Penyesatan Politik Dalam Isu Palestina

Pidato Presiden Amerika, Donald Trump, Kamis (7/12), dari Gedung Putih, telah menimbulkan kemarahan massal di Dunia Islam. Berbagai aksi secara besar-besaran di berbagai kawasan dunia mengecam pernyataan Donald Trump yang mengklaim Jerussalem sebagai ibukota Negara Israel. Beberapa pemimpin negara di dunia, termasuk di negeri-negeri Islam pun, menolak klaim Trump ini.

Aksi besar-besar umat Islam di berbagai belah Dunia Islam memang sudah seharusnya. Palestina tidak bisa dipisahkan dari hati umat Islam di seluruh dunia. Allah SWT mengabadikan Masjid al-Aqsha dalam al-Quran surah al-Isra’. Banyak pujian Rasulullah saw. atas kemuliaan masjid al-Aqsha sebagai kiblat pertama umat Islam. Shalat di sana, misalnya, diganjar dengan pahala yang besar. Khalifah Umar bin al-Khaththab pun secara khusus datang saat wilayah ini ditaklukkan oleh kaum Muslim.

Yang memalukan adalah sikap para penguasa negeri Islam. Pernyataan Donald Trump ini semakin menelanjangi mereka. Mereka tampak tidak berbuat apa-apa secara serius untuk membebaskan Palestina. Apalagi Amerika Serikat, sebelum mengumumkan Jerussalem sebagai ibukota Israel, telah melakukan kontak-kontak dengan para penguasa Arab. DIa menyatakan akan mengumumkan hal itu beberapa jam setelah melakukan komunikasi dengan penguasa Arab. Meski demikian, semua penguasa itu diam seribu bahasa layaknya orang mati atau malah jauh lebih buruk lagi!

Pengkhianatan para penguasa negeri-negeri Islam inilah yang selama ini melestarikan penjajahan Yahudi di Bumi Palestina. Mereka tidak melakukan tindakan nyata untuk membebaskan Palestina dengan mengusir penjajah Yahudi dari bumi Palestina. Padahal keberadaan penjajah Yahudi inilah yang menjadi pangkal utama penderitaan rakyat Palestina. Tentu sangat mudah dipahami, untuk mengusir penjajah Yahudi ini tidaklah mungkin tanpa mengirimkan tentara untuk memerangi mereka. Justru inilah yang tidak dilakukan oleh penguasa negeri Islam!

Mengap? Jawabannya sangat jelas. Sebagian besar mereka adalah para penguasa  boneka Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia dan sekutu-sekutunya. Negara-negara imperialis inilah yang selama ini melahirkan, merawat dan menjaga entitias penjajah Yahudi. Bagi negara imperialis ini, eksistensi entitas penjajah Yahudi ini merupakan harga mati dalam politik luar negeri mereka. Karena itu mereka tidak akan membiarkan para penguasa negeri Islam yang menjadi boneka mereka melakukan tindakan yang mengancam eksistensi penjajah Yahudi.

Mengapa Presiden AS Donald Trump, tanpa merasa ada halangan, mengumumkan Jerussalem sebagai ibukota Israel? Jawabannya pun sangat jelas. Amerika sangat paham, para penguasa negeri Islam tidak akan melakukan apapun  yang mengancam eksistensi Israel. Amerika juga paham, para penguasa negeri Islam akan mengulangi retorika yang sama (itu pun kalau mereka masih mau):  mengecam dan mengutuk. Tidak lebih dari itu.

Kejahatan para penguasa di Dunia Islam semakin nyata dengan penyesatan politik untuk menutupi kelemahan mereka. Mereka seolah-olah tampil sebagai pembela Palestina dengan menyatakan mendukung pendirian negara Palestina sebagai bagian solusi dua negara (two states solution). Padahal sangat gamblang diketahui bahwa solusi dua negara ini tidak akan pernah menyelesaikan persoalan. Pasalnya, itu artinya mengakui keberadaan penjajah Yahudi secara resmi. Perkara yang justru menjadi akar persoalan utama.

Para penguasa di Dunia Islam seolah-olah hirau terhadap rakyat Palestina dengan ikut dalam jalan perdamaian. Padahal perdamaian yang diprakarsai negara-negara Barat dengan organ dunia mereka, PBB, mensyaratkan pengakuan terhadap  penjajah Zionis Israel dan penghentian perlawanan bersenjata terhadap penjajah. Di sisi lain Israel dibiarkan secara leluasa melakukan serangan bersenjata secara brutal terhadap rakyat Palestina. Kenyataan ini semakin parah. Pasalnya, Israellah yang justru berulang-ulang melakukan pelanggaran kesepakatan damai.

Para penguasa pengkhianat ini berkoar-koar telah membantu Palestina dengan bantuan kemanusiaan. Mereka menyatakan telah mengirim bantuan pangan, obat-obatan, dana untuk membangun rumah sakit dan sekolah-sekolah yang dihancurkan Yahudi. Mereka mengangkat isu bahwa ini adalah persoalan kemanusiaan, bukan persoalan agama. Bantuan kemanusian berupa pangan, obat-obatan atau dana kemanusiaan tentu membantu meringankan penderitaaan. Namun, hal itu tidaklah menyelesaikan persoalan secara menyeluruh selama kejahatan pelaku utamanya—penjajah Yahudi—tidak dihentikan. Bantuan kemanusiaan itu tidaklah menghalangi mereka melakukan kejahatan yang berulang bahkan lebih sadis lagi. Rumah-rumah tinggal, rumah sakit ataupun sekolah yang sudah dibangun akan mereka hancurkan lagi. Kebutuhan nyata umat Islam Palestina adalah menghentikan kejahatan penjajah Yahudi ini secara mutlak!

Kita juga perlu tegaskan, bagi kita persoalan kemanusiaan adalah persoalan agama. Sebabnya, berdasarkan syariah Islam, kaum Muslim tidak boleh  membiarkan pembantaian umat Islam dimana pun, termasuk di Palestina. Haram membiarkan pengusiran kaum Muslim dari tanahnya sendiri, membiarkan rumah-rumah masyarakat, termasuk rumah sakit dan sekolah-sekolah, dihancurkan. Dalam Islam ada kewajiban tegas untuk mempertahankan tanahnya sendiri dan membebaskan saudara-saudaranya yang ditindas.

Allah SWT telah menegaskan pembebasan Palestina dilakukan dengan secara nyata memerangi penjajah Yahudi dan negara-negara pendukung entitas Yahudi. Allah SWT berfirman (yang artinya): Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Inilah yang sejatinya harus dilakukan para penguasa negeri Islam dengan otoritasnya menggerakkan tentara mereka. Mengapa untuk mempertahankan Basyar Assad yang bengis, Iran mau mengirim pasukannya ke Suriah? Mengapa hanya karena menganggap akan mengancam keamanan nasionalnya, Saudi dengan pasukan koalisinya mengirim jet-jet tempurnya ke Yaman membunuh umat Islam sendiri? Namun, mengapa mereka tidak melakukan hal yang sama untuk membebaskan Palestina?

Karena itu endaknya pasukan tentara di Dunia Islam bergerak dan menggilas para penguasa  ruwaibidhah  jika mereka menghalangi pergerakan pasukan untuk memerangi musuh-musuh umat Islam yang menduduki bumi yang diberkahi. Menggilas mereka yang tidak mau memereka negara-negara pendukung penjajah Yahudi itu. Sudah seharusnya kaum Muslim dan pasukan mereka menjatuhkan para penguasa itu dan menegakkan Daulah Islam: Khilafah ar-Rasyidah. Hanya dengan itu negara kafir imperialis akan takut dan tidak lancang menginjak tanah kaum Muslim, membunuh dan menzalimi umat Islam. Allahu Akbar! [Ibnu Faruq]

0 Comments

Leave a Comment

17 + twenty =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password