Mengajari Anak Makna Haji Dan Persatuan Umat

Ibadah haji sangat lekat dengan pendidikan anak. Kita bisa menyaksikan betapa banyak sekolah PAUD dan TK yang menyelenggarakan latihan atau  manasik haji  untuk mengenalkan ibadah haji sejak dini.  Mereka pun dikenalkan dengan tahapan atau rukun-rukun ibadah haji. Mereka dikenalkan apa itu  ihram, wukuf, perjalanan menuju Masjidil Haram, melempar jumrah, tawaf, sa’i, juga tahalul. Semua dilakukan dengan menggunakan alat peraga. Ada alat peraga Ka’bah lengkap dengan semua atributnya. Anak anak pun memakai pakaian ihram sebagaimana layaknya haji sungguhan. Ini semua dilakukan untuk mengenalkan kepada anak-anak Rukun Islam ke lima ini.

Sayang, ada  yang luput dari pengajaran ibadah haji ini, yaitu mengajarkan kepada anak tentang makna haji dan persatuan umat. Inilah aspek politik pada ibadah haji yang sering terlupakan. Nah, bagaimana kita mengajarkan hal tersebut kepada anak anak kita?

Pertama: Kita perlu memahamkan terlebih dulu kepada anak tentang hakikat haji adalah wujud kesiapan untuk taat pada seluruh aturan Allah SWT. Apapun bentuk aturan itu, baik mudah maupun sulit, ringan ataupun berat akan dilaksanakan karena, yakin itu sebagai syarat amal diterima, sebagaimana dalam ibadah haji yang tercermin dalam kalimat talbiyyah “Labayk AlLâhumma labayk”, yang artinya,  “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah”.

Di poin inilah kita bisa mengajak anak untuk taat kepada Allah dalam kehidupan mereka sehari hari. Dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi. Taat kepada Allah SWT dalam  hal-hal yang bersifat ibadah ritual seperti shalat, puasa,  zakat; juga dalam syariah lainnya seperti dalam pergaulan dengan teman; juga ketika berinteraksi  dengan guru dan orangtua ataupun orang lainnya.

Kedua: Memahamkan anak bahwa haji bukan hanya sebatas ibadah ritual. Haji juga mengajarkan tentang persatuan umat Islam.  Kita bisa ajak mereka melihat video tayangan haji sehingga mereka bisa melihat saat haji, jutaan umat Islam di seluruh dunia berkumpul di Tanah Suci. Anak akan melihat bahwa jamaah yang jutaan tersebut bisa beribadah secara serentak.  Saat tawaf betapa teraturnya jutaan jamaah tersebut mengelililingi Ka’bah. Berpakaian sama. Beribadah dengan gerakan yang sama. Dalam waktu yang sama, semua lisan dipenuhi dengan doa dan zikir menyebut asma-Nya. Masya Allah. Siapapun pasti akan takjub, kagum menyaksikan semua itu.

Ketika memiliki dana yang cukup, anak-anak juga bisa kita ajak untuk umrah ke Tanah Suci. Sekalipun jamaah umrah tidak sebanyak haji, anak-anak akan mendapati pengalaman ibadah yang luar biasa. Mereka bisa bertemu dan beribadah bersama dengan saudara-saudara seiman mereka dari berbagai negeri di dunia. Mereka akan menyaksikan umat Islam dari seluruh penjuru dunia didorong oleh keimanan dan ketaatan kepada Allah,  hadir untuk memenuhi panggilan-Nya. Berbagai bangsa, ras, suku dan warna kulit bersatu diikat oleh ikatan akidah Islam.

Ketiga: Memahamkan anak pentingnya persatuan umat. Begitu pentingnya, ia menjadi salah satu yang dinasihatkan  Rasulullah saw. saat Haji Wada’. Di Bukit Arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 H, saat wukuf Rasulullah saw. mengingatkan umatnya bahwa sesama Muslim adalah bersaudara yang diikat oleh akidah Islam: “Wahai sekalian manusia. Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Setiap Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Kaum Muslim semua bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepada dia. Janganlah kalian menganiaya diri sendiri.”

Dalam khutbahnya Rasulullah saw. juga mengapus sekat-sekat yang didasarkan pada keturunan, ras, Arab atau bukan Arab. Beliau mengingatkan, “Hai manusia, sungguh Tuhan kalian itu satu. Bapak kalian juga satu. Kalian berasal dari Adam. Adam berasal dari tanah. Yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Tidak ada kelebihan orang Arab atas orang non-Arab, selain karena ketakwaan.

Khutbah ini menegaskan kembali bahwa umat Islam merupakan umat yang satu. Persatuan yang didasarkan pada akidah Islam inilah yang memperkuat umat Islam. Dengan prinsip ini, Islam menyatukan umat manusia.

Di poin ini kita bisa mengajak anak-anak melihat realita yang ada di sekitar mereka. Selain ayah ibu, kakak adik, juga kakek-nenek yang menjadi keluarga dan saudara mereka, ternyata mereka juga memiliki saudara dari jalur yang lain, yaitu saudara seiman. Siapakah mereka?  Teman-teman mereka dan orang-orang di sekitar mereka yang Muslim. Bahkan juga Muslim-muslim lainnya yang tinggal jauh dari mereka.  Kita bisa sampaikan bahwa ternyata kita bersaudara dengan Muslim Arab, Muslim Palestina, Muslim Afganistan dll. Tentu ada kewajiban kita sebagai sesama Muslim yang harus kita lakukan kepada mereka.

Keempat: Memahamkan anak bahwa dari ibadah haji dapat diambil pelajaran bahwa sebenarnya Muslim itu dapat disatukan. Selama ibadah haji kaum Muslim telah terlatih untuk mengendalikan amarah dan permusuhan; sebaliknya mengembangkan sikap ramah serta tolong-menolong sebagaimana disebutkan dalam QS al-Baqarah  ayat 197. Setelah ibadah haji usai, harapannya semua sikap tersebut bisa dilanjutkan. Umat bisa bersatu.

Kita pahamkan anak bahwa kita diperintahkan Allah SWT untuk  bersatu  bukan hanya saat ibadah haji. Persatuan umat Islam merupakan kewajiban mutlak kapan pun, juga dalam segenap aspek kehidupan seperti ekonomi maupun politik juga yang lainnya (Lihat: QS Ali Imran [3]: 103).

Jadi, sangat disayangkan kondisi umat Islam hari ini. Mereka  hanya bersatu dan taat kepada Allah SWT saat ibadah haji. Kita bisa sampaikan realita tersebut kepada anak-anak. Dengan itu  mereka benar-benar paham bahwa sudah seharusnya umat Islam bersatu tidak hanya saat ibadah haji.

Kelima: Memahamkan anak bahwa dari ibadah  haji ini juga dapat diambil pelajaran, bahwa agar bersatu, maka umat butuh satu aturan dan satu kepemimpinan. Bisa dibayangkan, agar bisa menjalankan ibadah ritual seperti haji dengan sempurna maka umat Islam sedunia harus bersatu di bawah  satu komando, dari satu pemimpin, dalam satu sistem yang menerapkan Islam. Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, tentu lebih butuh pemimpin dan sistem yang menerapkan Islam yang akan menyatukan umat Islam sedunia.

Di sinilah kita bisa mengajak anak untuk berpikir, bahwa persatuan ini tentu membutuhkan negara yang akan menyatukan  manusia di dalamnya dengan aturan yang sama dan tujuan yang sama. Dalam Islam negara ini disebut Khilafah.  Persatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah  inilah yang telah membuat umat Islam  ditakuti oleh musuh. Tidak ada yang membantah kalau umat Islam bersatu, pasti umat Islam kuat.

Kita bisa mengajak anak untuk melihat realita hari ini bahwa ketika hukum Allah tak diterapkan, dan umat Islam tak bersatu, maka mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja. Berbagai masalah pun menimpa.  Karena itu persatuan umat ini  mendesak untuk kita wujudkan. Satu kepemimpinan. Satu aturan kehidupan dengan berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Hanya dengan itulah kunci kebangkitan umat Islam dapat diraih.

Keenam: Mengajak anak untuk melakukan upaya mewujudkan persatuan tersebut, yang itu bisa dimulai dari skala yang paling kecil, yaitu lingkungan sekitar mereka. Di dalam rumah, misalnya, membiasakan untuk berlaku baik dengan saudara. Berusaha rukun. Menjaga sikap dan perbuatan agar tidak muncul pertengkaran yang bisa memecah atau memutus tali persaudaraan. Kemudian di sekolah, berusaha berbuat baik dengan teman, menghormati yang lebih tua dan menyanyangi yang muda, karena  semua adalah bersaudara.

Selanjutnya kita juga ajarkan kepada anak anak kita tentang kewajiban Muslim kepada Muslim lainnya.

Persatuan umat secara hakiki hanya akan terwujud ketika ada institusi yang menyatukannya, yaitu negara Khilafah Islamiyah ‘alâ minhâj an-nubuwwah. Karena itulah  kita juga perlu mengikut sertakan anak-anak kita dalam perjuangan politik untuk menegakkan Khilafah.

Penting untuk kita perhatikan, bahwa proses pengajaran ini sangat bergantung pada taraf perkembangan akal anak.  Untuk anak-anak yang masih kecil, tentu masih berupa pengenalan. Seiring dengan bertambahnya usia mereka, bertambah sempurna akal mereka,  mereka pun bisa kita ajak untuk berpikir lebih mendalam. Lalu  diskusi pun bisa kita arahkan untuk hal hal yang bersifat politis.

Tentu kita sebagai orangtuanya  paling mengetahui sejauh mana kita bisa berdiskusi dengan anak-anak kita. Apakah mereka ‘nyambung’ atau tidak dengan apa yang kita sampaikan. Jangan sampai apa yang kita sampaikan kepada mereka hanya sebatas maklumat (pengetahuan). Tidak berbekas, kecuali hanya sebagai sebuah ilmu semata. Kita harus upayakan bahwa apapun yang kita sampaikan menjadi mafhûm (pemahaman) bagi mereka sehingga mereka pun dengan penuh kesadaran mengamalkannya.

Terakhir, kita juga ajak anak-anak kita untuk senantiasa berdoa, mengangkat kedua belah tangan, meminta kepada Allah agar persatuan umat ini segera terwujud. Itulah persatuan umat hakiki  di bawah satu kepemimpinan seorang imam (khalifah) yang akan menerapkan hukum hukum Allah secara keseluruhan. Inilah yang akan menjadikan umat Islam kembali menjadi umat terbaik, menjadi khayru ummah.

WalLâhu a’lam bi ash-shawwâb. [Wiwing Noeraini]

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

14 − 9 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password