Makna Hijrah

Tren hijrah semakin popular. Komunitas hijrah makin subur di tengah-tengah masyarakat.

Di kalangan umat Islam hijrah selalu dikaitkan keluarnya Nabi saw. dari Makkah ke Madinah. Hijrah Nabi saw. ini lalu menjadi awal perhitungan Tahun Hijrah.

 

Pengertian Hijrah

Memahami hijrah secara komprehensif dapat dijelaskan berdasarkan bahasa (lughah, etimologi) dan istilah (mushthalah, terminologi).

Secara bahasa, hijrah berasal dari Bahasa Arab: hijrah. Akar kata dari fi’il (kata kerja); (hâjara–yuhâjiru–muhâjarat[an] wa hijrat[an]–muhâjir[un]–muhâjar[un]). Artinya: keluar, berpindah, menjauhi, meninggalkan. Hâjara min makânin kadzâ (berpindah dari tempat ini), wa hâjara ‘anhu (meninggalkan dan keluar darinya menuju tempat lain).1

Allah SWT berfirman:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنۢ بَعۡدُ وَهَاجَرُواْ وَجَٰهَدُواْ مَعَكُمۡ فَأُوْلَٰٓئِكَ مِنكُمۡۚ ٧٥

Orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian berhijrah serta berjihad bersama kamu, mereka itu termasuk golongan kamu (juga) (QS al-Anfal [8]: 75).

 

Jadi pengertian hijrah secara bahasa adalah keluar, berpindah, menjauhi dan meninggalkan.

Adapun menurut istilah (musthalah, terminology), hijrah adalah keluar dan pindah dari wilayah kafir menuju wilayah Islam.2 Menurut Syaikh Dr. Muhammad Rawwas Qal’ahji dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ, hijrah adalah meninggalkan negara menuju negara lain untuk menetap di sana. Jadi hijrah menurut syariah atau dalam pandangan Islam adalah keluar dari wilayah kafir (dâr al-kufr) menuju wilayah Islam (dâr al-Islâm). (lihat: QS  an-Nisa’ [4]: 97).

Berdasarkan pengertian hijrah tersebut, hijrah menjadi dua jenis.3 Pertama: Hijrah makaniyah hissiyah zhâhirah, yaitu hijrah yang berkaitan tempat, keluar dan berpindah dari wilayah kufur ke wilayah Islam; dari tempat yang banyak fitnahnya ke tempat sedikit atau tidak ada fitnah. Dalilnya QS an-Nisa’ ayat 97 di atas. Ini sama dengan pengertian terminologi hijrah.

Kedua: Hijrah hâliyah ma’nawiyah bâthiniyah, yaitu hijrah yang berkaitan dengan kondisi, berubah dari kondisi tidak baik ke kondisi lebih baik, dari maksiat berubah menjadi taat kepada Allah. Ini adalah cakupan dari hijrah menurut bahasa. Dalilnya firman Allah SWT:

وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ  ٥

…dan perbuatan dosa (menyembah berhala), tinggalkanlah (QS al-Mudatstsir [74]: 5).

 

Rasulullah saw. pun bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah (HR al-Bukhari).

 

Hukum Seputar Hijrah

Hijrah sepanjang hidup Rasulullah Saw. terjadi tiga kali, yaitu: Pertama, hijrah ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian sebanyak 16 sahabat (12 laki-laki, 4 wanita) yang dipimpin oleh ‘Utsman dan didampingi Ruqayyah demi menyelamatkan agama mereka dari fitnah (lihat tafsir QS [39]: 10).

Kedua, hijrah ke Habasyah lagi. Setelah hijrah pertama tinggal sekitar 3 bulan di Habasyah, sebagian mereka kembali ke Makkah karena ada kabar kafir Quraisy sudah melunak. Ternyata kabar itu dusta. Karena itu Rasulullah saw. mengizinkan para sahabat hijrah yang kedua ke negeri Habsyah, sebanyak 102 sahabat (83 laki-laki, 19 wanita), demi menyelamatkan agama dan jiwanya dari penindasan orang kafir Quraisy.

Ketiga, hijrah ke Madinah bersama Nabi saw. untuk membangun kekuatan umat dan mendirikan Negara Islam (Dâr Islâm).

 

  1. Hijrah masih berlaku sampai sekarang.

Banyak hadis menyebutkan bahwa tak ada lagi hijrah setelah penaklukan Kota Makkah. Rasulullah saw., misalnya, bersabda, “Lâ hijrata ba’da fath Makkah (Tak ada hijrah setelah pembebasan Kota Makkah) (HR al-Bukhari).”

Nabi saw. bersabda, “Lâ hijrata ba’da al-fath (Tak ada hijrah setelah pembebasan).”

Beliau pun bersabda, “Qad inqatha’at al-hijrah walâkin jihâd[un] wa niyyat[un] (Sungguh hijrah telah selesai, tetapi hanya jihad dan niat).”

Ada pula riwayat tentang Sofwan ibn Umayyah ketika ia masuk Islam. Ia mendapat informasi bahwa tak ada agama bagi seseorang yang tidak berhijrah. Ia lalu datang ke Madinah. Nabi saw. kemudian bertanya, “Apa yang membawa kamu kemari, wahai Abu Wahb? Sofwan menjawab bahwa seseorang mengatakan: tiada agama bagi orang yang tidak berhijrah. Lalu Nabi saw. bersabda, “Kembalilah Abu Wahb ke dataran Makkah yang luas! Tinggalilah rumah kalian semua. Hijrah telah tiada. Yang ada hanya jihad dan niat. Jika kalian ingin lari maka larilah!”

Jika ditelaah, hadis-hadis ternyata mengandung ‘illat syar’iyah. Kalimat “setelah pembebasan Makkah” mengandung ‘illat. Jadi, pembebasan Kota Makkah adalah ‘illat atas peniadaan hijrah. ‘Illat inilah yang menentukan hukum hijrah. Ini tidak terbatas pada kota Makkah semata, tetapi semua kota yang telah dibebaskan. Dalilnya, ada satu riwayat yang tidak menyebutkan nama kota secara spesifik, yakni “tidak ada hijrah setelah pembebasan” yang maknanya bersifat umum. Ini didukung oleh hadis dari ‘Aisyah ra. saat ditanya tentang hijrah, lalu dijawab, “Tidak ada hijrah hari ini. Dulu orang Mukmin lari dengan membawa agamanya kepada Allah dan Rasul-Nya karena takut mendapatkan fitnah. Adapun sekarang, Allah telah memberikan kemenangan pada Islam. Orang Mukmin dapat menjalankan ibadah kepada Tuhannya di manapun dia mau.” (HR al-Bukhari).

Hadis itu jelas menunjukkan bahwa hijrahnya orang Islam sebelum pembebasan Makkah itu karena ingin menyelamatkan agamanya dari fitnah. Setelah pembebasan Makkah, hal itu tidak terjadi lagi, karena orang Islam telah berani menampilkan agamanya dan menjalankan hukum-hukum Islam.

Jadi pembebasan sebuah daerah adalah sebuah faktor (‘illat) penafian hijrah. Ini tidak sebatas Kota Makkah belaka. Dengan begitu, yang dikehendaki adalah tidak ada hijrah setelah pembebasan, dari satu daerah yang telah dibebaskan.

Adapun sabda Nabi saw. kepada Sofwan “hijrah telah selesai”, artinya hijrah dari Makkah setelah kota tersebut dibebaskan telah berakhir. Pasalnya, yang namanya hijrah adalah keluar dari negeri kafir atau wilayah kafir. Saat itu Makkah telah dibebaskan dan statusnya menjadi wilayah Islam. Jadi tidak ada lagi negeri kafir atau wilayah kafir Dengan demikian sejak itu tak ada lagi hijrah. Itu berlaku pada semua negeri yang dibebaskan. Tak ada lagi hijrah dari wilayah tersebut. Ini didukung oleh hadis dari Mu’awiyah ra. yang berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Hijrah tak pernah berhenti selamat tobat masih diterima. Tobat akan terus diterima sampai matahari terbit dari barat.” (HR Ahmad).

Ada  juga Hadis Nabi saw., “Hijrah tak akan pernah berhenti selama masih ada jihad.”

Dalam riwayat lain juga dinyatakan, “Hijrah tak akan pernah berhenti selama orang-orang kafir masih diperangi.”

Semua itu menunjukkan bahwa hijrah dari wilayah kafir menuju wilayah Islam masih ada dan tidak berhenti.

 

  1. Hijrah dari darul kufur ke Darul Islam.

Hijrah disyariatkan sejak hijrah pertama hingga Hari Kiamat, yaitu keluar dari wilayah kafir menuju wilayah Islam. Ini  (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 97-99).

Jarir ibn Abdullah menuturkan bahwa Nabi saw. bersabda:

أَنَا بَرِيءٌ مِنْ كُلِّ مُسْلِمٍ يُقِيْمُ بَيْنَ أَظْهُرِ الْمُشْرِكِيْنَ, قَالُوْ: يا رَسُوْلَ اللهِ, وَلِمَ؟ قَالَ: لاَ تَرَاءَى نَارَاهُمَ

“Saya berlepas diri dari setiap Muslim yang berada di tengah-tengah kaum musyrik.” Para sahabat bertanya, “Mengapa, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cahaya keduanya tak tampak.” (HR Abu Dawud).

 

Berdasarkan ini, diambil pengertian hijrah dari wilayah kafir menuju wilayah Islam.

Istilah ad-dâr secara bahasa adalah tempat, rumah dan daerah atau wilayah. Bisa juga berarti suku. Dârul harbi berarti daerah musuh. Tidak ada perbedaan pendapat bahwa daerah kafir yang dihuni kaum kafir dengan aturan yang mereka terapkan adalah daerah harbi dan kufr. Begitu juga arena peperangan yang sudah dijadikan ghanimah oleh kaum Muslim, tetapi belum diterapkan hukum-hukum Islam. Statusnya adalah daerah musuh dan daerah kafir meskipun berada di bawah kekuasaan kaum Muslim. Kalimat dârul harbi dan dârul kufr artinya sama; ditujukan pada daerah musuh dan daerah pertempuran. Begitu pula tidak ada perbedaan, daerah Islam adalah daerah yang tunduk pada hukum Islam dan diatur oleh kaum Muslim, baik dihuni kaum Muslim atau kaum dzimmi.

Status daerah sebagai daerah Islam atau daerah kafir ditentukan oleh dua hal: Pertama, penerapan hukum Islam. Kedua, adanya jaminan keamanan dengan kekuasaan kaum Muslim.

Kalau dalam suatu daerah terdapat dua unsur di atas, maka daerah tersebut adalah daerah Islam, dan beralih dari daerah kafir menjadi daerah Islam. Namun, jika salah satu unsur di atas tidak terpenuhi, maka tidak bisa dianggap sebagai daerah Islam. Artinya, daerah yang tidak menerapkan hukum-hukum Islam itu adalah daerah kafir. Sama halnya ketika suatu daerah menerapkan hukum-hukum Islam, tetapi keamanannya tidak dalam kekuasaan kaum Muslim. Kedua unsur diatas adalah syarat mutlak agar sebuah daerah tetap dianggap sebagai daerah Islam.

 

Orang yang Tidak Berhijrah

Hukum orang yang tidak berhijrah ditentukan dengan kemampuan yang ada pada dirinya. Dalam kondisi tertentu bisa wajib, sunnah atau mubah (boleh), dan bisa haram baginya berhijrah.4

Seseorang wajib berhijrah jika mampu melakukan hijrah dan dia tidak mampu menampilkan agamanya, tidak dapat melaksanakan hukum-hukum Islam yang harus dilaksanakan. Allah SWT berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا  ٩٧

Sungguh orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kalian ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah).” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kalian dapat berhijrah di bumi itu?” Orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali (QS an-Nisa’ [4]: 97).

 

Bentuk khabar dalam ayat ini berarti amar, perintah, termasuk tuntutan, seakan-akan Allah SWT berfirman: Berhijrahlah! Tuntutan dalam ayat ini disertai ta’kid (penegasan) dan ancaman berat bagi yang tidak berhijrah, yaitu masuk neraka. Tuntutan itu sifatnya tegas. Artinya, hijrah dalam kondisi seperti ini hukumnya adalah fardhu, berdosa ketika ditinggalkan.

Hijrah menjadi mubah atau boleh tidak berhijrah jika kaum Muslim tidak mampu dan tak berdaya melakukan hijrah karena sakit, misalnya, atau dipaksa untuk tidak hijrah atau lemah, seperti para wanita, anak-anak dan yang menyamai mereka. Ini seperti yang tertuang dalam QS an-Nisa’ [4]: 98-99. Dalam hal ini Allah memaafkan mereka dan mereka tidak dituntut melakukan hijrah.

Hijrah menjadi sunnah atau anjuran jika kaum Muslim mampu berhijrah, juga mampu mengekspresikan agamanya dan melaksanakan tuntutan-tuntutan syariah. Disunahkan karena Rasulullah saw. memilih hijrah dari Makkah sebelum dibebaskan dan statusnya masih sebagai wilayah kafir. Ini juga berdasarkan firman Allah dalam QS 2: 218, 9: 20 dan 8: 72,75.

Hijrah menjadi haram jika kaum Muslim mampu menampilkan agamanya dan menjalankan hukum-hukum syariah, juga sanggup mengubah status wilayah yang mereka tempati dari wilayah kafir menjadi wilayah Islam. Saat tidak berhijrah dalam kondisi seperti ini mereka dianggap lari dari kewajiban berjihad.

 

Khatimah

Semoga momentum makna hijrah tahun ini menjadikan kita tetap istiqamah berjuang dan berkorban hingga terwujud Dâr Islâm sebagai wadah berhijrah membangun ukhuwah islamiyah serta kejayaan Islam dan kaum Muslim.

WalLâhu a’lam wa ahkam bi ash-shawâb. [Akrom AH, Lc., MA.]

 

Catatan kaki:

1        Mu’jam al-Ma’ânî al-Jâmi’; hâjara, www.almaany.com/ar/dict/ar-ar/الهجرة/

2        Abû Faishal al-Badrânî, Ahkâm al-Hijr wa al-Hijrah, hlm. 3; Al-Qâdhî Taqiyuddîn an-Nabhânî, Asy-Syakhshiyah, 2/266.

3        Abû Faishal al-Badrânî, Ahkâm al-Hijr wa al-Hijrah, hlm. 31.

4        Al-Qâdhî Taqiyuddîn an-Nabhânî, Asy-Syakhshiyah, 2/266.

 

 

0 Comments

Leave a Comment

twenty − twelve =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password