Keluarga Muslim Sejati Berkah Tanpa Korupsi

Korupsi di negeri ini seolah tak pernah mati. Bahkan setiap tahun kasusnya terus meningkat. Indonesia masih menempati posisi ke-102 dari 108 negara yang dipersepsikan bersih dari korupsi. Artinya, Indonesia belum beranjak dari salah satu negara terkorup di dunia (Tirto.id, 13/4/2021).

Berharap birokrasi bersih dari korupsi rasanya mustahil terjadi. Sebabnya, akar masalahnya adalah sistem demokrasi itu sendiri. Apalagi hukuman bagi para koruptor itu bukannya diperberat, malah diringankan dengan potongan kurungan.

Tak sedikit di antara keluarga Muslim yang kemudian terjerumus pada berbagai kasus korupsi. Padahal Allah telah memperingatkan bahwa  harta dapat melalaikan pikiran manusia dari melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT dan membuat manusia lupa akhirat. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَآ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَأَوۡلَٰدُكُمۡ فِتۡنَةٞۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجۡرٌ عَظِيمٞ ١٥

Sungguh harta kalian dan anak-anakmu merupakan fitnah/cobaan (bagi kalian). Di sisi Allahlah pahala yang besar (QS at-Taghabun [64]: 15).

 

Harta Haram Tak Membawa Keberkahan

Islam telah menetapkan bahwa  tanggung jawab seorang ayah dalam institusi keluarga adalah memberi nafkah yang terbaik untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. Nafkah tersebut disyaratkan harus berasal dari usaha-usaha yang dihalalkan oleh Allah SWT.

Harta hasil korupsi adalah rezeki yang haram. Mustahil akan membawa keberkahan. Karena itu  setiap keluarga Muslim sejati harus menjauhkan diri dari harta haram.

Seharusnya  setiap Muslim, terutama para ayah, menyadari bahwa ketika mereka memberi makan anak-anak  dengan harta yang haram, maka  makanan tersebut akan masuk ke dalam darah mereka. Tumbuh berkembang menjadi tulang dan daging, lalu akan mempengaruhi  sikap perilaku mereka. Wajar jika mereka tumbuh menjadi anak anak yang nakal, lebih mudah terjerumus pada perbuatan maksiat dan merasa sulit beribadah kepada Allah.

Yang lebih pedih, mereka tak akan selamat di akhirat kelak. Rasulullah saw. mengingatkan: Setiap daging yang tumbuh dari memakan harta haram adalah lebih pantas untuk dijilat api neraka (HR at-Tirmidzi). Adakah seorang ayah ataukah seorang ibu yang rela anak anaknya masuk neraka?

Siapapun yang mencari harta haram telah mengabaikan peringatan Allah.  Allah memastikan bagi  mereka  penghidupan dunia yang  sempit.  Allah SWT berfirman:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Siapa saja yang berpaling dari peringatan/petunjuk-Ku, sungguh bagi dia penghidupan yang sempit (sengsara), dan Kami akan menghimpunkan dirinya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta  (QS Thaha [20]:124).

 

Imam Ibnu Katsir rahimahulLah berkata tentang ayat tersebut,  “Siapa saja yang menyelisihi perintah-Ku dan ketentuan syariah yang Aku turunkan kepada Rasul-Ku, (dengan) berpaling darinya, melupakannya dan mengambil selain petunjuknya, maka bagi dia penghidupan yang sempit/sengsara, yaitu di dunia. Akibatnya, dia tidak akan merasakan ketenangan (hidup) dan tidak ada kelapangan dalam hatinya. Bahkan hatinya sempit dan sesak karena penyimpangannya. Meskipun (terlihat) secara lahir (hidupnya) senang, berpakaian, makan dan bertempat tinggal sesukanya, hatinya selalu diliputi kegundahan, keguncangan dan keraguan karena dirinya jauh dari kebenaran dan petunjuk-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/227).

Orang yang menimbun harta haram tidak mungkin merasakan kebahagiaan dan ketenangan sejati dalam hidupnya, berapa pun banyaknya harta dan kemewahan duniawi yang dia miliki. Bahkan ini justru akan membawa penderitaan yang berkepanjangan dalam hidupnya.

Mengkonsumsi harta haram juga menjadi sebab doa tidak dikabulkan. Rasulullah saw. pernah bersabda, menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, tubuhnya dipenuhi debu, ketika itu lelaki tersebut berdoa dengan mengangkat kedua tangannya ke langit dan menyebut nama Allah, “Wahai Rabb, wahai Rabb… Lalu beliau bersabda, (Saat yang sama) laki-laki tersebut mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak halal. Pakaiannya pun tidak halal dan selalu diberi (makanan) yang tidak halal. Lalu bagaimana mungkin permohonannya akan dikabulkan (oleh Allah)? (HR Muslim).

 

Hidup Berkah  Tanpa Korupsi

Jika korupsi menghantarkan pada kehidupan yang sempit, maka tanpa korupsi kehidupan keluarga Muslim sejati akan diliputi ketenangan, kebahagiaan dan keberkahan. Allah SWT berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ٩٧

Siapa saja yang mengerjakan amal salih, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, sungguh akan Kami beri kehidupan yang baik (di dunia), dan sungguh akan Kami beri balasan (di akhirat) dengan pahala yang lebih baik karena  apa yang telah mereka kerjakan (QS an-Nahl [16]: 97).

 

Dalam sistem demokrasi hari ini, memang sangat sulit  untuk menghindar dari korupsi. Namun, setidaknya ada beberapa hal yang bisa dilakukandengan tetap berikhiar agar sistem demokrasi ini segera hancur dan digantikan dengan sistem Islam.

Pertama: Menanamkan keimanan yang kuat kepada semua anggota keluarga dan mengajak  untuk selalu berusaha mencari rezeki yang halal sebagai perwujudan dari iman. Sesulit apapun upaya yang harus dilakukan. Ketika ayah yang bekerja mencari nafkah kadang merasa ‘mentok’ dan tergiur untuk korupsi, maka ibu ataupun anak anak harus berusaha mengajak ayah untuk terus berusaha mencari rezeki halal. Saling menasihati dalam kebaikan dan takwa.

Kedua: Selalu berusaha untuk  qana’ah, yakni merasa cukup terhadap pemberian Allah berapapun jumlahnya. Selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Meyakini bahwa Allah-lah Yang Maha Melapangkan maupun Maha Menyempitkan rezeki. Teruslah berdoa kepada Allah, meminta diberi rezeki yang halal[an] thayib[an] (halal lagi baik)  juga wasi’[an] (luas).  Ketika Allah sedang sempitkan, semua anggota keluarga harus bersabar, dan terus bersabar. Tentu dengan terus berusaha mendapatkan rezeki yang halal.

Ketiga: Bersikap hati-hati (wara’) ketika mendapat pemberian dari siapapun. Pastikan bahwa yang didapatkan  adalah harta halal. Ketika ayah di kantor mendapat pembagian amplop, misalnya, perlu dipastikan terlebih dulu bahwa itu bukan uang hasil korupsi ataupun aktivitas haram lainnya.  Demikian juga bagi para ibu. Ada baiknya menanyakan kepada ayah tentang status harta yang diberikan kepada dirinya. Jika ternyata itu adalah uang haram, sudah seharusnya ditolak karena itu bukan milik kita. Apalagi jika posisi ayah di masyarakat adalah seorang pemimpin, pasti lebih banyak lagi ujian ‘harta haram’ nya.

Kehati-hatian seorang pemimpin terhadap halal dan haram  ditunjukkan oleh  Khalifah Umar bin Khaththab ra. Beliau sangat hati-hati dalam membelanjakan harta negara.

Keempat: Mewaspadai gaya hidup konsumtif. Banyak kasus korupsi yang terjadi karena tuntutan gaya hidup konsumtif. Kaadang ada keinginan jalan-jalan ke luar negeri, ingin membeli rumah atau apartemen mewah, juga mobil mewah, atau pakaian, tas, sepatu dan barang barang bermerk lainnya. Padahal kantong tak mampu  menjangkaunya. Lalu tak jarang korupsi pun menjadi jalan pintasnya.

Tentu ini adalah jalan keluar yang buruk. Allah SWT pun mengingatkan kita  melalui sabda Nabi-Nya, “Tidak akan bergeser kaki seseorang hamba pada hari kiamat nanti sampai ditanya empat perkara ini: umurnya, untuk apa dia habiskan; ilmunya sejauh mana dia amalkan; hartanya, dari mana dan digunakan untuk apa; serta tubuhnya untuk apa dia manfaatkan.” (HR at-Tirmidzi).

Sanggupkah kita menjawab semua pertanyaan tersebut?

Kelima: Selalu berusaha menghiasi diri dengan sikap jujur dan amanah dalam mengelola semua harta yang bukan milik kita.   Sebagai ibrah,  kita bisa membaca sejarah tentang Khalifah Abu Bakar  ash Shiddiq ra. yang menjelang akhir hayatnya berwasiat kepada putrinya Aisyah bahwa ia hanya memiliki sehelai permadani yang usang, seekor unta dan seorang pelayan yang mengurusi rumah tangga. Abu Bakar ra. ingin agar setelah wafat, semua yang tersisa dari harta kaum Muslim itu diberikan kepada Khalifah penggantinya. Beliau tak ingin menghadap Allah SWT dengan harta umat walau sedikit. Saking jujur dan amanahnya, Khalifah Abu Bakar masih memikirkan harta rakyat menjelang ajalnya.

Keenam: Membiasakan hidup sederhana. Demikianlah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sekalipun memiliki kecukupan harta, beliau tetap hidup  sederhana. Sebagian harta yang ada beliau berikan kepada  siapapun yang lebih membutuhkan, atau digunakan untuk berbagai  aktivitas kebaikan lainnya.

Dikisahkan: Umar bin Khattab ra. pernah datang ketika Rasulullah saw. sedang tidur di atas tikar yang membuat bekas pada kulit beliau di bagian sisi. Sontak Umar pun berkata, “Wahai Nabi Allah! Andaikan engkau menggunakan permadani tentu lebih baik dari tikar ini.” Beliau pun bersabda, “Apa urusanku terhadap dunia? Permisalan aku dengan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan pada siang hari yang panas terik. Lalu dia mencari teduhnya di bawah pohon beberapa saat pada siang hari. Kemudian dia istirahat di sana lalu meninggalkannya.” (HR at-Tirmidzi, al-Hakim dan Ibnu Majah).

Demikianlah kehidupan sederhana Rasulullah saw.  Kita pun harus meneladani beliau,  yakni  menjalankan pola hidup sederhana dalam ketaatan kepada Allah SWT. Jauh dari korupsi ataupun jalan jalan haram lainnya. Insya Allah hal itu akan membawa keberkahan, dunia maupun akhirat kita.

WalLahu a’lam bi ash-shawwab. [Wiwing Noeraini]

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

thirteen − eleven =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password