Anakku, Merdekakanlah Dirimu…

Sore itu kami sedang duduk-duduk di teras.  Kakak bercerita, bagaimana temen-temannya saat ini keranjingan K-Pop.  Adiknya menimpali, penggemar lagu Barat masih lebih banyak.  Film Barat juga masih paling ramai di bioskop.  Kakak mengiyakan, lantas bercerita teman-temannya berburu jaket pemusik Barat yang sedang viral. Sang adik bercerita teman-temannya lagi tren mengikuti potongan rambut dan gaya pakaian artis tertentu.  Tiba-tiba, si bungsu yang masih berusia 9 tahun saat itu, menyeletuk, “Itu namanya kita masih dijajah.”

Kakak-kakaknya sontak tertawa sambil terheran-heran, bagaimana adik kecil kami bisa menganalisis situasi.  Ayahnya mengacungkan jempol, “Adik benar sekali.”

 

Merdeka sering dipahami hanya sekadar bebas dari pendudukan negara lain. Indonesia dikatakan telah merdeka 77 tahun lamanya.  Namun, menurut Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani dalam kitab Mafaahim Siyaasiyah, penjajahan sesungguhnya tidak akan benar-benar berakhir. Kapitalisme akan selalu berupaya menyebarkan paham dan mempertahankan pengaruhnya ke seluruh penjuru dunia. Metode (thariiqah)-nya, menurut Nabhani, melalui penjajahan (isti’maar). Penjajahan adalah penguasaan (pengendalian) dan dominansi di bidang politik, ekonomi, sosial pendidikan, budaya dan Hankam.

Kondisi inilah yang mengancam kelangsungan hidup suatu bangsa. Apalagi bila penjajahan pemikiran yang dilakukan Barat berhasil menguasai cara pandang dan cara pikir generasi muda. Tentu akan sangat mudah bagi mereka untuk menguasai semua bidang kehidupan suatu bangsa tanpa perlu melakukan pendudukan fisik.

 

Kemerdekaan Hakiki

Mencermati kondisi umat Islam umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya, terlihat bahwa kita masih terbelenggu oleh penjajahan.  Sistem ekonomi yang kita gunakan adalah sistem kapitalisme yang kita adopsi dari Barat.  Sistem ini memaksa kita untuk tunduk menjadi pasar, pemasok sumberdaya alam dan pekerja bagi negara-negara kaya.

Dalam politik, kita pun masih terbelenggu dengan kepentingan asing. Memang para pemimpin kita terpilih melalui mekanisme Pemilu. Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa ada kepentingan para pemilik modal dan negara besar di belakang mereka.

Yang paling mengerikan adalah penjajahan di bidang pemikiran dan tsaqaafah.  Kurikulum yang kita gunakan adalah adopsi dari pemikiran Barat. Begitu pula dasar dari tsaqaafah yang diajarkan dan disebarluaskan di tengah umat berasal dari pemikiran sekulerisme, liberalisme dan materialisme.

Sistem rusak inilah yang menguasai kita, mengarahkan pemikiran, perasaan dan kecenderungan-kecenderungan tingkah laku kita sehingga tanpa sadar kita sebenarnya tengah dijajah. Padahal sebagai seorang Muslim, semestinya yang menjadi standar dan arah kita adalah akidah Islam.

Dalam Islam, merdeka adalah terbebas dari segala bentuk penghambaan terhadap makhluk menuju penghambaan totalitas hanya kepada Allah SWT.  Seorang hamba yang ia tidak tunduk kepada siapapun, tidak mengambil standar dari siapa pun, tidak berhukum dengan hukum siapa pun kecuali hanya hukum Allah semata, berarti ia telah memerdekakan dirinya dengan kemerdekaan yang hakiki.

Lantas, bagaimanakah kita memahamkan makna kemerdekaan hakiki ini kepada anak-anak kita, agar mereka terbebas dari penghambaan kepada selain Allah?

 

Akidah Islam

Untuk membentuk standar yang sahih dalam berpikir dan bersikap, sedari dini anak harus ditanamkan akidah Islam.  Keyakinan bahwa Allah adalah Sang Khalik dapat dibentuk dengan mengajak anak memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah di bumi, di langit dan di dalam tubuhya sendiri.  Misalnya bagaimana tubuhnya menjalankan proses metabolisme tanpa ia harus mengendalikannya, bahkan ia tidak mampu mengendalikannya.

Ketika anak menyadari posisi Allah sebagai Pencipta, ia akan lebih mudah untuk diarahkan tunduk pada aturan-aturan-Nya dalam al-Quran yang dibawa Nabi Muhammad saw.  Bila sudah sampai pada tahap keyakinan terhadap al-Quran,  akan mudah untuk memahamkan anak terhadap cabang keyakinan lain seperti iman pada Hari Akhir, qadha-qadar dan semua yang bercabang dari keyakinan ini.

Dengan iman yang didapat dari  proses berpikir, anak akan mampu menjangkau mengapa ia hanya boleh memakai standar dari apa yang Allah tetapkan dalam berpikir, bersikap dan bertingkah laku. Ia sadar bahwa hal ini adalah konsekuensi dari kedudukannya sebagai seorang hamba.

Dalam proses ini kita perlu membiasakan anak untuk mengikatkan diri dengan hukum syariah.  Misalnya untuk menyuruh anak shalat, alih-alih kita mengatakan kalau tidak shalat dosa, kita jelaskan bahwa shalat itu perintah Allah, jalan yang Allah berikan agar kita bisa mendapat kasih sayang dan pahala yang besar dari Allah.

Begitu pula bila anak melanggar syariah, misalnya berbohong, alih-alih mengatakan, “Bunda tidak suka kamu berbohong”, kita katakan, “Allah tidak suka hamba-Nya berbohong, Ia melarang kita berbohong kecuali dalam 3 hal: siasat perang, mendamaikan dua saudara Muslim yang berselisih dan kebohongan suami-istri (untuk mengharmoniskan rumah tangga).”

Dengan ucapan-ucapan semacam ini, anak terbiasa bahwa yang dia jalankan adalah perintah Allah, bukan perintah orangtua semata. Begitu pun ketika orangtua melakukan perbuatan tertentu, perlu dijelaskan bahwa Allah telah memerintahkannya, atau mencintainya atau menginginkan mendapat ridha Allah semata dalam melakukannya.  Ketika meninggalkan suatu keburukan, orangtua menjelaskan bahwa perbuatan tersebut dilarang atau tidak disukai Allah.

Dengan pembiasaan semacam ini, anak akan lebih mudah memahami standar dalam beramal.  Begitu pun ketika memuji anak, kita tidak menggunakan kata-kata: kamu baik, kamu pintar, kamu shalih, ayah/bunda sayang dan sejenisnya yang akan mengarahkan anak pada kecenderungan riya terhadap manusia. Sampaikan bahwa Allah suka, Allah sayang, Allah akan berikan pahala terbaik, Allah akan ganti dengan yang lebih baik dan sebagainya untuk mengarahkan anak pada niat yang lurus.

 

Membentuk Maklumat yang Sahih Tentang Kemerdekaan

Merdeka berarti bebas untuk mengekspresikan ketundukan kepada Allah semata.  Ia tidak tunduk pada keinginan orang lain, tidak tunduk pada norma dan aturan yang lain, dan tidak tunduk pada tren atau gaya hidup tertentu yang viral, selama semua itu tidak sesuai dengan rambu-rambu dari Allah.

Pemahaman seperti ini bisa disampaikan melalui cerita, diskusi atau dialog dengan anak sehingga tidak ada kesan menggurui yang menyebabkan anak menolak.  Sebagai contoh kita bisa menceritakan keberanian dan ketegasan Ruba’i bin Amir berikut:

 

Menjelang Perang al-Qadhisiyah, Ruba’i bin Amir dikirim oleh panglima tentara Islam ketika itu, Saad bin Abi Waqqash, untuk menghadap panglima tentara Persia, Rustum. Ketika Ruba’i masuk ke dalam perkemahan Panglima Rustum, ia hanya berpakaian sederhana. Dengan  menunggang kuda pendek dan menyandang senjata serta perisai, ia masuk tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya.  Ia tidak peduli dengan kemewahan pakaian dan mahkota Rustum.  Tidak peduli dengan permadani dan bantal-bantal bertenun benang emas yang dihamparkan.  Ia tidak merasa rendah diri di hadapan semua itu karena ia membawa misi yang lebih mulia, meninggikan kalimat Allah.

Rustum lantas bertanya apa yang membuat kaum Muslim datang ke Persia.  Ruba’i menjawab tegas, “Allah SWT memerintahkan kami  untuk memerdekakan manusia dari menghambakan diri kepada  selain Allah dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam.”

 

Kisah Ruba’i ini membawa pelajaran besar bagi kita dan anak-anak kita, bagaimana seorang hamba yang merdeka, ia tidak lagi diperhamba keinginan akan materi dan kedudukan.  Ia tidak akan menundukkan dirinya pada orang berharta atau para pembesar negara.  Karena itu ia tidak akan segan berdiri di hadapan mereka untuk menyampaikan nasihat dan kebenaran.

Seorang hamba yang merdeka, tidak akan diperbudak harta, menghabiskan waktu dan tenaganya hanya sekadar mencari harta dan menimbunnya.  Ia tidak akan diperbudak kedudukan dan jabatan sehingga rela melakukan segala cara untuk meraihnya.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba hawa nafsunya. Ia tidak akan memilih untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Allah seperti pacaran, menikah dengan laki-laki yang berbeda agama, selingkuh dan sebagainya.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba aktor idola sehingga memujanya, merindukannya, atau meniru habis-habisan semua gaya idolanya.  Ia pun tidak akan diperhamba tren sehingga harus ikut-ikutan dan terus update penampilan.

Seorang hamba yang merdeka tidak akan diperhamba oleh kriteria cantik itu putih, berambut indah, bertubuh seksi dan seterusnya dari kriteria kecantikan kapitalis.  Ia kembali pada standar bahwa orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]:13).

Jika anak telah memiliki maklumat yang sahih terhadap makna kemerdekaan, ia akan mampu untuk menilai fakta dan menyikapinya dengan tepat sebagaimana yang telah Allah gariskan untuk dirinya.

 

Melatih Anak Membaca Fakta secara Kritis

Ketika anak telah memiliki maklumat yang benar tentang kemerdekaan hakiki, maka kita tinggal melatihnya untuk menggunakan maklumat tersebut sebagai standar dalam berpikir, bersikap dan berperilaku.  Terutama bagaimana  anak harus menilai fakta yang dia hadapi.

Anak harus banyak kita ajak berdialog dan berdiskusi tentang fakta-fakta di hadapannya.  Memunculkan suasana sebagaimana diceritakan dalam pengantar tulisan ini, memungkinkan anak untuk melakukan analisis terhadap fakta sehingga ia bisa mengambil sikap yang tepat.

Fakta bisa kita ambil dari berita-berita di tv, medsos, yuoutube dan sebagainya.  Tunjukkan fakta-fakta bahwa saat ini kondisi umat Islam berada dalam cengeraman penjajahan yang tak terlihat oleh mata umum. Namun, bahaya yang tersembunyi mengancam kebebasan umat dalam menjalankan agamanya secara benar. Fakta juga bisa dapat dengan melakukan analisis terhadap film, musik, game, fashion dan hal-hal yang menarik bagi anak, namun mengandung muatan merusak yang sangat dahsyat bagi pemikiran dan sikapnya.

Inilah beberapa kiat untuk memahamkan anak akan penjajahan asing yang membelit umat.  Dengan memahaminya, anak akan mampu meraih kemerdekaan hakiki, serta tumbuh menjadi generasi pembebas umat.

Yang penting kita catat, upaya ini membutuhkan kondisi orangtua yang memiliki kesadaran politik tinggi, memahami ideologi Islam dan keunggulannya serta memiliki keinginan kuat untuk menerapkannya dalam kehidupan.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Arini Retnaningsih]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

5 − one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password