Iman Abu Bakar

Bulan Rajab, yang di dalamnya terdapat peristiwa Isra’ Mi’raj, telah berlalu. Kita sekarang tengah berada pada bulan Ramadhan 1443 Hijrah. Meski begitu, ada satu hal yang harus tetap diingat. Apa itu? Yakni tentang bagaimana Abu Bakar mempercayai atau mengimani peristiwa Isra’ Mi’raj itu.

Iman Abu Bakar memang sangat istimewa. Baginda Rasulullah saw., sebagaimana disebut dalam hadits riwayat Tirmidzi yang dikutip oleh Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr al-Mantsuur, bahkan memuji Abu Bakar dengan mengatakan, “Andai keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penduduk bumi, niscaya keimanan Abu Bakar unggul.”

Ketika datang orang-orang musyrik kepada Abu Bakar menyampaikan cerita Nabi saw., bahwa ia baru saja tiba dari perjalanan Isra’ dan Mi’raj,  mungkin sambil berharap Abu Bakar tak mempercayainya, Abu Bakar menjawab ringan, “Ya. Bahkan aku membenarkan dia lebih jauh daripada itu. Aku percaya tentang wahyu langit yang turun pagi dan petang.”

Peristiwa Isra’ Mi’raj memang sangat luar biasa. Tak mudah bagi orang-orang yang hidup masa kini sekalipun untuk memahami, apalagi bagi orang-orang di masa itu. Jarak dari Masjdil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Palestina kurang lebih sekitar 1500 km. Jika dengan unta, kendaraan yang biasa dipakai pada waktu itu, perlu waktu tidak kurang dari 2 bulan. Apalagi ke Sidratul Muntaha yang bukan kepalang jauhnya. Namun, itu semua ditempuh nabi dalam waktu semalam. Aisyah ra., yang malam itu tidur bersama beliau, tak merasa kehilangan, baik pada awal tidur maupun saat beliau bangun, Nabi saw. masih ada di sisinya.

Jika demikian, lalu berapa kecepatan Nabi saw. bergerak pada malam itu? Dr. Ahmad Sasmito, seorang ahli astronomi Muslim, mencoba menghitung. Menggunakan model regresi linear dan persamaan gerak lateral dengan input data dari relativitas waktu yang disebut dalam al-Quran QS as-Sajdah ayat 5 dan QS al-Maarij ayat 4, diperoleh estimasi kecepatan perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi saw. paling sedikit adalah 900 triliun kali kecepatan cahaya. Kecepatan cahaya itu sendiri sekitar 300 ribu km/detik. Dengan kecepatan itu, dalam satu detik cahaya bisa lebih dari 9 kali mengelilingi bumi yang berdiameter sekitar 40.000 km. Dengan kecepatan itu pula, dalam 1 detik cahaya bisa sampai ke Bulan, 8 detik sampai ke Matahari. Untuk sampai ke ujung semesta yang bisa diamati hingga sekarang, diperlukan 46,5 miliar tahun cahaya.

Sebegitu dahsyat sesungguhnya peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu, lalu mengapa Abu Bakar bisa dengan ringan menanggapi aduan orang-orang musyrik itu. Ia menjelaskan, “Sungguh aku telah membenarkan dia perihal khabar langit (wahyu Allah). Lalu bagaimana mungkin aku mengingkari kabar dalam peristiwa itu (Isra’ Mi’raj). Selama (Rasulullah) berkata, maka sungguh dia benar.”

Atas sikap itulah, sebagaimana disebut dalam hadis riwayat al-Hakim, Aisyah mengatakan, “Itulah mengapa beliau dinamakan Abu Bakar ash-Shiddiq (orang yang membenarkannya).”

Jawaban Abu Bakar di atas dijadikan gambaran oleh para ulama, bahwa iman yang benar adalah iman yang tidak mempertanyakan apa yang dilakukan oleh pembawa risalah, semua percaya dan iman padanya, sekalipun tidak masuk akal.

Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam kitab tafsirnya, mengatakan bahwa keimanan yang ada dalam diri Abu Bakar merupakan representasi dari firman Allah SWT dalam QS al-Anfal ayat 2, yang pada intinya dikatakan bahwa orang yang beriman itu akan tergetar hatinya bila disebut nama Allah dan akan bertambah imannya bila membaca atau dibacakan kepada dia ayat-ayat-Nya.

++++

Iman Abubakar seperti inilah yang ini hari harus kita teladani. Ia mendasarkan imannya bukan pada perkara yang harus diimani, tetapi pada sumber atau dalil yang menjadi dasar mengapa kita harus percaya. Dia sangat kenal sosok seperti apa Nabi Muhammad itu. Orang yang terpercaya. Masyarakat menjuluki Muhammad dengan al-Amin, karena tak pernah sekalipun ia berdusta. Atas dasar itu, dengan tegas Abubakar, yang kelak menjadi khalifah pertama sepeninggal nabi, mengatakan, ‘’ (Sepanjang ia berkata, ia pasti benar).

Nabi saw. sudah tidak ada lagi bersama kita ini hari. Yang ada adalah peninggalannya, yakni al-Quran dan as-Sunnah. Meneladani iman Abubakar, mestinya kita sekarang juga mengimani apa saja yang ada dalam al-Quran, bahwa semua yang tersebut di dalammya pastilah benar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus memperkokoh keimanan kita pada al-Quran, bahwa al-Quran itu benar-benar kalamullah. Ada banyak cara. Di antaranya adalah dengan menyimak pengalaman orang-orang kafir ketika berhadapan dengan al-Quran.

Dr. Gery Miller, ilmuwan Kanada yang juga seorang pendeta, dalam usaha meyakinkan jamaah di gerejanya akan kebenaran agamanya, berusaha menunjukkan kelemahan al-Quran. Dalam usahnya itu, ia membaca QS an-Nisa’ ayat 82. Dikatakan di sana, jika al-Quran bukan datang dari sisi Allah, pasti akan banyak perselisihan di dalamnya. Seolah menjadapatkan jalan untuk mengetahui kelemahan al-Quran, Miller lalu berusaha mencari perselisihan-perselisihan itu. Ketemu? Setelah melakukan riset selama kurang lebih 5 tahun, alih-alih menemukan kelemahan, yang dijumpai Miller justru adalah kekuatan al-Quran. Di dalam al-Quran bukan hanya tidak dijumpai perselisihan antara ayat satu dengan ayat lain, bahkan juga tidak dijumpai perselisihan antara ayat al Quran dengan sains modern. Menyadari hal itu, akhirnya pada tahun 1978 dengan mantap Miller memutuskan masuk Islam, mengganti namanya menjadinya Abdul Wahid Omar.

Kepada umat Islam, Gary Miller memberikan petuah: “Wahai umat Islam, kalian tak mengetahui betapa Allah SWT telah melimpahkan kemuliaan kepada kalian, yang tak dimiliki oleh agama-agama lain. Untuk itu, bersyukurlah karena kalian telah menjadi Muslim. Berpikirlah secara mendalam untuk mengungkap kebenaran-kebenaran yang indah dalam al-Quran. Saya mempelajari al-Quran secara mendalam. Kitab inilah yang menyebabkanku mendapatkan hidayah Ilahi,”

Hal kurang lebih sama dialamai oleh Maurice Bucaille, dokter ahli bedah berkebangsaan Prancis yang didapuk menjadi tim peneliti mumi Firaun. Dia sangat heran, bagaimana bisa mumi yang berumur ribuan tahun itu masih utuh. Bertanya kesana-kemari, ia tak juga menemukan jawaban. Akhirnya, saat hadir dalam seminar di Kairo tentang mumi, ia sampaikan keheranan itu. Saat itu, ia mendapatkan jawaban dari panelis dengan mengutip ayat 92 surah Yunus. Di sana dikatakan bahwa jasad Fir’aun memang diselamatkan Allah (di dalam laut) untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang yang hidup sesudahnya.

Hasil penelitian tentang mumi itu kemudian ditulis dalam buku berjudul La Bible, le Coran et la Science  (Bibel, al-Quran dan Ilmu Pengetahuan Modern) yang terbit pada 1976. Buku ini menjadi best-seller internasional, dan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Buku ini pada intinya menerangkan bagaimana al-Quran sangat konsisten dengan ilmu pengetahuan dan sains, sedangkan Al-Kitab atau Bibel tidak demikian. Setelah 2 tahun lebih dulu mempelajari Bahasa Arab, Bucaille akhirnya masuk Islam

++++

Bulan Ramadhan disebut juga Syahrul Quran, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Quran. Inilah bulan yang semestinya mendorong kita untuk lebih dekat dengan al-Quran, lebih mengimaninya, sehingga lebih banyak membaca dan mentadaburinya, agar lebih giat mengamalkan serta memperjuang-kannya.

Jika Abu Bakar ketika itu mempercayai apapun yang dikatakan Nabi saw., begitu juga semestinya kita saat ini, mempercayai apapun yang ada di dalam al-Quran. Dengan keimanan seperti itulah, Abu Bakar menjadi sekondan (Sahabat) utama Nabi saw. dalam mengemban risalah Ilahi ini. Dengan keimanan seperti Abu Bakar pula, kita akan tetap istiqamah di jalan dakwah sampai menang atau kita binasa karenanya. Insya Allah. [H. M. Ismail Yusanto]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

one × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password