Takwa

Kita semua tahu, Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Kata Nabi saw., ia adalah penghulu para bulan (sayyidus-syuhuur). Banyak kebaikan-kebaikan di dalamnya. Di antaranya, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah pada bulan ini dengan amalan sunnah akan diganjar bagaikan melakukan kewajiban pada bulan lain. Melakukan kewajiban akan diganjar 70 kali melakukan kewajiban pada bulan lain. Siapa saja yang melaksanakan puasa dengan landasan iman dan ikhlas karena Allah akan dihapus dosa-dosanya yang telah lalu.

Sebegitu istimewanya Ramadhan hingga Nabi saw. pun menyambut bulan ini secara khusus. Di antaranya, Nabi saw. menuntun kita untuk menyampaikan tahniyah (ucapan selamat) atas kehadiran bulan Ramadhan. Nabi saw. bahkan menyampaikan khutbah khusus menyambut kedatangan Ramadhan. Di dalam khutbah itu Rasulullah saw. menyebut Ramadhan sebagai bulan yang agung (syahr[un] ‘azhiim) dan penuh berkah (syahr[un] mubaarak). Siapapun yang menyadari keistimewaan Ramadhan pasti berharap akan selalu bisa berjumpa dengannya. Karena itu Nabi saw. mengajari kita doa khusus agar disampaikan umur kita hingga bulan Syawal.

Kita semua juga tahu, tujuan utama diwajibkan puasa tak lain adalah agar kita menjadi makin bertakwa. Dalam hidup seorang Muslim, takwa adalah sentral dari semua urusan. Takwalah yang akan menentukan derajat kemuliaan di hadapan Allah. Takwa pula yang akan menentukan posisi kita di akhirat. Apakah akan menjadi bagian dari ashaab al-yamiin (golongan kanan), yang akan hidup kekal abadi di Surga? Ataukah akan menjadi bagian dari ashaab as-simaal (golongan kiri), yang akan  hidup kekal abadi juga, tetapi di neraka?

Di Dunia, buat orang-orang yang bertakwa, Allah berjanji akan memberikan jalan keluar (makhraja) atas semua masalah yang dihadapi, juga rezeki dari arah yang tidak diduga-duga. Ini semua membuktikan betapa  sangat pentingnya kedudukan dan fungsi takwa dalam kehidupan seorang Muslim.

Untuk perkara sepenting inilah, Allah SWT memberi kita media spesial berupa kewajiban berpuasa sebulan penuh, untuk meningkatkan takwa. Pertanyaannya, bagaimana tujuan peningkatan takwa melalui pelaksanakan ibadah puasa bisa dicapai?

++++

Semua pelaksanaan kewajiban ibadah memerlukan kemampuan. Semua kewajiban itu sesungguhnya sangat ringan. Semua pasti bisa dilaksanakan karena jauh di bawah ambang batas kemampuan manusia. Puasa, misalnya, itu kan hanya mengurangi 1 dari 3 kali makan. Pengalaman orang bisa tahan sampai 4- 5 hari tidak makan-minum. Ketika kemampuan menurun, Allah SWT memberikan rukhsah (keringanan). Siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan, boleh tidak berpuasa asal mengganti pada hari lain. Islam memang tidak dibuat untuk memberatkan manusia. Allah selalu menginginkan buat hamba-Nya kemudahan, bukan kesulitan.

Namun, mengapa meski begitu masih saja banyak yang tidak melaksanakan ibadah? Ternyata, dalam pelaksanaan ibadah, selain kemampuan, diperlukan juga kemauan. Kemauan inilah yang utama. Tanpa kemauan, jangankan yang berat, kewajiban yang ringan pun tidak akan dilaksanakan. Puasa sesungguhnya menempa kemauan. Kemauan untuk taat kepada Allah. Itulah takwa.

Lihatlah, dengan kemauan, jangankan yang haram, ternyata yang halal pun (makan, minum dan lainnya) saat puasa bisa kita tinggalkan. Selama sebulan puasa, sikap mental semacam inilah yang dilatihkan kepada kita. Jika dihayati sungguh-sungguh, kita akan bisa benar-benar menjadi seorang Muslim yang muttaqiin, yang taat kepada Allah, yang sam’[an] wa thaa’at[an].

Tanpa penghayatan, puasa hanya akan menjadi beban. Terasa berat. Cenderung dilakukan seadanya. Akibatnya,  tidak didapat apa-apa, kecuali hanya rasa  lapar dan dahaga. Begitulah yang diingatkan Nabi saw. melalui hadis riwayat Imam Ahmad. Bukan hanya puasa. Begitu pun ibadah-ibadah yang lain. Tanpa penghayatan, hanya akan dirasa seperti buang waktu, tenaga dan dana.

Demikianlah pentingnya takwa dan penghayatan dalam setiap bentuk ibadah, termasuk puasa, agar tujuan dari ibadah itu bisa tercapai.

Sekali kita bicara tentang takwa, sesungguhnya kita tidak sedang berbicara sekadar diri atau keluarga kita saja, tetapi juga tentang masyarakat, negara bahkan dunia. Mengapa? Karena pangkal kebaikan itu terletak pada kebaikan dalam cara berpikir dan berperilaku individu, termasuk dalam memilih sistem aturan atau ideologi apa yang digunakan dalam mengatur masyarakatnya. Jika semua itu didasarkan pada prinsip takwa,  insya Allah kebaikan atau keberkahan akan melimpah. Allah menegaskan hal itu dalam QS al-A’raf ayat 96, bahwa jika penduduk suatu negeri benar-benar beriman dan bertakwa, Allah pasti akan melimpahkan keberkahan dari berbagai arah. Namun, jika tidak, akan bergelimang kerusakan dalam berbagai bentuknya seperti ketidakadilan, kezaliman, kerusakan moral, korupsi dan lain sebagainya.

++++

Allah SWT telah menetapkan berbagai jalan dan sarana untuk meningkatkan takwa. Ada yang harian, seperti shalat. Ada yang mingguan, seperti shalat Jumat. Ada yang tahunan, seperti puasa Ramadhan. Ada yang sekali seumur hidup, jika mampu, yaitu ibadah haji. Ada juga yang bisa dilakukan setiap saat seperti zikir. Di luar itu masih ada sarana-sarana tambahan, seperti shalat-shalat sunnah dan lainnya. Semuanya bertujuan untuk menjaga dan meningkatkan takwa kita kepada Allah. Ketakwaan itu juga dijaga secara praktis melalui ketaatan pada ketentuan halal dan haram dalam pakaian, minuman, pakaian, akhlak dan muamalah. Jika semua itu diikuti dan dijalani dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, insya Allah kita akan betul-betul mendapat semua kebaikan-kebaikan dari takwa itu. Bukan hanya di sini, tetapi juga di akhirat nanti.

Mengapa kita harus berpikir keselamatan hidup kita hingga akhirat? Karena hidup di dunia ini sangatlah sementara. Akhiratlah yang kekal (darul qarar). Seberapa sementara hidup kita di Dunia digambarkan dengan sangat bagus oleh Baginda Rasulullah dalam hadis riwayat Imam at-Tirmidzi, bahwa hidup di Dunia itu bagaikan seorang pengendara, singgah sebentar di bawah pohon, istirahat, kemudian berlalu melanjutkan perjalanan. Jika dibandingkan dengan waktu yang bakal ditempuh di Akhirat nanti, kehidupan Dunia makin terlihat sangat singkat. Dalam QS al-Hajj ayat 47 disebutkan 1000 tahun kehidupan Dunia itu bagai satu hari di akhirat. Jika kita hidup di dunia 100 tahun, itu tak lebih 2,4 jam saja di Akhirat.

Bukan hanya waktu, nikmat dunia juga tak seberapanya dibandingkan dengan nikmat akhirat. Kata Nabi saw. dalam hadis riwayat Imam Muslim, nikmat dunia, jika dibandingkan dengan nikmat akhirat, tak lebih bagai seseorang mencelupkan ujung jarinya ke tengah samudera. Lihatlah yang bersisa di ujung jari. Itulah nikmat dunia. Sebaliknya, samudera dan seisinya adalah nikmat akhirat.

Tentang pentingnya menjaga orientasi akhirat, Nabi saw. mengingatkan dalam hadis riwayat Imam al-Bukhari, “Sungguh dunia akan pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat pasti akan datang. Masing-masing dari dunia dan akhirat memiliki anak-anak. Karena itu hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan jangan menjadi anak-anak dunia. Pasalnya, hari ini adalah hari amal, bukan hisab; sedangkan kelak adalah hari hisab, bukan amal.”

Karena itu sebuah kerugian amat besar bagi siapa saja yang mengorbankan nikmat akhirat yang banyak dan abadi itu demi mereguk nikmat dunia yang sak cuprit. Itu pun hanya sesaat.

Alhasil, tidak ada jalan lain kecuali kita harus menjadi Muslim yang bertakwa dengan takwa yang sebenar-benarnya, seperti yang diminta Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 102. Inilah bekal terbaik seperti yang disebut Allah dalam QS al-Baqarah ayat 197.  Ke sanalah  semestinya kita menuju. Bukan ke arah yang lain. Hanya itulah jalan keselamatan. Yang lain tidak. [H.M. Ismail Yusanto]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

nineteen + nine =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password