Kematian

Satu-persatu sahabat seperjuangan dipanggil menghadap Allah SWT. Tentu tanpa pernah bisa melihat dan merasakan kembalinya Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah yang mereka perjuangkan siang-malam. Namun, kita yakin mereka berjumpa dengan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah.

Terus terang, menyaksikan kematian,  termasuk kematian orang-orang terdekat, mungkin terlalu biasa bagi kita. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 ini yang terus memangsa jutaan korban. Padahal setiap kematian adalah nasihat amat berharga bagi kita, bahkan  seandainya tidak ada nasihat apapun di dunia ini. Sabda Baginda Nabi saw.:

كَفَى بِالْمَوْتِ وَاعِظًا

“Cukuplah kematian sebagai nasihat.” (HR al-Baihaqi).

 

Alhasil, jika  kematian—sebagai nasihat  terbaik—saja tidak cukup menggetarkan hati kita  dan menggerakkan jiwa untuk semakin taat kepada Allah SWT, semakin giat memperbanyak  amal shalih, semakin meningkatkan amal dakwah  demi bekal menghadap kepada-Nya, nasihat apalagi yang kita butuhkan?

Imam Ali ra. juga pernah memberikan nasihat, “Sungguh di antara sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu. Di antara sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan menjadi kesibukanmu. Di antara sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian menjadi pelajaran bagimu.” (Imam an-Nawawi, Nasha’ih al-’Ibad, hlm. 18).

Ya, diakui atau tidak, kematian adalah nasihat dan pelajaran, yang terus berulang. Namun, terus juga berulang nasihat dan pelajaran itu kita lupakan. Seolah-olah kematian itu hanya menyasar orang lain. Bukan kita. Padahal Allah SWT tegas menyatakan:

كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ

Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian (QS Ali Imran [3]: 185).

 

Yang juga penting untuk direnungkan, jika kita mati, akan dikenang sebagai apakah oleh orang-orang yang kita tinggalkan?

Apakah kita akan dikenang sebagai ahli ibadah? Ataukah orang yang malas beribadah? Apakah sebagai orang yang tak pernah ketinggalan shalat lima waktu di masjid? Ataukah orang yang selalu meninggalkan shalat fardhu di masjid? Apakah sebagai orang yang rajin bersedekah? Ataukah orang yang pelit berinfak?

Apakah seorang yang rajin dan sungguh-sungguh mencari ilmu? Ataukah yang mencukupkan diri dengan ilmu alakadarnya? Apakah sebagai pengemban dakwah yang gigih? Ataukah yang malas-malasan? Apakah sebagai orang yang amanah? Ataukah orang yang suka berkhianat?

Terus  terang, saya sangat  khawatir saat wafat nanti,  saya dikenang oleh orang-orang sebagai orang yang memilki sifat-sifat buruk meski  tentu saya percaya mereka tidak akan mengungkapkannya atau menjadikannya sebagai bahan  gunjingan.

Tentu kita berharap dikenang  sebagai orang yang memiliki sifat-sifat yang baik oleh orang-orang.

Berbahagialah sahabat-sahabat kita, sebut saja seperti Almarhum Ustadz Hari Moekti, Almarhum Ustadz Ahmad Junaidi ath-Thayyibi (Gus Jun), serta almarhum dan almarhumah para pengemban dakwah  yang lain yang sudah mendahului kita. Mereka terbukti tetap istiqamah sampai akhir hayat di jalan dakwah yang penuh tantangan ini. Mereka pun terbukti dikenang oleh orang-orang terdekatnya sebagai orang-orang yang  baik, yang selalu semangat  dan  gigih dalam dakwah. Semoga di  mata  Allah SWT, mereka jauh  lebih baik daripada yang kita lihat dan  saksikan.

Semoga kita pun bisa istiqamah di jalan dakwah seperti mereka. Semoga saat wafat,  kita pun dikenang sebagai orang baik, bukan hanya di mata manusia,  tetapi yang lebih penting adalah di mata Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga saat wafat nanti, entah esok atau lusa, kita selalu dalam ridha-Nya. Amiin.

*****

Bicara kematian adalah bicara kepastian. Allah SWT bahkan menyebut dalam al-Quran kematian dengan “al-yaqin”.  Karena itulah menurut Ibnu Rajab, banyak Sahabat, setiap hari, menjelang tidur, yang ia khawatirkan adalah datangnya kematian kepada diri mereka. Karena itu pula banyak dari mereka, antara lain Abu Bakar ash-Shiddiq, Utsman bin Affan, Abu Hurairah, Abu Dzarr, Abu ad-Darda’ yang menunaikan shalat witir sebelum tidur. Tidak lain karena mereka sangat khawatir diwafatkan saat tidur sehingga tak sempat menunaikan shalat witir. Padahal shalat witir itu sunnah saja. Para Sahabat lain, meski mereka banyak yang menunda shalat witir hingga setelah bangun tidur, tetap bukanlah orang-orang yang berangan-angan hidup bakalan lama. Mereka amat menyadari, hidup amatlah singkat. Bahkan mereka selalu dalam puncak pendek angan-angan (Fath al-Bari, 9/121).

Sebagaimana kematian adalah kepastian, begitu pula kehidupan pasca kematian. Tidak diragukan. Kecuali oleh orang kafir dan munafik. Hanya saat kematian datang kepada dirinya, saat itulah dia benar-benar yakin. Tak bakal lagi membantah. Saat itulah dia pasti menyesal. Saking menyesal, dia berangan-angan hidup kembali ke dunia. Kata Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahulLah, “Sungguh kebanyakan orang-orang yang telah wafat berangan-angan bisa hidup kembali meski hanya sesaat, agar bisa bertobat dan bersungguh-sungguh taat. Padahal hal demikian adalah mustahil bagi mereka (Ibnu Rajab, Latha’if al-Ma’arif, hlm. 727).

Karena itulah Abu Ishaq al-Qirwani berkata, “Betapa remehnya dunia bagi siapa saja yang menjadikan al-Quran sebagai imamnya dan bayangan kematian selalu terbayang di hadapannya.” (Al-Qirwani, Zahr al-Adab wa Tsamr al-Albab, hlm. 142).

Wa ma tawfiqi illa bilLah. [Arief B. Iskandar]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

1 × 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password