Istiqamah

Ramadhan telah berakhir. Puasanya sudah usai. Shalat tarawihnya juga sudah berlalu. Yang tersisa dari seorang yang berpuasa sejatinya adalah takwa. Sebenar-benarnya takwa. Taat. Sebenar-benarnya taat. Taat sepanjang hayat. Ringkasnya, istiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Berkaitan dengan itu, Malik bin Dinar rahimahulLâh berkata: “Jadikanlah ketaatan kepada Allah sebagai ‘perniagaan (bisnis)’  yang mendatangkan laba (keuntungan) tanpa (harus menjual) barang dagangan.” (Ibnu Hibban, Rawdhah al-’Uqalâ, hlm. 63).

Laba/keuntungan dari “bisnis” dalam bentuk ketaatan kepada Allah SWT ini tidak lain berupa surga yang luasnya seluas langit dan bumi (lihat: QS Ali Imran [3]: 133). “Bisnis” dalam bentuk ketaatan kepada Allah SWT inilah yang merupakan “bisnis” yang tidak akan pernah merugi sekaligus bakal menyelamatkan pelakunya dari azab yang pedih di akhirat (Lihat: QS ash-Shaff [61]: 10).

Agar bisa tetap taat, atau tetap istiqamah, seorang Muslim butuh banyak penopang. Salah satunya ilmu. Karena itu ia harus sering-sering menghadiri majelis ilmu. Namun sayang, sering orang malas mencari ilmu, atau menghadiri majelis-majelis ilmu. Tentu dengan berbagai alasan. Jika demikian, sadarilah, bahwa ia sudah masuk dalam perangkap tipudaya setan. Dalam hal ini, Ibnu al-Jauzi rahimahulLâh berkata: “Ketahuilah bahwa tipuan iblis yang pertama kali kepada manusia adalah dengan membuat  mereka berpaling dari ilmu. Sebab sesungguhnya, ilmu adalah cahaya. Saat iblis mampu memadamkan cahaya-cahaya manusia maka iblis bakal mudah menjatuhkan mereka dalam kegelapan (kesesatan) sebagaimana yang dia kehendaki.” (Ibnu al-Jauzi, Talbîs Iblîs, hlm. 739).

Karena itu, agar kita tetap istiqamah dalam ketaatan, janganlah sekali-kali kita menjauh dari majelis-majelis ilmu atau malas dalam mendalami ilmu-ilmu agama. Sebabnya,  setan akan jauh lebih mudah menyesatkan orang-orang bodoh daripada orang-orang yang berilmu.

Agar tetap istiqamah dalam ketaatan, hendaknya seorang Muslim juga tidak menunda-nunda amal shalih. Sebabnya, sebagaimana kata Khalid bin Ma’dan rahimahulLâh: “Saat pintu kebaikan telah terbuka di hadapan salah seorang di antara kalian, segera masuki, karena dia tidak tahu kapan pintu kebaikan tersebut tertutup kembali.” (Ahmad bin Hanbal, Az-Zuhd, hlm. 311, Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, 4/540).

Karena itu jangan sekali-kali menunda-nunda beramal shalih karena merasa masih banyak kesempatan. Semua kesempatan itu bisa saja sewaktu-waktu hilang dan tak akan kembali lagi. Saat demikian kesempatan untuk beramal shalih berkurang bahkan mungkin hilang sama sekali.

‏Namun demikian, harus disadari bahwa itiqamah dalam ketaatan kepada Allah SWT tentu merupakan tanggung jawab atas diri sendiri. Ini saja tidaklah cukup. Sebabnya, setiap Muslim juga memiliki tanggung jawab sosial. Salah satunya adalah dakwah, amar makruf nahi mungkar, dan menyampaikan nasihat kepada sesama Muslim.

Dakwah tentu bukan sekadar tanggung jawab  kenabian, atau hanya tugas para nabi dan para ulama sebagai pewaris mereka. Tidak bisa hanya karena kita banyak dosa dan belum menjadi manusia “sempurna”, kita enggan atau menolak tugas dakwah. Sebabnya, kata Imam al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahulLâh: “Andai tidak boleh menyampaikan nasihat kecuali orang yang terbebas dari dosa/kesalahan, tentu tidak ada seorang pun yang layak menyampaikan nasihat kecuali Rasulullah saw. Sebabnya, tidak ada seorang pun yang terbebas dari dosa/kesalahan (ma’shûm) setelah beliau (Ibnu Rajab, Lhathâ’if al-Ma’ârif, hlm. 19).

Karena itulah, menyampaikan nasihat (dakwah) adalah hak sekaligus kewajiban setiap Muslim. Karena itu pula tak harus menunggu menjadi manusia “sempurna” tanpa cela untuk menyampaikan nasihat (dakwah).

Sampaikanlah nasihat apapun yang perlu kita sampaikan meski kita sendiri masih banyak dosa dan kesalahan. Tentu sembari kita banyak memohon ampunan serta bertobat atas dosa-dosa dan kesalahan kita. Juga seraya kita terus-menerus “menyempurnakan” diri dengan banyak mengkaji ilmu agar kita tidak sering tergelincir dalam dosa dan kesalahan.

Namun demikian, dakwah di era penuh fitnah saat ini tidaklah mudah. Apalagi jika dakwah benar-benar menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa zalim dan berjuang menegakkan syariah-Nya. Tentu penuh risiko. Dari mulai di-bully, dicaci-maki, dituduh radikal, dikaitkan dengan terorisme, dipecat dari pekerjaan, diputus segala sumber rejeki, dipenjara, diancam untuk dibunuh, dll.

Semua tantangan dakwah di atas sebetulnya dialami oleh para nabi dan rasul, termasuk Rasulullah saw. Caci-maki hingga penganiayaan dialami Rasulullah saw. dan para Sahabat. Hal ini yang sempat membuat Rasulullah saw. berduka hingga turun ayat yang menghibur beliau (yang artinya): Sungguh telah didustakan pula para rasul sebelum kamu. Lalu mereka sabar atas pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Allah kepada mereka (TQS al-An’am [6]: 34).

Imam Ibnu Katsir menerangkan: “Pada akhirnya akibat yang baik diperoleh para rasul sesudah mereka mengalami pendustaan dan gangguan dari kaumnya masing-masing. Setelah itu datanglah kepada mereka pertolongan dan kemenangan di dunia dan di akhirat.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 3/252).

Semoga kita tetap istiqamah, dalam ketaatan kepada Allah SWT, juga dalam dakwah, hingga dating pertolongan Allah SWT..

Wa mâ tawfîqi illâ bilLâh. [Arief B. Iskandar]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

two × 3 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password