Meski Berjasa dalam Sepak Bola, Muslim Tetap Dibenci Elit Eropa

Meski berjasa dalam speak bola Eropa yang bersaing di Piala Dunia, Muslim tetap dibenci elit Eropa. Apalagi per Juli 2018, Austria mengambil-alih kepemimpinan Uni Eropa selama enam bulan ke depan.

“Kita siap-siap melihat lebih banyak tanda-tanda arogansi dan kezaliman bangsa Eropa,” tulis Kantor Berita Hizbut Tahrir, Kamis (12/7/2018).

Para pemain sepak bola di Eropa, lanjut Kantor Berita HT, adalah campuran yang paling menarik dari berbagai warna, agama dan ras. Kebanyakan berasal dari masyarakat imigran yang kurang beruntung. Banyak dari mereka adalah Muslim. Bahkan sebagian lagi berkulit hitam atau berasal dari Arab. Pengangkatan para manajer sepak bola nasional, seperti Roberto Martinez, adalah mantan pemain Spanyol, serta pelatih Setan Merah Belgia yang ditunjuk atas dasar kompetensinya, bukan kewarganegaraannya.

“Di sisi lain, para pemimpin Uni Eropa berada di jajaran anti Muslim,” bebernya.

Para pemimpin Eropa, dengan beberapa pengecualian, ungkap Kantor Berita HT, tampaknya tenggelam dalam kegilaan luar biasa terhadap para imigran. Mereka berusaha memaksakan aturan untuk masuknya beberapa orang paling rusak dan binasa di dunia.

“Perdana Menteri Austria Sebastian Kurz adalah pemimpin arogan tersebut. Dia berdiri histeria anti-asing yang kontras dengan beragam perayaan di sepak bola Eropa,” tegasnya.

Sebastian Kurtz meyakini negaranya akan bersama dengan Jerman dan Italia dalam “poros keinginan” melawan para imigran gelap. Begitu juga sekutunya dari Visegrad Group, atau yang disebut sebagai Visegrad Four (V4), yaitu aliansi dari empat negara Eropa Tengah: Republik Ceko, Hungaria, Polandia dan Slowakia. Mereka akan terlibat dalam permainan yang memalukan “untuk berlomba menjadi pihak yang paling keras tentang imigrasi”.

Pernyataan tersebut menyusul pernyataan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban yang mengatakan, pada Mei tahun ini, setelah ia memenangkan pemungutan suara, untuk membentuk pemerintahan baru, “Tugas utama pemerintah baru ini adalah menjaga keamanan orang Hongaria dan budaya Kristen.”

Begitu juga dengan Pemimpin Liga Utara, Matteo Salvini, yang sekarang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Italia. Ia memperingatkan bahwa Islam “tidak sesuai” dengan nilai-nilai Italia. Bahkan pernyataan senada senantiasa diulang-ulang oleh mitranya dari Jerman, Horst Seehofer, yang percaya bahwa Islam bukan milik rakyat Jerman.

Seperti halnya Presiden AS Donald Trump, bangsa Eropa yang radikal terhadap orang asing, terutama mereka yang sangat anti-Islam, adalah yang suaranya paling keras. Meskipun mereka begitu arogan, sejauh ini tidak pernah berhasil memperoleh 15 persen dari total suara rakyat Eropa.

“Yang jelas kecaman keras dan tajam terhadap Islam itu mengalir seperti darah di pembuluh darah para elit Eropa. Mereka tidak peduli berapa banyak bintang sepak bola Muslim yang berkontribusi pada kesuksesan tim nasional. Yang jelas adalah bahwa Islam dan kaum Muslim akan selalu menjadi orang asing dan asing di mata mereka,” pungkasnya.

0 Comments

Leave a Comment

five × 5 =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password