Kebencian Terhadap Islam

Setelah sebelumnya menghina kerudung dan azan, lagi Sukmawati menghina Islam. Dalam potongan video viral yang beredar, Sukmawati berkata, “Mana lebih bagus Pancasila atau al-Quran? Sekarang saya mau tanya nih semua. Yang berjuang di Abad 20, itu Nabi yang Mulia Muhammad apa Ir. Sukarno untuk kemerdekaan?”

Saat itu Sukmawati sedang berbicara di forum dengan tema ‘Bangkitkan Nasionalisme Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’.

Meskipun menyanggah telah menghina dan tak bermaksud membandingkan jasa Rasulullah saw. dan Soekarno, kalimat Sukmawati itu mengandung penghinaan. Apa perlunya membandingkan, kalau hanya yang dimaksud hanya perbandingan masalah waktu. Semua paham era Soekarno dan Rasulullah saw. berbeda. Tentu perbandingan ini dimaksudkan untuk bicara tentang peran. Sesuatu yang tak pantas dibandingkan; Soekarno manusia biasa, dengan kebaikan sekaligus banyak kelemahannya, dengan Rasulullah saw. Dialah Sayyidul Mursalin, pemimpin para nabi, yang ma’shum dari segala kesalahan. Dialah utusan Allah SWT yang menyampaikan Islam sebagai risalah yang paripurna.

Apalagi konteks pembicaraan itu adalah saat Sukmawati bicara dalam forum radikalisme. Sudah sangat jelas, selama ini isu radikalisme digunakan untuk menyerang Islam.

Sukmawati lupa, yang berjuang untuk Indonesia, bukan hanya Seokarno, tetapi para ulama, politisi Islam dan mujahidin yang berada di garda terdepan untuk melawan penjajahan. Para ulama inilah yang menggerakan semangat perlawanan terhadap penjajahan atas dasar jihad fi sabilillah. Jihad fi sabilillah jelas ajaran Rasulullah saw. Tidaklah mengherankan kalau perjuangan negeri ini tidak bisa dipisahkan dari tetes keringat dan darah ulama dengan teriakan takbir.

Rasulullah saw. memang sudah wafat 14 abad lalu. Namun, ajaran Islam yang dibawa oleh beliau menjadi landasan dan pendorong utama umat Islam untuk berjuang melawan penjajahan. Sukmawati harus tahu ini! Perbandingan Sukmawati ini sesungguhnya merupakan pengkerdilan terhadap peran Islam dan umat Islam dalam perjuangan negeri ini.

Bukan kali ini saja Sukmawati mengeluarkan pernyataan yang alergi terhadap Islam. Sebelum kasus ini, Sukmawati pernah dilaporkan dalam puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang dibacakan dalam acara ’29 Tahun Anne Avantie Berkarya’ di Indonesia Fashion Week 2018. Dalam salah satu penggalan bait puisinya itu, Sukmawati menyinggung kidung dan azan. “Aku tak tahu syariat Islam. Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azanmu,” demikian bait puisi Sukmawati itu.

Meskipun sudah dilaporkan, Sukmawati seolah tidak tersentuh hukum. Wajarlah kalau di tengah umat Islam semakin menguat anggapan bahwa kebencian rezim ini terhadap Islam benar-benar nyata. Berbeda halnya kalau yang dilaporkan itu para ulama yang menyinggung penguasa. Hukum seolah hanya tajam terhadap aktifis Islam, ulama dan pejuang Islam; tetapi tumpul terhadap penghina Islam.

Ngototnya elit-elit politik berkuasa untuk menjadikan Ahok sebagai pejabat BUMN strategis menambah luka umat ini. Ahok, yang jelas-jelas telah dihukum karena menghina al-Quran, dipromosikan. Padahal Ahok diduga masih memiliki persoalan hukum. Apakah tidak ada selain Ahok yang pantas untuk diangkat? Muncullah anggapan seolah rezim ini tidak memperhatikan perasaan umat Islam atau ingin mengokohkan Indonesia sebagai negara sekular, yang tidak memperhatikan perasaan umat Islam.

Belum lagi isu radikalisme yang jelas diarahkan pada ajaran Islam. Buktinya, yang dipersoalkan adalah cadar, celana di atas mati kaki, keinginan untuk menerapkan syariah Islam secara kâffah dan keinginan untuk mempersatukan umat seluruh dunia di bawah naungan Khilafah. Muncul pula surat Keputusan Bersama (SKB) 12 kementerian dan lembaga Penanganan Radikalisme ASN di Jakarta. Lagi-lagi yang dipersoalkan ajaran Islam. Menteri Agama akan mempersoalkan kalau ada ASN yang mengangkat ayat-ayat yang menimbulkan perpecahan. Bukankah ini penghinaan terhadap al-Quran secara langsung? Menyebut ayat-ayat yang menimbulkan perpecahan. Ayat apa yang dimaksud?

Kita mengingatkan rezim Jokowi untuk menghentikan upaya menguatkan sikap anti Islam ini. Hal ini tidak akan pernah memberikan kebaikan pada negeri ini. Malah akan selalu menimbulkan permusuhan, bukan harmoni. Umat Islam bagaimanapun merupakan potensi besar yang harus dirangkul untuk kebaikan negeri ini. Ajaran Islam yang rahmat lil alamin tidak selayaknya dijadikan sebagai ancaman bagi negeri ini. Yang sejatinya dijadikan musuh negeri ini adalah ideologi Kapitalisme. Kapitalismelah yang nyata-nyata telah menghancurkan negeri ini, menyulitkan masyarakat dan memberikan jalan kepada pihak asing dan antek-anteknya untuk merampok kekayaan alam negeri ini. Kecuali memang rezim Jokowi secara sengaja memposisikan diri untuk memusuhi umat Islam. Kita akan menyaksikan ke depan permusuhan itu akan semakin meningkat.

Al-Quran telah mengingatkan umat Islam tentang karakter musuh-musuh Islam yang tidak akan berhenti menyerang umat Islam. Untuk itu umat Islam harus bersikap. Allah SWT berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil sebagai teman kepercayaan kalian orang-orang di luar kalangan kalian (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemadaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, sementara apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika saja kalian memahaminya (TQS Ali Imran [3]: 118). Allahu Akbar! [Farid Wadjdi]

 

 

 

 

 

 

 

0 Comments

Leave a Comment

two × one =

Login

Welcome! Login in to your account

Remember me Lost your password?

Lost Password