sendiri yang akan dibidik. Padahal kalau kita perhatikan, umat Islam yang memperjuangkan penegakan syariah dan khilafah itu dilakukan melalui dakwah. Sebuah proses yang bersifat edukatif dan argumentatif. Tidak ada satu pun bukti bahwa perjuangan mereka itu disertai kekerasan apalagi aksi terorisme.

 

(2) Khilafah Mengancam Negara.

Tuduhan bahwa syariah dan khilafah adalah ancaman sesungguhnya bagian dari penyesatan politik dan upaya memalingkan umat dari ancaman sebenarnya. Penyesatan ini telah menjadi agenda global dalam memerangi kelompok Islam yang mendakwahkan tegaknya syariah dan khilafah. Gaung penyesatan itu juga makin gencar di negeri ini yang dilakukan oleh jaringan kelompok-kelompok fobia Islam.

Perlu dicatat, Perang Salib yang berkepanjangan telah memberikan inspirasi bagi Barat dan sekutunya, bahwa kaum Muslim tidak mungkin dikalahkan secara fisik sebelum mereka dilumpuhkan secara pemikiran. Barat lalu melakukan perang pemikiran (ghazwul-fikri) dan membuat berbagai stigma negatif terhadap ideologi Islam. Perang peradaban antara Islam dan kapitalisme ini sebenarnya merupakan sebuah keniscayaan yang mesti terjadi sebagaimana diramalkan oleh Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996).

Khilafah merupakan entitas politik yang akan menerapkan syariah Islam secara kaffah. Artinya, melalui khilafah inilah ideologi Islam akan eksis secara politis dan praktis. Dalam kacamata perang peradaban tentu keberadaan khilafah semacam itu sangat tidak diinginkan oleh Barat di bawah pimpinan Amerika dan sekutunya. Mereka akan menghadang setiap upaya yang dapat mengantarkan pada tegaknya syariah Islam dalam institusi khilafah. Salah satu caranya adalah melalui berbagai stigmatisasi tersebut.

Khilafah distigma anti keragaman, bersifat ekslusif, hanya untuk orang Islam dan akan membantai pemeluk agama lain. Ini jelas pernyataan hoax yang didasari oleh kedengkiannya pada Islam. Padahal fakta sejarah menunjukkan bahwa khilafah menaungi aneka ragam agama, suku dan budaya. Sejak awal Rasulullah saw. membangun peradaban Isam, hidup di tengah-tengah mereka kaum Yahudi dan Nasrani. Tidak ada diskriminasi di dalam masyarakat yang hidup dalam naungan khilafah.

Ketika umat Muslim berkuasa melalui sistem kekhilafahan di dunia, tidak ada pemaksaan terhadap umat lainnya untuk memeluk Islam. Umat non-Muslim tetap dilindungi untuk melaksanakan aktivitas ibadah sesuai agama mereka. Menarik apa yang dikatakan oleh Karen Armstrong: there was no tradition of religious persecution in the Islamic empire (tidak ada tradisi persekusi agama dalam imperium (Khilafah) Islam (Karen Armstrong, Holy War: The Crusades and Their Impact on Today’s World, McMillan London Limited, 1991, hlm. 44).

Yang secara nyata menghancurkan negeri ini sejatinya adalah para pejabat yang telah melakukan berbagai mega skandal korupsi, menjual aset negara, termasuk menguras uang negara untuk membayar influencer dan buzzer politik. Semua kerusakan itu berakumulasi hingga negara terpuruk dalam jeratan utang. Sebagaimana data yang dirilis Kemenkeu, posisi utang Indonesia pada akhir Juni 2020 sudah mencapai Rp 5.264,07 triliun.

Artinya, selama 5 tahun terakhir telah ada penambahan jumlah utang sebesar Rp 2.098,96 triliun atau naik 66,3%. Akibat jeratan utang dan penjualan berbagai aset negara itu, Indonesia tidak berdaya dan kedaulatan negarapun tergadaikan. Patut digarisbawahi bahwa semua kerusakan itu tidak diakibatkan oleh para aktivis pejuang khilafah.

 

(3) Khilafah Memecah Belah.

Khilafah juga dituduh akan menghancurkan negeri ini karena disinyalir akan memecah-belah. Para penuduh itu pasti sedang menutup mata dan telinganya karena diam terhadap realitas OPM (Organisasi Papua Merdeka) yang secara jelas berusaha mengerat-ngerat negeri ini. Mereka juga diam ketika Timor Timur dulu terlepas dari Indonesia. Justru para pejuang khilafahlah yang saat itu lantang menolak berbagai upaya asing yang memang sudah lama ingin mencaplok Timor Timur dari Indonesia.

Mereka kelihatannya sengaja menafikan fakta bahwa karakter dasar khilafah itu menyatukan, bukan memecah-belah. Buktinya ,dulu khilafah itu mampu menyatukan umat Islam sedunia. Hal tersebut berlangsung sangat lama. Sekitar 1300 tahun hingga keruntuhan Khilafah Ustmaniyah pada tahun 1924. Pasca runtuhnya Khilafah itulah kemudian umat Islam terpecah-belah ke dalam berbagai nation-state.

Perlu dicatat pula, nation-state itu awalnya tumbuh di Eropa pasca Perjanjian Damai Westphalia (Peace of Westphalia) tahun 1648, sebagai perlawanan terhadap sistem feodal atau monarki di Eropa saat itu. Setelah Revolusi Prancis (1789) dan Revolusi Amerika (1776) konsep nation-state turut menjadi penentu struktur geopolitik Eropa. Bersama dengan ide demokrasi, liberalisme dan sekularisme, konsep nation-state akhirnya diekspor keluar Eropa melalui jalan penjajahan.

Kini terbukti konsep nation-state tersebut telah memperlemah dan mematikan kekuatan umat Islam. Betapa tidak, umat Islam yang dulunya bersatu dalam Khilafah Ustmaniyah, melalui nation-state itu, disekat menjadi 50-an negara kecil seperti yang kita saksikan saat ini. Inilah racun yang menjadi penyebab disintegrasi dan perpecahan umat Islam. Ditambah lagi adanya konspirasi negara penjajah yang memecah wilayah kesatuan Khilafah Ustmaniyah itu menjadi puluhan nation-state melalui Perjanjian Sykes-Picot pasca Perang Dunia I.

Jadi konsep nation-state itulah yang terbukti memecah-belah negeri Muslim untuk diperlemah dan dijajah. Pasalnya, awalnya justru umat Islam itu bersatu dalam naungan Khilafah Ustmaniyah. Baru kemudian dipecah-belah oleh negara penjajah melalui nation-state. Karena itu  sangat logis dan realistis jika nanti umat Islam dengan kesadarannya meninggalkan konsep nation-state menuju persatuan globalnya dalam sistem khilafah.

 

(4) Khilafah akan Men-Suriah-kan Indonesia.

Mereka juga membuat narasi bahwa khilafah itu akan menjadikan Indonesia seperti Suriah dan Irak. Padahal kehancuran di Suriah dan Irak adalah hasil penjajahan Amerika dan sekutunya. Masyarakat Suriah menderita bukan karena di sana ada khilafah. Justru tumpahnya darah ratusan ribu kaum Muslim di Suriah karena kekejaman rezim Bashar Assad yang didukung penuh oleh Barat. Kehancuran Irak juga karena keserakahan Amerika dan sekutunya.

Apa yang terjadi di Suriah, termasuk pula di negara-negara Timur Tengah lainnya seperti Tunisia, Libya, Mesir dan sebagainya, awalnya dipicu oleh rakyat yang merasa resah terhadap kezaliman yang dilakukan penguasa di sana. Lalu mereka melawan melalui berbagai aksi protes dan demo. Protes rakyat yang dilakukan dengan damai itu kemudian dihadapi dengan kasar dan kejam oleh rezim. Mereka dihajar dengan berondongan senjata.

Bahkan beberapa kota di Suriah yang menjadi pusat perlawanan rakyat lalu dibom oleh rezim. Ribuan orang tewas yang berakibat pada makin marahnya rakyat. Kemudian rakyat berganti membalas dengan perlawanan senjata juga. Lalu dibentuklah kelompok-kelompok Mujahidin seperti Jabhah Nusrah, Ahrarus Syam dan sebagainya. Mereka mendapat dukungan dari para mujahidin baik dari dalam maupun dari luar Suriah.

Pada sisi lain, Iran dan Rusia serta Cina yang ingin mempertahankan koneksi politik dan ekonomi di kawasan yang sangat strategis itu, turun membantu Bashar Assad. Mereka tidak akan membiarkan sekutunya jatuh. Melihat Rusia dan Cina terlibat, AS pun tidak tinggal diam. Akibatnya, makin meluaslah konflik dan kerusakan di Suriah.

Jadi sangat jelas konflik di Suriah yang berkembang sangat kompleks seperti yang terjadi saat ini pada awalnya dipicu oleh kezaliman Bashar yang tidak terkendali. Ditambah lagi adanya keterlibatan pihak negara penjajah yang saling berebut remah-remah di Suriah. Konflik itu bukan diakibatkan oleh berkembangnya ide khilafah di sana.

Sebagai tambahan, apa yang dilakukan ISIS di Suriah tidak ada kaitannya dengan dakwah penegakan khilafah. Sebab faktanya, ISIS juga telah membunuh dan memerangi para pejuang dakwah yang memperjuangkan khilafah yang sebenarnya. Sejatinya ISIS adalah permainan Barat untuk mendiskreditkan ide khilafah dan menyerang negeri-negeri Islam dengan berbagai kekerasan dan teror.

 

Optimisme Tegaknya Khilafah

Segala upaya mengkriminalisasi khilafah tersebut pasti akan berakhir pada kegagalan. Sebabnya, upaya tersebut sekedar bertumpu pada narasi fiktif yang jauh dari nilai intelektualitas. Berbagai tudingan negatif pada khilafah terbukti hanya bersandar pada argumentasi lemah dan bahkan hoax.

Di tengah derasnya upaya kriminalisiasi dan monsterisasi khilafah baik di level lokal maupun global, ada berbagai optimisme bagi para pengemban dakwah yang memperjuangkan khilafah. Pertama: Pada tahun 2020 ini diprediksi oleh Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) akan berdiri Khilafah. Sebagaimana diketahui, pada Desember 2004 NIC merilis hasil kajiannya berjudul, “Mapping the Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project”.

Dokumen ini berisikan prediksi tentang empat skenario kondisi dunia tahun 2020. Salah satunya adalah berdirinya “A New Chaliphate” yang mereka sebut sebagai pemerintahan global Islam yang diprediksi mampu melawan dan menantang nilai-nilai Barat.

Kedua: Saat ini ideologi kapitalisme sedang berada di tepi jurang keruntuhannya. Ideologi ini sedang berjuang sekadar untuk memperpanjang masa eksistensinya. Berbagai gejolak politik global terakhir ini akan menjadi rangkaian fase kejatuhan ideologi kapitalisme. Pada konteks perang peradaban (clash civilization), kondisi ini sangat menguntungkan bagi umat Islam yang sedang berjuang mengembalikan ideologi Islam ke pentas kehidupan melalui berdirinya kembali negara Khilafah.

Patrick J. Buchanan, anggota tim penasihat utama pemerintahan Amerika, menyatakan hal yang sama dalam bukunya, The Death of the West: How Dying Populations and Immigrant Invasions Imperil Our Culture and Civilization. Dia berpendapat bahwa peradaban Barat saat ini sedang sekarat dan akan segera runtuh. Hal ini ditandai dengan terjadinya berbagai kemerosotan ekonomi, sosial, dan politik di Eropa dan Amerika.

Terakhir, Rasulullah saw. juga telah memberikan kabar gembira (bisyarah) kembalinya masa Khilafah Rasyidah setelah masa mulkan jabriyyan (kekuasaan diktator):

ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ نُبُوَّةِ

Kemudian akan datang masa Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah (HR Ahmad).

 

WalLahu a’lam bi ash-shawwab. [Dr. Muhammad K. Shadiq]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

17 − four =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password