Mengapa Taliban Menang Melawan AS?

Per 31 Agustus 2021 Amerika Serikat secara resmi menarik semua pasukannya dari Afghanistan. Penarikan ini dilakukan setelah 20 tahun AS bersama NATO berupaya menggulingkan kekuasaan Taliban dan menggantinya dengan rezim boneka. Selama 20 tahun itu juga, AS melalui empat presiden yang pernah berkuasa, berusaha sekuat tenaga untuk menghancurkan Taliban dan membendung gerakan ini. Namun, jawaban yang Taliban berikan adalah perlawanan sengit dan pengusiran AS dan sekutunya dari tanah Afghanistan.

Keluarnya sekutu negara superpower abad ini membuktikan bahwa Amerika Serikat tidaklah sedigdaya yang selalu digambarkan dan gelar Afghanistan sebagai the graveyard of empires “kuburan para imperium” terbukti kembali.

Amerika Serikat memutuskan keluar dari Afghanistan bukan karena misi yang sudah selesai dan patut dirayakan. Pidato Biden, 16 Agustus di Gedung Putih, sehari setelah pengambilalihan Kabul oleh Taliban menjelaskan dua hal: Pertama, Biden ingin memoles kekalahannya dengan pernyataan bahwa AS telah menang karena Afghanistan tidak lagi menjadi rumah bagi teroris; Kedua, AS mengakui bahwa kelompok yang terkuat yang saat ini ada di Afghanistan adalah Taliban.1

Terlepas dari klaim yang dibuat AS, faktanya koalisi AS – NATO bersama rezim Afghanistan gagal saat berhadapan dengan Taliban dan akhirnya harus rela menyerahkan Afghanistan di bawah kekuasaan Taliban.

Secara statistik AS dan pasukan Afghanistan seharusnya bisa lebih unggul daripada Taliban. Jumlah pasukan AS yang pernah dikirim sebanyak 800.000 orang. Lebih dari 2 triliun dolar AS dihabiskan untuk perang dan pembangunan Afghanistan. Pasukan Afghanistan yang telah dilatih pun sebanyak 300.000 orang.2

Sebaliknya, kekuatan Taliban diperkirakan maksimal hanya 100.000 orang dengan logistik yang pasti jauh lebih terbatas dibandingkan dengan pasukan koalisi AS. Sayangnya, perang bukan sekadar hitung-hitungan kekuatan prajurit dan logistik atau peralatan tempur. Banyak faktor yang terlibat di dalamnya seperti kualitas kepemimpinan, mental dan kekuatan strategi.

Menurut, Doug Lute (2021), pensiunan militer AS dan penasihat AS dalam Perang Afghanistan: Dalam peperangan faktor-faktor mental, kedisiplinan, kepemimpinan, kohesivitas pasukan lebih menentukan kemenangan daripada jumlah pasukan dan peralatan perang yang dimiliki. Aspek moral lebih unggul daripada aspek material dalam peperangan. Tentara Afghanistan memiliki keunggulan material, namun kalah dari aspek moral atau mental daripada pasukan Taliban.3

Sejak menggulingkan Taliban pada tahun 2001, Afghanistan mengangkat Hamid Karzai sebagai presiden yang berkuasa sampai tahun 2014, kemudian dilanjutkan oleh Ashraf Ghani. Negara ini di bawah dua rezim tersebut sangat bergantung pada Amerika Serikat dalam aspek pembangunan ekonomi, keamanan dan bantuan bantuan militer. Sayangnya, Pemerintahan boneka AS ini tidak mampu membangun negara sebagaimana yang diharapkan. Yang terjadi malah sebaliknya. Kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan hukum, pendidikan yang buruk, keterbelakangan dan korupsi terus menerus terjadi. Ini yang membuat legitimasi rezim sekular Afghanistan menjadi sangat lemah di mata rakyatnya.

Berbanding terbalik dengan Taliban sejak kelompok mujahidin ini mengambil-alih kepemimpinan di berbagai wilayah. Taliban dianggap mampu menghadirkan kepemimpinan yang tidak korup dan adil dalam pelaksanaan hukum meskipun dianggap keras. Menurut James E. Baldwin (2021), seorang pakar sejarah hukum Islam dari universitas London, meskipun Taliban dianggap kelompok ekstremis dan keras, mereka mampu membangun hukum yang adil di masyarakat.4

Di banyak tempat, menurut Ashley & Weigand (2019), masyarakat bahkan lebih memilih menyelesaikan kasus-kasus hukum mereka di pengadilan Taliban dibandingkan harus ke pengadilan negara yang prosesnya lama, jaraknya jauh dan hanya memenangkan kalangan yang berduit saja. Taliban juga dipercaya tidak korup. Proses penyelesaian kasus cepat. Keberadaan para hakimnya menjangkau sampai wilayah-wilayah terpencil.5

Baldwin juga menjelaskan bahwa di era pemerintahan Taliban yang pertama pun pada tahun 1996-2001 rezim ini mampu menjadi kekuasaan alternatif yang memberikan rasa aman dan keadilan hukum bagi masyarakat terlepas dari berbagai kontroversi kebijakan yang mereka buat. Sebelumnya, pasca Perang Soviet, Afghanistan terpecah-belah. Kekuasaan di pegang oleh faksi-faksi militer di berbagai wilayah. Berbagai kriminalitas seperti perampokan, perampasan harta, tanah dan  pemerasan kerap terjadi. Kaum perempuan juga mengalami nasib serupa. Mereka dijadikan objek pertukaran hadiah para milisi dan ancaman kehilangan nyawa yang sewaktu -waktu bisa menghadang. Taliban berkuasa dengan menciptakan rasa aman bagi masyarakat termasuk kaum perempuan. Rahmatullah Hashemi, utusan Taliban saat berkunjung ke AS pada Maret,  2001 dalam diskusi di University of Southern California, AS, menjelaskan bahwa di era Taliban kaum wanita bebas bekerja termasuk di lembaga-lembaga pemerintahan. Mereka juga bebas untuk mendapatkan pendidikan.6 Menurut Hashemi, jika pun Taliban melarang perempuan keluar rumah itu karena faktor keamanan dan tidak berlangsung lama.7

Mental korup pemerintahan Afghanistan juga berdampak pada lemahnya kekuatan pasukan bersenjatan negara ini walaupun terus-menerus disuplai oleh peralatan perang modern AS dan berbagai pelatihan.  Uang sebesar 83 miliar dollar AS untuk militer dari AS terbuang sia-sia oleh korupsi, termasuk pemborosan, penipuan dan berbagai praktik korup lainnya. Hal ini yang membuat banyak tentara Afghanistan yang tidak mendapatkan gaji dengan layak, termasuk minim persenjataan untuk melawan Taliban. Hal ini pun berkontribusi besar terhadap lemahnya moral dan mental perlawanan tentara Afghanistan melawan Taliban.8

Faktor lain yang menyebabkan kekalahan AS menghadapi Taliban adalah karena AS dianggap terlalu memandang enteng Taliban pasca penggulingan tahun 2001 tanpa mempertimbangkan faktor geopolitik Afghanistan. Afghanistan adalah negara yang dipenuhi oleh gunung-gunung dan banyak lembah. Akses perjalanan dari daerah yang satu ke daerah yang lain harus melewati jalur yang sulit dengan kondisi alam seperti itu. Ini yang membuat sulitnya proses pembangunan negara ini dilakukan dan sekaligus menghambat proses penyatuan nasional negara ini. Akibatnya, kekuasaan pemerintah pusat tetap menjadi sangat lemah di berbagai wilayah. Ini membuka peluang besar bagi Taliban untuk bangkit untuk kedua kalinya.9

Pada tahun 2003 AS melakukan invasi lagi ke Irak dan memfokuskan perhatian lebih ke negara ini. Di tengah kondisi itu, Taliban mulai membangun kekuatan kembali dan melakukan perlawanan. Gerakan di awali di daerah-daerah pedesaan yang jauh dari pusat kekuasaan dan lemah dari penjagaan militer penguasa. Walaupun di respon oleh Pemerintah AS, dengan menambah terus pasukan bahkan sampai lebih seratus ribu prajurit pada tahun 2011, hal itu tetap tidak mampu menghancurkan Taliban. Yang terjadi, kelompok ini bahkan mampu meningkatkan dukungan di masyarakat. Sadar dengan ketangguhan Taliban, AS memulai cara yang berbeda untuk menghadapi kelompok ini dari strategi konfrontatif militeristik ke pendekatan yang lebih akomodatif.10

Sikap melunak AS bisa dilihat dari proses negosiasi yang dimulai tahun 2011. AS menuruti berbagai permintaan Taliban seperti  persetujuan AS atas pendirian kantor perwakilan Taliban di Qatar tahun 2013,11 pertukaran tawanan antara kedua belah pihak tahun 2014; dan pembebasan Mullah Abdul Ghani Baradar tahun 2018 oleh Pakistan atas desakan AS.12

Berlangsungnya negosiasi yang terjadi membuat Taliban semakin di atas angin. Setelah AS mundur perlahan pada tahun 2014, serangan Taliban semakin intensif dan wilayah taklukan semakin meluas. Hal yang sama terjadi pasca kesepakatan Doha, Qatar, pada Februari, 2020. Reuters melaporkan, terjadi 4.500 serangan yang dilakukan oleh Taliban yang minim perlawanan baik dari pihak tentara Afghanistan maupun Amerika Serikat.  Serangan ini naik berkali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.13

Strategi dan kepemimpinan Taliban di wilayah Afghanistan berhasil membawa kelompok ini berkuasa untuk kedua kalinya di Afghanistan dengan menjadikan negara ini sebagai Negara Islam. Meskipun demikian, banyak yang masih meragukan kemampuan kelompok ini memimpin negara Afghanistan yang besar dan dengan masalah yang kompleks. Pasalnya, Taliban bukanlah kelompok yang bermain di tataran konsep dengan menjabarkan detail-detail terkait konsep bernegara dan berbagai kebijakan yang hendak dibangun. Karena itu menurut Mohammad Moheq, Professor di Universitas Herat, untuk memahami gagasan intelektual Taliban kita mesti melihat perilaku kelompok ini sebab tidak ada referensi tertulis yang bisa diakses publik terkait produk pemikiran mereka.14

Membandingkan sikap Taliban saat ini yang dianggap lebih moderat terhadap Barat sebenarnya kurang lebih sama dengan di era Taliban yang dulu, 1996 – 2001. Taliban tidak seperti al-Qaeda atau ISIS yang mendeklarasikan jihad global melawan AS dan ingin mendirikan negara transnasional atau Khilafah Islamiyah. Rezim Taliban menjadikan persoalan domestik utama Afghanistan menjadi hal yang paling pokok.15 Taliban hanya diakui oleh Arab Saudi, Pakistan dan Uni Emirat Arab. Taliban telah berupaya menjalin kerjasama positif dengan berbagai negara termasuk mengundang korporasi international dan badan-badan PBB untuk ikut membantu pembangunan negara Afghanistan.16 Sikap yang sama ditunjukkan Taliban saat mengambil alih Kabul pada 15 Agustus 2021. Dalam berbagai konferensi pers dan wawancara dengan Taliban jelas bahwa kelompok ini lebih terbuka dan siap bekerjasama dengan berbagai negara termasuk dengan AS, Rusia dan China.

Terkait dengan bagaimana masa depan Afghanistan di bawah Taliban, dunia masih mencoba menerka apa yang akan terjadi. Namun, kemenangan Taliban harus tetap diapresiasi sebagai upaya untuk memperjuangkan Islam dan mengusir penjajah dari tanah kaum Muslim. Yang harus diwaspadai saat ini adalah politik tipudaya yang sedang dirancang oleh Barat untuk tetap menjadikan negara Afghanistan yang strategis tetap dalam jalur politik imperialisme mereka. Jika Taliban lengah terhadap hal ini, maka masa depan Afghanistan akan tetap suram.

WalLahu a’lam bi ash-shawwab. [Hasbi Aswar, S.I.P., MA; Akademisi dan Peneliti Politik Internasional]

 

Catatan kaki:

1        The White House. (2021). Remarks by President Biden on Afghanistan, https://www.whitehouse.gov/briefing-room/speeches-remarks/2021/08/16/remarks-by-president-biden-on-afghanistan/.

2        BBC News. (2021). Afghanistan: What has the conflict cost the US and its allies?

https://www.bbc.com/news/world-47391821

3        Robert Burns/AP . (2021). How $83 Billion Spent on the Afghan Army Ended Up Benefiting the Taliban, https://time.com/6090830/us-spending-afghan-army-billions/, diakses 6 September 2021.

4        James E Baldwin. (2021). Why do many Afghans support the Taliban’s extreme version of sharia law?, https://www.telegraph.co.uk/global-health/terror-and-security/do-many-afghans-support-talibans-extreme-version-sharia-law/

5        Ashley Jackson & Florian Weigand. (2019). The Taliban’s War for Legitimacy in Afghanistan.     Current History, 118: 807, 143–148.

6        Selim Öztürk. (2019). The Taliban Regime in Afghanistan: En Route to International Recognition?, Middle East Policy, 26:4, 102-112.

7        Rahmatullah Hashemi. (2001). Roving Afghanistan Ambassador Sayyid Rahmatullah Hashemi’s Speech at The University of Southern California on March 10, 2001, http://www.themodernreligion.com/jihad/afghan/speech.html

8        P. Michael McKinley. (2021). We All Lost Afghanistan: Two Decades of Mistakes, Misjudgments, and Collective Failure, August 16, 2021, https://www.foreignaffairs.com/articles/united-states/2021-08-16/we-all-lost-afghanistan-taliban

9        James Dobbins. (2021). Afghanistan Was Lost Long Ago Defeat Wasn’t Inevitable, but Early Mistakes Made Success Unlikely, https://www.foreignaffairs.com/articles/afghanistan/2021-08-30/afghanistan-was-lost-long-ago

10      Xuemei Qian. (2019). On the relations between the US and the Afghan Taliban. China International Strategy Review, https://doi.org/10.1007/s42533-020-00045-9 .

11      Ashley Jackson & Florian Weigand, op.cit.

12      Mohammed Ayoob. (2021). Pakistan’s Deal with the Devil in Afghanistan, https://nationalinterest.org/blog/middle-east-watch/pakistans-deal-devil-afghanistan-192076

13      Hamid Shalizi, Abdul Qadir Sediqi,& Rupam Jain. (2020). Taliban step up attacks on Afghan forces since signing U.S. deal: data https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-afghanistan-taliba-idUSKBN22D5S7

14      Mohammad Moheq. (2019). Taliban and ISIS: Seven Similarities, Seven Differences, Critique, 47:3, 495-499, DOI: 10.1080/03017605.2019.1642992

15      Rahmatullah Hashemi, Op.cit.

16      Selim Öztürk, Op.cit.

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

18 − twelve =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password