Masa Depan Afghanistan

Who rules the Heartland commands the World-Island

Who rules the World-Island commands the World.

(Halford J. Mackinder)

Peristiwa hengkangnya AS dari Afghanistan memang menggegerkan meskipun termasuk peristiwa yang sudah sangat diantisipasi oleh Amerika sendiri. Perundingan dengan Taliban yang memakan waktu lama dan dilangsungkan putaran demi putaran menunjukkan Amerika sudah menyiapkan skenario exit strategy dari Afghanistan. Amerika sekarang lebih memilih strategi “berbiaya murah” dengan pengaruh yang optimal di Afghanistan. Indikasinya jelas, seperti yang tersirat dalam Perjanjian Doha. Kalaupun ada pengiriman pasukan, probabilitasnya sudah tidak lagi sebesar 20 tahun lalu saat AS dan NATO masih memiliki vitalitas penuh dalam hal ekonomi. Bagaimanapun biayanya terlalu mahal bagi AS untuk kembali mengerahkan tentara dan militernya ke Afghanistan. Apalagi AS saat ini menghadapi kemelut dalam negeri yang akut karena “perang abadi” di Afghanistan yang telah menghabiskan triliunan dollar AS tanpa hasil yang jelas bagi Amerika.

Sudah jelas, pendekatan soft power dipilih Amerika untuk tetap mengontrol Afghanistan, dengan kekuatan diplomasi uang, agen-agen pembangunan baik NGO maupun Lembaga PBB, serta mesin propaganda media yang siap mengontrol persepsi publik dunia soal identitas Islam Taliban. Amerika juga berusaha menanamkan pengaruhnya di negara-negara tetangga Afghanistan seperti Asia Tengah dan Pakistan untuk memelihara hegemoninya di negeri itu melalui forum-forum kerjasama Kawasan.

Jaringan agen dan media yang telah ditanam di banyak kawasan Dunia Islam adalah investasi AS yang sekarang bisa bekerja ‘auto pilot’. Mereka lebih efisien bahu-membahu demi membidik aktivis Muslim yang mereka anggap radikal dengan bantuan gorengan isu Taliban di media-media. Terorisme, HAM dan hak-hak perempuan adalah tiga jenis gagasan yang akan terus dimainkan dalam teater opini dan gerakan deradikalisasi dengan memanfaatkan isu Taliban. Sebagai contoh di Indonesia, para nasionalis komprador telah bergandengan tangan dengan jaringan media liberal termasuk para buzzer bayaran, untuk memompakan narasi monsterisasi ajaran Islam. Pernyataan kontroversi seorang pengamat intelijen perempuan tentang ancaman Talibanisme di dunia pendidikan yang cirinya adalah tidak mau hormat pada bendera Merah Putih, tak memasang foto presiden, hingga menghapal nama menteri-menteri adalah bagian dari teater opini murahan ini. Sebelumnya bulan Juni 2021, seorang buzzer komprador juga menyerang film anak islami “Nussa-Rara” di Indonesia dengan mengatakan film tersebut mempromosikan radikalisme dan menggunakan pakaian khas anak-anak Taliban, bukan anak-anak Indonesia.

Saat ini mereka memanfaatkan momen global yakni krisis Afghanistan sebagai panggung teater untuk kembali menggoreng propaganda soal Taliban. Pelajaran penting dari sejarah Taliban yang menerapkan syariah secara parsial dan kaku telah membuahkan dramatisasi oleh media Barat akan buruknya nasib pendidikan anak-anak dan perempuan di bawah syariah Islam. Selama dua dekade, kelemahan ini telah menjadi attack point yang selalu dimainkan oleh jaringan media sekular milik Barat demi agenda Islamophobianya. Jaringan media Barat ini sangat efektif berperan seperti mesin propaganda monsterisasi syariah Islam ke seluruh Dunia Islam.

 

Peran Kunci Pakistan

Berbicara soal masa depan Islam di Afghanisan dan kawasan sekitarnya, ada satu negara yang telah memainkan peran kunci sejak lama, yakni Pakistan. Pasca berakhirnya pendudukan Soviet di Afghanistan, sebenarnya Pakistan memiliki jaringan pengaruh paling luas di kawasan Asia Tengah dan Selatan. Posisi geografisnya yang tepat berada di sebelah Tenggara Afghanistan, sebelah Barat-nya Kashmir dan Barat Daya-nya Xinjiang, membuat Pakistan lebih strategis jika dibandingkan dengan Turki dan Iran, untuk berperan menjadi satelit Amerika di kawasan tersebut yang bertindak sebagai jalan keluar dari Asia Tengah yang terkurung daratan menuju Samudera Hindia.

Politik garis batas sejak lama terkenal sebagai cara kolonialis untuk melemahkan, memecah-belah dan mendominasi negei-negeri Islam. Di Kawasan Asia Selatan dan Asia Tengah, Garis Durand membuat Afghanistan menjadi terpisah dari Pakistan hingga menjadi kecil dan lemah, terkunci dan rentan terhadap invasi musuh-musuh Umat Islam, baik itu Rusia sebelum 1989 atau India dan Amerika Serikat sejak 2001. Durand Line membelah area suku Pashtun menuju ke selatan melewati daerah Balochistan. Memisahkan etnis Pashtuns secara politik. Begitu pula Baloch dan kelompok etnis lainnya, yang tinggal di kedua sisi batas. Mereka menjadi korban dan pengungsi di tanah ini melalui permainan besar, konspirasi dan permainan ganda. Akibatnya, ratusan ribu nyawa Muslim di kawasan menjadi tumbal.

Seperti yang diurai oleh Shakhrukh Hamdani (2021) dalam artikelnya, Pakistan alih-alih memanfaatkan potensi perannya yang besar di Asia Tengah untuk masa depan Islam dan penyatuan negeri-negeri Islam di kawasan. Pandangan rabun para penguasa Pakistan membuat Pakistan memilih peran yang lebih kerdil demi sekadar berebut proyek kesepakatan geoekonomi perdagangan di bidang kapas, farmasi, telekomunikasi, pertanian, pembangunan jalan raya dan komunikasi satelit dengan negara-negara Asia Tengah. Ini termasuk proyek pipa gas Turkmenistan–Afghanistan–Pakistan–India (TAPI) yang juga dikenal sebagai jalur pipa gas Trans-Afghanistan. Proyek TAPI adalah crown jewel bagi Amerika untuk perlombaan besar menuju Asia Tengah pada tahun sembilan puluhan, sekaligus menjadi salah satu alasan invasi Amerika pasca 9/11 ke Afghanistan pada tahun 2001, yakni untuk mengamankan jalur pipa gas ini. Namun, kedekatan Pakistan dengan Taliban untuk mengamankan rute Trans-Afghanistan, membuat negara-negara Asia Tengah merasa terancam dan malah menghidupkan kembali hubungan keamanan dan ekonomi era Soviet dengan Rusia. Mereka bahkan melakukan ‘down grade’ hubungan politik dan ekonomi dengan Pakistan setelah menuduh Pakistan mendukung jihadis di Afghanistan.

Apa yang gagal disadari lagi oleh para pemimpin Pakistan, Turki dan Iran adalah bahwa aliansi ekonomi dan rencana konektivitas tidak akan pernah membuahkan hasil karena semuanya adalah rencana penjajah. Proyek geoekonomi ala kapitalis ini sama sekali tidak memiliki visi pemersatu selain mendukung kekuatan besar kolonialis dalam rencana regionalnya. Setelah kegagalan proyek TAPI, Pakistan kemudian diizinkan oleh AS untuk merapat ke China dengan memanfaatkan jalur rantai suplai via pelabuhan laut dalam Gwadar dan Karachi sebagai pusat pengiriman yang ideal untuk China, menghubungkan ke Xinjiang dan menyediakan akses ke Laut Arab bagi China. Sama seperti TAPI yang menjadi proyek primadona tahun 90-an, maka pada tahun 2015 proyek CPEC (Koridor Ekonomi China-Pakistan) diluncurkan sebagai game changer atau ‘pengubah permainan’ bagi Pakistan, karena ia menjadi pusat dan mata rantai penting dari Inisiatif Sabuk dan Jalan China (BRI) yang bernilai triliunan dolar.

Proyek CPEC diklaim oleh pemimpin Pakistan akan merangsang pertumbuhan ekonomi. Dengan fokusnya pada wilayah barat negara itu, rezim Pakistan mengklaim hal itu mungkin juga membantu meningkatkan kondisi kehidupan secara keseluruhan di Baluchistan yang terbengkalai dan terbelakang, sembari bisa mengekang pemberontakan yang meningkat di sana dengan menghilangkan oksigen dari kebencian dan kemiskinan. Namun, alih-alih mengekang pemberontakan Baluchistan, proyek tersebut justru memperburuknya dengan membangun kebencian terhadap China. Bahkan setelah tujuh tahun belum ada penciptaan lapangan kerja yang substansial di negara ini karena proyek tersebut. Bahkan sekarang Pakistan terancam dengan “jebakan utang” China yang semakin membengkak.

Baik TAPI maupun CPEC pada dasarnya adalah rencana kolonialis. Manfaat strategis dan ekonominya bagi China jauh melebihi secuil manfaat bagi Pakistan. Adapun AS bermain dengan dua kaki untuk menyibukkan China dalam proyek-proyek ekonomi. Akibatnya, energi China terbelah hingga mengalihkannya dari fokus di Laut China Selatan.

Alhasil, rezim Pakistan telah mempertaruh-kan nasib kawasan itu termasuk Afghanistan, dengan dua proyek geo-ekonomi kolonialis: proyek konektivitas TAPI Amerika Serikat dengan koridor Timur-Barat, dan yang kedua adalah koridor ekonomi utara-selatan China, CPEC. Pakistan telah memfasilitasi banyak pergerakan raksasa penjajah di kawasan, termasuk semakin menyudutkan Afghanistan terkunci di posisinya.

 

Kartu Taliban

Belajar dari pengkhianatan Pakistan, seharusnya pemimpin Taliban memiliki kesadaran politik Islam yang lebih mendalam mengingat begitu besarnya pertarungan pengaruh di Kawasan. Umat Islam di sana memiliki keunggulan Geopolitik dan SDA, tetapi juga dikelilingi kekuatan-kekuatan raksasa.

Taliban seharusnya justru berpartner dengan kekuatan Muslim di Pakistan yang masih memiliki ketulusan dalam membangun tanah Afghanistan yang telah banyak disiram darah syuhada’. Bahkan Taliban memiliki peluang menjadi lokomotif penyatuan negeri-negeri Muslim menjadi satu kekuatan di bawah Khilafah Islam. Konsep negara lokal Imarah Islam yang diadopsi Taliban, selain tidak akan efektif membendung raksasa-raksasa penjajah, juga tidak dibenarkan syariah Islam. Konsep negara regional/lokal ini akan memaksa untuk mengabaikan kaum Muslim yang ada di semua negara di dunia serta mengabaikan komunitas Muslim di luar garis batas Afghanistan yakni di Xinjiang Turkistan Timur dan wilayah Kashmir yang tertindas. Untuk itu Taliban perlu menyadari bahwa setiap keterlibatan pada aturan hasil pencampuradukan antara Islam dan sekularisme tidak diridhai oleh Allah SWT. Dia Yang Maha Perkasa dan Mahakuasa tidak menerima apa pun kecuali kebaikan.

Taliban harus memiliki kesadaran politik untuk memberikan lampu merah pada investasi China. Jika dihitung dari kalkulator kapitalis, investasi tersebut memang menguntungkan karena mereka memiliki kekuatan modal dan teknologi. Namun, tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi Afghanistan yang lumpuh setelah 20 tahun dalam pendudukan AS. Namun, jika dihitung dengan kalkulator Islam jelas banyak kerugian dan madaaratnya. Selain risiko kekayaan alam yang dihisap China, tentu pinjaman ribawi berbunga yang akan menjadi maksiat besar bagi pemerintahan Taliban.

Risiko menolak China sebenarnya tidak banyak. China tampaknya tidak akan berani mengulangi kesalahan AS, yakni menduduki Afghanistan secara militer sehingga kemungkinan konfrontasi militer dengan China itu tidak besar. Apalagi Afghanistan memiliki kontrol pada titik-titik lemah China, yakni jalur pipa gas serta koridor ekonomi jalur sutera yang bisa “diganggu” sirkulasinya oleh Taliban kapanpun mereka mau. Selain itu China juga memiliki titik lemah di dalam negeri, yakni pergerakan Turkistan Timur yang berpotensi bersatu dengan Taliban untuk kepentingan perjuangan Islam, termasuk negeri-negeri Muslim Asia Tengah.

 

Poros Kekuatan Islam Kawasan

Masa depan umat Islam di kawasan saat ini bergantung pada peran Taliban di Afghanistan dan Pakistan. Dua negara ini adalah kuncinya. Fakta juga menunjukkan bahwa Taliban yang dibesarkan di madrasah Pakistan dan dilatih di bawah pengawasan tentara Pakistan memiliki lebih banyak kesamaan dengan Pakistan daripada negara asing atau negara tetangga lainnya. Rakyat Afghanistan dan Pakistan juga memiliki ikatan sejarah dan identitas Islam yang kuat, berbagi mazhab Hanafi yang sama dan memiliki kerinduan yang mendalam untuk kembalinya Islam. Yang terpenting, rakyat kedua negara lelah dengan campur tangan dan penaklukan Barat. Karena itu masuk akal bagi Afghanistan dan Pakistan untuk melebur menjadi satu kesatuan untuk mendukung kembalinya Islam di jantung Eurasia dan menghilangkan pengaruh Amerika, Rusia dan China dari kawasan itu untuk selamanya.

Afghanistan-Pakistan-Negeri Muslim Asia Tengah adalah poros kekuatan Islam di kawasan tersebut yang paling ditakuti oleh kekuatan sekular. Alhasil, masa depan Islam kembali pada bagaimana performa politik Taliban juga Pakistan dalam melalui fase transisi ini. Apakah mereka akan memainkan kartunya untuk Islam dan kebenaran ajaran Allah dan Rasul-Nya atau sekadar permainan politik kepentingan dalam skala lokal? Mengikuti kebenaran adalah satu-satunya jalan yang akan menyelamatkan Taliban, negara (Afghanistan), rakyatnya dan seluruh Muslim di Asia Tengah-Selatan. Kebenaran itu adalah ajaran Islam, ideologi dan syariahnya. Masalah utama bagi umat Islam adalah kembalinya Khilafah setelah ketiadaannya sekian lama. Ini adalah fardhu (kewajiban) yang diamanahkan Allah SWT dan ketaatan kepada Rasulullah saw.

Satu-satunya cara mencegah musuh menginjakkan kaki mereka ke tanah kaum Muslim adalah dengan membentengi mereka; dengan menyatukan Pakistan, Afghanistan dan Asia Tengah sebagai satu negara Khilafah Islam. Inilah kekuatan Islam, bukan terletak pada ketergantungan dan aliansi pada musuh-musuh Muslim, apakah itu Cina atau Rusia di Timur atau AS di Barat. Khilafah akan menyatukan sumberdaya manusia dan kekayaan alam Muslim, mengubah takdir kawasan melalui kekuatan ideologi Islam.

Bayangkan saja, jika hanya beberapa ribu Mujahidin dengan senjata seadanya, telah mengubur arogansi AS sebagai kekuatan kolonialis ketiga di kuburan para imperium. Apalagi jika poros Afghanistan-Pakistan bersatu. Sudah waktunya untuk mendirikan Khilafah, menyatukan Pakistan, Afghanistan dan Asia Tengah, sebagai satu negara yang kuat. Alih-alih menyerahkan nasib kita kepada negara-negara kolonialis, Khilafah akan memberdayakan kekuatan umat, menyatukan sumberdayanya untuk mengamankan kepentingan Islam dan kaum Muslim. [Dr. Fika Komara]

 

Referensi:

Akhilesh Pillalamarri (2017), Why Is Afghanistan the ‘Graveyard of Empires’? The Diplomat

Shahrukh Hamdani (2021), Pakistan and the Fallacy of Geo-Economics the Race for Central Asia, Kantor Berita Hizb ut Tahrir

Umar Farsi (2021), Strengthening the Struggle between the Powers for Influence in Central Asia, Kantor Berita Hizb ut Tahrir

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

1 × 2 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password