Pengantar [Politik Identitas]

Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, setiap orang, kelompok, organisasi, partai atau bahkan negara pasti memiliki ciri. Identitas. Ciri/identitas itulah yang membedakan seseorang dengan orang lain; suatu kelompok dengan kelompok lain; suatu organisasi dengan organiasi lain; suatu partai dengan partai lain; suatu negara dengan negara lain. Ciri/identitas itu bisa keyakinan/ideologi, visi-misi, orientasi, hukum/aturan yang digunakan, simbol/lambang bahkan sekadar jargon.

Karena itu jika dalam ranah politik saat ini tiba-tiba ada kalangan yang menyoal identitas dalam berpolitik, tentu ini sangat aneh. Apalagi jika narasi yang mereka sebut dengan ‘politik identitas’ itu cenderung menyasar—sekaligus  untuk memojokkan—kelompok Islam. Sebabnya, sebagaimana kelompok Islam punya identitas, kelompok sekuler pun punya. Bahkan acapkali simbol-simbol dan identitas sekulerisme secara terbuka mereka pertontonkan, bahkan dengan sangat agressif. Menolak syariah, mengkriminalisasi ajaran Islam seperti khilafah, dll bukankah itu identitas yang menonjol dari kaum sekuler? Bukankah juga terus-menerus mereka lakukan secara massif?

Liciknya, saat ada momen penting dan dianggap menguntungkan diri, kelompok dan partainya, kalangan sekuler berupaya keras melakukan manipulasi identitas. Setiap menjelang Pemilu/Pilkada atau Pilpres, misalnya, selalu mereka berupaya memanipulasi ‘simbol-simbol’ dan identitas Islam. Memakai baju koko, peci, sarung, kerudung, jilbab, berkunjung ke banyak pesantren, dll. Semua itu mereka lakukan semata-mata untuk meraih simpati kelompok Islam dan kaum Muslim. Ujung-ujung demi meraih banyak suara dalam Pemilu/Pilkada atau Pilpres. Padahal sebelum Pemilu/Pilkada atau Pilpres simbol-silmbol dan identitas Islam itu mereka tanggalkan. Bahkan sering mereka persoalkan. Inilah politik identitas yang sesungguhnya, yang secara curang mereka lakukan. Apalagi faktanya, usai Pemilu/Pilkada dan Pilpres, sikap islamophobia kembali mereka pertontonkan secara tak malu-malu.

Di seputar itulah tema utama al-waie kali ini. Selain tema menarik lain lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

 

0 Comments

Leave a Comment

twenty − 11 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password