Agar Mood Belajar-mengajar Tetap Bergelora

Serangan virus Corona belum menunjukkan akan berakhir.  Jumlah yang terpapar pun terus dilaporkan.  Tentu kondisi pandemi ini berpengaruh dalam berbagai aktivitas kehidupan. Termasuk dalam kegiatan belajar-mengajar.  Aktivitas yang selama ini identik dengan suasana belajar di sekolah, sekarang terpaksa harus dilakukan di rumah.  Para orangtua pun dituntut untuk menjadi guru atau paling tidak menjadi pendamping dan pengawas belajar bagi putra-putrinya.

Di sinilah permasalahan mulai muncul.  Tidak jarang orangtua yang merasa tidak memiliki kemampuan untuk mengajar. Mereka juga tidak mempunyai banyak kesempakan untuk mendampingi anak-anaknya belajar dari rumah. Kegiatan belajar-mengajar pun menjadi aktivitas yang tidak menyenangkan, membosankan, bahkan tidak sedikit yang berujung pada perasaan tertekan.

Pertanyaannya, apa yang harus dilakukan orangtua untuk menciptakan kondisi belajar mengajarkan yang menyenangkan, bisa menambah ilmu dan pemahaman, juga bisa meraih limpahan pahala?

 

Realitas Mood

‘Mood’ dipengaruhi oleh suasana hati sehingga dikenal istilah badmood dan goodmood. Artinya, ketika kita ingin menciptakan mood yang baik untuk belajar, maka harus diupayakan untuk membuat suasana hati yang menyenangkan sehingga ada dorongan belajar. Sebaliknya, harus dijauhkan hal-hal yang bisa mengacaukan suasana hati sehingga enggan dan tidak semangat belajar.

Berbicara suasana hati sebenarnya terkait dua hal, yakni pemikiran dan rangsangan.

Pemikiran seseorang akan mempengaruhi pemahaman dan berikutnya menentukan sikapnya terhadap sesuatu.  Demikian pula terkait belajar-mengajar. Perlu dihadirkan pemahaman yang benar. Dengan itu lahir motivasi belajar yang kuat dan tetap semangat  mengkaji ilmu dalam keadaan apapun.

Berikutnya harus pula didatangkan rangsangan-rangsangan yang baik untuk menarik minat belajar anak. Berikut ini adalah beberapa hal yang penting dipahami terkait belajar-mengajar:

Pertama, tentang kewajiban belajar atau mencari  ilmu.  Pemahaman ini bukan saja harus dimiliki oleh pengajar dan orangtua, namun juga harus ada pada diri anak.  Keduanya harus memahami bahwa di dalam Islam kegiatan tersebut semata untuk memenuhi seruan Allah SWT yang disampaikan Rasulullah saw.:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِم

Mencari ilmu itu wajib atas setiap Muslim (HR Ibnu Majah).

 

Kedua, pemahaman terkait keutamaan ilmu. Banyak pernyataan yang mengungkapkan posisi ilmu dan keutamaannya.  Di antaranya seperti disampaikan oleh Imam Syafii bahwa ilmu itu cahaya.  Dengan ilmu kita akan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah sehingga kita bisa menghindari perkara yang akan menjerumuskan pada kesengsaran hidup di dunia dan kecelakaan di akhirat kelak.

Perlu pula dipahami bahwa ilmu merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Kebaikannya akan menghantarkan manusia pada derajat yang tinggi (lihat: QS al-Mujadilah [58]: 11).

Ketiga, pemahaman terkait makna kewajiban mencari ilmu.  Allah SWT memerintahkan kita untuk mempelajari ilmu dengan sebaik-baiknya.  Kita tidak dituntut untuk menentukan hasilnya. Kadangkala mood belajar hilang ketika mendapati bahwa upaya yang sudah dicurahkan untuk belajar selama ini ternyata  tidak membuahkan hasil yang diinginkan.  Jika tidak segera diselesaikan, perasaan kecewa ini sering berujung pada rasa malas untuk belajar.

Peran orangtua adalah bagaimana membuat anak paham bahwa kewajibannya adalah belajar sebaik-baiknya, bukan menentukan hasil. Karena itu penting senantiasa menguatkan ketakwaan pada Allah dan berdoa agar mendapatkan hasil yang baik.   Juga tetap meyakini bahwa Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan proses belajar yang sudah dilakukan.

 

Tergantung Rangsangan

Selain menghadirkan pemahaman yang benar tentang belajar-mengajar, mood belajar juga dipengaruhi oleh rangsangan yang diberikan. Orangtua berkewajiban mengadakan rangsangan yang menunjang semangat belajar dan berusaha menjauhkan apapun yang akan mengganggu motivasi belajar.

Di antara perkara yang harus diperhatikan dalam upaya merangsang mood belajar adalah: Pertama, tempat belajar.  Buatlah tempat belajar senyaman mungkin baik tempat duduk, pencahayaan, posisi, dll.  Jangan sampai semangat belajar turun karena tempatnya kurang mendukung; misalnya kurang terang, berisik, ramai dengan lalu-lalang orang yang lewat karena tempat belajar menghadap ke jalan.

Kedua, jauhkan dari perkara yang bisa mengalihkan fokus belajar seperti TV, gadget, dll

Ketiga, jika tidak ada waktu belajar yang mengikat dari sekolah, buatlah kesepakatan dengan anak kapan mereka siap belajar. Komitmen yang dibuat bersama dengan anak akan merangsang munculnya rasa tanggung jawab mereka terhadap tugas belajar yang harus mereka lakukan.

Keempat, mengevaluasi mood belajar anak.  Orangtua harus melakukan evaluasi jika ada gejala kurang baik dalam mood anak.  Jangan paksa mereka jika tampak kurang semangat atau menolak untuk belajar. Galilah apa yang menyebabkan mereka menunjukkan sikap begitu.  Boleh jadi masalahnya berasal dari dalam diri mereka sendiri seperti sakit, capek, lapar, atau mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran.  Bisa juga karena ada gangguan dari luar seperti adanya kegiatan lain yang lebih menarik, kurang suka dengan teknis pengajaran, dll.

Kelima, terapkan solusi sesuai dengan penyebab masalahnya. Misalnya, jika kurang semangat karena capek atau mengantuk maka berilah waktu istirahat.  Jika kecewa karena nilai yang diperoleh belum baik, maka kembalikan pada pemahaman terkait hakikat belajar.  Orangtua pun harus konsisten, yakni tidak menuntut anak memiliki nilai tinggi.  Berapapun yang dia raih, harus diapresiasi. Orangtua jangan mempertanyakan nilai rendah yang diperoleh, namun mengajak anak untuk mensyukuri apa yang sudah diperoleh dan mengevaluasi serta memberikan motivasi untuk terus semangat memperbaiki.

Keenam, hadirkan rangsangan-rangsangan positif seperti meceritakan kisah-kisah inspiratif tentang salah satu kunci keberhasilan orang-orang sukses adalah karena ilmu, juga kesulitan-kesulitan yang dihadapi ketika kurang menguasai ilmu.

Ketujuh, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan seperti: teknis penyampaian yang variatif; pembelajaran dimulai dari topik yang dianggap mudah sehingga akan membangun rasa percaya diri pada anak bahwa dirinya tidak bodoh; semangat belajar juga bisa dihidupkan dengan melakukan ice breaking; interaktif dengan melibatkan anak, seperti memintanya bertanya, atau menceritakan apa yang dipahaminya; menyertakan contoh-contoh yang sesuai dengan tema yang sedang dibahas juga fakta-fakta terkini.

Kedelapan, bangun mimpi dan cita-cita mereka dan sering mengingatkan pada mimpi tersebut.  Sampaikan kepada mereka bahwa di pundaknya ada harapan lahirnya generasi khayru ummah yang akan membangun kejayaan pedaban Islam.  Harapan tersebut bisa terwujud jika mereka memiliki ilmu yang mumpuni yang akan diperoleh dengan kesungguhan dalam belajar.

Kesembilan, berikan apresiasi.  Pengharga-an yang diberikan tidak terbatas pada perkara yang bersifat materi saja. Bisa berupa perhatian ketika mereka menceritakan pelajaran, mendengarkan pertanyaan dan keluhannya, memberikan pujian atas hasil apapun yang sudah mereka raih, mendoakan agar Allah SWT memberikan kemudahan dan melimpahkan pahala kepada mereka.

 

Harus Ikhlas

Hakikat orangtua adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.  Mereka adalah amanah dari Allah.  Karena itu pendidikan dan pengajaran yang diberikan orangtua pada anak harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan semata untuk memenuhi amanah tersebut (QS 66: 6). Kehadiran sekolah dan lembaga pendidikan hanyalah sebagai pihak yang akan membantu dan meringankan tugas orang tua.  Apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang. Kegiatan belajar-mengajar justru dilakukan di rumah bersama orang-tua. Peran orangtua sangat menentukan keberhasilan proses ini.

Oleh karena itu, orangtua pun harus memiliki pemahaman yang benar terkait belajar-mengajar ini. Semangat untuk menyampaikan ilmu harus senantiasa ada. Tidak boleh dikalahkan oleh rasa malas atau bosan.  Perlu ditanamkan dalam hati bahwa aktivitas ini berpeluang menjadi investasi tiada henti.  Tabungan pahala yang terus mengalir kepada orang yang mengajarkan ilmu kebaikan selama ilmu itu dimanfatkan.  Bahkan Rasulullah saw. bersabda:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْه عَمَلُه إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُولَه

Jika seorang manusia mati, terputuslah dari dia semua amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakan dirinya (HR Muslim).

 

Beliau pun bersabda:

فَوَ اللهِ لَأَنْ يَهْدِىَ اللهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُوْنَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, sungguh Allah memberikan petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagi kamu dibandingkan dengan unta merah (yaitu unta yang paling bagus dan paling mahal.) (HR al-Bukhari dan Muslim).

 

Pengajaran yang disampaikan oleh orangtua dengan sepenuh hati dan tanpa beban akan melahirkan kenyamanan pada diri anak. Ujungnya insya Allah semangat belajar mengajar pun akan tetap terjaga.

WalLahu a’lam bi ash-shawab. [Dedeh Wahidah Ahmad]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

seven + 16 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password