100 Tahun Tanpa Khilafah

Pada peringatan ke-100 keruntuhan-nya, di tengah situasi pandemi global dan resesi berskala besar, Khilafah Islam diperbincangkan dan diperdebatkan di seluruh dunia. Sebagian orang menganggap Khilafah utopis. Sebagian lagi menganggap Khilafah sebagai ancaman. Sebagian lainnya menganggap Khilafah sebagai bagian dari Islam yang mendapat porsi pembicaraan yang sedikit di masyarakat.

Setelah menghapus konsep itu dari pikiran kaum Muslim, kaum kuffar Barat tidak mampu untuk menghapus Khilafah dari sejarah.

Pada peringatan ke-100 keruntuhannya, ketika negara-negara Barat berupaya mengokohkan dominasinya di negeri-negeri Islam. Umat Islam bagi Barat seperti binatang buruan yang siap dimangsa. Benarlah ungkapan “umat Islam bagai anak yatim dalam perjamuan para penjahat”. Negeri-negeri Muslim menderita.

 

Irak

Pendudukan yang brutal itu adalah hasil dari rencana dan proyek jahat yang sistemik. Didukung oleh Pemerintah Amerika secara berturut-turut. Dengan beragam jenis perbedaan iramanya. Menempatkan negeri ini—yakni Irak—dalam jurang bencana dan malapetaka yang begitu mengerikan hingga membuat beruban setiap bayi baru dilahirkan. Sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar. Padahal di sisi Allahlah (balasan) makar mereka itu. Sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya (TQS Ibrahim [14]: 46).

Negara kafir penjajah Amerika tidak berhenti dengan kekuatan militernya yang mematikan. Amerika juga menghimpun upaya massif yang dilakukan oleh sejumlah pemerintah yang menjadi anteknya. Mereka saling membantu dalam memperkuat eksistensinya dan memperpanjang umurnya. Utamanya Iran dan Turki yang berada di garis depan. Juga para boneka otoritas Arab dan non-Arab yang berkolaborasi dengan penjajah.

 

Uighur

Rezim Cina yang jahat membangun kamp pendidikan ulang politik bagi sekitar 2 juta umat Islam. Tujuannya adalah mengembalikan program pemikiran politik di benak Muslim Uighur yang ditahan di kamp itu, menghapus keyakinan islami mereka dan mengubah identitas mereka sejak akarnya.

Menurut laporan yang dilansir oleh Associated Press, berdasarkan kesaksian salah seorang yang berhasil keluar dari kamp itu, para tahanan dipaksa memakan daging babi, meminum khamar, dilarang berwudhu. Mereka juga dipaksa menghapal lagu-lagu yang memuji-muji partai Komunis Cina. Mereka dipaksa mendengarkan kisah-kisah historis yang melecehkan anak-anak ras mereka dan agama mereka serta menuduh mereka terbelakang.

 

Rohingnya

Keadaan Muslim Rohingya belum berubah, bahkan kian memburuk dan makin kompleks. Dari mulai genosida di negeri asal mereka hingga persoalan hilangnya hak kewarganegaraan mereka di tengah lautan. Semua ini disebabkan oleh sistem status quo dunia yang terus memelihara rezim predator Myanmar dan rezim-rezim boneka Muslim yang abai terhadap Muslim Rohingya.

Solusi delusif berupa perundingan diplomatik yang sia-sia dan perjanjian setengah hati terus ditawarkan berulang oleh forum bilateral maupun internasional. Saat Muslim Rohingya meregang nyawa di lautan, justru para pemimpin rezim sekular ini mencukupkan diri dengan drama diplomasi murahan daripada menolong puluhan ribu pengungsi Rohingya menjadi warganegara mereka.

Saudara-saudara kita, Muslim Rohingya, tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Sudah terlalu lama umat Islam disuguhi sajian teater diplomasi murahan yang tumpul. Sudah terlalu banyak pula peristiwa berdarah yang menindas umat Islam seperti di Palestina, Suriah dan sekarang Rohingnya. Semuanya selalu berakhir di meja perundingan yang kosong.

 

Kashmir

Dulu India termasuk wilayah di bawah kekuasaan Khilafah Islamiyah. Setelah Khilafah berhasil dibubarkan dan penjajahan Inggris mencaplok wilayah tersebut dan menyerahkannya kepada kaum Hindu India, kaum Muslim terusir dan terzalimi. Lebih dari 47.000 orang tewas dalam pembunuhan di Kashmir India sejak akhir 1980-an. Para pejuang Kashmir menginginkan kemerdekaan wilayah itu dari India atau penggabungannya dengan Pakistan yang penduduknya beragama Islam.

Pada tahun 1947, kaum Hindu mulai melakukan pembantaian beramai-ramai atas Muslim Kashmir. Sekitar 3370 disiksa hingga tewas. Hampir 100.000 dipenjara tanpa pengadilan. Ribuan wanita Muslimah dirampas kehormatannya. Lebih dari 70.000 syahid. Kebrutalan ekstremis Hindu itu bukan hanya di Kashmir, tetapi juga menimpa Muslim Gujarat. Pada tahun 2002, ratusan Muslimah dan anak-anak perempuan dicabuli dan kemudian dibakar oleh kaum Hindu India.

 

Palestina

Sekitar 73 tahun yang lalu, 14 Mei 1948, di Bumi Palestina, Israel memproklamirkan kemerdekaan negara Israel. Sebuah kemerdekaan yang sejak awal patut dipertanyakan, merdeka dari siapa? Peristiwa yang bersejarah itu menjadi tonggak berdirinya negara yang penuh darah di negeri Islam yang diberkati Allah SWT itu.

Penderitaan umat Islam Palestina pun tak terperikan. Saat berdiri, Israel mengusir sekitar 1 juta warga Palestina, merampas hak milik warga Palestina, mencaplok puluhan kota dan ratusan desa. Teror dan pembantaian terjadi di mana-mana. Terjadilah Peristiwa Deir Yasin (10 April 1948). Sekitar 254 Muslim Palestina terbunuh 100. Di antaranya adalah anak-anak dan wanita. Unit 101 yang didirikan Moshe Dayan menteror warga Palestina.

Pada tahun 1948 tercatat 385 dari 475 desa Palestina  dibuldoser sehingga rata dengan tanah. Saat ini diperkirakan terdapat 6 juta pengungsi Palestina yang menderita di kamp-kamp pengungsi. Hollocaust (pembantaian masal) oleh Zionisme Israel terus terjadi hingga sekarang dengan mendapatkan jaminan perlindungan dari Amerika.

 

Afganistan

Pasukan NATO yang dipimpin oleh Amerika telah melakukan pembantaian terhadap anak-anak, perempuan dan warga sipil yang tidak bersenjata selama bertahun-tahun berlangsungnya pendudukan di Afganistan. Pasukan NATO terus melakukan pembantaian terhadap warga sipil; di pernikahan, pemakaman, masjid dan perumahan selama sepuluh tahun. Apakah semua pembantaian itu dilakukan karena faktor kesalahan ataukah karena kebencian yang tertanam kuat dalam hati mereka terhadap kaum Muslim?

Demokrasi yang dibanggakan Amerika hanyalah topeng untuk melindungi kepentingan serta pengaruhnya di kawasan itu. Amerika berusaha memanfaatkan gelombang revolusi dan menyebarkan “janji manis” demokrasinya setelah kegagalan model perbudakan dan penindasan yang dijalankan oleh para penguasa bonekanya. Dengan ini, sebenarnya Amerika tidak ingin rakyat di kawasan tersebut keluar dari hegemoninya.

 

Afrika

Kemunduran dan kemiskinan di Afrika bukanlah masalah yang hakiki, melainkan sesuatu yang direkayasa. Baratlah yang merekayasa kemiskinan itu. Para penguasalah yang menjaganya. Mereka pula yang mengimplementasikan arahan-arahan Barat di negeri-negeri kaum Muslim. Afrika dan Timur Tengah sesungguhnya sarat dengan kekayaan alam. Siapa saja yang mempelajari masalah ini, dia akan mengetahui bahwa kebodohan dan kemunduran dipertahankan Barat. Baratlah yang menginginkan kebodohan mereka itu. Para pemimpin hanyalah pelayan Barat.

Masalah kebodohan dan kemunduran ini bukan masalah hakiki, tetapi masalah yang direkayasa. Masalah kemunduran dan kebodohan itu malahan dijadikan oleh Barat sebagai konveyor untuk mengalirkan kekayaan milik umat dan kekayaan alam mereka ke Barat. Umat harus mengetahui bahwa semua kekayaan mereka itu telah dirampas.

 

Suriah

Dunia telah menyaksikan lagi serangan barbar dari rezim kriminal Assad yang tenggelam dalam perang melawan rakyat Suriah. Meskipun telah bertahun-tahun melakukan pengeboman, serangan udara, penyiksaan dan taktik pengepungan, rezim Assad masih tidak dapat menundukkan orang-orang yang  menuntutnya untuk disingkirkan. Assad telah dipaksa untuk menggunakan senjata semacam itu sebagai sarana untuk memukul kehendak umat, tetapi penggunaan taktik barbar yang berulang-ulang  masih belum dapat mengamankan rezimnya.

Para perempuan dan anak-anak Syam telah mengalami dua tragedi penderitaan di kamp-kamp pengungsian: tragedi kemiskinan, penghinaan, pelecehan dan  diserang penyakit. Laporan-laporan  menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah kelahiran prematur akibat kekurangan gizi dan stres psikologis dan  rasa takut yang menghantui karena terpaksa keluar dan menyelamatkan diri dari negaranya sendiri. Rezim-rezim jahat di negeri-negeri Muslim malah berpartisipasi dalam konspirasi Barat.

 

Tantangan Global

Secara global, kaum Muslim berada dalam krisis dan hegemoni kapitalisme timur dan barat. Pada saat yang sama para penguasa saat ini adalah lemah di hadapan musuh-musuh umat. Tidak pernah berani melakukan perlindungan riil apapun yang harus dilakukan. Baik di Palestina, Burma, Uighur, Kashmir, Afganistan, Irak maupun Suriah. Namun, mereka perkasa di hadapan umat Islam, membusungkan dada mereka dan menyerang prinsip-prinsip yang dipegang teguh dari Islam. Tentu demi tuan-tuan asing mereka. Lalu bagaimana umat ini bisa menerima para pengkhianat itu menggunakan kekuatan Anda untuk mendukung kapitalisme yang menghancurkan negeri? Bagaimana bisa umat ini masih membiarkan para agen itu untuk menekan Islam dan rakyatnya, dengan menolak hak-hak mereka untuk hidup dengan Islam? [Umar Syarifudin; (Pengamat Politik Internasional)]

 

0 Comments

Leave a Comment

twenty − eighteen =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password