Menjaga Anak Dari Paparan Sekularisme

Mencermati perkembangan kehidupan internasional, terlebih di negeri ini, semakin tampak bahwa peran Islam kian dipinggirkan, bahkan terus digerus dengan berbagai upaya supaya hilang dari tataran praktis.  Islam diperlakukan sebagai keyakinan mayoritas rakyat, namun dimandulkan dalam penerapan aturan.  Ajaran Islam dikriminalkan, dibelokkan pemahamannya. Ulama dan aktivis pejuangnya dipersekusi dan diintimidasi.

Realitas ini tidak terpisahkan dari pandangan sekular yang banyak dianut masyarakat dunia.  Pandangan ini memisahkan agama dari kehidupanDalam paradigma  sekular, kehidupan harus diatur berasaskan pada rasio, ilmu dan sains. Menurut paham ini, wujud keberadaan segala sesuatu harus dibuktikan oleh pancaindera. Padahal realitasnya tidak semua bisa dijangkau oleh pancaindera. Misalnya keimanan terhadap perkara yang gaib seperti Malaikat, juga hakikat surga dan neraka.  Sangat berbahaya jika keimanan anak hanya bergantung pada fakta-fakta yang terindera. Tidak mustahil mereka akan mengingkari adanya surga dan neraka. Bahkan boleh jadi keberadaan Allah pun akan dipertanyakan.

Prinsip sekular juga memandang bahwa nilai baik dan buruk ditentukan oleh akal manusia, bukan berdasarkan wahyu Allah SWT. Keberadaan Tuhan hanya hadir dalam proses penciptaan semata. Layaknya pembuat jam yang tidak berhak mengatur putarannya manakala jam sudah keluar dari pabriknya, begitulah kehidupan manusia. Sudah tidak butuh lagi campur tangan Penciptanya.  Mereka bersepakat membuat aturan berdasarkan akal dan hawa nafsunya.  Jadilah demokrasi sebagai sistem politik pemerintahannya, kapitalisme dasar dari ekonominya dan liberalisme yang mengatur segala perilakunya.  Bagi mereka, tidak penting membahas akhirat dan hari pembalasan karena mereka tidak mengimaninya.  Keyakinan yang mereka ikrarkan hanya sebatas formalitas. Lebih parah lagi mereka beranggapan bahwa alam semesta ini terbentuk hanya karena fenomena alam. Bukan sengaja diciptakan Allah Rabb al-‘aalamin.  

 

Sekularisme Melahirkan Karakter Pembangkang

Anak-anak yang terpapar paham sekular ini bisa menampakkan sikap bebas dan sulit diatur.  Bahkan terkesan liar dan membangkang. Andai sudah disepakati keharusan menerapkan aturan semisal SOP bermain, SOP belajar, dll, mereka cenderung abai dan merasa tidak berkewajiban untuk mengikutinya.  Terhadap kesepakatan yang sudah dibuat antara mereka dan orangtuanya saja sulit untuk komitmen. Apalagi tunduk patuh pada aturan Allah SWT  mungkin akan lebih sulit dilaksanakan.

Keyakinan bahwa manusia punya hak untuk menentukan aturan hidupnya bisa menyebabkan anak seenaknya membuat aturan sesuai dengan selera dan keinginannya.  Apalagi jika pemahaman ini diperparah dengan prinsip kapitalisme. Anak akan menetapkan baik-buruk sesuai dengan nilai materi yang akan diperoleh.  Dia mau melakukan shalat, misalnya, hanya jika diberi hadiah.  Sebaliknya, demi mendapatkan uang jajan, dia berani melakukan maksiat seperti mencuri atau memalak teman sendiri.

Sekularisme menghilangkan peran agama dalam kehidupan. Semua agama dianggap sama dalam interaksi di masyarakat.  Sama-sama tidak berhak mengatur.  Ujung-ujungnya semua agama dinilai benar.  Setiap orang berhak menetapkan kebenaran sesuai versinya. Jika ada orangtua yang menyampaikan kebenaran kepada anaknya sesuai aturan Islam, mereka bisa saja dianggap radikal dan intoleran.

 

Melindungi Anak dari Paparan Sekularisme

Para orangtua harus bekerja ekstra untuk membersihkan pengaruh sekularisme dari kehidupan anak-anak dan generasi Muslim. Menghadapi perkara ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Pertama, sekularisme adalah masalah fundamental yang akan mendasari setiap aktivitas cabang berikutnya.  Oleh karena itu, penyelesaiannya pun harus berawal dari sudut pandang akidah.  Artinya, kita harus mengokohkan keimanan anak-anak.  Mereka tidak boleh dibiarkan berislam tanpa memiliki keimanan.  Keislaman dan keimananan mereka harus diperoleh lewat jalan yang benar; berbasis kesadaran dan pemahaman, bukan keyakinan yang diturunkan orangtuanya atau semata kepercayaan karena ikut-ikutan. Penanaman keimanan kepada anak berarti mengurai simpul besar yang terkait dengan kehidupan manusia. Anak harus dibimbing untuk memiliki jawaban yang shahih terkait dari mana asalnya manusia.  Inilah hakikat penciptaan manusia yang akan menghantarkan pada keimanan akan keberadaan Al-Khâliq, yakin bahwa Allahlah yang telah menciptakan kita.  Dengan kemahakuasaan-Nya kita tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu.  Berikutnya kita lahir ke dunia untuk mengemban amanah kehidupan sebagai hamba Allah, yakni semata untuk beribadah serta tunduk patuh pada Syariah-Nya (QS adz-Dzariat [51]: 56).

Pemahaman yang benar tentang hakikat kehidupan ini akan mengarahkan mereka untuk senantiasa menyesuaikan keyakinan yang ada di  hati, perkataan yang diucapkan, serta perbuatan yang dilakukan agar selaras dengan tuntunan syariah Islam (QS al-Baqarah [2]: 208).

Berikutnya penting dipahamkan tentang hakikat kehidupan setelah dunia sirna, yakni keimanan terhadap akhirat dan adanya Hari Penghisaban atas setiap amal manusia yang akan berujung pada menjadi ahli surga atau menjadi penghuni neraka (QS al-Qari’ah [101]: 1-11).  Keyakinan yang benar pada akhirat akan menjaga anak tetap berada di jalan syariah.

Kedua, untuk membangun keimanan pada anak harus diperbanyak fakta yang terindera oleh anak terkait topik keimanan yang akan dijelaskan. Setiap peristiwa yang terjadi di sekeliling kita harus dimanfaatkan sebagai momen penanaman keimanan pada anak. Tabiatnya, anak baru mampu menjangkau perkara yang berada di sekitarnya saja atau terkait dengan dirinya sendiri.  Karena itu kita mesti mencari realitas yang berada di sekitar anak untuk membantu dia menanamkan pemahaman yang kita sampaikan.

Terkait fakta penciptaan, misalnya, anak-anak bisa diajak memperhatikan perkembangan tumbuhan yang ada di halaman hewan peliharaan, atau menengok bayi yang baru lahir.  Semuanya terjadi dengan penuh keteraturan, bukan terjadi begitu saja.  Allahlah yang menciptakan semua itu. Dia juga yang mengatur keberlangsungan kehidupannya (QS Ali-Imran [3]: 190-191).

Lalu  anak dipahamkan bahwa pembuatan suatu barang satu paket dengan aturan penggunaannya.  Pembuat baranglah yang paling mengetahui apa saja yang baik untuk barang tersebut dan apa saja yang bisa merusak dan membahayakannya. Jika dibutuhkan, bisa juga dihadirkan kertas petunjuk pemakaian alat, seperti manual kulkas, TV, atau mesin cuci.  Segala sesuatu butuh aturan supaya berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya. Demikian juga manusia, dia adalah makhluk ciptaan Allah.  Dia harus terikat dengan aturan Allah Yang Maha Mengetahui supaya bisa menyelesaikan masalah-masalah yang dia hadapi dalam kehidupan ini dan semuanya akan menghantarkan dirinya memperoleh nilai ibadah.   Jika aturan ini dilanggar maka kerusakanlah yang akan terjadi (QS ar-Rum [30]: 41). Bahkan di dalam Islam tuntutan untuk taat itu bukan hanya pada satu atau dua aturan saja. Manusia diperintahkan untuk tunduk pada aturan menyeluruh, yakni syariah kâffah (QS al-Baqarah [2]: 208).

Terkait kesempurnaan aturan Islam, bisa dibahas syariah yang membahas tatacara Rasulullah shalat, makan-minum, tidur, bergaul, bertamu, berdagang, berperang, dll.

Berikutnya ditanamkan fakta bahwa manusia itu lemah dan terbatas. Manusia kadang sakit, lupa, salah atau tertimpa celaka. Jika manusia yang terbatas ini membuat aturan akan bersifat relatif. Ketepatannya sebatas yang dia ketahui saja.  Wajar kalau aturan yang dibuat manusia tidak tetap; bisa berubah sesuai dengan waktu, tempat, atau orangnya. Sesuatu yang dinilai baik dalam suatu waktu akan dianggap buruk pada masa yang berbeda.  Di antara fakta yang cukup sederhana adalah tren model baju setiap tahun berganti.  Rok mini pernah digandrungi, berganti menjadi gaun panjang, kemudian muncul tren rame-rame memakai jilbab.  Boleh jadi model ini pun akan ditinggalkan dan beralih ke gaya lain yang dianggap lebih cocok.  Begitulah kebaikan standar manusia akan senantiasa berubah.

Berbeda halnya dengan baik dan buruk menurut Allah SWT, Pencipta manusia. Dari sejak diturunkan aturan terkait pakaian, maka panduannya jelas.  Dikatakan pakaian yang baik adalah yang menutup aurat.  Karena itu sampai kapanpun pakaian Muslimah ketika keluar rumah yang sesuai dengan aturan Islam adalah jilbab dan kerudung.  Seorang Muslimah tetap harus istiqamah mengenakannya sekalipun mode di masyarakat sudah berubah.

Berikutnya terkait fakta kematian.  Kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia dan awal dari kehidupan berikutnya. Kedatangannya  merupakan perkara yang pasti dialami oleh setiap makhluk bernyawa.  Anak harus paham bahwa siapapun akan mati, kembali kepada Ilahi Rabbi (QS Ali Imran [3]: 185 dan al-Jumu’ah: 8). Kesadaraan akan hakikat kematian akan melahirkan sikap kehati-hatian  dalam beramal. Waspada jangan sampai maut menjemput dalam keadaan maksiat.  Seorang Anshar bertanya pada Rasulullah saw., “Manakah di antara kaum Mukmin yang paling cerdik?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itulah orang-orang yang cerdik.” (HR Ibnu Majah).

Ketiga, orangtua harus mengajarkan aturan Islam dengan benar dan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Demikian juga penerapannya dilakukan dengan makruf, bukan dengan kekerasan dan emosional. Penjelasan yang tidak benar akan menghantarkan pada pemahaman yang salah.  Penerapan aturan yang tidak baik akan melahirkan perasaan tidak nyaman pada anak.  Jika perasaan ini terus terjadi bisa saja akan muncul kebencian dan keinginan untuk menjauhi aturan Islam. Apalagi jika bertemu dengan pemahaman secular. Jadilah dia mengaku beragama Islam, namun menolak diatur oleh syariah Islam.  Bahkan tidak sedikit yang memusuhi Islam dan berada di barisan orang-orang yang ingin menghancurkan Islam. Na’udzubillâhi min dzâlik. [Dedeh Wahidah Achmad]

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

five × 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password