Tafaqquh Fi Ad-Din

Iman taklid, ada iman ilmu, ada iman iyaan, ada iman haq (haqqul yaqin), dan iman hakikat. Oleh karena itu, banyak sebagian dari orang Islam sering terpengaruh katanya hadis ini, katanya hadis itu, kata Nabi Muhammad saw. Oleh karenanya jangan terlalu dalam, jangan terlalu dalam mempelajari agama,” ujar Jenderal Dudung Abdurachman sebagaimana dikutip Republika (5/12/2021).  “Akhirnya terjadi penyimpangan-penyimpangan,” tambah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu.

Mengomentari hal itu, dalam sebuah diskusi kecil, Pak Heri mengatakan, “Kok belajar agama jangan terlalu dalam.  Bagaimana bisa paham?  Makanya, kalau tentara tidak perlu bicara agama.  Jadinya ngawur.

Saya sampaikan kepada dia, “Persoalannya bukan tentara atau bukan.  Siapa pun orang Islam berhak bahkan harus menyampaikan Islam.”

Saya segera lanjutkan, “Bukankah Rasulullah saw. bersabda, ‘Sampaikanlah apa yang berasal dariku meskipun hanya satu ayat.’ (HR al-Bukhari).”

“Tapi, masa iya jangan terlalu dalam mempelajari agama?  Yang benar saja.  Wong kita diperintahkan untuk belajar Islam dari buaian hingga ke liang lahat,” Pak Heri menjelaskan.

“Mungkin masalahnya bukan ceramahnya ya, tapi isi yang dia sampaikan.  Memang sih isinya ngawur.  Nuntut ilmu kok dilarang-larang,” Pak Bowo menanggapi.

Saya katakan, “Exactly, persoalannya ada di isi yang disampaikan.”

“Tapi, tidak aneh sih, sebab dulu (13/9/2021) Pak Dudung pernah bilang ‘hindari fanatik yang berlebihan terhadap suatu agama karena semua agama itu benar di mata Tuhan’,” tambah Pak Bowo.

Tampaknya kita perlu review.  Rasulullah saw. bersabda sebagaimana yang diriwayatkan Imam al-Bukhari, “Man yuridilLâhu bihi khayr[an] yufaqqihuhu fi ad-diin (Siapa saja yang Allah kehendaki mendapatkan kebaikan niscaya Dia akan memahamkan dirinya dalam masalah agama).”

Frasa yufaqqihu kalau kita baca syarh-nya, mengandung arti: menjadikan dia seorang yang faqih (paham).  Jelas, kata Nabi saw., seseorang akan diberi kebaikan oleh Allah SWT melalui pemahaman agamanya.  Seseorang, dengan makin dalam memahami agama Islam, menurut sabda Nabi tadi, makin banyak mendapatkan kebaikan.  Bahkan kemunafikan dapat lahir dari kebodohan terhadap agama.  Rasulullah saw. menegaskan, “Dua perkara yang tidak akan berkumpul pada diri seorang munafik, yaitu banyak diam dan faqih dalam agama.” (HR at-Tirmidzi).

“Jadi, pernyataan bahwa mendalami agama banyak-banyak akan melahirkan penyimpangan bertentangan dengan sabda Rasulullah.  Ngawur bin keliru,” Pak Heri menyimpulkan.

Bukan hanya itu, pernyataan ‘jangan terlalu dalam mempelajari agama’ itu pun tidak tepat.  “Iya.  Bagaimana mungkin bisa paham atau tadi disebut tafaqquh fi ad-diin kalau belajarnya tidak mendalam.  Belajar al-Quran mestinya ya paham seluruh isi ayat al-Quran. Itu artinya harus mempelajari Islam dengan dalam,” komentar Pak Bowo dengan nada sedikit meninggi.  Memang, berbeda orang yang berilmu dengan tidak berilmu.  Di dalam al-Quran disebutkan banyak ayat tentang pentingnya ilmu, di antaranya QS az-Zumar ayat 9 yang maknanya: Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sungguh orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (TQS az-Zumar [39]: 9).

Tentu beda antara orang punya ilmu dengan tidak punya ilmu.  Agar punya ilmu Islam banyak, maka harus belajar Islam banyak-banyak.  Hanya saja, ketika menuntut ilmu harus menggemburkan dada agar ilmu tumbuh subur.  Rasulullah saw. memberikan perumpamaan, “Sungguh perumpamaan Allah mengutusku dengan petunjuk dan ilmu seperti hujan yang membasahi bumi. Terdapat suatu bagian yang menerima air sehingga mampu menumbuhkan rumput yang banyak. Terdapat pula tanah-tanah gundul yang mampu menahan air, tetapi tidak bisa menumbuhkan rumput sehingga Allah memberikan manfaat kepada manusia dengan hal tersebut; mereka bisa minum, mengairi serta memberi minum hewan dari tanah gundul itu. Bagian yang lain adalah lembah di mana ia tidak bisa menahan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Hal tersebut serupa dengan orang yang Allah beri pemahaman tentang agama dan Allah memberikan manfaat dengannya sehingga ia tahu dan mau memberitahu (mengajarkan). Seumpana orang yang tidak mau mengangkat isi kepalanya dan tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Banyak hadis lain terkait menuntut ilmu.  Rasulullah saw. bersabda, “Menuntut ilmu agama adalah kewajiban atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah).

Beliau juga bersabda,  “Yang terbaik dari mereka pada masa Jahiliah adalah yang terbaik dari mereka pada masa Islam, asal mereka faqih.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bahkan menuntut ilmu itu harus dalam dan banyak.  Tidak akan kenyang.  Sabda beliau, “Dua ambisi yang tidak pernah kenyang, yaitu ambisi ilmu tidak akan kenyang dan ambisi dunia tidak akan kenyang.” (HR al-Hakim).

Untuk itu, perlu belajar.  Kata Nabi saw., “Ilmu itu hanya (diperoleh) lewat belajar, sementara kesantunan lewat berusaha santun. Siapa yang melatih diri dengan kebaikan maka ia akan diberi dan siapa yang menjaga diri dari keburukan maka ia akan dijaga.” (HR ath-Thabarani).

Rasulullah saw. pun mendorong umatnya untuk menuntut ilmu agar senantiasa dinaungi malaikat, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu. Sungguh penutup ilmu benar-benar ditutupi para malaikat dan dinaugi dengan sayap-sayapnya. Kemudian mereka saling bertumpuk-tumpuk hingga mencapai langit dunia (langit paling dekat dari bumi), karena kecintaan mereka (Malaikat) kepada ilmu yang dia pelajari.” (HR ath-Thabarani).

Jelaslah, Junjungan alam Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk tafaqquh fii ad-diin, yakni banyak mendalami Islam hingga paham. So, jika Rasul memerintahkan banyak mendalami ilmu Islam, maka perkataan manusia mana pun yang bertentangan dengan sabdanya tak bermakna apa-apa.  Semoga Allah SWT menjaga diri kita dan generasi umat Islam ini dari upaya menjauhkan mereka dari agamanya.

WalLâhu a’lam. [Muhammad Rahmat Kurnia]

 

0 Comments

Leave a Comment

three − one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password