Propaganda Jahat Di Balik Isu Taliban

Taliban menggantung seseorang dari helikopter di Kandahar.” Begitulah propaganda jahat yang dicuitkan @Holbornlolz dalam sebuah unggahan videonya di Twitter pada akhir Agustus 2021. Dalam video berkualitas gambar rendah tersebut tampak sebuah helikopter Black Hawk terbang di langit Kandahar, Afghanistan. Meski agak buram, tampak seseorang menggelantung di ujung seutas tali yang ujung lainnya tersambung ke helikopter buatan Amerika itu.

Jutaan kali unggahan tersebut dibagikan. Salah seorang yang membagikannya adalah wartawan India Sudhir Chaudhary. Ia memiliki lebih dari 6 juta pengikut Twitter. Ia menabahkan dengan kalimat keji yang lebih meyakinkan lagi, “Taliban menggantung seseorang, yang diduga sebagai penerjemah Amerika, dari helikopter Black Hawk AS.”

Senada dengan wartawan dari India, para politisi Amerika juga membagikannya. Sebagiannya menambahi kalimat dengan kepentingan masing-masing, termasuk senator dari Partai Republik.

Ted Cruz, misalnya. anggota partai oposisi dari dapil Texas tersebut sembari membagikan cuitan fitnah tersebut menambahkan kalimat, “Gambar mengerikan ini merangkum bencana Afghanistan Joe Biden: Taliban menggantung seorang pria dari helikopter Black Hawk Amerika. Tragis. Tak terbayangkan.”

Tak mau kalah, Dan Crenshaw, senator dari Partai Republik juga, turut membagikannya dengan menambahkan kalimat untuk menyerang rezim Partai Demokrat yang telah menarik semua pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan, “Di dunia apa ini, ide yang bagus untuk menyerahkan sebuah negara kepada orang-orang ini.”

Setelah ditelusuri oleh CNN, ditemukanlah fakta bahwa sama sekali tidak ada pria digantung (diikat di leher) menggunakan di helikopter. Video tersebut awalnya diunggah akun Twitter pro-Taliban, Talib Times pada Senin pagi, 30 Agustus 2021 dan akun tersebut kini telah di-suspend Twitter.

Talib Times tidak memberikan indikasi bahwa ada eksekusi seorang pria dengan cara digantung di helikopter. Akun tersebut hanya menambahkan tulisan, “Angkatan udara kami! Pada saat ini, helikopter angkatan udara Imarah Islam terbang di atas kota Kandahar dan berpatroli di kota.”

Bahkan, CNN menemukan video versi lain dengan objek helikopter dan pria tergantung yang sama. Dalam versi tersebut, pria yang tergantung dari helikopter itu mengenakan tali kekang di sekujur tubuhnya, bukan tali di lehernya, dan dia bergerak bebas, bahkan tampak melambai.

Bilal Sarwary, seorang jurnalis Afghanistan yang melarikan diri dari negara itu dalam evakuasi akhir Agustus, berkicau pada Selasa yang intinya mendapatkan konfirmasi dari pilot yang menerbangkan pesawat tersebut bahwa lelaki yang bergelantungan itu merupakan pejuang Taliban yang mencoba memasang bendera Taliban dari udara, tetapi tidak berhasil.

Bayangkan, orang yang sedang berupaya sedang mengibarkan bendera negaranya bisa diplintir sedemikian jauhnya? Itulah salah satu propaganda jahat untuk memonsterisasi Taliban yang pada dasarnya sebagai langkah awal untuk mencitraburukkan Islam. Terlepas benar atau salahnya dalam menerapkan sebagian syariah Islam, Taliban itu jelas-jelas diidentikan sebagai pihak yang ingin menerapkan Islam dalam level negara.

Sialnya, Talib Times yang pertama mengunggah video tersebut malah di-suspend Twitter sehingga tidak bisa memberikan hak jawabnya. Orang yang menyebarkan fitnah itu, termasuk yang pertama memelintir keterangan dalam video tersebut, yakni @Holbornlolz, tidak dihapus.

Tak usah heran. Sejak pertengahan Agustus 2021 Facebook, Instagram, Twitter dan YouTube kompak untuk memblokir akun-akun yang pro Taliban. Dalih mereka, Taliban adalah kelompok teroris sebagaimana yang ditetapkan Amerika Serikat.

Untungnya, fitnah untuk memonsterisasi Taliban terungkap. Namun, tentu saja tak akan seviral video yang memfitnahnya. Celakanya lagi, tetap saja upaya menakut-nakuti publik dunia dengan propaganda jahat tak berhenti. Setidaknya itu ditunjukkan oleh Senator Ted Cruz yang menghapus video tersebut pada Selasa, 31 Agustus 2021, sembari menebar propaganda jahat lainnya.

“Ternyata unggahan yang saya bagikan dengan video Taliban ‘menggantung seorang pria’ dari helikopter mungkin tidak akurat. Jadi saya hapus cuitan itu. Yang tetap akurat adalah: Taliban adalah teroris brutal. Kami meninggalkan mereka dengan peralatan militer AS senilai jutaan, termasuk helikopter Black Hawk,” tulisnya dalam akun @tedcruz.

Lihatlah, dia menulis “Taliban adalah teroris brutal”. Seakan publik lupa bahwa Amerika Serikatlah yang secara brutal membantai kaum Muslim di Afghanistan dengan dalih memburu Usamah bin Ladin yang difitnah Amerika Serikat sebagai otak/dalang penghancuran gedung kembar WTC dalam peristiwa 11 September 2001 (9/11).

Pemerintahan Afghanistan di bawah Taliban saat itu dikriminalisasi oleh Amerika Serikat dengan tuduhan melindungi teroris karena tak mau menyerahkan Usamah bin Ladin. Lalu Afghanistan diperangi sedemikian rupa. Menurut catatan Cost of War yang dirangkum Universitas Brown, sekitar 241.000 orang tewas sejak AS menginvasi Afghanistan untuk menggulingkan Taliban setelah serangan 11 September 2001.

Ratusan ribu lainnya, kebanyakan warga sipil, tewas karena kelaparan, penyakit, dan cedera yang disebabkan oleh perang yang menghancurkan itu. Dari jumlah itu, sejumlah 71.344 adalah warga sipil yang tewas di kedua sisi perbatasan Afghanistan.

Sampai detik ini sama sekali tak ada satu bukti yang kuat menunjukkan Usamah bin Ladin sebagai dalangnya. Dalam buku The Hunt for KSM: Inside the Pursuit and Takedown of the Real 9/11 Mastermind, yang ditulis oleh Terry McDermott dan Josh Meyer malah disebutkan dengan jelas bahwa bukan Usamah bin Ladin pelaku/otaknya.

Jadi sebenarnya siapa yang teroris brutal? Ah, Ted Cruz tentu saja sudah tahu, Amerika Serikat sendirilah teroris brutalnya yang kala itu presidennya adalah George W. Bush, sama-sama dari partai Republik.

 

Menyerang Syariah

Selain itu, berbagai media Barat menyerang Taliban dengan isu syariah, terutama perlakukan terhadap wanita. Isu yang sangat kental dengan islamofobia dan anti syariah ini makin mengemuka dengan kembalinya Taliban menguasai Afghanistan.

Berbagai media Barat menyerang Taliban dengan isu syariah, terutama perlakukan terhadap wanita. BBC Indonesia daring pada 16 Agustus 2021, tidak lama setelah Taliban mengalahkan Kabul, membuat berita dengan headline yang provokatif, Afghanistan: Taliban kembali berkuasa, ‘setiap orang ketakutan’, warga meratapi hilangnya kebebasan.

“Penggunaan narasi ‘Setiap orang ketakutan’…menjadi pertanyaan, bagaimana BBC menyimpulkan setiap orang? Tentu saja, tidak. Ternyata BBC mengutip dari pernyataan narasumbernya yang mengatakan:  “Setiap orang ketakutan,” kata Jan Agha, 54 tahun, di distrik Arghistan, yang terletak di perbatasan dengan Pakistan, dan berjarak dua jam perjalanan dari timur Kota Kandahar. Persoalannya bagaimana BBC kemudian menyimpulkan dengan kata ‘setiap orang’?

Laporan yang sama dilakukan BBC pada 21 Agustus 2021, dengan headline, Perempuan Afghanistan: Ketakutan, keputusasaan, dan sedikit harapan di bawah kekuasaan Taliban. Penggunaan kata perempuan Afghanistan seolah-oleh mewakili semua perempuan di Afghanistan.

BBC mengawali narasi laporannya dengan tendensius menyerang Islam: Pemerintahan pertama Taliban lebih dari 20 tahun yang lalu ditandai dengan kebrutalan terhadap perempuan seperti pemenggalan, hukuman rajam sampai mati, dan paksaan untuk mengenakan burka.

Pengambilalihan kembali Afghanistan oleh Taliban diperkirakan akan diikuti oleh gelombang fitnah dari pemerintah Barat, pendukung kesetaraan gender (feminisme), dan media sekuler tentang apa arti penerapan hukum Islam bagi masa depan perempuan di negara itu.

Banyak kebohongan dan propaganda jahat melawan pemerintahan Islam dengan tuduhan bahwa Taliban akan menciptakan sebuah negara yang marak dengan kekerasan terhadap perempuan, anak perempuan tidak mendapat pendidikan, dan perempuan kehilangan hak untuk bekerja dan terlibat dalam kehidupan politik masyarakat mereka.

 

Tidak Tulus

Menanggapi propaganda yang penuh dengan fitnah dan kebohongan mengenai penindasan perempuan di bawah sistem Islam, aktivis Muslimah dunia Dr. Nazreen Nawaz menegaskan, pemerintah Barat dan media sekular mereka sesungguhnya tidak memiliki kepedulian yang tulus dan serius terhadap kesejahteraan serta hak-hak perempuan dan anak perempuan di Afghanistan, bahkan perempuan Muslim di seluruh dunia.

Nazreen mempertanyakan, di mana kekhawatiran Barat selama ini ketika ribuan wanita dan gadis Afghanistan terbunuh, ratusan ribu lainnya sekarat karena kelaparan dan penyakit, serta mengungsi dari rumah mereka?

“Di mana kepedulian Barat terhadap para janda perang dipaksa berjuang untuk bertahan hidup sehari-hari di negeri yang ekonomi, infrastruktur, pendidikan dan sistem perawatan kesehatannya hancur sebagai akibat dari perang dan pendudukan kolonialis Barat selama dua dekade ini?” ujarnya.

Kesan yang muncul bahwa massa perempuan di Afghanistan takut akan penerapan syariah dan menginginkan masa depan sekular bagi negara mereka adalah omong-kosong dan fiktif buatan kolonialisme Barat. Menurut Nazreen, perempuan Muslim di Afghanistan dan di seluruh negeri Islam memiliki keterikatan yang kuat dengan keyakinan, praktik, dan aturan Islam mereka, seperti yang telah mereka lakukan selama berabad-abad.

Nazreen mengutip laporan dari Pew Research Institute, tahun 2017, tentang kaum Muslim—laki-laki dan perempuan—di 39 negara menemukan bahwa 99 persen kaum Muslim di Afghanistan mendukung menjadikan hukum Islam sebagai hukum resmi di negara mereka. Mayoritas kaum Muslim di negeri-negeri Islam lainnya, termasuk Pakistan, Bangladesh, Irak, Mesir, Indonesia, Palestina, dan Yordania, juga mendukung penerapan hukum Islam.

“Ini hal yang logis, sebab kaum Muslim menyadari bahwa hanya Allah semata yang tahu cara terbaik dalam mengatur masyarakat dan negara mana pun untuk menjamin hak-hak semua, laki-laki dan perempuan, secara lebih adil dan harmonis,” ujarnya.

 

Role Model

Propaganda jahat itu tak hanya dilakukan oleh negara kafir penjajah, para penguasa di negeri Muslim yang membebek kepada Amerika pun turut melakukan monsterisasi Taliban. Di Indonesia, misalnya. Berkali-kali rezim Jokowi dan para pendukungnya memberikan pernyataan nyinyir terkait Taliban. Terbaru, melalui mulut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar, rezim menyatakan jangan sampai Taliban menjadi role model atau contoh masyarakat dalam aksi-aksi kekerasannya.

Aneh sekali pernyataan Boy Rafli Amar ini. Kekerasan yang dilakukan mujahidin di Afghanistan terutama yang dilakukan Taliban tentu saja dilakukan untuk mengusir penjajah Amerika dan NATO. Kalau kekerasan seperti itu, di mana letak kesalahannya? Bukankah itu pula yang dilakukan oleh pejuang-pejuang Indonesia ketika mengusir penjajah Belanda. Bukankah itu pula yang diserukan oleh para ulama ketika menghadapi penjajah Belanda, mereka menyerukan jihad fi sabilillah untuk melawan penjajahan?

Oleh karena itu kekerasan dalam rangka mengusir penjajah bukan hanya abash, tetapi juga kewajiban yang harus dilakukan. Karena itu patut diduga, itulah narasi-narasi yang beraroma islamofobia dengan melakukan serangan propaganda yang terus-menerus kepada Taliban.

Memang, apa yang dilakukan Taliban tentu tidak semuanya benar. Tidak semuanya sesuai dengan syariah Islam. Namun, dengan mengangkat terus-menurus isu Taliban untuk menyerang syariah Islam, ini suatu hal yang sangat keliru.

Kalau bicara soal role model, seharusnya yang diserang itu adalah penjajahan Amerika. Penjajahan Amerika itu jangan dijadikan role model. Penjajahan Amerika inilah yang telah menyebabkan pertumpahan darah di berbagai belahan dunia yang tidak menghargai nyawa umat Islam dalam perang propaganda mereka dalam war on terrorism.

Seharusnya yang dilakukan BNPT adalah tidak mengadopsi role model Amerika dalam perang melawan terorisme. Role model Amerika dalam perang melawan terorisme telah menjadikan Islam dan kaum Muslim sebagai targetnya.

Demikian juga yang harus dikritisi itu adalah bagaimana role model para penguasa sekular, diktator di negeri-negeri Islam yang telah menggunakan kekerasan untuk memberangus rakyatnya sendiri. Untuk kemudian mengkriminalisasi ulama. Ini role model yang seharusnya ditolak. Yang juga harus ditolak adalah menjadikan role model penjajah Yahudi di Palestina yang menggunakan kekerasan untuk terus menerus melakukan penjajahan.

Di sisi lain, umat Islam harus menjadikan Islam sebagai satu-satunya role model dalam seluruh kehidupan mereka. Termasuk dalam kehidupan bernegara. Role model yang harus diterapkan adalah role model yang telah dipraktikkan oleh Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Itulah  negara yang didasarkan pada syariah Islam, menjadi milik seluruh umat Islam, menerapkan syariah Islam secara kaffah dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Bukan yang lain. Selain itu, selalu waspada dengan berbagai propaganda jahat kafir penjajah dan antek-anteknya. [Farid Wadjdi dan Joko Prasetyo]

 

 

0 Comments

Leave a Comment

four − 4 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password