Krisis Ukrania: ‘The Game Of Nations’

Ketegangan di wilayah Ukraina terus meningkat. Rusia dikhawatikan akan melakukan invasi besar-besaran. Rusia telah mengerahkan sekitar 100 ribu pasukannya dan persenjataan militernya di dekat perbatasan. Dalam pembicaraannya melalui telepon seperti yang dilansir situs www.independent.co.uk (15/2), Boris Johnson dan Joe Biden telah memperingatkan setiap invasi Rusia ke Ukraina akan mengakibatkan “krisis yang berlarut-larut” bagi Kremlin dengan “paket signifikan” sanksi.

“Para pemimpin menekankan bahwa setiap serangan lebih lanjut ke Ukraina akan mengakibatkan krisis yang berkepanjangan bagi Rusia , dengan kerusakan yang luas bagi Rusia dan dunia,” kata Juru Bicara Downing Street.

Kremlin membantah berulang-ulang akan melakukan invasi. Rusia mengklaim kehadirannya di perbatasan sekadar latihan militer rutin. Kekhawatiran Ukraina akan invasi Rusia cukup beralasan. Pada tahun 2015 Rusia mencaplok semenanjung Krimea Ukraina. Pewaris Soviet ini memasukkan Krimea ke dalam wilayahnya meskipun hingga saat ini tidak diakui komunitas internasional. Untuk memperlemah Ukraina,  Rusia juga mendukung kelompok pemberontak di Ukraina Timur.

Adapun NATO menegaskan tidak akan mengerahkan pasukan tempur kalau terjadi konflik di Ukraina. Namun, NATO tidak tinggal diam. Aliansi militer pimpinan Amerika mulai meningkatkan kehadirannya di blok timur seperti Estonia, Latvia, Lithuania dan Polandia secara bergilir. Hal ini menggelisahkan Rusia. Negara itu sudah sejak lama mengecam keberadaan NATO di wilayah Eropa Timur yang dulu pernah menjadi wilayah kekuasaan Soviet Komunis. Rusia dalam proposalnya menuntut penghapusan negara-negara Eropa Timur dalam NATO. Apalagi memasukkan Ukraina ke dalam NATO. Amerika dan NATO dengan tegas menolak proposal Rusia ini.

 

Kerangka Konflik

Dalam memahami konflik internasional penting memahami konstelasi internasional (al-mawqifu ad-duwali). Konstelasi politik internasional terkait dengan struktur-struktur hubungan internasional yang berpengaruh yang berhubungan dengan negara pertama (ad-dawlah al-ula) dan negara-negara yang bersaing dengannya. Konflik internasional tidak bisa dilepaskan dari berbagai interaksi internasional dan persaingan permanen antarnegara untuk meraih kedudukan negara pertama dan untuk mempengaruhi kontelasi internasional. Hal ini menuntut kita memahami kedudukan masing-masing negara.

Untuk itu dalam konflik internasional yang harus prioritas kita perhatikan adalah negara pertama (ad-dawlah al-ula) karena kedudukannya sangat strategis dalam mempengaruhi politik internasional. Berikutnya, yakni negara-negara besar yang ingin mempengaruhi kedudukaan negara pertama. Dalam krisis Ukraina, penting memperhatikan kebijakan dan manuver Amerika Serikat sebagai negara pertama dan negara-negara besar yang berkepentingan seperti Eropa (terutama Inggris, Perancis, dan Jerman) dan tentu Rusia yang mewarisi negara Komunis Soviet setelah keruntuhannya. Adapun negara Eropa lain seperti Italia, Spanyol, Belanda dan Italia, cenderung mengamankan kepentingan negara pertama (Amerika).

Sebagai negara pertama, Amerika tentu akan berusaha mempertahankan pengaruhnya di berbagai kawasan dunia, termasuk Eropa. Pada era Perang Dingin, Amerika memanfaatkan NATO untuk menanamkan pengaruhnya di Eropa untuk menghadapi agresivitas Soviet Komunis. Namun, pasca Perang Dingin dan setelah Pakta Warsawa dibubarkan, eksistensi NATO mulai dipertanyakan oleh Eropa terutama Inggris dan Prancis.

Inggris dan Prancis sebagai negara yang pernah menjadi negara utama dunia, tentu punya ambisi untuk meningkatkan pengaruhnya di dunia internasional, terutama Eropa. Dua negara tentu punya kepentingan besar untuk bermain dalam Krisis Ukraina. Terutama dalam mengurangi peran Amerika di Eropa pasca Perang Dingin. Pasca Perang Dingin, Eropa, selain membentuk Pasar Eropa hingga Masyarakat Eropa, berambisi membentuk Aliansi Militer sendiri minus NATO. Hanya saja, Inggris juga bermain agar Eropa  tidak bersatu dan menguat apalagi dipimpin Prancis, saingan lamanya di Eropa. Karena itu Inggris bermain ‘licik’ untuk mengganggu menguatnya Eropa dengan berbagai cara.

Perkembangan ini tentu tidak diinginkan Amerika. Apalagi Amerika pasca Perang Dingin memposiskan dirinya sebagai polisi dunia dengan membentuk konstelasi internasional monopolar (hanya Amerika yang memimpin dunia sebagai polisi dunia). Jelas,  Amerika tetap ingin mempertahankan posisinya di Eropa. Untuk itu AS harus mempertahankan NATO. Dalam rangka memperkuat posisinya, Amerika mendorong dan memasukkan negara-negara Eropa Timur eks Komunis bergabung dengan NATO. Amerika juga memperluas strategi NATO dari membendung pengaruh Komunis dan pertahanan luar negeri di Era Perang Dingin menjadi terlibat dalam problem keamanan internal Eropa.

Bagi Rusia, perluasan anggota NATO hingga ke Eropa Timur tentu semakin mengurangi pengaruh Rusia terhadap negara-negara eks komunis. Padahal Rusia ingin tetap memayungi mereka. Meski akhirnya tidak bisa membendung keinginan Amerika untuk menggabungkan  negara-negara Eropa Timur ke NATO, Rusia menegaskan hal itu tidak boleh terjadi bagi Ukraina. Itulah mengapa Rusia memperingatkan NATO agar tidak memasukkan Ukraina ke dalam NATO. Sebaliknya, Ukraina terus merengek bergabung dengan NATO.

 

Pandangan Rusia

Rusia memang sangat berkepentingan dengan Ukraina. Negara ini pernah menjadi bagian dari negara Soviet, bahkan menjadi penopang penting kekuasaan Soviet berhadapan dengan Eropa. Kesuburan pertanian Ukraina menjadi wilayah penting memperkuat ketahanan pangan Soviet di era Perang Dingin. Juga terdapat sepertiga warisan persenjataan nuklir Soviet di wilayah Ukraina, sebelum dilucuti berdasarkan perjanjian Amerika, Rusia dan Ukraina pasca Perang Dingin.  Wilayah Ukraina merupakan halaman depan Rusia berhadapan dengan Eropa. Jalur pipa gas strategis Rusia ke wilayah Eropa melalui wilayah ini. Belum lagi kebutuhan Rusia akan akses Laut Hitam yang berada di Ukraina.

Ukraina hari ini merupakan zona penyangga terakhir untuk menyelesaikan simpul historis Rusia. Negara itu pantas khawatir terhadap Eropa  yang pernah menyerbu dua kali (Napoleon dan Hitler). Runtuhnya Soviet memaksa dirinya untuk meninggalkan Eropa Timur sebagai zona penyangga menahan laju NATO ke Eropa Timur. Rusia ingin setidaknya tetangganya, yakni Ukraina dan Belarus, menyediakan area yang mengisolasi Rusia dari bahaya NATO dan ekspansi mesin militernya ke arah timur. Rusia sekarang ingin mencegah Ukraina bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), atau mendukung NATO. Tampak dari pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov yang menganggap dukungan militer AS ke Ukraina sebagai “tantangan serius bagi keamanan Rusia”. (Al-‘Ain Al-Ikhbariyah, 13/4/2021).

Rusia memandang Ukraina penting dari berbagai aspek, baik dari sisi sejarah, hegemoni, ekonomi dan keamanan. Ukraina merupakan zona penyangga dari perluasan NATO. Rusia menganggap Ukraina sebagai garis merah yang tidak boleh dilewati NATO. “Putin memperingatkan NATO agar tidak menyebarkan pasukan dan senjatanya di Ukraina. Putin mengatakan, “Perluasan infrastruktur militer NATO di Ukraina merupakan garis merah bagi Rusia dan itu akan mengarah pada tanggapan yang keras.”

Di sisi lain, Presiden AS Joe Biden mengatakan tidak menghormati garis merah pihak mana pun terkait Ukraina.

 

Pandangan Eropa

Eropa sendiri, meskipun bersepakat untuk melakukan respon di bawah Komando NATO, berbeda pendapat dalam bentuk bantuannya. Seperti yang dilaporkan BBC (26/1),  Presiden Biden mengatakan para pemimpin Eropa memiliki “kebulatan suara” atas Ukraina, tetapi ada perbedaan dalam dukungan yang ditawarkan oleh berbagai negara.

Eropa memang masih membutuhkan Rusia terutama untuk memasok gas alam. Uni Eropa bergantung pada Rusia untuk sekitar sepertiga dari pasokan gasnya. Akibatnya, gangguan apa pun akan memperburuk krisis energi yang telah berlangsung karena kekurangan pasokan. Ketergantungan Eropa ini dianggap merupakan kelemahan anggota NATO. “Kami prihatin dengan situasi energi di Eropa yang rentan karena terlalu bergantung pada satu pemasok gas alam. Itulah mengapa sekutu NATO setuju bahwa kita perlu bekerja dan fokus pada diversifikasi pasokan,” ujar Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg pada Minggu (30/1/2022) seperti yang dilansir Al Jazeera.

 

Pandangan Amerika

Krisis Ukraina ini akan lebih dimainkan dan menguntungkan Amerika. Negara Paman Sam ini mengetahui, Eropa sebenarnya lebih suka untuk membangun pertahanan keamanan sendiri, yang tidak bergantung pada NATO. Pasalnya, NATO secara de facto lebih banyak dikendalikan Amerika Serikat. Beberapa negara Eropa selama ini kerap mempertanyakan relevansi NATO pasca Perang Dingin.

Krisis Ukraina ini akan cenderung dimainkan Amerika untuk menunjukkan kebutuhan akan NATO di Eropa meskipun Perang Dingin telah berakhir. Krisis Ukraina akan digunakan Amerika untuk menekan Rusia agar tidak terlampau dekat secara ekonomi dengan Cina. Imbalannya, Amerika akan mengontrol ekspansi NATO di wilayah eks Soviet. Invasi Rusia juga bisa dimanfaatkan Amerika untuk menekan Cina atas nama sanksi internasional terhadap Rusia, untuk tidak membangun hubungan ekonomi dengan Rusia. Menguatnya persekutuan Rusia-Cina tentu sangat mengganggu Amerika dalam upayanya membatasi perluasan pengaruh Cina di dunia internasional.

 

Nasib Muslim Ukraina

Muslim di Ukraina berjumlah sekitar 4% dari keseluruhan jumlah penduduknya. Kebanyakan mereka adalah bangsa Tatar Krimea  dan tinggal di Semenanjung Krimea (yang sekarang dicaplok Rusia). Sejarah Islam di Ukraina memiliki akar yang amat dalam. Masyarakat setempat pertama kali mendengar tentang Islam melalui kunjungan bisnis para saudagar dari Tanah Arab dan negara-negara timur di selatan wilayah Ukraina. Menurut sejarah resmi, pemukiman Muslim pertama di kota Kiev sudah eksis sejak abad ke-18.

Pada dua abad terahir komunitas Muslim di Tanah Ukraina terus bertambah. Diperkirakan saat ini ada sekitar dua juta Muslim di Ukraina. Hingga tahun 1917 perkembangan Islam di Ukraina cukup stabil. Namun, seiring dengan berkuasanya rezim Uni Soviet (1922-1991) di Ukraina, terjadi kesulitan yang luar biasa bagi penyelenggaraan peribadatan public. Meskipun begitu, Muslim Ukraina tetap menjalankan ibadah dan mempertahankan agama yang diwariskan secara turun-temurun dari para pendahulu mereka, serta menjaga segala warisan keislamannya.

Marwan II bin Muhammad dari  Kekhilafahan Umayah (688 – 750) pada 737  melakukan futûhât mengalahkan pasukan Khazar Kaganate. Untuk pertama kalinya, pasukan Islam memasuki Tanah Ukraina saat itu. Pada era dakwah ini tercapai kesepakatan antara Marwan dan Khazar Kagan. Diperkirakan elit penguasa Kaganate masuk Islam.

Di era penjajahan Soviet Komunis, pada tahun 1944, semua Muslim Tatar Krimea berjumlah 180.000 orang  yang tinggal di Krimea dipaksa naik kereta ternak dan diasingkan ke Uzbekistan atas perintah Joseph Stalin. Diperkirakan sekitar setengah orang Tatar Krimea wafat selama perjalanan ke Uzbekistan atau karena penyakit dan kelaparan yang kemudian terjadi selama dua tahun pertama mereka berada di pengasingan. Empat negara, termasuk Ukraina, telah mengakui deportasi ini sebagai genosida.

Ketika Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, semenanjung itu menjadi bagian dari Ukraina, dan orang Tatar Krimea dapat kembali ke tanah air mereka.

Apa yang terjadi pada Muslim di Ukraina, kembali menunjukkan kepada kaum Muslim demikian pentingnya umat Islam memiliki institusi politik internasional yang berpengaruh, yaitu Khilafah Islam ‘ala minhaaj an-nubuwwah. Tanpa Khilafah, umat Islam tidak ada yang melindungi dan diperlakukan seenaknya oleh musuh-musuh Islam. Tanpa Khilafah, umat Islam juga tidak mempunyai negara yang akan berpengaruh secara signifikan dalam kancah perpolitikan internasional.

Dalam kerangka Mafâhim Siyâsiyah dijelaskan untuk bisa berpengaruh secara efektif dalam konstelasi politik internasional, haruslah dalam wujud negara yang memiliki ideologi, kemampuan domestik yang memenuhi syarat, dan kemampuan mengendalikan politik internasional. Untuk itu negara itu harus mampu mengubah iklim politik agar bergantung padanya dan mendukung ideologinya. Semua itu hanya bisa dilakukan kaum Muslim, kalau umat Islam bersatu dibawah naungan Khilafah Islam. AlLâaahu Akbar. [Abu Fatih Sholahuddin]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four × 1 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password