Melatih Anak Taat Syariah

Taklif syariah memang belum dibebankan kepada anak-anak. Ia hanya dibebankan kepada orang-orang yang telah dewasa atau balig. Rasulullah saw., “Diangkat pena (taklif hukum) dari tiga golongan; orang tidur hingga bangun, anak-anak hingga balig dan orang gila hingga sadar.” (HR al-Baihaqi).

Hanya saja Islam memerintahkan kita untuk  melatih anak-anak kita sejak dini. Dengan itu, kelak saat mereka balig, mereka sudah paham dengan hukum-hukum Islam dan siap serta istiqamah dalam menjalankannya.

Ibnu Abbas berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi saw. Beliau bersabda kepadaku, “Nak, sungguh aku akan mengajari kamu beberapa kalimat: Jagalah (syariah) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah (syariah) Allah, niscaya engkau akan mendapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah. Bila engkau memohon pertolongan maka mohonlah pertolongan kepada Allah.” (HR Ahmad dan at-Tirmidzi).

Betapa besar dan betapa dalam pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah saw. kepada anak pamannya, Abdullah bin ‘Abbas, yang saat itu belum balig.

Demikian  halnya dengan cucu beliau  Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Ia dilahirkan pada tahun 3 hijriah (ketika Rasul saw. meninggal, ia berumur 7 tahun).  Hasan bin Ali ra. mengambil sebiji kurma dari kurma shadaqah (zakat). Kemudian ia memasukkan kurma itu ke dalam mulutnya (hendak memakannya). Nabi saw. lalu bersabda kepada dia, “Kakh, kakh,” agar ia mencampakkannya. Lalu beliau bersabda kepada dia, “Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadis ini menjadi dasar kuat bagi prinsip pendidikan anak, yaitu sejak dini diajarkan  untuk tidak memakan harta haram, menjauhi segala makanan yang tidak boleh dimakan, juga menjauhi segala perbuatan yang tidak dibenarkan Islam.

Secara khusus yang berkenaan dengan shalat, Nabi saw. telah bersabda, “Perintahlah anak-anak kalian agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun dan pukullah (jika tak mau shalat) tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Pada hadis ini, Rasulullaah saw. dengan tegas mensyariatkan agar pendidikan shalat dimulai sejak dini, yaitu sebelum balig. Bahkan ketika ia baru berumur tujuh tahun ia sudah diperintahkan untuk shalat. Tentu syariat ini memerlukan persiapan, yaitu dengan mengajarkan tatacara shalat, dimulai dari cara berwudhu, rukun-rukun shalat, wajib-wajibnya, sunnah-sunnahnya, hingga yang membatalkannya. Persiapan ini bisa dilakukan sejak dini walau ia belum diperintahkan dan tidak perlu dimarahi kalau tidak mau shalat.  Hanya saja,  bila sudah berumur tujuh tahun, maka disyariatkan untuk memerintahkan anak shalat, dan bila ia tidak mau maka kita memberi peringatan, cukup dengan ucapan. Bila sudah berumur sepuluh tahun maka disyariatkan memukul anak bila ia tidak mau shalat. Tentu dengan pukulan yang tidak membekas atau menyakitkan atau mengenai tempat-tempat yang berbahaya.

Dari beberapa hadis ini, telah sangat jelas bahwa kita diperintahkan untuk mendidik anak sejak dini, terkait akidah ataupun syariah, termasuk adab karena adab merupakan bagian dari hukum syariah.

Lalu apa upaya yang kita bisa lakukan untuk mewujudkan anak-anak yang taat syariah, tentu dengan mengikuti suri teladan kita yang terbaik, Nabi Muhammad saw.

Pertama: Tanamkan akidah dan sifat-sifat Allah sejak dini. Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak.   Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Allah Maha Pencipta dan Maha Mengatur.   Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.

Lebih jauh, anak dikenalkan dengan asma dan sifat-sifat Allah.  Ketika anak memahami dengan benar bahwa Allah Maha Melihat dan Mendengar—tentu  dengan bahasa yang ma’ruf,  sesuai dengan usia anak-anak kita—biidznilLah  kelak anak-anak kita paham, bahwa segala apa yang mereka perbuat selalu dalam pantauan Allah sehingga mereka berhati-hati dalam berbuat.   Selanjutnya,  insya Allah akan tumbuh kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorong anak gemar melakukan amal yang dicintai Allah.

Kedua: Tanamkan kecintaan kepada Rasulullah sejak dini. Menanamkan  kecintaan kepada Rasulullah tentu dimulai dengan mengenalkan  siapa Muhammad saw.,  bahwa Allah mengutus beliau sebagai contoh terbaik untuk umat Islam untuk menyampaikan syariah Allah.  Dari Ali bin Abi Thalib,  Rasulullah saw. bersabda :  “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal: mencintai nabimu, mencintai ahli baitnya dan membaca al-Quran, karena orang mengamalkan al-Quran nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tiada naungan kecuali dari-Nya bersama para nabi dan orang-orang yang suci.” (HR ath-Thabrani).

Ajak anak-anak memahami bahwa meneladani Rasulullah merupakan perintah Allah SWT. Dalam al-Quran dinyatakan (yang artinya): Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah (QS an-Nisa’ [4]; 64).   Agar anak semakin mencintai Nabi Muhammad saw.      kita harus rajin membacakan Sirah Nabawiyah, khususnya bagaimana Rasulullah memperjuangkan dan menegakkan Islam di muka bumi ini.  Dengan itu, selain anak-anak kita memahami syariah yang dibawa oleh Rasulullah dan mempraktikannya dalam kehidupan, mereka pun paham bagaimana seharusnya memperjuangkan Islam.

Ketiga: Mengasah akal anak untuk berpikir yang benar. Tantangan arus globalisasi budaya, informasi dan teknologi saat ini memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak-anak.  Kerap anak memiliki argumentasi sendiri terkait apa yang mereka lakukan.  Pandainya seorang anak berargumentasi belum tentu dia membangkang. Bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia bertanya.  Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memberikan informasi yang benar, yang bersumber dari ajaran Islam, al-Quran dan as-Sunnah, yang pada akhirnya informasi ini dijadikan pijakan dalam menilai berbagai informasi yang ia dapatkan.  Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak. Yang penting adalah merangsang anak menggunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita.

Keempat: Kenalkan syariah Islam, termasuk adab dan akhlak mulia. Anak harus dikenalkan dengan syariah Islam sejak dini, sebagaimana Hadis Rasulullah saw.,  “Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Demikian halnya dengan hukum-hukum yang lain, seperti kewajiban memakai khimar dan jilbab (bagi Muslimah), larangan mencuri dan sebagainya. Menjelaskan  ahkamul khamsah. Demikian halnya berkaitan dengan  akhlak seperti berbakti kepada ibu bapa, santun dan sayang kepada orang lain, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dsb. Mengajari anak tentang berbagai adab dalam Islam seperti makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum dan sesudah makan, menjaga kebersihan, mengucapkan salam, tidak menyakiti hewan dsb.

Kelima: Memberikan teladan bagi anak. Bagaimanapun anak-anak membutuhkan qudwah dan teladan yang baik, bahkan hingga ia dewasa.  Karena itu sudah seharusnya orangtua selalu memberi contoh yang baik kepada anak, agar tertanam dalam jiwa mereka, benih-benih kebaikan yang akan menghunjam dalam sanubari mereka, terbawa dalam setiap sikap dan perilaku mereka.  Rasulullah mencontohkan adab yang baik kepada Fathimah, dan terus diamalkan hingga dewasa.  Diriwayatkan oleh Aisyah ra., “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Nabi saw. dalam cara bicara maupun duduk daripada Fathimah.”  ‘Aisyah berkata lagi, “Biasanya apabila Nabi melihat Fathimah datang, beliau mengucapkan selamat datang kepada dia. Lalu berdiri menyambut dan mencium dia. Kemudian beliau menggamit tangannya hingga beliau dudukkan Fathimah di tempat duduk beliau. Begitu pula jika Nabi saw. datang kepada dia, maka Fathimah mengucapkan selamat datang pada beliau, kemudian berdiri menyambut beliau, menggandeng tangan beliau, lalu mencium beliau.” (Dishahihkan oleh Asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-Adabul Mufrad no. 725)

KeenamMenanamkan sikap tanggung-jawab atas perbuatan yang dilakukan.  Ketika anak sudah tamyiz, kita sudah bisa menumbuhkan  kesadaran pada anak-anak kita bahwa segala perbuatan yang mereka kerjakan akan ada pertanggung-jawabannya. Amal baik akan dibalas kebaikan dan amal buruk akan dibalas keburukan.  Dengan begitu anak-anak akan berhati-hati dalam bertindak dan berucap. Mereka tidak akan mudah jatuh dalam suatu keburukan. Jika melakukan suatu Kekhilafahan, ia akan segera menyadari lalu bertobat kepada Allah dan memperbaikinya agar menjadi lebih baik. Termasuk mendidik tanggung jawab pada anak adalah menegur mereka dari kesalahan yang telah mereka lakukan. Hal ini sebagaimana dicontohkan  Rasulullah saw.. ‘Abdullah bin Busr Ash-Shahabi ra ia berkata: Ibu saya pernah mengutus saya ke tempat Rasulullah saw. untuk memberikan setandan buah anggur. Akan tetapi, sebelum saya sampai kepada beliau saya makan (buah itu) sebagian. Ketika saya tiba di rumah Rasulullah, beliau menjewer telinga saya seraya bersabda, “Wahai anak yang tidak amanah’” (HR Ibnu Sunni)

Rasulullah saw. memperlakukan anak sesuai dengan kadar kesalahan dan kondisi seorang anak. Sikap tanggung-jawab membuat anak-anak cerdas dalam mengontrol dan mengendalikan dirinya sendiri.

Ketujuh: Senantiasa memanjatkan doa tanpa henti untuk keluarga dan anak-anak.

Doa orangtua untuk keluarga dan anak-anaknya terutama pada waktu-waktu mustajab, merupakan senjata utama, terutama seorang ibu.   Karena itu perbanyaklah meminta kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan agar Allah membimbing mereka ke jalan yang lurus. Berdoa untuk kebaikan anak adalah salah satu ciri hamba Allah yang shalih (Lihat: QS al-Furqan [25]: 74).

WalLahu a’lam bi ash-shawwab. [Najmah Saiidah]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

eleven − 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password